
Win menyuruh kami mengejar jejak mantra hitam di sekitar Akademi Dixia, dan merebut kembali pusaka itu dari tangan Rux. Hanya dengan cara inilah mereka akan mengizinkan kami untuk meminjamkan pusaka itu.
Neo tampak kurang sehat setelah terkena serangan Rux palsu itu, wajahnya pucat dan berkeringat, tapi dia masih bisa berdiri tegak dan bahkan ikut membantu kami menyingkirkan halangan.
Berkali-kali aku bertanya bagaimana kondisinya, Neo hanya menggeleng dan mengatakan baik-baik saja. Aku menghela napas pelan, baiklah selama dia masih baik-baik saja.
Neo bilang, jika Rux sangat berambisi mencuri pusaka ajaib, berarti dia memiliki tujuan yang sama seperti kami.
Yaitu mengambil Kristal Ajaib yang bisa membuka portal ke dunia lain. Dengar-dengar kristal itu bahkan memiliki kekuatan tiada tara bagi siapapun yang memegangnya.
Rux pasti tergiur dengan legenda yang sudah lama bertahan itu. Seharusnya tidak sulit mencari keberadaannya. Jejak mantra hitam ini menipis dari jarak ke jarak.
Neo bilang kemungkinan Rux menuju tempat yang seharusnya kami datangi setelah Akademi Dixia. Yaitu Gunung Es Keabadian.
"Bisakah kita beristirahat dulu?" Neo menghentikan terbangnya, mendarat di tanah, dengan napas tersengal.
"Kau baik-baik saja, Neo?" aku membantunya duduk, tampaknya seja terkena serangan itu, kondisi tubuh Neo semakin memburuk saja. Apakah Neo memiliki penyakit khusus?
"Neo, kupikir kamu harus memeriksakan diri ke dokter," Rui memiliki pemikiran yang sama sepertiku. Aku mengangguki perkataannya.
Tapi Neo malah menimpuk kami dengan kerikil kecil, "Kamu pikir kita di rumah? Sakit sedikit bisa langsung ke rumah sakit. Di sini kita bahkan tidak punya rumah kita sendiri. Dan kalaupun benar-benar ada rumah sakit, aku juga tidak bisa membayarnya dengan butiran kelereng, bodoh!" Neo bersungut-sungut sambil meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Kupikir dia tidak akan memiliki mood untuk bercanda seperti itu dengan kondisinya. Tampaknya Neo memang masih baik-baik saja.
"Aku ingin mengatur energiku dulu," Neo menghilangkan tongkatnya, lalu duduk tegak dan mulai bermeditasi. Sementara menunggu Neo mengatur energi, aku memutuskan untuk mencari makanan di sekitar, Rui akan membantu Neo menjaganya dari dekat.
...----------------...
Aku kembali dengan beberapa burung untuk kujadikan makan siang. Saat kembali, Rui sedang memasak air, dia bilang tubuh Neo berubah menjadi sangat dingin sejak mulai bermeditasi.
Aku membuat api unggun baru, padahal siang ini sangat terik, seharusnya dia kepanasan, kan?
"Rui, kita menyiksa diri sendiri jika begini," aku berbisik sambil membakar burung-burung buruanku.
"Tidak apa-apa, Jian. Selama ini, bukankah Neo sudah banyak membantu kita? Kita harus membalas budi padanya setidaknya satu kali seumur hidup," Rui menjawab, dia sedang membantuku memberikan garam dan beberapa rempah ke dalam daging burung bakar kami.
Aku mengembuskan napas kesal, "Kalau begitu, ini adalah satu kali seumur hidup bagiku. Terserah jika kamu masih ingin membantunya di masa depan."
"Kamu tidak boleh begitu, Jian."
"Bukankah dulu kita juga tidak pernah berteman dengannya?" aku menatap Rui tidak mengerti. Kenapa masih membelanya?
"Situasi kita berbeda sekarang, Jian. Saat di hutan gurun sebelumnya, Neo menyelamatkanku dari kawanan rubah. Neo juga menyelamatkanmu saat kita dituduh mencuri. Aku pernah menyelamatkannya saat di penjara, aku yakin, kau juga pernah menyelamatkannya sebelum hari ini, kan?"
Aku terdiam kesal. Rui benar, aku ingat pernah menyelamatkannya dari kawanan rubah saat dia terjatuh karena berusaha menyelamatkan Rui hari itu. Aku bahkan berjaga sepanjang malam untuk memastikan mereka baik-baik saja.
Harusnya sejak saat itu, hubungan kami bertiga bukan lagi teman, kan? Melainkan sahabat yang saling melindungi satu sama lain.
"Maafkan aku, Rui. Aku terkadang masih kesal padanya saja. Bagaimana pun, dia dulunya memang bukan siapa-siapa," aku membuang muka.
Uhuk!
Neo tiba-tiba menyemburkan darah dari mulutnya, lalu terjatuh dari posisi duduknya.
Meskipun baru saja aku memiliki niat untuk tidak membantunya, aku langsung berseru panik begitu melihat darah Neo membeku setelah keluar dari mulutnya.
