
Satu Minggu telah berlalu. Jian masih nyaman dengan posisi tidurnya. Mungkin karena energi penyembuhan Zhu yang sangat hangat.
Sudah satu minggu, Neo baru menyempatkan dirinya untuk menemani Jian di kamar. Selama itu, dia disibukkan dengan penyembuhan lukanya. Pun Jian tidak diperbolehkan dikunjungi untuk beberapa saat setelah mereka tiba dari Hutan Gumpalan Kuning.
"Jian, akhirnya aku bertemu denganmu lagi." Neo merapikan anak rambut Jian. Ini pertama kali baginya berkomunikasi dengan Jian sedekat ini.
"Aku minta maaf karena waktu itu mendorongmu pergi sendirian. Selain dipaksa keadaan, mungkin nasibmu lebih buruk lagi jika hari itu kamu tidak masuk ke dalam portal, Jian. Sekarang aku sudah lega, kamu baik-baik saja, karena kamu memang sangat kuat."
Senyum Neo mengembang tipis, dia menatap wajah cantik Jian lamat-lamat. Ini juga pertama kali baginya untuk menatap Jian dari jarak sedekat ini.
"Kamu cantik sekali, Jian. Selama ini, aku baru menyadarinya," Neo terkekeh pelan, "Aku merasa beruntung bisa menjadi satu-satunya sahabat laki-lakimu."
"Belakangan ini, aku memiliki banyak hal yang harus kusembunyikan darimu, Jian. Sampai kapanpun, kamu tidak boleh sampai mengetahuinya. Apalagi Rui. Ah, dia itu sangat penakut. Jika kamu dan Rui sampai tahu, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan kalian lakukan setelah mengetahuinya."
Neo menghela napas pelan. Mendadak dia mengingat semua perjalanan mereka sejak baru tiba di Kota Pubu.
Sebelum bertualang bersama, Neo nyaris tidak pernah menyangka dia akan berteman dengan salah satu murid perempuan tergalak di kelasnya itu.
Jangankan hanya berteman, Neo tidak pernah menyangka hubungan keduanya begitu berkembang di tengah situasi yang sangat tidak masuk akal ini.
Sejak menyimpan rahasia itu sendirian, Neo selalu berusaha menganggap dirinya cukup beruntung telah memiliki teman-teman sebaik Jian dan Rui.
Jika dipikirkan, di mana lagi dia bisa menguji apakah seorang teman itu tulus atau tidak selain di perjalanan ini.
Neo selalu berusaha untuk tidak menyesali apa yang telah dia pilih. Neo selalu berusaha agar setiap pilihannya dapat menguntungkan bagi teman-temannya.
Karena baginya, tidak boleh tidak ada Jian dan Rui di dunianya. Neo hanya membutuhkan dua orang itu untuk menemaninya setiap saat.
"Jian, sudah lama sekali kamu tertidur. Apakah tidak lelah?" Neo menceletuk lagi.
"Hari ini Rui pergi bersama Zhu ke puncak Gunung Es Keabadian lagi, Jian. Mereka ke sana untuk mengembalikan Lilin Keabadian yang sudah kamu ambil. Katanya, Jam Pasir juga sudah bisa dikembalikan ke tempatnya. Tapi aku melarang mereka untuk pergi ke Akademi Dixia tanpamu, Jian. Aku tahu kamu ingin mengucapkan terima kasih pada Win, Yets dan Bim secara langsung. Jadi aku meminta mereka untuk tidak mengembalikannya dulu hingga kamu bangun."
Neo diam sejenak, lantas dia tertawa begitu renyah, "Masalahnya, aku sudah begitu merindukan Win. Aku ingin segera menceritakan padanya bagaimana aku membunuh Rux sampai dua kali. Jadi, bisakah kamu segera bangun, Jian? Supaya kita bisa cepat pergi ke Akademi Dixia bersama-sama. Bagaimana?"
