Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Anjing Berkepala Tiga



Ya. Kami hanya perlu melewati satu titik merah lagi. Dan titik merah terakhir ini, benar-benar tidak bisa kami remehkan begitu saja.


Selain wujudnya yang menyeramkan, monster satu ini lebih tangguh dan lebih kuat dari beruang kutub besar yang kami jumpai saat pertama kali menelusuri labirin ini.


Kami bertiga bersembunyi di balik dinding es sebelum memunculkan diri di depan monster itu. Neo bilang, muncul secara suka rela membuat naluri pembunuh monster ini semakin meningkat dan semakin berbahaya.


Tapi menyerang mendadak juga membuat monster ini semakin ingin membunuh kami. Sejujurnya semua solusi tidak ada baiknya bagi kami.


Tapi setidaknya jika muncul dalam keadaan siap menyerang dapat membuat kami merasa lebih unggul dari monster ini.


"Kalian siap?" Neo mengeluarkan kartunya. Kartu milik Neo sudah berubah menjadi kartu emas, entah sejak kapan. Tapi dia memang lebih unggul dari kami.


Aku dan Rui juga mengeluarkan kartu kami yang masih berwarna perak. Kami sudah siap. Kartu ini penuh dengan energi magis kami. Kami kembali memasukkannya ke dalam saku.


Aku menjentikkan jari, Piu Piu muncul dalam bentuk transformasi. Rui juga memunculkan anjing barunya.


Anjing Rui belum memiliki mode transformasi baru. Tapi kekuatan sihir anjing ini tidak bisa dianggap remeh. Kami bahkan sempat merasa takut padanya saat pertama kali bertemu.


HYAK!


Neo menghilang, lalu muncul di depan monster, itu, lalu dia melepaskan anak panah es. Anak panah itu tepat mengenai sasaran. Perut monster berdarah, darahnya berwarna hitam.


Tapi hanya perlu waktu satu detik, monster itu kembali berdiri dan mencabut anak panah yang menancap di perutnya.


Monster itu memukulkan tinjunya ke segala arah. Tinju itu bukan tinju biasa. Begitu dilepaskan, muncul bola-bola es berukuran kecil hingga besar terlempar ke segala arah. Ketika bola salju itu menghantam dinding labirin, dinding itu bergeming. Kekuatan sebesar itu hanya membuatnya bergetar sebentar, masih belum cukup kuat untuk menghancurkannya.


Kekuatan monster salju ini tidak main-main. Kami, entah apakah kami bisa mengalahkannya, kami akan berusaha agar tetap hidup.


Berjam-jam kemudian, aku sudah terjatuh lima kali, Rui merasa tangannya gosong karena terus mengeluarkan bola-bola api, Piu Piu mengadu pada padaku kalau cakarnya terlihat tumpul. Neo sudah tersungkur lebih dari sepuluh kali, mulutnya penuh darah. Dan kami masih belum mengalahkan monster ini.


Neo meludah, lalu mencoba berdiri dengan bantuan tongkatnya. Kakinya sudah begitu gemetar, jika aku boleh menebak, Neo sudah tidak mampu menahan serangan monster itu lagi.


"Baiklah! Kau sendiri yang memintanya, keparat! Bahkan jika aku mati di sini, aku akan merasa terhormat karena mati di tangan monster setangguh dirimu!" Neo mengangkat tongkatnya.


"Hei, kamu! Tidak ada gunanya menyerang sendirian! Aku tahu kamu mencintai Tuhan-mu, Neo. Tapi jangan terlalu buru-buru menemui-Nya. Kamu harus melunasi utangmu dulu soal mengantarkan kami pulang!" Rui menarik tubuh Neo sambil mengomel panjang lebar.


"Dia benar, Neo. Dengan kekuatanmu yang hanya mengandalkan apa saja yang ada di sekitar, kamu tidak cukup mampu mengalahkannya sendirian. Kita bersatu saja." Aku mengangkat tongkatku, berencana meningkatkan kartuku dengan waktu singkat.


Rui melakukan hal yang sama. Tubuhnya diselimuti api berwarna biru, tampak menyeramkan. Bola matanya berwarna biru terang, Rui menggeram, kartunya mengambang di atasnya.


Entitas sihir Rui mengalami transformasi pertamanya tepat saat setelah kartu Rui berubah menjadi emas.


Anjing itu menggeram galak, tubuhnya membesar lagi berkali-kali lipat, tumbuh dua kepala baru yang tingginya nyaris melampaui tinggi dinding es yang mengurung kami.


