
Aku tidak berpikir Piu Piu akan kembali lebih cepat dari yang kuduga. Dia dengan santai memasukkan kunci ke dalam selku.
Jumlah kunci yang terikat tali itu ada lebih dari lima puluh kunci, aku tidak tahu bagaimana Piu Piu membawa puluhan kunci seberat ini di mulutnya.
"Neo, ini banyak sekali," aku menelan ludah.
"Tentu saja, Jian. Ini adalah ruangan penjara yang besar, di setiap lorong pasti ada sekat-sekat penjara lain yang jumlahnya puluhan. Aku pernah membaca kalau mereka suka menangkap penyihir yang berniat jahat di kawasan Hutan Roh Penasaran."
"Kamu tahu dari mana ada banyak sekat penjara di sini?" aku bertanya heran.
"Aku pernah melihat di sebuah buku di kamarku. Akademi Dixia punya ruangan penjara yang sangat besar, dan terbesar di Kota Pubu."
Aku menghela napas, yang mana yang harus kupilih?
"Cepat, Jian. Sebelum para sipir menyadari kalau kunci mereka hilang, kita harus melarikan diri dari sini agar bisa bebas memakai energi sihir kita," Rui mengetuk dinding lagi.
"Baiklah, Rui." Aku menggenggam kunci-kunci itu, mencobanya satu-persatu di lubang kunci sel penjara.
Ayolah .... Aku bahkan sudah mencoba lebih dari lima belas kunci. Tak ada satupun yang cocok dengan lubang di gembok ini.
"Cepat, Jian!" Neo berseru, membuatku kehilangan konsentrasi. Aku tidak bisa berpikir lagi, entahlah, semuanya tampak sama, tak ada yang membedakan kecuali lambang-lambang berbentuk aneh yang berada di ujung lancip kuncinya.
Tunggu.
Mungkinkah itu sebuah kode rahasia?
Aku segera memeriksa apakah ada sesuatu pada gembok ini. Sepertinya tak ada yang salah. Tapi aku menemukan sebuah bentuk aneh di atas lubang kuncinya. Sangat kecil, aku mungkin tidak bisa melihatnya dengan jelas jika aku tidak menyipitkan mataku.
Bentuknya seperti spiral angin topan, aku memeriksa apakah ada kunci dengan kode yang sama.
Ketemu!
Ternyata konsepnya seperti itu? Huh, kuno sekali. Aku tidak memikirkannya karena kupikir tidak mungkin.
"Rui, Neo. Katakan padaku ada gambar apa di atas lubang kuncimu?" aku bertanya pada kedua temanku.
"Gambar? Tidak ada gambar apa-apa di sini, Jian." Rui bergumam pelan.
"Tidak, Rui. Pasti ada, periksa lagi, dia sangat kecil, kamu perlu mendekatkan wajahmu dan menyipitkan mata untuk melihatnya. Perhatikan lagi," aku terus mendesak.
Aku sudah mendengar seruan panik dari kejauhan. Mereka mungkin sudah menyadari kunci penjara hilang. Dan sedang berlari menuju tempat ini.
"Ada gambar api!" Rui berseru.
Aku segera melemparkan kunci dengan kode api pada Rui.
"Apa gambar di atas lubang kuncimu, Neo?" aku berdiri di depan sel Neo. Dia masih menatap gembok besar itu dengan seksama.
"Aku masih tidak berpikir ada sesuatu di atas lubang kunci, Jian. Di sini benar-benar tidak ada apapun. Aku sudah melihatnya berkali-kali, tapi ini sepertinya berbeda dengan kunci milikmu dan Rui," tukas Neo dengan wajah terlipat, "Apakah aku akan dibiarkan di dalam sini, Jian?" Neo menatapku dengan wajah memelas.
Apa-apaan itu? Menjijikkan sekali. Aku melempar semua kunci pada Neo, "Kalau begitu, coba saja semuanya satu-persatu. Kita tidak punya banyak waktu, kamu harus cepat!"
Neo menangkapnya, segera mencobanya satu-persatu. Tapi di pertengahan, Neo tiba-tiba menghentikannya, lalu menatapku dan Rui yang sudah menunggunya di depan selnya.
"Rui, Jian. Gabungkan kekuatan sihir kalian untuk menghancurkan gembok ini!" Neo melempar kunci-kuncinya, "Semua kunci itu tidak penting, karena gembok ini tidak pernah punya kunci!"
Apa yang dia maksud? Kami masih saling menatap, "Apakah kita bisa menggunakan teknik sihir di sini?" Rui bertanya padaku.
"Bisa, Rui. Kalian sudah berada di luar sel. Sepertinya mereka mengunci gembok sesuai dengan kekuatan yang ada dalam diri kalian. Mereka tahu energi sihir kalian adalah angin dan api, sehingga kalian tidak bisa menggunakan energi sihir kalian di dalam sel, karena energi sihir kalian terkunci bersama gembok itu," Neo memberi penjelasan.
