
POV Jian
Saat itu kami belum menyadari apa yang terjadi di depan sana. Tapi Akademi Dixia seakan tahu dan melihat ada kami di seberang danau yang begitu luas ini, dan menembakkan sesuatu yang menyebabkan ledakan besar yang membuat danau bergolak dengan gila. Untung saja Piu Piu melindungi kami dengan tameng besar berbentuk setengah lingkaran. Entah dari mana dia mempelajarinya, aku yang tuannya bahkan belum bisa membuat tameng sesempurna yang dia buat.
"Kita tidak bisa hanya diam di sini!" Neo berseru, melihat ke depan dengan serius. Tembakan itu muncul terus-menerus, menciptakan gelombang besar di tengah danau, seakan ada hujan lebat di tempat kami berdiri.
Neo membuat tameng serupa, melapisi tameng Piu Piu yang nyaris retak dan hancur. Aku berpikir keras, air yang datang kuat sekali, jika kami bergerak sekarang, kami mungkin lebih dulu terseret ombak sebelum sempat menghindar.
Solusiku sementara ini, hanyalah bertahan hingga tembakan itu usai dan air danau kembali tenang, bergerak sekarang terlalu berisiko.
Tapi Neo benar, kami tidak bisa bertahan lebih lama. Tameng itu, cepat atau lambat akan hancur juga, dan kami di dalamnya, juga akan tenggelam jika hanya diam saja.
"Baiklah, mari kita keluar!" aku memutuskan dengan serius.
Rui menatapku tidak percaya dengan wajahnya yang cemas dan ketakutan. Melihat wajahnya, aku mengerti, aku juga sangat takut kalau-kalau kami tidak bisa segera terbang tinggi setelah tameng ini hancur.
"Jangan khawatir, Rui. Kita akan baik-baik saja," aku tersenyum, semoga perkataanku mampu menenangkan Rui, "Keluarkan tongkat sihir kalian, dan segera terbang sebelum ombak kembali datang, oke? Aku akan menggunakan sihir untuk menarik kita terbang ke atas dengan cepat."
"Tongkatmu tidak bermasalah lagi, kan, Rui?" Neo bertanya jahil. Aku langsung menimpuk kepalanya, bisa-bisanya dia menjahili Rui dalam keadaan segenting ini.
"Satu!" aku mulai menghitung, tameng di atas kami mulai retak, dan air di depannya masih bergolak tinggi.
"Dua!" retakannya semakin panjang dan menjalar dengan cepat, kami tidak bisa memastikan kapan tameng ini benar-benar hancur.
"Tiga!"
Blar!
Tameng itu hancur bersamaan dengan tembakan berikutnya, aku mengacungkan Jilly ke atas, kami langsung tertarik ke atas seakan ada tangan raksasa yang menarik kami dari atas sana.
Syukurlah, selain wajah pucat dan tubuh gemetar, kami semua baik-baik saja.
"Jian! Piu Piu tertinggal!" Rui berseru sambil menunjuk ke bawah.
Astaga! Aku melupakan entitas sihirku sendiri! Piu Piu, dia sekarang terombang-ambing oleh ombak besar. Entah bagaimana aku bisa meninggalkannya begitu saja di bawah sana. Aku merasa sudah membawanya bersama kami, kenapa dia bisa tertinggal?
Aku melihat dengan jelas Piu Piu mulai kesulitan dengan air yang berombak tinggi itu. Dia hanya seekor kucing, dan kucing biasanya tidak terlalu menyukai air, bagaimana jika dia—
"Jangan khawatir, Jian. Kamu tidak ingat, dia baru saja menyelam dan menangkap banyak sekali ikan? Aku yakin gelombang seperti itu tidak akan membuatnya mati. Kita bisa mencarinya setelah tembakan itu hilang." Neo menenangkanku, dan aku benar-benar langsung merasa tenang.
Entah bagaimana, kalimat Neo, walaupun kadang menyebalkan, dia selalu tahu cara menenangkan seseorang yang sedang cemas.
"Tapi tembakan itu seperti tidak akan berhenti, dan kurasa ledakannya semakin lama semakin besar," dan Rui selalu bisa membuat orang semakin cemas.
"Kamu benar, Rui." aku menatap ke bawah, sepertinya tidak ada harapan untuk menyelamatkan Piu Piu.
"Meong!"
