Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Berlatih



Melihat Neo sangat rajin berlatih, aku merasa iri. Tapi aku sudah merasa ini adalah puncak pencapaianku hari ini. Aku sudah berkali-kali membuat angin topan di dalam ruangan ini, membuat semua barang berserakan di lantai, lantas Piu Piu merapikannya untukku.


Rui tidak berani membuat bola-bola api, dia bilang bermeditasi adalah latihan terbaik untuk meningkatkan sihir. Dia bermeditasi sangat serius, saat aku menyentuh kulitnya, Rui sudah seperti bola api itu sendiri.


Neo memperingatkanku agar tidak mengganggu meditasi Rui, dia bilang jika Rui terbangun karena gangguan luar, semua proses latihannya akan sia-sia.


Sedangkan dia sendiri sekarang sedang berbaring di atas ranjang, merasa lelah.


"Aku pikir berlatih seharian tidak akan melelahkan. Tapi ternyata lebih melelahkan dari pada harus latihan dua jam setiap hari," Neo menenggak air dalam botol, "Menurutmu berapa lama lagi portal itu akan muncul?" Neo bertanya padaku. Aku mengangkat bahu.


Sepertinya aku harus memulai metode latihan yang sama seperti Rui. Itu seperti sangat berguna untuk meningkatkan energi sihirku. Piu Piu sudah lelah merapikan ruangan, aku harus lebih berbelas kasihan padanya.


"Apakah warna kartumu sudah berubah Neo?" aku bertanya sebelum mulai bermeditasi.


Neo mengangkat bahu. Neo sudah banyak berkembang, sebelumnya Pru hanya bisa berubah menjadi pedang es, kini Neo sudah bisa merubahnya menjadi apa saja. Menjadi busur, atau menjadi tombak, semua tergantung suasana hati Neo saja.


Aku masih bingung apa elemen dasar yang dimiliki Neo. Dia tidak bisa mengendalikan angin sepertiku, apalagi mengeluarkan bola api seperti Rui. Lalu apakah keahliannya adalah membekukan?


"Neo, sebenarnya kekuatan apa yang kamu miliki?" aku bertanya penasaran. Sejak dulu aku memang selalu penasaran.


"Entahlah, aku tidak memiliki kekuatan khusus. Hanya mempelajari apa yang diajarkan Master Hudie saja," Neo mengembuskan napas bosan.


"Lalu apa saja yang sudah dia ajarkan padamu?"


Neo menatapku, "Banyak. Mengubah tongkat mejadi senjata misalnya. Atau mengubah energi apapun menjadi es. Membuat anak panah dari energi apapun. Dan segalanya," Neo tersenyum kecil.


"Mungkinkah kekuatan dasarmu adalah air?" aku bertanya lagi.


Neo menggeleng, "Aku tidak memiliki kekuatan dasar, Jian. Hanya memanfaatkan apa yang ada di sekitarku untuk dijadikan senjata. Karena Akademi Dixia berada di dekat danau, aku jadi bisa memanfaatkan air di danau untuk kujadikan senjata."


Aku terdiam, memejamkan mata. Seharusnya aku tidak terlalu peduli dengan kekuatan dasar Neo, itu hanya membuatku kehabisan sisa waktu berlatihku saja.


Aku memulai teknik meditasiku. Sebaiknya kalian jangan membuatku bicara dalam beberapa waktu.


...----------------...


Sore hari akhirnya tiba. Aku menghela napas panjang, menggeliat, rasanya melelahkan. Ya, bermeditasi lebih melelahkan dari pada harus berlatih sungguhan.


Aku harus tahan duduk selama berjam-jam sambil menjaga konsentrasiku. Saat terjaga, aku merasakan seluruh tubuhku benar-benar sakit seperti baru saja bertarung sungguhan.


Saat bermeditasi, aku merasa diriku berada di sebuah alam yang sama sekali berbeda dengan yang kutempati saat ini. Aku melatih energi sihirku di alam itu, berlatih seakan seseorang sedang mengancam nyawaku dan aku melawannya dengan seluruh tenaga.


Tapi aku benar-benar merasa tubuhku sangat kuat setelah bermeditasi. Aku langsung memeriksa kartuku, dan sudah berwarna perak!


Sepertinya energi spiritual pemberian Bim benar-benar sangat berguna untuk mempercepat proses latihan.


Aku menoleh ke arah Rui, dia sedang membaca buku, sepertinya dia sudah berhenti berlatih beberapa jam lebih awal dariku.


"Apakah warna kartumu sudah berubah, Rui?" aku bertanya basa-basi.


