Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Mengendalikan Pru



Neo sudah menyelesaikan masalahnya dengan Pru. Murid-murid lain mendapatkan nama yang cocok untuk tongkat mereka. Master membawa mereka ke dalam kelas.


Dari 80 murid baru yang hadir, Master membaginya menjadi empat kelas. Jian, Rui dan Neo berada di kelas D. Juga dua teman Neo yang baru itu. Mungkin mereka akan menjadi akrab beberapa hari ke depan.


"Karena tongkat kalian menjadi tumpuan energi, teknik sihir dasar yang harus kalian pelajari adalah mengendalikan tongkat," Master di kelas D bernama Yu. Katanya dia saudara kandung terakhir Master Hudie.


"Meskipun identitas penyihir sudah menanamkan energi sihir ke dalam diri kalian, tapi mengendalikannya memerlukan tongkat sihir. Jika kalian kehilangan tongkat sihir, kalian tidak akan mampu mengeluarkan energi sihir kalian dengan sempurna. Dan jika tidak mampu mengendalikan tongkat sihir, energi sihir kalian juga tidak akan berguna karena tidak dapat dikendalikan. Justru bisa membahayakan rekan kalian sendiri." Master Yu berkeliling kelas. Jian, Rui dan Neo menatap tongkat mereka yang panjang dan berat.


"Aku tidak tahu tongkat sihir bisa sepanjang ini," Rui berbisik kepada Jian.


"Aku pernah menonton sebuah drama, tokoh utama laki-lakinya memakai tongkat sebagai senjata. Kemampuan sihirnya hebat sekali dengan tongkat itu, mereka menyebutnya kemampuan alam langit," Neo bercerita sedikit.


"Apakah tongkat di drama itu juga punya nama, Neo?" Rui bertanya penasaran.


"Nama tongkat itu adalah tongkat Wuji. Bentuknya elegan sekali, ada ukiran berbahan emas. Aku sebenarnya berharap Pru bisa menjadi sehebat tongkat Wuji milik tokoh utama dalam drama itu ...," Neo mengembuskan napas, dia tiba-tiba menyadari kalau dirinya bukan berada di rumahnya, "Drama itu belum selesai. Aku sudah lama sekali melewatkannya."


Wajah Rui ikut terlipat, "Bersabarlah, Neo. Kita akan segera pulang, setelah pulang, kamu bisa menonton dramamu yang tertinggal itu," kini situasinya dengan Neo sama, tidak ada salahnya saling menyemangati, kan?


Jian menatap keduanya dengan pandangan jijik, "Hei, sejak kapan kalian jadi akrab?"


"Jian, apakah kamu sudah berlatih mengendalikan tongkatmu?" Master Yu menegur, "Aku baru saja memeragakan caranya. Jika kamu tidak memperhatikan, kemungkinan kamu tidak akan bisa mengendalikan tongkatmu."


Jian jadi kelabakan, dia memang tidak memperhatikan, entah apa yang dicontohkan guru cerewet ini. Jian tidak tahu dan tidak menghafalnya.


"Aku tahu, Master!" Neo mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


Master Yu mempersilakan Neo mencobanya. Neo segera memasang kuda-kuda dan berkonsentrasi, "Menyatukan kedua kekuatan, mengikat aliran darahku dengan urat tongkat sihirku, Pru!" Neo berseru, mengangkat Pru tinggi-tinggi.


Sepertinya Neo berhasil, Pru bercahaya sangat terang, kemudian Neo memutar Pru ke kiri dan kanan dengan cepat. Setelah itu mengembalikannya ke tempat berdirinya semula.


"Wah, Neo. Kamu hebat sekali!" Rui sampai bertepuk tangan melihatnya.


Neo sudah memasang wajah sombong, apalagi ketika menatap Jian, seolah mengatakan, "Pelajaranmu dari dalam komik sepertinya sia-sia, Jian. Aku mempelajarinya sesingkat itu!"


Wussshhh!


Pru tiba-tiba terbang sangat tinggi, Neo terangkat ke udara, berseru-seru panik, "Pru! Kenapa kamu membawaku terbang? Cepat turunkan aku! Aku majikanmu, kamu harus mematuhiku!" serunya sambil terus melesat di udara.


Jian dan Rui tidak menahan tawanya lagi, "Lebih baik jangan berbicara besar dulu, Neo."


"Pru! Jadilah tongkat yang baik seperti Wuji!" Neo berteriak lagi.


Tapi Pru malah melesat semakin cepat, tidak memberi celah bagi Neo untuk berbicara sepatah katapun.


"Hei! Aku merasa mual!" Neo berseru lagi.


Master Yu menggelengkan kepalanya, "Dia norak sekali!" tangannya terangkat ke depan, tongkat sihirnya muncul, "Pergi selamatkan Neo dan Pru."


Tongkat itu pergi terbang, menyelamatkan Neo yang nyaris pingsan. Pru masih terbang ke sana kemari, tongkat Master Yu mengejarnya.


"Siapa yang menyuruhmu membandingkan tongkatmu dengan tongkat orang lain? Sudah jelas dia marah. Ini hal penting Neo, jangan sampai kamu tidak akrab dengan tongkatmu sendiri." Master Yu menasehatinya dengan tegas.


