Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Tuan Muda Ale



Wajah Tuan Wali Kota menegang begitu mendengar sapaan hangat dari peserta terakhir yang dipanggil olehnya sendiri.


Sepertinya mereka benar-benar teman lama. Pernah saling mengenal dan berhubungan berapa ribu tahun yang lalu.


Dan lagi-lagi aku menduga, Tuan Wali Kota tidak menyukai pemuda ini. Dia sepertinya tidak berharap pemuda ini bisa memenangkan ujian darinya dan menikahi putrinya.


"Namaku Ale. Orang-orang memanggilku Penyihir Dari Langit. Tuan Wali Kota sepertinya sudah melupakan hubungan kita dahulu, benar?"


Tuan Wali Kota refleks menggeleng, dia melambai-lambaikan tangannya sambil mengatakan tidak.


"Tuan Muda. Kau sepertinya salah tempat. Ini adalah sayembara yang kubuat untuk mencari cinta sejati putriku. Kau—"


"Tuan Wali Kota, kau benar sekali. Aku memang sengaja mengikuti sayembara ini. Meski harus bertaruh nyawa, aku bersedia selagi putrimu bisa kembali melihat wajahku," Tuan Muda Ale mengembuskan napas panjang, kemudian matanya menyorot Tuan Wali Kota dengan tajam, "Apa kau juga akan menghalangiku lagi sekarang?"


Tuan Wali Kota terdiam gugup, dia berkali-kali melirik Win untuk membantunya bicara. Tapi Win bahkan menunduk menghormati pemuda yang mewarisi gelar Penyihir Dari Langit ini.


"Tuan Wali Kota, apa alasanmu yang selalu memisahkanku dari kekasihku sendiri? Kau bahkan tidak menyesal telah melakukan hal semacam ini padanya?


"Aku berusaha menjadi yang terkuat setelah kau memisahkanku dengan paksa darinya. Kau mengatakan aku bukan orang yang pantas menjadi pelindung hidupnya.


"Kau menjadikan kelemahanku sebagai alasan untuk menjauhkan kami. Sekarang aku sudah tanpa kelemahan. Aku memiliki gelar tak terkalahkan, aku memiliki puluhan ribu pasukan pribadi yang bisa menghancurkan Kota Luse dalam semalam. Kau harus tahu, ini peringatan dariku, karena usahaku selama dua ribu tahun tidak boleh sia-sia.


"Karena hanya aku, yang bisa membangunkannya." Tuan Muda Ale menekankan suaranya di setiap kata terakhir.


Tuan Wali Kota mendengus, "Kau sudah tidak berhubungan dengan putriku lagi. Putriku sudah dijodohkan dengan Pangeran Archi, dia menyetujuinya, kecelakaan ini terjadi karena ada banyak orang yang merasa iri padanya," Tuan Wali Kota terlihat mencari-cari alasan untuk menyingkirkan Tuan Muda Ale dari kompetisi yang dia buat ini.


Tuan Muda Ale mendadak tertawa panjang, "Ginjiro, oh Ginjiro. Kau bahkan tidak memahami putrimu sendiri. Apa kau benar-benar ayahnya?" dia menyambung tawanya lagi.


"Kamu ... ," Tuan Wali Kota tidak bisa menjawab lagi, hanya bisa menggerutu dalam hati.


"Yang menaruh mantra tidur itu dia sendiri, Tuan Wali Kota," Tuan Muda Ale mengatakan sesuatu yang benar-benar tidak terduga.


"Aku mengenalnya begitu lama. Aku tahu dia tidak akan mencintai orang lain selain aku. Tapi kau selalu menjodohkannya dengan putra-putra bangsawan dari kota-kota besar lain. Putrimu selalu menolak, tapi kau tidak menghiraukannya.


"Kali ini kau menjodohkannya dengan orang dengan derajat yang lebih tinggi. Dia tidak mampu menghindar lagi. Dia tidak pernah bersedia, tapi kau selalu memaksanya. Menurutmu, apa kau pantas dia sebut ayah?"


Aku jadi sedikit memahami pertengkaran ini. Sepertinya mereka benar-benar kekasih di masa lalu.


Tapi Tuan Wali Kota tidak merestui hubungan mereka karena status keluarga yang berbeda. Tuan Wali Kota memisahkan mereka, padahal keduanya masih saling cinta.


Tak disangka, perasaan dua orang ini tidak berubah meski terpisah dua ribu tahun. Tuan Muda Ale berjuang mendapatkan gelar tertinggi para penyihir selama dua ribu tahun terakhir.


Sedangkan Putri Wali Kota terus berusaha membatalkan semua perjodohan yang dilakukan ayahnya setiap tahun. Karena dia yakin suatu saat akan bertemu lagi dengan Tuan Muda Ale.


Tapi kali ini, Putri Wali Kota tidak bisa membantah lagi karena status tinggi yang dimiliki Pangeran Archi.


Dia merencanakan hal yang lebih berbahaya. Memasang mantra tidur pada dirinya sendiri. Berharap Tuan Muda Ale mendengar berita itu dan datang untuk membangunkannya.


Risiko ini sungguh besar. Bagaimana jika Tuan Muda Ale sudah melupakannya dan tidak mencintainya lagi? Bagaimana jika Tuan Muda Ale tidak mendengar berita ini? Bagaimana jika ternyata Tuan Muda Ale sudah tidak ada di dunia ini?


Semua kekhawatiran itu tidak benar. Meski menunggu selama seratus hari, usahanya akhirnya membuahkan hasil. Cinta sejati mereka benar-benar abadi, melewati ujian perpisahan yang begitu berat, keduanya tidak pernah berubah. Keyakinan Putri Wali Kota tentang kedatangan Tuan Muda Ale benar-benar terwujud.


