Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Ujian Bulanan



Beberapa minggu itu, Jian dan Rui benar-benar tidak pernah bertemu dengan Neo lagi. Di beberapa kesempatan, mereka sengaja datang ke Aula Istana untuk melihat seberapa keras Neo berlatih.


Jian mengakui upaya besar Neo yang mempersiapkan segalanya demi melindungi dia dan Rui di perjalanan panjang itu.


"Jian, kurasa kita yang harus mendekatinya dan berbicara dengannya." Rui membujuk Jian untuk kesekian kalinya.


"Biarkan saja dulu, Rui." Jian melangkah keluar dari Aula Istana.


Rui bingung bagaimana membuat Jian dan Neo berbaikan lagi. Rui selalu memahami Jian. Jika tidak menginginkan sesuatu, Jian akan menentangnya hingga kapanpun. Apalagi hanya seorang Neo, Jian memang kurang menyukai Neo sejak masih berada di sekolah. Baiklah. Rui akan diam saja dan menunggu angin mengantarkan salam berbaikan kepada mereka.


Mereka bukan lagi anak SMA yang hanya tahu membaca komik dan belajar Sains. Mereka bahkan memiliki kekuatan magis yang berhasil mereka kuasai setelah latihan berminggu-minggu. Jian memiliki Jilly untuk mengendalikan angin. Rui memiliki Riu untuk mengendalikan api. Tapi mereka tidak tahu apa yang dimiliki Pru untuk membantu Neo menstabilkan kemampuannya di elemen tertentu.


Demi tidak mengecewakan upaya Neo, Rui sesekali mengajak Jian mengulangi pelajaran tadi pagi. Jian juga bersungguh-sungguh dengan latihannya. Katanya, hanya demi melindungi diri sendiri saja.


"Jian, beberapa hari lagi ujian bulanan. Apakah kamu sudah mempersiapkannya?" Rui bertanya di sela-sela latihan.


"Itu hanya ujian bulanan, Rui. Bukan ujian kenaikan kelas, tidak perlu sungguh-sungguh mengerjakannya," Jian mengentakkan tangannya, seketika Jilly berada di genggamannya dengan erat, "Kamu mau berlatih denganku?"


Rui mengangguk.


Namun sebelum keduanya memulai latihan duel, seorang pria dari kelas atas yang menghampiri keduanya, "Hai, apakah kamu Jian?" sapanya.


Jian dan Rui saling tatap. Ada apa dengan pria ini? Tiba-tiba saja menghampiri dan menanyakan nama? Dari mana dia tahu kalau itu Jian?


"Ah, iya. Namaku Agg. Aku melihat fotomu di Papan Ujian Bulanan. Aku adalah lawanmu di ujian nanti." jelas Agg.


"Eh, Ujian Bulanan? Apa itu sudah keluar?" Rui bertanya pada Agg.


"Iya. Nama-nama kalian sudah tercantum di Papan Ujian Bulanan. Kamu bisa melihatnya sendiri. Nah, Jian, aku akan melawanmu dan dua temanmu yang lain. Kamu berada di nomor kelompok 4."


"Apakah Rui ada bersama kelompokku?" tanya Jian.


Agg berpikir sedikit, menatap wajah Rui, "Ah, aku tidak memperhatikan wajah lain di Papan Ujian Bulanan. Dia tidak ada di kelompokmu, jadi aku tidak menemukan wajahnya. Dua teman kelompokmu yang lain adalah Fu dan Jez."


Jian menatap Rui dengan tatapan sedih, "Kita tidak satu kelompok."


"Tidak apa-apa, Jian. Aku akan menyemangatimu dari belakang," Rui tersenyum lebar, "Lebih baik kamu temani aku melihat Papan Ujian Bulanan itu, aku juga ingin tahu wajahku ada di kelompok mana."


"Terima kasih info darimu, Agg. Semoga kamu bisa mengalah untukku di ujian nanti," Jian berseru sambil meninggalkan halaman depan asrama.


"Aku perlu mempertimbangkan dulu, Jian." Agg tertawa, "Ah, dia manis sekali."


Jauh di depan halaman Aula Istana, Neo memperhatikan seorang pria yang baru saja mendatangi asrama untuk menemui Jian.


Neo sudah melihat ekspresi wajah Jian saat berbicara dengan penyihir kelas atas itu.


"Kamu tidak mungkin suka dengannya kan, Jian?"


...----------------...


Ujian bulanan akhirnya datang. Jian berkumpul dengan Jez dan Fu. Teman kelompok Rui adalah Neo dan Sue. Tapi Neo belum bergabung dengan kelompoknya, Rui khawatir kenapa Neo belum bergabung.


Jian sempat melirik ke arah kelompok Rui, Rui melihatnya, Jian pasti merasakannya juga. Kenapa Neo belum bergabung?


"Kamu dari mana saja, Neo?" tanya Sue, "Ujian sudah dimulai, kita berada di kelompok 2, akan maju setelah ini."


"Aku tahu, lagipula mereka baru memulainya kan?" Neo melambaikan tangan. Dia terlihat santai.


Di atas panggung, terlihat murid kelompok pertama sedang melawan kakak kelas atas lainnya. Jian melihat Agg berdiri di seberangnya. Pria itu tampak tidak sabar akan bertarung dengan Jian di atas panggung. Jian tidak menyadari jika Neo sedang mengamatinya dan selalu mengamatinya sejak keduanya tidak saling tegur sapa.


Sekarang sudah saatnya Rui, Neo dan Sue menaiki panggung pertarungan. Seorang perempuan bernama Flo dengan kartu identitas berwarna emas sudah berdiri di atas panggung menghadap adik kelasnya.