"Karena mereka tidak tahu kekuatan asliku, Jian, Rui. Kekuatanku tidak pasti, kadang berubah-ubah, aku bahkan tidak tahu apa elemen dasar yang ada pada kartu putihku. Mereka tidak bisa membuat kunci sihir tanpa tahu elemen dasar orang yang akan dikunci. Jadi mereka akan menguncinya menggunakan sihir mereka. Itulah kenapa gembok ini tidak memiliki kunci." Neo menjelaskannya lagi, "Cepat, Jian, Rui. Hancurkan ini."
Aku dan Rui mengangguk, mengumpulkan Energi Sihir kami di ujung telunjuk dan jari tengah, hingga menimbulkan desiran angin besar dari sana, telunjuk Rui bercahaya, aku merasakan panas luar biasa karena berdiri di sampingnya. Gembok ini sangat keras, kami membutuhkan banyak waktu untuk membuatnya retak sedikit,
"Mereka di sana!"
Aku menoleh ke belakang, itu adalah June, Rux, Paw dan Kie. Juga beberapa sipir penjara. Astaga, kenapa gemboknya belum juga hancur? Aku nyaris kehilangan tenaga hanya untuk menghancurkan satu gembok saja.
"Rui, tetap di sini dan menyelamatkan Neo, aku akan menghentikan mereka dengan caraku sendiri. Sekaligus mengungkap kebohongan Rux!" aku berseru.
"Jangan, Jian. Itu sangat berbahaya, bagaimana kalau—"
"Tenang saja, ada Piu Piu bersamaku. Kau yang harus hati-hati, oke?" aku langsung melompat ke udara, memasang penghalang di atas Rui dan Neo. Harusnya ini akan bekerja.
"Kalian penjahat! Pencuri! Lenyap saja dari dunia ini!" Rux melompat di depanku, mengacungkan tongkatnya yang panjang.
Aku menghindar secepat mungkin. Harusnya tidak rumit, mereka hanya sebagian kecil saja. Harusnya aku bisa mengimbangi kekuatan mereka.
Tapi...
Arhh!
Aku meringis, tubuhku terbanting dari ketinggian lima meter, berdebam ke tanah bebatuan, terasa nyeri dan sakit sekali.
"Jian!" Rui berseru, wajahnya sangat cemas, dia menitikkan air mata.
Kami baru bangun, bahkan masih merasa lapar, bodohnya, kami memutuskan melarikan diri tanpa persiapan dan rencana yang matang. Kami sangat memahami konsekuensinya, namun tidak melakukannya dengan baik. Padahal bersikeras tidak ingin mati.
"Jian, bertahanlah sebentar lagi, kami akan segera datang membantumu!" Rui berteriak kencang, lalu meraung hingga tanah yang kami pijak bergetar, Rui mengeluarkan bola api kecil yang langsung meledak hingga membakar seluruh ruangan penjara.
Aku pikir aku mati karena ledakan besar itu, semuanya gelap dan panas. Tapi aku menyadari tubuhku mengambang di udara, Rui membawaku keluar dari penjara yang terbakar api besar.
Kami melewati api itu begitu saja, samar-samar aku melihat Neo mengambang di sampingku. Wajahnya tampak antusias, dan bahagia. Hah? Dia itu kenapa, sih?
Begitu Rui menurunkan kami, Neo langsung bertepuk tangan, "Rasanya keren sekali mengambang di antara kobaran api. Kamu juga keren sekali, Rui. Apakah kekuatanmu selalu meningkat di saat-saat terakhir? Haruskah kamu melihat Jian sekarat dulu baru mau—"
Pletak!!
"Oww! Ini sakit! Kenapa kamu memukul kepalaku lagi, Jian? Tidakkah kamu berpikir kita dalam situasi yang serius?" Neo melotot memarahiku.
Aku mengernyit, "Yang bercanda itu kamu! Kenapa menyalahkanku? Aku hanya memperingatkan kamu kalau ini adalah situasi yang serius! Bukan situasi di mana kamu bisa membicarakan kekuatan seseorang dengan begitu leluasa."
Neo tidak mendengarkan ocehanku, dia malah mengeluarkan buku kecilnya lagi. Aku langsung merampasnya sebelum dia berbicara lebih banyak.
"Apalagi untuk sempat menulis sesuatu di jurnal!" aku berseru ketus.
"Hehee," Neo nyengir lebar merasa dirinya tak berdosa, "Kamu tidak boleh marah-marah, Jian. Aku khawatir kulitmu akan keriput sebelum waktunya. Mari kita bersembunyi dan memikirkan sebuah cara."
Aku mendengus, jika tidak menyadari situasi sedang genting, aku pasti akan mengutuk keparat satu ini sepanjang tujuh turunan!
"Menurutmu, di mana tempat kita bisa bersembunyi?" Rui menyeka perdebatan kami, dia menoleh ke belakang, asap tebal masih mengepul di sana. Tapi belum ada tanda-tanda Rux dan teman-temannya akan keluar dari reruntuhan.
Tapi...
Awas, Rui!!!