Suasana di dalam kamar kembali senyap. Neo mendengus, "Kamu sombong sekali, tidak mendengarkanku bicara begitu panjang-lebar."
Neo berdiri, "Aku pergi dulu, Jian. Aku lapar." Neo melangkahkan kakinya keluar kamar.
Beberapa menit setelah Neo pergi, Zhi datang memasuki kamar Jian untuk memeriksanya lagi. Pemeriksaan energi penyembuhan ini dilakukan berkala.
Zhi tersenyum lebar, "Syukurlah, Jian. Kamu semakin membaik."
...----------------...
Di puncak Gunung Es Keabadian, Zhu dengan mudah membuat portal untuk masuk ke dalam gua yang sebelumnya dipenuhi labirin raksasa.
"Aku tidak tahu kamu bisa membuka portal langsung ke tempat ini, Zhu. Terakhir kali, kami mengandalkan peta yang kamu berikan," Rui tersenyum lebar.
"Peta itu dibuat leluhurku di Desa Terkutuk. Tentu saja aku mengetahuinya. Pelajaran tentang portal teleportasi Para Penjaga Benda Pusaka ini, diajari turun-temurun dari beberapa generasi. Aku dan Zhi dipilih warga desa sebagai generasi ketiga."
"Sudah begitu lama, ternyata kalian baru generasi ketiga?" Rui bertanya heran. Bukankah sudah ribuan tahun?
Zhu terkekeh, "Aku dan Zhi sudah sangat tua, Rui. Usia kami seribu tahun lebih. Sudah setua ini, benda-benda pusaka ini bahkan lebih tua dari kami."
Rui tertarik dengan pembahasan ini, "Bagaimana dengan para hantu di Akademi Dixia?"
Zhu mengangguk, "Mereka juga sama tuanya seperti kami. Bahkan lebih tau dari kami. Mereka adalah binatang magis yang menempatkan jiwanya di dalam tubuh tuannya yang sudah mati. Mereka hidup mengandalkan botol jiwa masing-masing yang menyimpan wujud asli mereka. Itulah kenapa mereka disebut Para Hantu."
Rui mengangguk-angguk paham, mereka terbang rendah mengelilingi luasnya gua ini. Bekas pertarungan sudah lama tertimbun salju.
"Aku bisa membayangkannya, Rui." Zhu tiba-tiba menceletuk.
"Membayangkan apa?"
Rui tersenyum senang, "Sebenarnya, Zhu, jika bukan karena aku dan Neo bertengkar, mungkin portal itu tidak akan terbuka."
"Bertengkar?" Zhu duduk di atas hamparan salju, tubuhnya sedikit bercahaya, dia bertanya heran kenapa Rui dan Neo bisa sampai bertengkar.
"Eh, kami hampir setiap hari bertengkar sebenarnya. Tapi pertengkaran hari itu, benar-benar pertengkaran yang berbeda dari biasanya. Tapi karena pertengkaran hebat itu juga portalnya jadi terbuka," Rui terkekeh, "Setelah itu badai datang, dan setelah badai reda, portal itu terbuka. Kami bertiga masuk ke dalam portal. Dan muncul di labirin itu."
"Kudengar labirin itu memiliki banyak binatang buas di dalamnya, apakah benar?"
Rui mengangguk, "Pertama masuk, kami bahkan disambut seekor beruang kutub yang tidak bisa terluka. Setelah itu kami berpapasan dengan serigala, seekor rusa yang larinya sangat cepat, kawanan buaya, anjing galak, dan beberapa rintangan lainnya."
Zhu menghela napas, "Jika dipikirkan, perjalanan kalian mencari Lilin Keabadian sangatlah berisiko. Kenapa tidak memilih mundur dulu saja dan minta bantuan kami?"