Rui mengangguk, "Kartuku sudah menjadi Kartu Perak, Jian. Sepertinya aku bisa mengendalikan api yang lebih besar lagi. Aku merasa tubuhku juga bisa menyerap api dan menjadikannya energi yang baru," Rui tersenyum senang.


"Kamu hebat sekali, Rui," aku ikut tersenyum.


"Bagaimana kalau kita melakukan latih-tanding?" Neo menceletuk, dia berdiri menyender dinding sambil melipat kedua lengannya di depan dada.


"Kita harus merencanakan sesuatu dulu, Neo," aku menghentikan keduanya.


"Rencana apa?"


"Rencana bagaimana agar membuat Rux mengakui kejahatannya," jawabku.


Rui dan Neo saling menatap. Entah apa yang mereka pikirkan, aku hanya bisa diam menunggu mereka memberi keputusan.


"Bagaimana kalau kita menggunakan mantra ilusi?" Rui mengajukan sebuah ide.


"Mantra ilusi?"


Rui mengangguk, "Jika kamu bisa memanipulasi penglihatan seseorang, Neo bisa melakukannya dalam tingkat yang lebih tinggi," Rui nyengir lebar.


Neo mengangguk-angguk setuju, "Aku sudah mengerti maksud rencanamu, Rui. Tapi jika begini, kita harus merubah rencana Win sejak awal," Neo mendekati kami, dan mengeluarkan buku catatan kecilnya.


"Apa yang mau kamu lakukan, Neo?" aku melotot. Firasatku tiba-tiba memburuk begitu melihat Neo mengeluarkan buku kecil itu.


"Aku akan menggambar sesuatu, Jian. Lihat ini," Neo benar-benar menggambar sesuatu di atas buku catatannya.


Dia menggambar jam pasir. Dan berusaha membuatnya semirip mungkin dengan jam pasir yang dicuri Rux.


Neo mengarahkan telunjuknya ke buku kecil, jam pasir yang dia gambar susah payah dengan rupa yang buruk itu akhirnya timbul, dan bertransformasi menjadi benda pusaka Akademi Dixia yang hilang.


Wow.


Aku membulatkan mata. Apa itu?


"Ini adalah pena ajaib, Jian. Master Hudie memberikannya padaku, jika menggambar memakai pena ini, lalu menuangkan mantra ilusi di dalamnya, gambar itu akan menjadi nyata dan berubah menjadi benda apa saja yang kita pikirkan. Tapi kita harus sudah melihat benda itu sebelum mulai membuat duplikatnya," Neo menjelaskan.


"Bagaimana kamu bisa membuat tiruan yang benar-benar mirip?" Rui tidak bisa mengedipkan matanya lagi.


"Ini hanya ilmu ilusi, Rui. Sebenarnya dia hanya selembar kertas yang kuberi mantra ilusi, maka semua orang yang melihatnya akan melihatnya sebagai benda pusaka." Neo terkekeh geli.


Aku mengedipkan mata. Rasa kagumku tiba-tiba hilang.


"Saat portal muncul, alih-alih mencari Rux, kita harus segera mencari keberadaan Para Penjaga Pintu. Lalu menyuruh mereka mengumumkan kepada seluruh orang kalau pusaka telah ditemukan. Biarkan semua orang melihat selembar kertas ini sebagai pusaka yang ditemukan itu. Lalu Win harus menjelaskan kalau pusaka yang sebenarnya tidak dicuri, melainkan yang dicuri itu adalah palsu," Neo tersenyum licik.


"Bagaimana jika seseorang meminta Win untuk mengeceknya?" aku bertanya.


Neo melambaikan tangan, "Tenang saja, meskipun tiruan, dia juga meniru seluruh detail yang dimiliki benda aslinya, termasuk energi magis," jawabnya.


"Bagaimana bisa?" Rui menyela.


"Tentu saja. Ini hanya mantra ilusi, tidak akan ada yang menyadari kalau dia sebenarnya hanya selembar kertas. Kekuatan yang mereka lihat dari jam pasir buatan kita ini hanyalah terlihat di mata mereka saja," Neo meletakkan jam pasir itu di atas meja, "Rux akan panik begitu menyadari dirinya ternyata sudah dijebak. Dia akan bersembunyi dan memeriksa apakah jam pasir yang dia curi benar-benar palsu atau tidak. Saat itu, kita harus membuntutinya dan menangkap basah. Setelah itu ... bum!!! Rux akan mendapatkan hukuman setimpal karena perbuatannya!" Neo tersenyum puas.


Aku dan Rui terdiam. Dia tiba-tiba menjadi pria bodoh yang jenius!


...----------------...


Kami beristirahat sejenak setelah latih-tanding. Neo membangunkan kami saat melihat sebuah portal muncul di tengah ruangan.


"Kalian siap?" Neo menatap kami berdua bergantian.