Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Bertemu Binatang Magis



Jian membuka matanya ketika merasakan hawa dingin menusuk tulang. Menatap lurus ke depan. Rupanya dia masih terbaring di tempat yang sama terakhir kali sadarkan diri.


Jian beringsut duduk, mencari keberadaan Neo dan Rui, keduanya terbaring jauh dari posisinya saat ini. Jian merangkak mendekati Neo yang lebih dekat darinya.


"Neo, bangun," Jian mengguncang bahu Neo, tapi tubuh itu bergeming, jangankan membuka mata, bergerak sedikit pun tidak.


"Neo, bangun!" Jian menepuk pipinya, Neo tetap tidak membuka mata. Jian menatap wajah Neo yang begitu pucat. Dia menyadari bahwa hari sudah malam dan angin berhembus semakin dingin. Jian bergegas mengeluarkan jubah tebal di dalam kantong kecilnya, itu adalah satu-satunya baju tebal yang dia masukkan ke dalam kantong dari kamar asrama.


"Sebentar, ya, Neo. Aku tidak bisa mengangkatmu pergi dari posisi nyamanmu." Jian menyelimuti Neo dengan jubah tebalnya.


Jian berjalan ke arah Rui, dan melihat kondisi Rui tidak separah Neo, Rui pasti akan segera bangun. Jian merogoh kantong kecil Rui. Dia dan Rui sama-sama memasukkan jubah tebal ke dalam kantong kecil. Dia juga menyelimuti Rui dengan jubah tebal yang dibawa Rui.


Dia memutuskan untuk menggendong Rui agar tidur di sebelah Neo, posisi Neo dekat dengan pohon, Jian memotong beberapa tangkai untuk membuat api unggun.


Srak! Srak!


Gesekan keras antaran dua batu itu sulit sekali menghasilkan api. Jian menoleh ke arah Rui, "Jika kamu di sini, kamu pasti hanya perlu menjentikkan jarimu saja untuk menghidupkan api kecil, Rui. Kamu bangunlah, aku membutuhkan elemen sihirmu."


Jian mengembuskan napas panjang, "Kenapa tidurmu nyenyak sekali?"


Jian merogoh kantong kecil Neo, "Kamu tidak punya elemen api, kan, Neo? Pasti kamu membawa pemantik api."


Beberapa menit mencari, tidak ada pemantik api di dalam kantong kecil Neo, "Huh, pasti kamu memiliki pikiran yang sama sepertiku. Kenapa harus membawa pemantik saat teman sendiri adalah pemantiknya?"


Jian bahkan merogoh kantong kecil milik Rui, tak butuh waktu lama, tangannya menyentuh sebuah pemantik api.


jian nyaris tertawa lebar melihat pemantik api di dalam kantong kecil Rui, "Kamu bisa memanggang tongkat sihir Flo dengan api besar, Rui. Bagaimana mungkin ada pemantik api di kantong milikmu?"


Udaranya benar-benar sangat dingin di malam hari, sebelumnya saat siang, Jian ingat sekali betapa panas membaranya tanah yang dia pijak ini.


Hanya dengan memeluk tubuhnya sendiri agar merasa lebih hangat meski sudah duduk di depan api unggun, Jian menatap kedua temannya yang tidur dengan nyenyak. Luka mereka terbalit kain perban, Jian berharap mereka baik-baik saja esok hari.


"Kalian baru saja terluka. Tidurlah hingga pagi, Teman-teman, aku akan menjaga kalian."


...----------------...


Matahari kembali terbit, Neo membuka matanya, di sampingnya ada Rui yang masih tidur lelap, Neo meraba wajahnya sendiri, ada plaster penutup luka di dahi dan pipinya yang terasa perih. Juga di punggung lengannya, Neo memasang wajah heran, "Siapa yang membersihkan lukaku?"


Lantas matanya terkunci pada satu sosok yang tidur dalam posisi duduk di depan api unggun yang sudah mati. Di sampingnya ada kucing hitam yang sedang duduk santai sambil menjilati kakinya.


Neo menyentuh jubah tebal yang menyelimutinya semalaman, "Aku tahu tadi malam sangat dingin. Tapi Jian tidak memakai apapun di malam yang begitu dingin itu, kenapa tidak kamu pakai sendiri saja, Jian? Kamu juga membutuhkannya," Neo memakaikan jubah itu tubuh Jian. Lantas dengan perlahan Neo membaringkan Jian agar tidur dengan posisi lebih nyaman, "Mungkinkah kamu tidak tidur tadi malam, Jian?"


"Neo?" Rui membuka mata dan langsung beringsut duduk.


"Kamu sudah bangun, Rui," Neo membantunya berdiri, "Kamu baik-baik saja?"


Rui mengangguk, "Bagaimana denganmu?"


