Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Titik Akhir



PoV 3


Sepeninggal Jian, Neo menghela napas lega. Meski Rux belum sepenuhnya mati, tapi dia sudah kehilangan dua nyawa. Jika menyerangnya satu jam ke depan, Neo yakin Rux tidak akan memiliki kesempatan untuk hidup kembali.


"Neo, kenapa kau mau saja dibodohi gadis-gadis itu! Kau itu sama sepertiku. Kau lemah tapi ingin jadi yang terkuat. Kau harusnya bergabung bersamaku. Mati kita rebut pusaka itu dari Jian, lalu kita bisa membuka portal ke duniamu bersama-sama, lalu menguasainya bersama-sama." Rux menyeka dahi, menatap Neo dengan sepenuh hati.


"Jika aku bergabung denganmu, itu baru namanya dibodohi. Lagi pula aku tidak ingin menguasai dunia bersamamu. Kau terlalu picik, tidak pantas bekerja sama denganku." Neo mengangkat pedangnya sejajar dengan leher Rux, sekali bergeser, leher Rux akan terluka.


Tapi manusia serigala itu jangankan bergeser, dia malah tertawa terbahak, membuat tubuhnya bergetar, matanya yang kuning menyilaukan itu menatap Neo dengan miris.


"Lihatlah tubuhmu yang hancur itu, Rux. Berani sekali kau tertawa. Bagaimana jika aku tidak berbelas kasihan lagi? Pedang ini mungkin akan memenggal kepalamu dalam lima detik." Neo melangkah mendekat.


Rux tidak bergerak, malah menempelkan pedang Neo tepat di posisi nadinya berdetak. "Jika aku bergeser ke kiri sedikit, kamu juga akan terbunuh, Neo." Rux mengangkat tangannya yang dialiri energi hitam. Rux menggeser kakinya ke kiri.


Bum!


Neo terpental ke belakang, darah terciprat dari mulutnya. Neo menggunakan pedangnya sebagai pegangan agar tetap berdiri.


Rasanya sulit sekali menebaskan pedang ini ke leher pengkhianat itu. Neo berlari sekuat tenaga. Dua kekuatan kembali beradu.


Dalam segala aspek, Rux lebih unggul dari Neo. Meski kekuatannya melemah karena sudah kehilangan dua nyawa, Rux masih bisa mengandalkan nyawa terakhir di dalam Botol Jiwa Akademi Dixia miliknya.


"Kau itu sama sepertiku, Neo!" Rux tidak membiarkan Neo bernapas lega.


"Kalau begitu, kita mati bersama saja!"


Crang!


Neo menebaskan pedangnya di leher Rux. Darah terciprat ke mana-mana. Tubuh Rux tumbang, Neo menancapkan pedangnya di jantung Rux.


Dia mengatupkan rahang, merobek-robek tubuh Rux yang tak berdaya, menyisakan bola mata kuning terang itu, menatap Neo dengan miris.


"Kau membunuhku, Neo. Suatu hari, teman-temanmu-lah yang akan membunuhmu. Kamu ini, sama saja sepertiku. Pengguna sihir terlarang. Kau pikirkan baik-baik. Orang sepintar kau, harusnya cepat mengerti apa yang kukatakan." Rux menutup matanya.


Tubuh itu menguap, menyisakan pasir hitam legam yang berasap, terbang terbawa angin. Rux benar-benar tidak bisa hidup lagi.


Tapi perkataan Rux terakhir kali, membuat Neo memikirkannya siang-malam. Dia membuat api unggun, menatapi wajah Rui yang pingsan tak berdaya.


Neo meringis, memegangi dadanya yang terasa sakit. Formasi Pelenyap Energi Hitam tadi menguras banyak tenaganya.


Neo menyenderkan tubuhnya di dinding gua, matanya terpejam, tubuhnya berkeringat dingin. Neo hanya bisa menahannya.


