
Kami bertiga berdiri rapat di atas salju tebal, di depan kami adalah Gunung Es Keabadian. Kami harus mendaki semalaman agar tiba di puncaknya.
Kami juga tidak tahu apa yang menghadang kami di depan sana. Kami pernah hampir mati berkali-kali, tujuan yang satu ini, tentu saja tidak lebih mudah dari sebelumnya.
"Apakah kita akan mulai mendaki sekarang?" Neo bertanya memecah keheningan.
"Matahari sudah hampir tenggelam, bukankah tidak aman mendaki di malam hari?" Rui menyanggah.
"Hei, setidaknya besok pagi kita bisa melihat matahari terbit dari atas sana, bukankah indah sekali?" Neo menunjuk puncak gunung besar itu.
"Tapi bagaimana kalau ada bahaya di tengah jalan? Ini bukan gunung yang biasa ada di dunia kita, Neo, saljunya bahkan sangat tebal," Rui lagi-lagi menolak.
"Bagaimana menurutmu, Jian?" Neo meminta pendapatku.
Aku mengangkat bahu, "Terserah kalian saja. Tapi menurutku lebih baik kita bermalam di bawah dulu, besok pagi baru naik. Jika melihat dari sini, seharusnya gunung itu cukup terjal, bahkan tidak ada jalur pendakiannya, akan sulit kalau kita mendaki malam hari, apalagi pencahayaan di sini tidak cukup terang. Belum lagi kemungkinan ada hewan buas, dan badai salju," aku menjelaskan apa yang menurutku masuk akal saja.
Neo mengembuskan napas, "Bagaimanapun bentuk kalimatmu, tetap saja kamu akan membela Rui," dia bersungut-sungut kesal.
"Ini bukan tentang membela siapa atau siapa, Neo. Aku hanya menyingkirkan kemungkinan terburuk saja," aku protes dia menuduhku tidak adil, "Lagipula, ini pertama kali bagiku."
Neo berjalan mendahului kami, "Jika ingin beristirahat, maka lebih baik cepat, kita lihat apakah ada tempat yang cukup hangat untuk beristirahat," Neo memeriksa sekitar.
Di kaki gunung, ada pohon besar yang memiliki ceruk dalam di bawahnya. Setidaknya cukup untuk dua orang, satu yang lain akan berjaga di luar.
Neo mendirikan tenda kecil, aku membersihkan ceruk pohon, Rui membuat api unggun. Ini adalah tempat beristirahat yang cukup baik hingga besok pagi.
"Aku akan pergi menangkap beberapa kelinci salju, kalian bisa menyiapkan rempah-rempahnya," Neo berdiri.
"Eh, bukankah masih ada roti?" Rui memeriksa kantongnya.
"Roti itu tawar, Rui. Kita butuh lauk pauk." Neo tidak peduli lagi, segera pergi ke wilayah yang lebih rapat pepohonan.
"Biarkan saja, Rui. Dia tidak bisa makan tanpa daging, kamu juga tahu sendiri." Aku menepuk pundak Rui, melebarkan kesabarannya.
Setelah berjam-jam, Neo kembali dengan seekor kelinci gemuk di tangan kirinya, tangan kanannya menggenggam tombak panjang dengan ujung runcing.
Neo tertawa renyah, "Sangat sulit menangkap kelinci salju, aku hanya mendapatkan satu, tapi sangat beruntung karena kelincinya cukup gemuk. Ini cukup untuk kita bertiga makan malam." Neo segera mengolahnya menjadi daging siap masak.
Malam ini, kami benar-benar makan malam dengan kenyang berkat kelinci gemuk yang Neo tangkap. Aku selalu bertanya-tanya kenapa dia tidak pernah gagal dalam berburu binatang.
"Neo, bagaimana caramu berburu?" Rui bertanya di sela-sela mengunyah.
"Seperti biasa, hanya berburu saja," Neo melambaikan tangan, cuek saja mengambil daging yang paling besar.
"Maksudku, kamu tidak pernah mendapat nilai bagus dalam pelajaran memanah," Rui menceletuk.