Suhu tubuh Neo benar-benar sangat dingin, aku gemetar membantunya berbaring nyaman. Rui memukul beberapa batang pohon agar cahaya matahari masuk dan menyiram tubuh Neo dengan kehangatannya.
"Kenapa dia semakin dingin?" aku bertanya panik, tanganku gemetar hingga tak mampu memegang benda apapun yang bisa membantu menurunkan suhu tubuh Neo.
"Neo, bisa kamu bangun dulu?" Rui tidak kalah panik, dia sudah memunculkan api kecil di telapak tangannya, "Aku takut kamu akan terbakar jika kamu tidak berbaring dengan benar."
Aku membantu Neo berbaring dengan benar, Rui duduk di sebelahnya, lantas telapak tangan berapi itu menyentuh telapak tangan Neo yang nyaris membeku.
Aku memejamkan mata, meski aku membencimu, aku juga tidak ingin terjadi apa-apa padamu, Neo. Kumohon cepatlah bangun.
"Jian, sepertinya kita harus beristirahat sedikit lebih lama. Energi yang kusalurkan benar-benar tidak berdampak apapun. Aku tidak tahu kenapa Neo bisa sangat parah seperti ini," Rui terus menyalurkan energi panasnya ke dalam tubuh Neo.
Aku mengangguk, "Kita tunggu sampai besok dulu, jika dia membaik, kita lanjutkan perjalanan, jika tidak membaik, kita cari pemukiman terdekat untuk memberinya pertolongan."
Rui mengangguk.
Kami mendirikan tenda kecil untuk menghindari cahaya matahari, Neo masih belum sadar, tapi suhu dinginnya sedikit berkurang.
Aku menyuruh Rui untuk beristirahat, dia juga merasa lelah karena mengeluarkan energi terlalu banyak.
Cuaca menjadi dingin ketika matahari mulai tenggelam. Rui membuat selimut dari energi panas.
"Kamu istirahat duluan saja, Jian. Aku akan membangunkan kamu pukul dua untuk bergantian jaga," Rui tersenyum padaku.
Aku mengucapkan terima kasih.
"Kamu juga pernah terjaga semalaman saat kami berdua terluka, Jian. Aku hanya ingin kamu memiliki istirahat lebih banyak saja," Rui duduk di depan api unggun, memeluk tubuhnya sendiri.
Aku segera beranjak tidur.
...----------------...
Rui membangunkanku saat matahari sudah terbit. Dia bilang Neo sudah baik-baik saja. Aku memarahinya karena Rui tidak membangunkanku pukul dua untuk bergantian jaga.
"Aku tidak tega membangunkanmu, Jian, tidurmu nyenyak sekali," Rui nyengir lebar, dia menyuruhku mencuci muka dan memakan jatah sarapanku, "Aku menemukan pemukiman tak jauh dari sini dan memberi beberapa roti panggang."
Aku mengangguk-angguk, menerima roti panggangku. Aku mengecek suhu tubuh Neo sebelum mulai makan, tampaknya dia memang sudah baik-baik saja.
"Apa kamu sentuh-sentuh!" Neo tiba-tiba membuka matanya.
Sontak aku terkejut dan menyingkirkan tanganku dari dahinya. Wajahnya terasa panas, aku segera membuang muka. Kenapa Rui tidak bilang kalau dia sudah bangun sejak tadi?
"Rui, aku lapar lagi, bisakah berikan satu roti panggang lagi?" Neo mengulurkan tangan.
Rui menepisnya, "Kamu sudah makan dua, itu lebih dari cukup untuk membuat perutmu kenyang beberapa jam ke depan!"
"Kapan kamu bangun, Neo?" aku bertanya padanya.
"Sebelum matahari terbit. Aku meminta Rui untuk beristirahat, tapi dia memilih untuk mencari makanan dari pada tidur sejenak," jawab Neo.
"Apakah tubuhmu sudah terasa lebih nyaman?" aku bertanya lagi.
"Iya, aku tidak merasa kedinginan lagi, juga rasa sakitnya sedikit berkurang. Aku rasa serangan Rux memicu sesuatu di dalam tubuhku. Saat aku mencoba mengendalikan energiku, ada sesuatu yang menolaknya stabil di dalam sana. Tapi setelah tersiksa beberapa saat, tubuhku berangsur membaik," Neo tersenyum lebar, "Aku bahkan sudah bisa makan banyak."
"Tapi kamu sempat memuntahkan banyak sekali darah, kamu yakin itu baik-baik saja?" aku masih sedikit mengkhawatirkannya.
"Tenang saja, Jian. Itu hanya serangan balik," Neo dengan santai melambaikan tangannya. Dia meraih botol air dan meminum isinya.
Aku menatapnya, dia bahkan masih bisa santai setelah terkena serangan yang begitu mematikan.
"Omong-omong, Jian, apa kamu benar-benar mengkhawatirkanku?" Neo menatapku dengan ekspresi jahil.
Aku segera membuang muka, "Aku hanya membalas budi," jawabku cepat.
"Tidak apa-apa kalau khawatir, aku akan memelukmu sambil mengatakan kalau aku baik-baik saja," Neo tersenyum lebar sambil merentangkan tangannya.
Aku menatap jijik, "Jangan mimpi!"