"Aku juga baik-baik saja."


"Di mana Jian?"


"Dia kelelahan, Rui. Dia pasti menjaga kita semalaman." Neo menunduk, menatap wajah Jian yang begitu nyaman dalam tidurnya.


"Aku ingat dia menyeretku dari dalam kawanan rubah." Rui ikut merasa bersalah.


"Padahal aku sudah berjanji akan melindunginya. Tapi tetap saja aku belum mampu melakukannya." Neo mengembuskan napas pelan.


"Kamu jangan menyalahkan diri lagi, Neo. Kita berjalan bersama, jangan hanya melindungi temanmu, kamu juga perlu melindungi dirimu sendiri. Sekarang Jian melindungi kita karena kita tidak mampu melindungi diri sendiri. Aku berjanji akan membayar utang budi ini kepada Jian suatu saat nanti."


"Rui, maukah kamu membantuku mencari hewan yang bisa dimakan?" Neo menawarkan sesuatu yang menyenangkan.


"Memangnya ada yang bisa di makan?" Rui bertanya polos.


"Tentu saja, Rui. Kadal gurun rasanya enak. Kita berkeliling mencari kadal gurun jika beruntung, kalau tidak, minimal kita bisa menangkap burung yang terbang. Sekalian mencari sumber air. Pasti ada oasis di sekitar sini."


"Bagaimana dengan Jian?" Rui menatap Jian yang masih tertidur.


"Kita tidak perlu berkeliling terlalu jauh. Cukup beberapa meter saja, dan tetap memastikan Jian masih berada dalam jangkauan penglihatan kita. Ayo cepat, bukankah lebih baik Jian bangun saat kita sudah selesai memanggang buruan kita?" Neo tersenyum lebar.


Rui terkekeh, "Kamu benar, Neo. Mari kita berkeliling sebentar.


"Aku akan terbang sedikit untuk mencari tahu apakah ada oasis di sekitar sini." Neo memanggil Pru.


"Aku berjalan ke arah sana, ya!" Rui berjalan ke arah selatan.


"Jangan terlalu dekat dengan semak-semak, Rui! Waspada jika ada sesuatu yang bergerak di kakimu!" Nei berseru.


"Kalajengking menakutkan, Rui. Ular gurun juga menakutkan! Kamu jangan hanya takut padaku saja."


"Kamu berburu saja, aku yang akan mencari sumber air!" Rui memutuskan untuk terbang rendah daripada berjalan. Neo selalu saja menakutinya. Walaupun peringatannya benar, setidaknya jangan mengatakannya mendadak, kan?


...----------------...


Pukul sembilan pagi, Neo datang dengan buruan yang tidak bisa dianggap remeh. Dia menangkap banyak sekali burung. Rui kembali di waktu yang sama dengan Neo. Dia bilang tidak ada oasis di dekat sini. Harus berjalan puluhan kilometer untuk tiba di sebuah danau besar.


Mereka berdua tersenyum puas, bilang kalau Jian pasti suka dengan menu sarapan yang istimewa.


Tapi kenyataan sungguh jauh dari yang diharapkan. Jian marah besar begitu mereka kembali ke tempat istirahat mereka. Bilang kalau dia sangat khawatir dan tidak tahu ke mana Neo dan Rui pergi.


"Kalian tidak tahu betapa paniknya aku! Aku tidak sengaja tertidur dan bangun dalam kondisi tidak ada kalian di sampingku, bagaimana—"


"Meong!" kucing hitam itu mengeong.


Jian memeluknya dengan lembut dan mengelus kepalanya, "Sepertinya dia baru saja tersesat."


"Eh, bukankah kamu yang membawanya?" Neo bertanya heran, "Aku sudah melihatnya duduk manis di sampingmu saat bangun tadi pagi. Kupikir kamu yang membawanya." Neo tersenyum kecil, kucing itu menaklukkan kemarahan Jian dalam sekejap.


"Aku membawa dari mana?" Jian meletakkan kucing itu di tanah, kemudian membantu Neo mengolah burung-burung buruannya.


"Omong-omong, Jian. Bagaimana kamu mengalahkan rubah sebanyak itu? Aku menyadari tubuhku terbaring jauh dari jalur kawanan rubah," tanya Rui.


"Kamu yang mengalahkannya? Padahal aku mau bilang kalau itu bukan kawanan rubah." Neo menyahut.


"Kalian berdua benar. Pertama, karena ratusan rubah itu sebenarnya hanya satu. Barulah aku bisa mengalahkannya. Itu pun menguras banyak tenaga, aku tidak menyangka rubah besar itu memiliki tenaga yang begitu besar, aku nyaris mati kelelahan," jelas Jian.