"Hei, Kartu Putih, kalian siap?" Flo terlihat bangga dengan kemampuannya, "Kudengar yang laki-laki itu murid tunggal yang terpilih, ya? Bagaimana Master Hudie bisa tertarik padamu, Nak? Kau terlihat lemah."


Neo tidak menghiraukannya, padahal Sue sudah berharap Neo akan memukulnya di tempat, tapi tampaknya Neo sudah lebih tahu aturan dari pada saat masih di sekolahnya dahulu.


Suara lonceng berbunyi, "Aku sudah boleh memulai serangan, kan?" Neo menatap Flo dengan tajam. Tanpa aba-aba, tubuhnya menghilang dan muncul di depan Flo, hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya saja. Neo bahkan tidak mengeluarkan tongkat sihirnya. Hanya mengandalkan kartu sihir dalam tubuhnya untuk berteleportasi sepersekian detik tanpa memerlukan portal. Tanpa memberi celah, Neo meninju bawah dagu Flo. Gadis itu terjungkal hingga nyaris terjatuh dari panggung.


"Lihatlah anak sombong itu, sudah tersungkur padahal aku tidak mengeluarkan sihir apapun. Perlukah kita hanya beradu tinju saja?" Neo mengulurkan tangannya membantu Flo berdiri, "Aku melakukannya karena kamu senior dalam hal ini. Aku tidak boleh tidak sopan."


Flo menepis uluran tangan Neo. Dengan wajah kesal dia mengeluarkan tongkat sihirnya, tongkat itu terbang sendiri dan bergerak ke sana kemari berusaha menyakiti Neo dan Sue. Flo hanya diam sambil menyilangkan lengan di depan dada, yang terlihat hanyalah dia berkonsentrasi mengendalikan tongkat sihirnya agar memiliki kesempatan memukul mundur Neo.


"Apa ini? Itu curang! Aku bahkan tidak mengeluarkan Pru sama sekali. Kamu malah berdiri diam dan mengandalkan tongkatmu!" Neo berseru protes.


"Kenapa? Kau keberatan? Atau kau belum menguasainya? Hah! Tentu saja. Kartu sihirmu masih berwarna putih, tidak ada kekuatan dalam dirimu yang bisa mengendalikan tongkat sihir sehebat 'Para Kartu Emas' sepertiku. Lagipula kami diizinkan mengeluarkan seluruh kemampuan demi membuat kalian kalah!" Flo membuat tongkat sihirnya terbang lebih cepat dan akurat. Neo tidak bisa menghindari serangan sebanyak itu. Sue membuat penghalang transparan untuk menghindari dirinya, Rui dan Neo terkena pukulan gila tongkat milik Flo.


"Kita harus bagaimana, Neo?" Rui bertanya cemas.


"Elemen magis apa yang sudah kamu kuasai, Rui, Sue?" Neo bertanya serius.


"Eh, kami hanya menguasai Elemen Api." Sue yang menjawab, "Tapi tidak tahu apa yang sebenarnya kamu kuasai. Kamu berlatih terpisah dengan kami. Jadi mungkin kekuatan magismu lebih istimewa."


"Tidak ada yang istimewa, aku hanya lembur saja. Harus menguasai pelajaran satu tahun dalam waktu satu bulan saja. Ternyata masih tidak lebih baik dari kekuatan magis Flo!" Neo keluar dari penghalang yang dibuat Sue, "Panggang dia dengan api ribuan derajat celcius, Rui! Sue, buat konsentrasinya pecah agar aku mudah menghancurkan formasi tongkatnya. Gunakan mantra ilusi dasar untuk membuatnya teralihkan beberapa detik."


"Mantra apa?" Sue menghancurkan penghalangnya sendiri, Rui sudah bergerak, terbang tinggi untuk melepas api super panas yang sudah mampu dia kendalikan.


"Ah! Apa kamu juga tidak mengerti mantra ilusi dasar? Biar aku saja!" Neo melemparkan tangan kosong. Sebuah angin menghempas dari tangan Neo, tepat mengenai dahi Flo yang berdiri diam mengamati tanpa menyadari apa yang akan Neo perbuat padanya, sisa tenaga itu menabrak pohon, membuat pohon itu bergoyang dan menjatuhkan beberapa buah.


Sue segera bergerak membantu Rui yang sudah bersiap mengeluarkan api. Neo mendongak, dirinya tampak terkejut, "Hei, Rui! Kamu serius akan memanggangnya? Yang kumaksud bukan dia, tapi tongkatnya! Serahkan gadis itu pada Sue saja. Sue, kamu cukup memukul dagunya saja. Rui, kamu kemarilah! Tongkat ini masih sulit di hadapi, saat Sue memutus konsentrasinya, keluarkan apimu untuk memanggang tongkat sialan ini!" Neo berseru kehabisan kesabaran karena Rui salah paham dengan penjelasannya.


Rui hanya segera pergi saja dari lokasi yang tinggi, "Maaf, tapi kamu tidak bilang apapun tentang tongkat."


Neo menepuk dahi, "Bodoh sekali!"


Pertarungan penuh lelucon itu akhirnya berakhir dengan kemenangan Rui, Neo dan Sue. Di akhir, Sue bertanya bagaimana Neo bisa menguasai Sihir Ilusi Dasar. Neo bilang dia hanya kebetulan memilikinya saja.


"Neo pasti akan segera menjadi Kartu Perak." Tomu yang menyambut mereka di bawah menyahut.


"Bulan depan, kamu mungkin sudah berpindah kelas, Neo. Aku turut senang mendengarnya." Sue tersenyum ramah.


"Ah, tapi aku tidak mau." Neo melambaikan tangan, "Ada sesuatu yang lebih menarik untuk kujelajahi dari pada tinggal di kelas dua."


Ya. Itu adalah perjalanan mencari Jam Pasir, Lilin dan Kunci.