Neo beringsut duduk, "Hei, ini tidak adil. Itu hanya tongkat, kan? Apakah tongkat saja harus begitu pemarah? Huh, dia bahkan lebih pencemburu dari seorang perempuan!"


Jian dan Rui terkekeh kecil, "Kamu jangan meremehkannya, Neo. Anggap saja kamu sedang berkencan dengan Pru."


"Sekarang giliranmu, Jian." Master Yu menunjuk Jian.


Jian berdiri tegak, kemudian berkonsentrasi, menyebutkan mantra yang sebelumnya disebutkan Neo di dalam hati. Jilly bercahaya lembut, kemudian Jian mencoba menghilangkannya. Jian memunculkannya kembali dalam hitungan detik. Jian mengangkatnya ke udara, cahaya lembut Jilly seolah mengalir ke ujung tongkat, cahaya itu dikendalikan tangan Jian yang memegang Tongkat Jilly. Kemudian Jikly terbang sendiri, dan menghilang setelah Jian melambaikan tangannya.


Murid-murid bertepuk tangan melihat kehebatan Jian dalam mengendalikan tongkat sihir baru. Rui bertepuk tangan paling keras, berseru kalau sahabatnya ini keren.


"Aku tidak sia-sia membaca komik, Neo." Jian nyengir lebar, Neo menatapnya dengan wajah masam, "Bagaimana kau bisa menghilangkannya sebelum disuruh berlatih menghilangkannya?"


"Aku melihatnya di komik, setiap siswa yang baru berlatih sihir akan diminta untuk mengendalikan tongkat sihir dengan cara menghilangkan dan memunculkannya lagi." Jian tertawa kecil, "Aku benar-benar tidak sia-sia membaca begitu banyak komik fantasi!"


"Huh, tapi dunia ini berbeda dengan komikmu!"


"Yang sudah bisa mengendalikan Tongkat Sihir, silakan mencari kelompok masing-masing lima orang!"


"Jian punya kemampuan yang tidak disangka!" Sue berseru heboh, "Mari kita bergabung dengan tim mereka, Tomu!" Sue menarik tangan Tomu dengan cepat, jangan sampai ada yang lebih dulu memilih bergabung dengan tiga anak itu!


Mereka semua mulai berlatih sihir yang sebenarnya. Tentang bagaimana cara membuat portal teleportasi, cara berkomunikasi dari jarak jauh, bagaimana menggunakan tongkat sebagai senjata, menguasai alam liar, dan segala macam pelajaran lagi.


Begitu memahami apa saja kepentingan mempelajari hal-hal di atas, seluruh kelas diizinkan untuk makan siang, "Tanggal pertama bulan depan, ujian bulanan akan dilaksanakan. Kalian akan melawan satu murid senior tingkat penyihir kelas 3. Seperti biasa, kalian harus berlatih dengan serius agar kalian menang." Master Yu memberi pengumuman.


"Apakah kita akan melawan bersama tim belajar kita, Master?" seorang murid bertanya.


"Tidak. Kami akan membaginya secara acak, satu kelompok hanya akan terdiri dari tiga orang."


Murid-murid berseru tertahan, "Kenapa kita harus berlatih secara berkelompok?"


"Karena itu akan berguna untuk kemajuan teknik sihir kalian."


"Secepat itu melaksanakan ujian?" Rui berbisik lagi.


"Namanya juga ujian bulanan, Rui. Setiap bulan mereka pasti melakukan ujian ini, sebagai sarana pelatihan satu akademi." Neo membantu menjelaskan.


"Tapi kita tidak akan ikut, kan? Kita akan meninggalkan sekolah sihir ini dalam dua minggu." Jian menyahut, "Kita tidak akan bertemu ujian bulanan!"


"Kata siapa tidak bertemu? Kalian tidak diizinkan melakukan perjalanan sebelum berhasil dalam ujian bulanan pertama. Itu dapat mengurangi nilai." Master Yu keberatan dengan kesimpulan Jian.


"Eh, tapi ...," Rui memotong.


"Karena, nurid yang belum menyelesaikan ujian bulanan pertama akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan sihir jika pelatihan belum genap memasuki satu bulan." Master Yu menjelaskan, "Ada kemungkinan akan langsung dipindah ke kelas dua jika kemampuan sihir kalian meningkat dan membuat Kartu Putih kalian berubah menjadi Kartu Perak."


"Mungkin kita memang harus mengikuti ujian itu, Jian." Neo nyengir lebar, "Sepertinya sangat seru, melawan kakak kelas. Seperti yang sering kalian lakukan saat di sekolah dulu!"


"Enak saja!" Jian dan Rui melotot tidak terima.


"Jian, Rui, Neo. Ayo kita makan siang!" Sue dan Tomu melambaikan tangan. Mereka bertiga mengikuti Sue dan Tomu. Untuk mendapatkan makan siang.


"Kamu pernah dengar tentang ujian bulanan sebelumnya, Sue?" Jian bertanya di sela-sela makannya.


Sue mengangguk, "Kakakku dulu adalah master di Akademi Hudie. saat dia masih kelas satu dan mendapatkan ujian bulanan, Ratu yang menjadi lawan di lapangannya. Kudengar, ujian ini tidak ada bedanya dengan bertarung di alam liar, kadang kamu harus benar-benar mempertaruhkan nyawa."


Jian dan Rui saling tatap. Neo menelan ludah, "Bertaruh nyawa?"