Rasa sakit kali ini, lebih sakit berkali lipat dari sebelumnya. Neo merogoh kantong kecilnya, mengeluarkan botol ramuan yang isinya hanya tersisa beberapa teguk saja.


"Jika aku meminumnya, mungkin tidak akan cukup hingga tiga hari ke depan." Neo menghela napas.


Tapi melihat keadaan Rui, Neo harus segera membawanya ke Desa Terkutuk. Agar Zhi dan Zhu bisa segera mengobatinya.


"Sudahlah, lagipula aku memang tetap akan mati bagaimanapun juga."


Neo menguatkan diri untuk tetap berdiri tegak. Dia hanya bisa berdoa agar Jian menemukan kunci itu dan mereka bisa segera berkumpul.


"Bertahanlah, Rui. Aku akan segera membawamu bertemu Zhi. Kamu akan baik-baik saja begitu kita tiba di Desa Terkutuk." Neo menggendongnya.


Meong!


Neo menoleh ke belakang, "Piu Piu, kenapa kamu ada di sini? Tidak bersama Jian?" Neo terlihat terkejut melihat binatang magis Jian tertinggal di sini.


Meong!


Piu Piu mengeong lagi, memunculkan layar dari energi sihir yang memancarkan ingatan Piu Piu beberapa saat lalu.


"Kamu tinggal bersama mereka, Piu Piu. Jaga Neo dan Rui baik-baik, aku mengandalkanmu." Terlihat Jian yang mengelus tengkuk Piu Piu, lalu melemparkan Piu Piu keluar sebelum portal menutup.


"Bisakah kamu bertransformasi sekarang, Piu Piu? Aku perlu punggungmu untuk membantu Rui." Neo berkata pelan.


Piu Piu langsung bertransformasi menjadi lebih besar. Neo menunggangi punggungnya, itu seperti menunggangi punggung macan kumbang dengan bulu yang lebih lebat.


Neo mengangkat pedangnya, muncul sebuah portal menuju tempat mereka sebelumnya. Puncak Gunung Es Keabadian.


...----------------...


Di dalam Gua Gelap, Jian berjalan perlahan sambil mengarahkan lilin ke dinding-dinding gua yang gelap dan lembap.


Ada berbagai ukiran kuno di dinding datar itu. Luas jalan hanya muat untuk satu orang, Jian harus berjalan perlahan agar tubuhnya tidak menabrak dinding lain.


Sepertinya ukiran-ukiran itu menceritakan tentang asal-muasal terbentuknya Kristal Ajaib Kota Pubu. Jian sudah melihatnya sejak awal masuk ke dalam gua.


Gambar seorang wanita yang sedang duduk di atas tahta. Wajah wanita itu tidak terlihat jelas. Wanita itu bernama Yanran. Di gambar berikutnya, Yanran bertemu seorang pria bernama Huan. Yang mengaku berasal dari dunia lain.


Akhirnya Yanran mempercayainya. Dan berusaha membantu Huan agar bisa kembali ke dunia tempatnya berasal.


Tapi seiring terus bersama, Yanran jatuh hati pada seorang pelintas dimensi itu. Tapi dia telah menemukan cara untuk membuka portal ke dunia lain tempat cintanya berasal. Itu adalah Kristal Ajaib Pembuka Portal.


Yanran tidak ingin prianya pergi. Dan terus menyembunyikan dari Huan kalau dia sudah menemukan cara untuk membawanya pulang.


Yanran mengakui cintanya, mereka menikah dan punya dua anak. Lambat laun, Huan akhirnya tahu kalau istrinya menyembunyikan sesuatu darinya.


Kalau sebenarnya dia sudah bisa pulang sejak belasan tahun yang lalu. Huan mengamuk karena istrinya sudah membodohinya selama bertahun-tahun.


Huan menemukan kristal itu di ruang rahasia di kastil mereka. Karena tidak ingin suaminya pergi, Yanran akhirnya mencegahnya dengan pertarungan.


Huan kalah telak dari istrinya. Dia sekarat, lantas di saat terakhir, dia melemparkan satu anaknya ke dalam portal yang telah terbuka.


