
Pukul dua belas siang, kami sudah separuh jalan pendakian. Karena jalurnya benar-benar terjal, kami terpaksa menyingkirkan jubah tebal kami dan memakai pakaian ringkas.
Wajahku benar-benar tertutup, aku memakai syal berbulu, menutup kepalaku dengan kupluk rajut yang kami beli di pasar kemarin.
Angin di sini sangat kencang, menerbangkan butiran salju, membuat kami kedinginan sampai ke tulang. Aku melirik Neo yang masih mendaki dengan semangat. Rui tertinggal sesekali, terkadang aku harus memelankan langkahku untuk mengimbangi langkah Rui.
Sebenarnya dia tidak terganggu dengan hawa dingin, tapi kakinya tidak terbiasa menjejak tanah dengan bebatuan runcing yang tertutup salju ini.
Beberapa jam kemudian, langkah kaki kami tidak secepat sebelumnya, Rui lebih sering berhenti, kakinya membengkak. Saat aku menawarkan istirahat, dia bilang dia masih mampu berjalan.
Neo masih memimpin di depan, aku melihat wajahnya yang masih tampak antusias, namun sudah begitu pucat. Kakinya gemetar saat melangkah.
"Neo, kita istirahat saja!" aku berseru, angin yang kencang membuat suaraku tidak terdengar jika tidak mengucapkannya dengan kencang.
"Mau istirahat di mana, Jian? Di sekeliling kita hanya ada tebing terjal, menurutmu kita bisa beristirahat sekarang?"
Aku terdiam, menoleh ke belakang, "Tapi Rui butuh istirahat, Neo!"
"Kamu pikir hanya dia yang perlu istirahat? Aku juga sama lelahnya, tapi kita harus terus mendaki sampai menemukan tempat yang aman untuk beristirahat!" Neo tak memedulikanku lagi, terus memanjat tebing terjal ini.
Jika melihat kontur tanahnya, sepertinya butuh beberapa kilometer lagi sebelum tebing ini mulai landai. Seharusnya setelah melewati tebing terjal, akan ada tempat yang bagus untuk beristirahat.
"Neo, bagaimana kalau kita mencoba terbang? Di atas sana tebingnya tidak terlalu terjal, jika kita bisa sampai di atas dengan cepat, kita bisa mencari tempat beristirahat!" aku menunjuk ke atas sana, tebing terjal yang kami daki seakan lenyap, seharusnya itu menunjukkan kalau tebingnya mulai landai.
"Anginnya terlalu kencang untuk terbang, Jian. Bukankah aku sudah mengatakannya sebelum kita mulai mendaki? Kita tidak bisa terbang di tengah cuaca seburuk ini. Tidak ada cara lain selain terus mendaki ke atas!" seru Neo.
Aku menoleh ke belakang, Rui mulai tertinggal lebih jauh, aku berhenti untuk menunggunya tiba di sampingku.
"Rui, apa kamu perlu bantuan?" aku bertanya padanya.
Rui menggeleng, "Aku baik-baik saja, Jian. Mari kita terus mendaki hingga bertemu tebing landai yang kamu maksud," jawabnya, dia tersenyum dengan bibirnya yang pecah-pecah.
Aku menatap salju-salju yang turun dari langit disertai angin kencang ini. Aku menancapkan Jilly di antara bebatuan tebing, menggenggamnya dengan erat, tangan kananku yang bebas teracung ke atas, aku mengeluarkan energi sihirku.
Aku berencana menyerap angin ini menjadi energiku, setidaknya supaya tidak mengganggu perjalanan kami ke depannya.
"Jian, apa yang kamu lakukan?!" Neo berseru sambil melotot ke arahku.
Aku tidak memedulikannya, terus mengacungkan tanganku dan menyerap angin dingin di sekitar kami.
Neo mengarahkan tangannya kepadaku, cahaya berwarna biru melesat dari tangan Neo, begitu cahaya itu mengenai ujung telunjukku, angin yang semula berpusar di sana seketika pecah, kembali berkesiur di udara.
Aku melotot, "Kenapa kamu menggangguku, Neo?!" aku berseru tidak terima.
"Upayamu hanya akan membuat anginnya menjadi lebih besar, Jian! Jangan melakukannya, atau badai besar akan melahap kita saat ini juga!"
Aku terdiam, merasa sangat bersalah. Tapi aku hanya ingin meringankan perjalanan kami saja. Aku sungguh tidak tega melihat kaki Rui terluka dan membengkak, dia pasti kesakitan.