"Apalagi kamu hanya melempar tombak saja, bagaimana itu bisa tepat sasaran?" aku menambahkan.
Neo menatap kami bergantian, "Kenapa? Kalian tidak percaya aku memiliki bakat yang mengagumkan itu? Orang dulu bilang, tidak apa-apa tidak menunjukkan bakat di depan orang lain, yang penting kita bisa membuktikannya di waktu yang tepat," Neo protes kami berdua mengatainya tidak rajin dalam pelajaran memanah.
"Lagipula, pelajaran memanah di sekolah tidak pernah menyenangkan, mereka tidak menyediakan binatang sebagai target anak panah, hanya papan target saja. Itu tidak cukup untuk membuatku tertantang," Neo menambahkan.
Kami tidak berbicara lagi, sibuk menikmati makanan masing-masing.
Saat suasana semakin dingin dan gelap, langit di atas sana mulai menampakkan sesuatu yang sangat indah.
Bintang-gemintang bertebaran di mana-mana, ada semburat cahaya aurora menghiasinya. Kami menikmati malam indah ini dengan termenung.
"Jian, Rui, kalian bisa tidur saja. Aku yang akan berjaga malam ini," ucap Neo memecah keheningan.
"Eh, tidak bisa. Kamu tidak sehat, tidak seharusnya berjaga. Aku saja yang berjaga," Rui menggeleng tegas, menyuruh Neo segera masuk ke dalam ceruk.
"Kamu juga baru saja sembuh dari racun hitam, Rui. Kalian berdua tidur saja, aku yang akan berjaga," aku tidak mengizinkan Rui berjaga malam ini. Dia juga butuh istirahat ekstra.
"Kenapa tidak ada orang yang ingin tidur?" Neo menatap kami berdua kesal, "Aku tidak menerima belas kasihan dari siapapun, kalian tidurlah, aku tetap akan berjaga."
Aku dan Rui langsung terdiam, "Baiklah." Neo menyeramkan sekali saat marah.
Rui langsung tertidur begitu berbaring di dalam ceruk. Berbaring di samping Rui rasanya hangat sekali. Tapi aku tetap tidak bisa tidur.
Satu jam kemudian, aku memutuskan keluar dari ceruk. Selain karena tidak bisa tidur, aku juga tidak ingin mengganggu tidur nyenyak Rui.
Aku menghampirinya, duduk di sampingnya, " Aku tidak bisa tidur."
"Apakah kamu mau menemaniku mengobrol?" Neo mengeluarkan camilan dari dalam kantong kecil.
Aku menerimanya, "Apa kamu ingin menceritakan sesuatu padaku?" tanyaku.
"Sebelumnya, aku ingin berterima kasih dengan benar padamu, Jian," jawabnya.
Berterimakasih yang benar? Bagaimana itu?
"Kamu banyak sekali membantuku sejak kita terjebak di dunia ini," Nei menjawab ketidak pahamanku.
"Neo," aku memanggil namanya, dia menatapku saat itu juga, kami bertatapan cukup lama, tapi aku tidak segera melanjutkan kalimatku.
"Ada apa, Jian?" Neo memecah lamunanku, membuatku segera menggeleng kencang, "Tidak apa-apa."
Neo kembali menatap ke depan, "Aku merindukan kehidupan normal kita," ucapnya sambil mengembuskan napas pelan.
"Neo, jika saat itu kamu tidak mengikuti kami masuk ke pintu itu, kamu juga tidak akan ikut terjebak di sini. Kamu tidak akan meninggalkan kehidupan normal itu," aku menunduk.
"Maksudmu, kamu tidak senang aku berada di sini?" Neo menatapku intens.
Aku segera menggeleng, "Bukan begitu, aku hanya penasaran saja. Setiap hari aku selalu bertanya-tanya, tapi tidak berani menanyakannya."
"Menanyakan apa?"
"Menanyakan kenapa kamu memutuskan untuk menyusul kami memasuki portal itu," aku menjawab dengan suara kecil.