"Meski aku tidak bisa pulang, setidaknya putraku harus tahu dari mana tempat dia berasal sebelumnya."


Lantas dia menyegel kristal itu di dalam kotak sihir terkuat di seluruh dunia. Lalu dia melemparkan kuncinya ke puncak Gunung Es Keabadian. Seorang Peri Penjaga telah menjaganya ribuan tahun, menurunkan tugas leluhur itu kepada keturunannya selama ribuan tahun.


"Kristal ini tidak akan terbuka hingga kapanpun kecuali tangan-tangan tulus sudah menyentuhnya."


Huan memilih mati di tangan istrinya sendiri. Tapi Yanran tidak mau menerima kenyataan kalau dirinya sudah membunuh suaminya.


Yanran memilih bunuh diri, dan menyerahkan tahtanya kepada anak perempuan yang tersisa.


Jian menghela napas pelan, kisah ini sangat tragis. Dia ingin tahu di mana anak perempuan itu. Apakah sudah meninggal, apakah dia menjadi salah satu peri yang sudah menjaga gunung ini?


Dia terus menyusuri jalan sempit ini. Jian memeriksa Jam Pasir. Pasir itu terus bergerak turun, artinya waktunya tidak lagi banyak. Jian harus segera menemukan kunci itu.


Dia masuk ke dalam lorong baru. Lalu muncul di ruangan yang lebih luas. Di tengah ruangan itu, sebuah kunci tergantung di langit-langit ruangan.


Jian tersenyum lega. Kunci itu akhirnya ditemukan.


Dia berjalan memasuki ruangan itu.


Brak!


Jian meringis. Ada penghalang di dalam ruangan ini. Dia berdiri lagi. Berusaha menghancurkannya dengan kekuatan sihir.


Dia tidak mampu.


Dia terus berusaha menghancurkannya dengan cara apapun. Sihir yang dia keluarkan terus memantul dan menabrak tubuhnya kembali. Jam pasir semakin menipis. Jian harus segera mendapatkan kuncinya.


Setelah berjam-jam ....


Brak!


Sihir Jian menghancurkan separuh ruangan ini. Tapi segel itu masih utuh. Jian kembali berdiri dengan kaki gemetar. Tangannya berlumuran darah, tubuhnya berantakan.


Yang semula tenang-tenang saja, mendadak memburuk karena segel ini tak mudah dihancurkan.


Jian mengatupkan rahang.


"Aku harus segera mengambil kunci itu. Neo dan Rui, mereka dalam bahaya!"


Jian berteriak kencang, tubuhnya bercahaya. Segel itu akhirnya hancur berkeping-keping, Jian tertatih memasuki ruangan itu. Dia terbaring di tengah ruangan, menatap kunci yang tergantung di langit-langit.


Dia tak mampu berdiri lagi. Jian menghela napas lega. Dia melempar tongkat sihirnya ke atas, kunci itu terjatuh.


"Bawa aku keluar, Jilly."


Jian muncul kembali di ruangan luas yang sebelumnya dipenuhi petak-petak labirin. Jian menatap kosong. Ruangan itu sama kosongnya dengan tatapannya.


Ke mana Neo dan Rui pergi? Jian memeriksa sekitar.


Ada pasir hitam tak jauh dari tempatnya berdiri. Jian memeriksa pasir itu. Ada bau energi hitam di dalamnya.


Bekas darah memenuhi hamparan salju, ada bekas api unggun yang sudah tertimpa reruntuhan salju dari atap gua.


Sebenarnya berapa lama dia berada di dalam anak gua itu? Jian tidak melihat matahari selama berhari-hari. Jian tidak tahu berapa lama dia mengelilingi anak gua itu sebelum menemukan kunci.


"Mungkinkah Rux sudah benar-benar mati?" Jian bertanya pada dirinya sendiri.


"Harusnya mereka selamat jika Rux sudah mati."


Jian menutup matanya sebentar, "Aku sudah lelah."