"Woahh! Anjing galak Rui bertransformasi jadi mirip makhluk mitologi." Neo menggumam takjub, kepalanya mendongak


"Makhluk mitologi apa?" aku berseru karena tak terlalu mendengar suaranya. Konsentrasiku pecah sejak Rui menunjukkan kekuatan terbesarnya.


"Makhluk Mitologi Yunani, Jian. Anjing dengan tiga buah kepala dari Yunani itu disebut Cerberus. Sebenarnya dia cocok sekali dengan Rui yang memiliki kekuatan dasar api. Cerberus juga menyemburkan api dari mulutnya. Mereka


memiliki kekuatan sama, cara mengeluarkannya saja yang berbeda." Neo menyeka ujung bibir, masih menjelaskan dengan begitu antusias.


Aku ber-oh pelan, tak mampu lagi memalingkan wajahku dari keindahan yang Rui ciptakan di dalam labirin es tak berujung ini.


"Bukankah kalian tidak berharap aku buru-buru menemui Tuhan? Kalau begitu, aku serahkan saja sisa pertarungan ini pada Rui dan Cerberus. Aku ingin tidur saja, tubuhku seperti hancur berkeping-keping lalu dikumpulkan lagi. Begitu sakit, sampai-sampai aku merasa jiwaku sudah pernah mengunjungi neraka bersama malaikat maut." Neo berbaring di sudut jalan, meluruskan kakinya.


"Hei, Neo. Itu bukan berarti kamu bisa bersantai sendirian. Kartuku masih perak, Rui tetap membutuhkanmu untuk mengalahkan monster ini." Aku menunjuk ke depan, Rui dan entitas sihirnya sudah bertarung melawan monster itu. Sendirian. Eh, hanya berdua.


Neo tiba-tiba terbatuk, lalu memuntahkan darah begitu banyak. Dia terlihat kesakitan tapi tak mau menunjukkannya, tangan kirinya yang berlumuran darah itu terlihat seperti mencengkeram dadanya yang sepertinya sangat sakit.


Aku menggaruk tengkuk, lalu merebut kantong kecil milik Neo, dan mengeluarkan botol obat yang diberikan Zhi untuknya.


"Baiklah, Neo. Aku mengizinkanmu beristirahat saja karena lukamu yang parah itu. Minum obatmu, Neo. Biarkan aku dan Rui saja yang mengalahkan monster keparat itu." Aku berdiri, menghela napas pelan.


Neo meminum cairan obat dari botol itu lagi. Ini sudah berhari-hari, dan Neo masih membutuhkan obat itu untuk menyembuhkan lukanya yang tak kunjung pulih.


Aku melesat terbang, membantu Rui dengan binatang magisnya. Piu Piu juga melayang di sebelahku. Siap-siap mengirimkan serangan terkuatnya.


"Terima kasih, Jian." Rui tersenyum dari balik cahaya api birunya yang menawan.


Aku bahu-membahu melawan monster sialan ini. Tapi seperti tidak berguna, kekuatanku hanya dianggap lalat pengganggu oleh monster ini, tidak berdampak apapun.


Argh!


Aku mengerang, lenganku berdarah dan robek begitu panjang setelah tersungkur begitu keras. Darah itu membeku begitu menetes di salju yang kami pijak.


Aku menatap dinding es ini. Yang masih tetap tak hancur apalagi meleleh meski Rui membara di depan sana. Dan semburan api anjing berkepala tiga yang tak kunjung berhenti.


Ini apa? Benarkah ini bongkahan es yang dibentuk menjadi labirin raksasa? Atau sesuatu yang lain yang sifat-sifatnya menyerupai es sungguhan? Kenapa tidak bisa meleleh?


Aku terkesiap. Tiba-tiba menyadari sesuatu yang aku sendiri tak mengerti bagaimana cara kerja sesungguhnya.


Segel Lilin Keabadian. Segel itu adalah labirin ini. Segel itu adalah monster salju ini. Segel itu adalah semua binatang yang menghalangi jalan kami selama ini.


Aku mengetahuinya setelah mengamati dinding ini dengan serius. Di dalam dinding ini, seperti ada sesuatu yang hanya aku yang memahaminya.


Sesuatu tentang ketulusan.


Aku segera berlari ke arah Neo duduk bersandar, lalu memapahnya untuk berdiri di belakang Rui yang masih bertarung.


"Neo, bisakah kamu membantuku?" Aku menyeka keringat di dahi.


"Membantu apa?"


Kerahkan kekuatanmu sebanyak mungkin untuk membantu Rui melelehkan semua labirin ini," aku berkata dengan mantap.