"Neo, kita sudah berjalan lima jam lebih, dan tak kunjung bertemu tempat beristirahat, kamu pikir aku akan diam saja tanpa melakukan upaya apapun melihat temanku kelelahan?" aku tak melepaskan tatapan tajamku padanya.
Tapi Neo tidak mendengarkanku, wajahnya terlihat panik saat mendongak menatap langit. Di atas sana tampak gelap, kilatan petir saling beradu, angin berkesiur semakin kencang, salju turun semakin lebat, cuaca sungguh berubah drastis. Tidak ada lagi cahaya matahari yang terlihat dari ketinggian ini.
"Lihat! Badai itu datang karena kamu membuat angin berpusat pada energimu, itu hanya akan mengundang badai datang, Jian. Dan kamu tidak akan mampu menyerap semuanya ke dalam energi spiritualmu!" Neo terlihat kesal sekali padaku.
Aku juga tidak tahu kalau tindakanku hanya memperburuk situasi. Sekarang bukan hanya tebing terjal saja masalah yang kami hadapi, tapi badai salju yang bersiap menggulung kami bertiga ke dalamnya.
"Buat penghalang sekuat mungkin teman-teman!" Neo berseru, sudah mengentakkan tongkatnya ke bawah, dia menciptakan perisai yang tidak hanya transparan, melainkan tampak seperti tembok kokoh yang mengelilinginya dari ujung ke ujung.
Rui segera melakukan hal yang sama, penghalangnya sama kokohnya dengan penghalang Neo, aku bernapas lega mereka berdua sudah aman.
Aku tidak berniat membuat penghalang juga. Tapi aku berencana untuk menghadapi badai salju ini dan menguasainya.
Aku adalah Sang Pengendali Angin. Aku tidak mungkin takut dengan sebuah badai salju. Aku yang membuat badai ini datang, aku juga yang seharusnya mengusirnya.
Aku melompat ke udara, Jilly terbang menyusul, aku menggenggamnya dengan erat. Piu Piu muncul di sebelahku, mengaktifkan transformasinya.
Tapi badai ini sulit sekali dikendalikan, aku berkali-kali hampir terbanting, tapi masih bisa mengendalikan keseimbangan.
"Jian, jangan coba-coba!" Neo meneriakiku dari bawah sana, mereka berdua bergelantungan di batuan tebing, hanya mengandalkan kekuatan tangan dan penghalang agar lemparan salju tidak melukai mereka.
"Aku harus bertanggung jawab, Neo!" aku balas berteriak.
Mungkin keras kepalaku membuat Neo geram, dia menarik Piu Piu dengan sihir pengendalinya, Piu Piu mendarat di atas gelembung penghalang Rui, "Jaga dia untukku, Piu Piu!" dia berteriak lagi.
Kemudian melompat ke udara, membuat gelembung penghalang kokoh, lantas dengan seluruh tenaganya, dia melesat ke arahku, memelukku erat, kami berada di dalam gelembung yang sama.
"Jian, kekuatanmu belum terlalu mampu untuk mengendalikan badai sebesar ini. Kamu akan butuh bantuan seseorang," Neo menatapku dengan serius.
Aku terdiam, bukan karena tidak bisa menjawab apapun, aku hanya takut akan kehilangan konsentrasi jika aku berbicara.
"Ikuti gerakanku, Jian," Neo menatap lurus ke depan, dia melepas tangannya dari pinggangku, kemudian memasang kuda-kuda di tengah gulungan badai ini.
Neo memegang Pru dengan kedua tangannya, lalu mengarahkannya ke atas, mengucapkan mantra khusus pengendali angin, aku mengikutinya.
Neo bergerak terbang ke atas, aku mengikutinya, angin yang mengelilingi kami mengikuti Neo terbang ke atas, lantas dalam beberapa detik, dia berputar-putar di udara dengan tongkatnya.
Neo terbang lebih tinggi lagi, lalu menebaskannya ke udara, angin badai itu pecah, berpencar ke segala penjuru, langit yang mulanya gelap kembali terang, menurunkan butiran salju dengan tenang.
Aku merasa pusing, tubuhku limbung, terjatuh dari ketinggian belasan meter.
"Jian!"
...----------------...
Aku membuka mata perlahan, merasakan angin yang berhembus begitu dingin menyapa wajahku. Sesuatu seperti menindihku, namun membuatku merasa lebih hangat.
Aku menoleh ke samping, dan melihat sahabatku berbaring sambil memelukku. Aku tersenyum senang, "Syukurlah kamu baik-baik saja, Rui."