"Apa kubilang. Rubah itu hidup menyendiri, paling memungkinkan dia hidup dalam kelompok kecil bersama keluarganya saja," Neo langsung membanggakan diri.


"Bagaimanapun, aku tetap berterima kasih padamu, Jian. Kamu menyelamatkan aku. Aku juga minta maaf, karena tongkatku tidak mau keluar, kamu jadi harus mati-matian bertarung melawan rubah itu sendirian," Rui menunduk dengan penyesalannya.


Jian melambaikan tangan, "Tidak perlu kaku, Rui. Kamu sendiri yang bilang, kita harus melindungi teman kita ketika sudah mampu melindungi diri sendiri. Lagipula, aku tidak akan membiarkan teman-temanku terluka sedikitpun," Jian tersenyum.


"Hei! Kamu mengakuiku sebagai temanmu juga, ya? Ah, bagaimana aku harus berterima kasih?" Neo menggosokkan kedua tangannya untuk menunjukkan bahwa dia sangat antusias saat ini.


"Maaf, tapi aku menarik kembali ucapanku tentang itu. Meski kamu teman, tapi aku masih membencimu. Kamu biang onar!" Jian berdecih.


Neo langsung melipat senyum lebarnya. Namun, sebuah ide yang melintas di kepalanya langsung membuatnya kembali tersenyum, "Lihat apa yang aku bawa!" Neo menggali di dalam kantong kecilnya.


Jian dan Rui saling tatap. Sebenarnya berapa banyak barang yang Neo bawa? Saat Jian menggeledahnya, Jian hanya mengambil apa yang ada di tumpukan paling atas saja. Tidak menyangka saat Neo memasukkan tangannya, kantong itu lebih berisi dari yang Jian perkirakan.


Neo mengeluarkan beberapa mangkuk kosong, dan bungkusan-bungkusan kecil berisi bubuk rempah. Neo menyerahkan semuanya kepada Jian.


"Ini benar-benar akan menjadi sarapan terbaik sepanjang hidupku, Jian. Kamu segera tunjukkan bakat terpendammu!" Neo tersenyum lebar, dengan semangat mencampur daging burung yang sudah bersih dengan rempah-rempah yang sudah dia siapkan.


"Bagaimana kamu bisa memikirkannya?" Jian bertanya penasaran. Dia saja tidak berpikir akan membawa rempah-rempah untuk perjalanan.


"Sebenarnya aku sudah merencanakan ini. Setelah melihat peta dari Master Hudie. Aku langsung tahu kalau kita punya banyak waktu di tengah hutan. Hal itu membuatku berpikir kalau berburu binatang liar akan sangat menyenangkan, jadi aku berjaga-jaga saja, membawa bumbu masakan sebanyak yang aku punya. Dan ternyata memang sangat berguna," jelas Neo.


"Memangnya kamar asramamu ada rempah-rempah?" Rui mulai bertanya panjang lebar.


"Tentu saja, Rui. Teman sekamarku suka sekali mengumpulkan rempah-rempah, aku meminta sedikit darinya."


"Kita masak sekarang saja," pungkas Jian, dia mengarahkan tangannya ke bahan masakan yang sudah tercampur rata dengan daging yang akan di masak, daging bumbu itu mengambang dengan dikelilingi angin kecil.


"Bisakah kamu memanggangnya, Rui? Apinya jangan terlalu besar. Aku tidak mau makan makanan gosong." Jian terkekeh kecil.


Waktu memasaknya cukup singkat, menghabiskannya lebih singkat lagi. Jian membagikan masing-masing satu buah jeruk untuk cuci mulut.


"Tak kusangka, masak dengan energi sihir tidak buruk juga. Bahkan lebih enak rasanya," Rui tersenyum senang. Kini perutnya sudah kenyang.


"Perlukah kita melanjutkan perjalanan sekarang?"


"Aku melihat ada danau besar di depan sana. Di dekat danau ada sebuah akademi sihir yang lebih besar dari akademi sihir Hudie. Lokasinya masih puluhan kilometer lebih dari sini. Mari kita melanjutkan perjalanan ke sana. Lalu bertanya pada mereka tentang Hutan Roh Penasaran itu," Rui tersenyum lebar dengan idenya.


"Menurutmu tidak apa-apa menanyakan itu pada murid akademi lain? Status kita sekarang kan masih Kartu Putih Akademi Hudie. Bagaimana jika bertanya pada mereka justru mengundang masalah?" Neo keberatan dengan ide Rui.


"Sudahlah, kita jalan saja dulu. Kita menuju danau itu, perkara akan bertanya atau tidak, kita putuskan nanti-nanti saja. Perjalanan kita masih cukup jauh." Jian menengahi.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju danau besar di tengah gurun ini.


Mereka belum menyadari, ada sesuatu yang aneh tentang akademi sihir di tepi danau itu.