"Para Penjaga Pintu," Tuan Muda Ale menyerongkan tubuhnya sedikit,


Win dan Zhi membungkuk ringan, "Kami di sini, Tuan Muda."


"Derajat kita sama, kalian adalah seniorku, tidak perlu begitu hormat," Tuan Muda Ale tersenyum ramah, "Bisakah kita memulai ujiannya?"


"Tidak bisa! Kau tidak boleh mengikutinya! Para Tuan Muda, Silakan, hanya kalian bertiga yang diloloskan, pemuda brengsek ini tidak pantas bersanding dengan putriku, kau tidak pantas! Kau hanya gelandangan yang tidur di jalanan dan memakan roti basi!" Tuan Wali Kota malah mengamuk sambil menunjuk-nunjuk Tuan Muda Ale dengan penuh kemarahan.


Win mengangkat tangan, ocehan Tuan Wali Kota redam seketika. Mata Win tertuju pada tiga kandidat terakhir yang menoleh-noleh bingung.


"Tuan Muda Jeon, Tuan Muda Aio, Tuan Muda Chan, apakah kalian ingin berbicara sesuatu?" Win bertanya datar.


Tiga Tuan Muda itu menautkan tangan sebagai simbol hormat, "Kami mengundurkan diri dari kompetisi, karena merasa kami tidak pantas bertarung dengan Penyihir Dari Langit."


"Kalian! Apa yang kalian lakukan?!" Tuan Wali Kota mulai berseru-seru panik.


Dia bahkan menahan Mereka yang berbalik hendak kembali ke rumah masing-masing.


"Tuan Wali Kota," Zhi memanggilnya.


Tuan Wali Kota menoleh.


"Sebenarnya, yang kau lakukan ini sama sekali tidak benar. Kau sudah keterlaluan, kami bisa saja mengirimmu ke Akademi Jiandu untuk diadili. Bagaimana?" Zhi menyilangkan lengan di depan dada dengan begitu santai.


"Lagipula, kau menahan mereka juga tidak ada gunanya. Orang yang bisa membangunkan putrimu sudah berdiri di depanmu sejak tadi. Kenapa kau mengesampingkan masalah itu dan malah mengutamakan kebencianmu terhadapnya?" Win meneruskan.


Tuan Wali Kota tidak berbicara lagi.


"Terima kasih telah membantuku berbicara, Tuan Win," Tuan Muda Ale menunduk berterima kasih.


"Kau ini sungguh mempersulit keadaan. Lebih baik kita segera membawa Tuan Muda Ale ke Paviliun Bunga Musim Semi. Putrimu tidak akan bisa bangun selamanya jika kita terus menunda hal ini. Kau kesampingkan dulu kebencianmu, bicarakan lagi setelah Tuan Muda Ale berhasil membangunkan putrimu. Apakah bisa?" Zhi berbicara dengan nada yang terdengar malas.


Karena semua orang menyetujuinya, akhirnya Tuan Wali Kota hanya bisa menuruti saran dari kami.


Tuan Muda Ale berjalan memasuki Paviliun Bunga Musim Semi. Aku berjalan sejejer dengannya, melirik sedikit saja, aku sudah bisa melihat wajahnya yang cemas penuh harap.


Sungguh, Tuan Muda Ale benar-benar tampan, jika aku berasal dari sini, aku juga akan mencintainya. Putri Wali Kota benar-benar beruntung memiliki seseorang yang sepertinya begitu tulus padanya.


Kami tiba di kamar Putri Wali Kota. Tuan Muda Ale terduduk lemas, dia akhirnya melihat wajah itu lagi.


Setelah dua ribu tahun tak saling berkabar, akhirnya mereka bertemu kembali. Tuan Muda Ale menggenggam tangan Putri Wali Kota dengan erat, tangisnya terdengar dramatis.


"Chuntian. Apa kau mendengar suaraku?" Tuan Muda Ale berranya dengan suara bergetar.


"Apa kau merindukanku?" senyumnya tak tertahan lagi, dia begitu senang melihat wajah kekasihnya lagi.


"Dua ribu tahun tidak bertemu, aku tidak mengingat lagi wajahmu, tidak lagi bisa melukiskan indah matamu, tidak ingat betapa manisnya bibirmu. Aku sangat merindukan itu." Dia menyeka pipinya.


"Chuntian ... ," Tuan Muda Ale berkata pelan, wajahnya mulai mendekati wajah Putri Wali Kota, kini aku tahu namanya, ternyata memiliki arti yang sama dengan Paviliun Bunga Musim Semi miliknya.


Aku dan Rui saling bertukar pandang.


"Adegan ini lebih mengharukan dari pada pertemuan Gu Jiusi dan Liu Yuru yang terpisah tiga tahun." Rui mendekatkan mulutnya ke telingaku.


"Kau tahu dari mana?" aku bertanya penasaran.


"Aku pernah melihat Neo saat dia sedang menonton drama." Rui menjawab cepat.


Kami kembali menatap ke depan, ini adegan yang indah dan mengharukan. Kami ingin melihat bagaimana ciuman tulus Tuan Muda Ale membangunkan Chuntian.


Aku menahan napas, adegan itu telah dimulai. Aku melirik Tuan Wali Kota sedikit, wajahnya begitu tidak senang dengan yang dilakukan Tuan Muda Ale pada Chuntian.


Saat Tuan Muda Ale hendak melepasnya, tangan Chuntian mendadak menahannya, membuatnya terjatuh ke tubuh Chuntian dengan cukup keras, Chuntian memeluk Tuan Muda Ale begitu erat.


Mereka terlihat sangat mesra. Kami semua terpaksa keluar dari kamar itu. Tidak boleh mengganggu pertemuan mengharukan sepasang kekasih ini.