"Kamu sudah bangun, ya?" Neo menyapa. Dia duduk di depan api unggun sambil membolak-balikkan daging panggang.
"Kamu tahu, Jian? Cuaca malam hari di sini terasa lebih hangat, tidak sedingin cuaca malam hari di Hutan Roh Penasaran," Neo memberiku satu tusuk daging panggang.
Aku menyantapnya, ini bukan daging kelinci, rasanya lebih enak, tapi tidak lebih kenyal, aku tidak bisa menjabarkan dengan sempurna.
"Aku berburu rusa kutub, Jian. Ini cukup untuk makan hingga pagi," Neo menjawab rasa penasaranku tentang daging panggang yang kumakan.
"Neo, sudah berapa lama aku tertidur?" aku bertanya basa-basi.
"Sejak melakukan Formasi Pengendali Angin," Neo menjawab pendek.
"Lalu Rui?"
"Dia tidur satu jam yang lalu. Ini hampir pukul dua belas malam, aku menyuruhnya beristirahat denganmu," Neo menjawab lebih panjang.
Aku terdiam, tidak tahu harus berbicara apa. Sejak badai itu datang, aku merasa hubunganku dengan Neo menjadi sangat canggung.
"Neo, aku minta maaf," aku bergumam pelan.
"Kenapa?"
"Aku membuat badai itu datang." Aku menunduk, suasana menjadi hening karena Neo tak kunjung mmbalas ucapanku.
Neo mengembuskan napas, "Sudahlah, aku juga tahu maksudmu baik. Itu juga salahku karena tidak memberitahumu tentang badai itu dari awal, untung saja kita bisa mengendalikannya sebelum berubah menjadi badai es." Neo mengunyah lagi, aku menatapnya dari balik api unggun, Neo terlihat pucat, tapi dia selalu seperti itu sejak terkena serangan sihir terlarang Rux.
"Neo, kamu baik-baik saja, kan?" aku bertanya lagi.
"Kamu bertanya seperti itu hampir seribu kali dalam sehari, Jian. Kamu tidak bosan?" Neo mendengus kesal.
"Kalau begitu, aku ingin mengucapkan terima kasih saja."
Neo menatapku, wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut, "Benarkah?" dia berseru sambil tersenyum jahil, "Sejak kapan kamu bisa berterima kasih, Jian?" senyuman jahil itu berubah menjadi taea mengejek.
"Kalau begitu tidak jadi berterima kasih. Lagi pula aku sudah terlalu sering berterima kasih padamu, aku bosan," aku membalikkan tubuhku, duduk membelakanginya, dan menghabiskan sisa daging panggangku.
"Berterima kasih untuk apa?" Neo bertanya lagi.
Aku terdiam beberapa saat, teringat saat badai, dia meneriakiku dan segera membantuku mengendalikan angin, dia bahkan memelukku untuk melindungiku dari badai.
Aku ingin berterima kasih padanya tentang hal itu, tapi sepertinya, Neo akan salah mengartikannya dengan sesuatu yang ... emmm, lupakan saja.
"Jian, aku sedang berbicara denganmu, tidak baik membelakangiku seperti itu," Neo menegurku. Aku segera berbalik lagi.
"Tadi kamu bertanya apa?" aku pura-pura mendongak menatap langit.
"Kamu mau berterima kasih untuk apa?" Neo benar-benar mengulangi pertanyaannya.
Aku terdiam lagi, lalu bergegas menggeleng, "Lupakan saja. Bukan apa-apa." Aku berdiri, memungut beberapa kayu kering lagi, melemparkannya ke dalam api unggun, "Neo, sebaiknya kamu tidur saja, aku yang akan berjaga."
Neo menaikkan sebelah alis, "Kamu yakin tidak apa-apa?"
Aku mengangguk, "Aku juga tidak mengantuk."
"Kalau begitu aku tidur saja, aku sudah sangat mengantuk." Neo berdiri dan memasuki kantong tidur yang sebelumnya menjadi tempat tidurku.
"Neo," panggilku.
"Apa lagi?" Neo sempat menoleh ke arahku sebelum pergi berbaring.
"Apa kamu sudah meminum obatmu?"
Neo terdiam, nyengir lebar, baru mengeluarkan botol ramuan dari kantong kecilnya, "Aku akan meminumnya sekarang."
Jika aku tidak mengingatkannya, apakah Neo akan melupakan kewajibannya tentang meminum obat?