Neo tidak bicara setelah beberapa saat, "Mungkin karena aku merasa bersalah," Neo mengangkat bahu.
"Merasa bersalah?"
"Saat aku memberitahu kalian tentang ruangan baru di perpustakaan, sebenarnya aku berbohong, Jian. Ruangan itu adalah ruangan yang dibangun khusus untuk ekstrakurikuler musik. Tapi aku berbohong padamu kalau itu adalah ruangan teater," Neo mengembuskan napas pelan, "Kupikir kalian akan memarahiku saat kembali ke kelas lagi, ternyata yang kalian lihat sungguh ruangan teater. Aku mendengar kalian berencana mengunjungi ruangan itu lagi setelah sekolah, jadi aku mengikuti kalian untuk memastikan apa yang kalian lihat itu benar-benar ruangan musik yang kulihat."
Aku menatap wajah Neo yang terlihat bersungguh-sungguh. Jadi ruangan itu sebenarnya bukan ruangan teater. Tapi ruangan khusus untuk ekstrakurikuler musik.
"Tapi kami sungguhan melihat kostum-kostum fantasi yang keren, kami tidak curiga karena kelas dua belas memang akan memain drama teater tentang dunia sihir, kan? Siapa sangka ruangan itu adalah ruangan manipulasi yang berbeda dengan ruangan yang sebenarnya," aku menambahkan penjelasan.
"Jika aku benar, seharusnya itu adalah salah satu ruangan yang ada di Akademi Hudie. Aku pernah memasuki salah satu ruang ganti di dalam asrama, di sana ada berbagai seragam sekolah sihir dan beragam jenis tongkat sihir, mungkin ada sistem portal yang rusak di sana, membuatnya terlihat di dunia kita, dan membuat kita mendarat di Hutan Gumpalan Kuning itu," jelas Neo.
Aku mengangguk-angguk, "Seharusnya begitu."
"Jian, apakah kamu marah padaku setelah mengetahui itu?" Neo menatapku lagi.
Aku mengernyit, "Kenapa aku harus marah?"
"Gara-gara aku membohongi kalian, kalian jadi terjebak di sini. Jika aku tidak berbohong, kalian tidak akan mendatangi ruangan itu dan tiba di dunia aneh ini."
Neo terlihat sangat menyesal sekali saat berbicara, aku tidak ingin memarahinya, aku juga tidak merasa kecewa atas apa yang dilakukan Neo.
"Meski begitu, aku tetap tidak boleh menyesal, Neo. Ini terlalu terlambat untuk bilang menyesal. Bukankah kita sama-sama menikmati perjalanan ini?" aku tersenyum padanya.
"Aku tidak pernah punya teman yang benar-benar menghargaiku, Jian," Neo terkekeh kecil, "Aku beruntung dapat mengenal kalian dengan baik hingga saat ini. Jika kamu bertanya apakah aku menyesal telah membohongimu, aku juga akan menjawab tidak. Karena kebohongan itu ternyata membuatku memiliki sahabat yang sangat berharga untukku," senyumnya merekah lebar.
Aku tidak pernah melihat Neo tampak begitu serius dengan kalimatnya. Dia adalah laki-laki yang hanya mementingkan dirinya saja, bukan laki-laki yang peduli dengan berbagai macam kalimat manis yang ada di dunia.
"Aku tidak tahu apa yang aneh denganmu, Neo. Tapi kamu selalu bicara omong kosong sejak bertemu dengan Zhu dan Zhi," aku tidak menggubris kalimat panjangnya lagi, menghabiskan sisa camilanku, lalu mengambil air minum.
"Jian, aku selalu senang bisa mengenalmu dengan baik," Neo tersenyum lagi.
Aku menatapnya dengan tatapan malas, "Aku mengantuk, Neo. Jangan bicara lagi," ucapku kesal.
Neo mendongak, kembali diam di tengah keheningan malam.
Aku memperhatikannya cukup lama dari dalam ceruk, sesekali Neo menambah kayu bakar, lalu meneguk air hangat. Malam ini, aku mengenal Neo dari sudut pandang yang berbeda.