Rui menggeleng tegas, "Tidak bisa, Zhu. Harus kami sendiri yang melaluinya. Lagi pula, perjalanan sejauh itu, tidak ada waktu untuk mundur sebentar. Bahkan tanpa mundur, kami tetap berhasil melewatinya. Dan bertemu bahaya terbesar di akhir perjalanan kami. Seharusnya kami lebih berhati-hati saja." Rui tersenyum tipis. Mengingat kemunculan Rux yang tiba-tiba membuat mereka bertiga dalam kecelakaan besar.
Zhu menepuk bahu Rui, "Tidak apa-apa, Rui. Kami akan membantu kalian apapun caranya. Kau bantu aku memusatkan energi di dalam gua," Zhu menempelkan tangannya di atas hamparan salju, dia baru saja memasukkan Lilin Keabadian ke dasar gua itu. Cahaya di seluruh tubuhnya berpusat di bawah telapak tangannya yang menyentuh salju.
Rui mengikutinya, menempelkan telapak tangannya di atas hamparan salju.
Energi yang diserap itu, entah bagaimana caranya membuat seluruh salju yang menumpuk di dalam gua ini mencair begitu saja. Lantas membeku menjadi balok-balok es yang membentuk pola tertentu.
Labirin yang baru kembali terbentuk. Binatang-binatang buas yang sebelumnya menghilang kembali muncul.
"Lilin Keabadian sudah kembali ke tempatnya. Kita bisa keluar sekarang, Rui." Zhu tersenyum puas.
"Menurutmu, apakah Jian sudah bangun, Zhu?" Rui bertanya asal.
Zhu mengangkat bahu, "Kita akan tahu saat tiba di rumah nanti."
...----------------...
Mereka tiba di rumah tepat setelah matahari terbenam. Rui memasuki rumah dengan perasaan bahagia. Mereka sempat berburu beberapa kelinci salju.
"Neo! Bisakah urus kelinci-kelinci ini? Aku sudah lapar!" Rui berteriak saat memasuki rumah.
Zhu tertawa lebar, "Begitu lama tinggal di rumahku, sudah bisa berteriak sesuka hati saja."
Rui mendadak berhenti meneriaki Neo, dia berdiri mematung di depan pintu rumah. Tidak berteriak lagi.
"Ada apa, Rui?" Zhu bertanya kenapa Rui tiba-tiba terdiam seperti itu.
"Jian, aku merindukanmu!" Rui berlari sambil melempar kelinci-kelinci yang sudah dia tangkap susah payah itu.
Dia langsung memeluk Jian yang duduk di kursi roda.
"Kapan kamu bangun, Jian? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?" Rui menangis, masih memeluk Jian dengan erat.
"Aku bangun beberapa jam yang lalu. Karena merasa bosan, aku meminta bantuan Zhi dan Neo untuk membawaku berkeliling." Jian tersenyum lebar.
"Apa kabar, Jian? Apakah ada bagian tubuhmu yang terasa tidak nyaman?" Zhu tersenyum sambil menggendong kelinci-kelinci yang tadi dilempar Rui begitu saja.
"Aku sudah baik-baik saja, Zhu. Terima kasih banyak sudah merawatku."
"Jian, ke mana Zhi dan Neo?" Rui melongok ke dalam rumah, tidak menemukan dua orang itu.
"Mereka memasak di dapur, memintaku menunggu di sini sebentar. Katanya Rui dan Zhu akan datang sebentar lagi. Dan kalian benar-benar datang lebih cepat dari yang kuduga." Jian terkekeh.
"Kamu ke kamar lagi saja, Jian, istirahatmu kurang cukup." Rui mendorong kursi roda itu, hendak membawa Jian kembali ke kamar.
"Eh, Rui! Aku sudah bosan tiduran di kamar. Sekarang hanya ingin mengobrol denganmu saja," Jian nyengir lebar.
Rui tertawa sambil memeluknya lagi, "Kamu benar-benar sudah baik-baik saja, Jian!"