Wajahku langsung bercahaya, ternyata Neo benar. Piu Piu bukan kucing biasa. Dia adalah binatang spiritual yang memiliki kekuatan tersendiri. Sama seperti macan tutul Agg.
Aku langsung menyambarnya yang melompat keluar dari air, "Kamu tahu, aku mencemaskanmu!"
Piu Piu tidak menanggapi kekhawatiranku, tangannya membawa seekor ikan mentah, dia senang sekali berada di gendonganku sambil memakan ikan.
"Kupikir kamu harus mandi, Jian," Rui menahan tawanya.
"Sekarang mari kita pikirkan, bagaimana melewati serangan tembakan bertubi-tubi ini?" aku menatap kedua temanku bergantian.
"Sebenarnya, tembakannya terlihat ganjil, Teman-teman," Neo menggaruk janggutnya dengan ibu jari. Dia terlihat sangat menyebalkan.
"Apa maksudmu?" Rui ikut menatapnya.
"Sebelumnya aku berpikir kita bertiga adalah sasaran mereka. Tapi setelah kita terbang ke atas, tembakan itu tetap hanya menembaki tepian danau saja. Aku berpikir kalau itu hanya senjata otomatis yang berperan sebagai penjaga. Mungkin asalnya dari akademi di depan sana," Neo menunjuk ke depan.
Sebenarnya aku sudah berpikir seperti itu, tapi Neo duluan menjelaskannya, aku yang selalu juara satu, jadi nampak sangat bodoh di depan orang sok tahu ini.
"Kamu benar, Neo. Tembakan itu jelas hanya senjata otomatis, jadi kita bisa melewatinya dengan mudah dari atas. Lalu masuk ke dalam akademi itu dan melawan mereka dari dekat!" Rui mengepalkan jemarinya dengan bersemangat.
Hei, mereka pikir kita di sini untuk berperang?
"Kita bertamu, Rui, bukan berperang," Neo menurunkan tangan Rui, tersenyum kecil.
Aku mendengus. Mereka terbang lebih dulu, aku menyusul di belakang. Ternyata benar, peluru-peluru itu memang hanya menembaki tepian danau saja, membuat air bergolak, sungguh tidak mengarah kepada kami yang terbang di atasnya.
Kami tiba di depan pagar tinggi Akademi Dixia itu. Pagarnya tinggi sekali, berwarna kelabu, terlihat menyeramkan.
"Hei, mungkinkah ini di alam gaib?" Neo bertanya jahil.
"Kamu jangan menakutiku, Neo," Rui mencubit perutnya, "Kita di tengah Hutan Roh Penasaran."
Aku nyaris tertawa melihat tingkah Rui. Tapi deretan senjata raksasa yang mirip senjata artileri yang digunakan pada perang dunia pertama itu lebih menarik perhatianku. Aku pernah melihat yang serupa di dalam buku pelajaran.
Rupanya ledakan itu dihasilkan oleh mereka. Bisa dibayangkan jika kami benar-benar mati karena meriam-meriam menyebalkan ini. Yang satu ledakannya saja mungkin membuat danau itu berlubang.
"Teman-teman ...," aku berseru tertahan, menetap belasan meriam itu.
Rui terlihat menelan ludah, "Itu, yang membuat ledakan di sana?"
Tapi justru Neo beraksi sebaliknya, "Wah! Keren sekali! Mungkin hanya di sini aku bisa melihat senjata perang super besar yang begitu mengagumkan!" Neo mengeluarkan buku kecil dan pena.
"Kamu mau apa?" aku bertanya dingin.
"Tentu saja mau mencatatnya, ini termasuk peristiwa bersejarah. Kalau-kalau di masa depan aku melupakannya, aku akan kembali mengingat begitu membaca catatan kecil ini," Neo nyengir lebar.
Aku bergidik, bagaimana jika catatannya hilang lebih dulu sebelum masa depan itu datang? Sama saja percuma, kan? Lagipula, kenapa reaksinya sangat tidak normal? Manusia mana yang begitu antusias melihat meriam berdentum tepat di hadapannya?
"Lebih baik kita segera pergi, Jian," Rui memegang lenganku sangat erat, dia sangat ketakutan. Aku mengangguk, kami berjalan melewati pagar tinggi itu, ini benar-benar menegangkan.
"Siapa di sana!"
Terdengar seruan menyeramkan dari dalam akademi itu. Kami bertiga sontak langsung menghentikan langkah kami, aku menahan napas.
Apa ini?