"Kamu gila, ya? Meskipun aku tahu obsesimu untuk segera keluar dari labirin ini, juga bukan ide yang bagus untuk melelehkannya, Jian. Itu mustahil!" Neo malah memarahiku.


"Dengar dulu, Neo. Lilin Keabadian itu! Dia tidak pernah ada di pusat labirin ini. Itu hanya teknik penipuan sempurna saja untuk membohongi semua orang yang mencoba mengambilnya.


"Kita pernah dengar dari semua orang yang kita kenali sepanjang perjalanan kita, Neo. Bahwa hanya orang yang memiliki hati tulus yang dapat menemukannya.


"Jika kita berhati tulus, upaya apapun yang kita lakukan, akan mendatangkan lilin itu kepada kita. Aku barusan memahami sesuatu. Tentang labirin ini."


Aku menatap Neo dengan dalam, "Neo, bukankah kita bertiga sudah terikat hubungan persahabatan yang begitu dalam? Ketulusan apalagi yang harus kamu ragukan? Labirin ini, dan semua rintangan yang ada di dalamnya, akan hancur jika kita menyatukan kekuatan ketulusan kita demi sahabat yang kamu sayangi ini.


"Jika kita menghancurkan labirin ini dengan ketulusan kita, maka lilin itu akan datang sendiri kepada kita. Jadi, labirin inilah segel yang harus kita hancurkan."


Neo terdiam cukup lama, dia masih mencerna penjalasanku yang begitu tak jelas. Aku tidak yakin ada yang mampu mengerti kalimat panjang itu. Tapi Neo harusnya mengerti.


"Baiklah, meski aku tidak sungguhan mengerti apa yang kamu maksud, tapi aku memercayai apapun yang kamu katakan, Jian. Mari kita satukan kekuatan kita untuk menghancurkan labirin ini?!" Neo mengambang, tubuhnya mengeluarkan cahaya terang.


Aku tahu tubuhnya bukan berada di kondisi yang memungkinkan baginya untuk mentransfer semua kekuatan sihirnya kepada Rui. Tapi jika dia melakukannya dengan tulus, harusnya kami akan segera mendapatkan Lilin Keabadian.


Kami mentransfer semua kekuatan sihir kami untuk Rui. Tubuh Rui bercahaya semakin terang, api biru di tubuhnya berkobar sangat tinggi.


Rui pasti sudah merasakan lonjakan kekuatan yang tak terbatas sekarang. Dia mungkin tidak mengerti apa yang kami lakukan padanya, tapi Rui harusnya tahu kami melakukannya dengan tulus.


Rui mentransfer semua kekuatannya ke dalam entitas sihirnya. Sekarang anjing itu mengalami transformasi kedua, tubuhnya membesar lagi, tiga kepalanya terlihat gagah, menggeram kencang, menyemburkan api yang begitu panas membakar.


"Sedikit lagi, Neo!" aku berseru, keringatku mengucur deras, menatap Neo yang mati-matian mempertahankan kuda-kudanya.


Aku mendorong tangan kananku ke bahu Neo, mentransfer separuh tenagaku untuk Neo. Setidaknya untuk membantunya tetap berdiri.


"Berhenti, Jian! Jangan menguras tenagamu sia-sia!" Neo meneriakiku, tapi aku tak mau mendengarkannya.


Neo memuntahkan darah lagi, tapi sihir yang dia keluarkan tidak berkurang. Neo lebih kuat dari yang aku pikirkan.


Meski terluka, Neo tetap mampu mengendalikan kekuatannya dengan baik. Dia sekarang seorang Penyihir Kartu Emas. Tentu lebih kuat dariku.


Aku terbanting satu langkah, langsung memperkokoh kuda-kudaku sebelum terlempar ke tanah. Tangan kananku terus mentransfer energi ke tubuh Neo, tangan kiriku teracung ke depan untuk mentransfer kekuatanku ke tubuh Rui.


Tapi sepertinya aku cepat sekali melemah dibanding Neo yang masih terlihat bugar. Aku merasa tidak sanggup berdiri lagi.


"Hentikan sekarang, Jian!" Neo berseru menyuruhku berhenti. Tapi aku akan tetap mengirimkan energiku untuknya.


Melihatku yang begitu keras kepala, Neo mendorong tubuhku hingga terlempar begitu jauh ke belakang, aku langsung kehilangan kesadaran begitu tergeletak jatuh.


Sayup-sayup aku mendengar Neo berteriak kencang, samar-samar aku melihat tubuh Neo jatuh berdebam begitu keras dengan darah di mana-mana.


Neo, apa yang kamu lakukan?