Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Kota Pubu Yang Damai



Besoknya, Win langsung mengajak kami menyaksikan proses pembuatan segel mandiri untuk Jam Pasir Ajaib.


Katanya, segel yang utuh dan kuat untuk Jam Pasir Ajaib hanya bisa dibuat menggunakan energi gerhana bulan.


Tapi gerhana itu sudah terjadi berbulan-bulan yang lalu. Pun kami sendiri yang membuat segel itu pecah saat tengah diperbarui.


Bukan kami. Maaf, aku lupa. Itu adalah Rux pelakunya. Tapi tetap saja, kami juga terlibat, kan?


Jadi hari ini, Win secara khusus meminta bantuan Zhu dan Zhi untuk menyerap energi bulan untuk memperkuat formasi segel mandiri ini. Setidaknya jika menyelimutinya dengan energi bulan, segel itu hanya perlu diperbarui setiap setengah tahun sekali. Tanpa energi bulan, Win bilang mungkin butuh setiap bulan diperbarui.


Kedatangan kami ini sebenarnya sungguh sudah mempersulit mereka. Kami harus membantu menyumbang energi untuk mereka sebagai ucapan maaf dan terima kasih.


Setelah pembuatan segel baru ini selesai, Win langsung membawa kami berkumpul lagi. Kali ini bukan untuk menjamu kami.


Melainkan membicarakan hal penting terkait keberangkatan kami kembali ke dunia asal kami. Pertemuan antara Para Penjaga Pintu ini sepertinya cukup serius. Aku dan teman-temanku tidak berani bersuara, hanya mendengar pendapat mereka saja.


"Kita harus membuat rencana seandainya ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi," Win menatap peserta pertemuan satu-persatu.


"Bagaimana pun, ini adalah pertama kalinya kita mengeluarkan kristal itu dari tempatnya. Sesungguhnya bukan hal yang baik," Yets menimpali.


Zhu mengangguk, "Takutnya, ada tangan-tangan tak bertanggung jawab yang berusaha merebutnya selagi kita mencari waktu untuk mengaktifkan energi besarnya."


"Bagaimana kalau kekhawatiran kita benar?" Zhi turut bersuara.


Win mengangguk juga, "Takutnya, mengawal anak-anak ini hingga memasuki portal tidak semudah yang kita kira."


Mendengar pembicaraan mereka ini, sepertinya ini bukan hal yang mudah. Maka kami benar-benar sudah membuat mereka kesulitan karena harus menanggung beban selama kami berada di Kota Pubu.


Aku dan teman-temanku saling menatap, apakah harus ikut berbicara, atau benar-benar hanya perlu mendengarkan mereka bicara saja. Mereka hanya mengangkat bahu, memilih menyimak apa yang dibincangkan Para Penjaga Pintu ini.


"Kita jangan terlalu cemas dulu, membuat anak-anak ini takut, justru membuat perjalanan kita semakin berat. Mari, minum tehnya," Win menuangkan teh lagi di cangkir-cangkir kecil di depan kami.


"Win, jika aku boleh berpendapat, aku punya satu cara yang sempurna untuk mengatasi masalah kita ini. Apakah kalian bersedia mendengarnya?" Neo mulai bersuara setelah menghabiskan cangkir teh ketiga.


Para Penjaga Pintu mengangguk, bersedia mendengarkan Neo bicara.


"Meskipun ini terlalu berisiko, tapi seharusnya layak dicoba, Win."


...----------------...


Sebelum Mengantarkan kami ke Akademi Hudie, Win mengajak kami ke pusat kota sebentar. Katanya, akan sangat menyesal jika pergi tanpa membeli oleh-oleh khas Kota Pubu.


Meski perjalanan kami nanti adalah melewati dimensi yang berbeda, juga bukan berarti kami tidak diperbolehkan memilih oleh-oleh untuk dibawa pulang.


Mendengar rencana Win yang sedang membawa kami ke Pusat Kota, Rui sedikit cemas, dia bilang bukankah tidak pantas jika kami berkeliaran di Kota Pubu di hari ke dua sebelum pulang?


"Jangan khawatir, Rui. Ini adalah pengalaman tak ternilai, kamu berjalan-jalan di Pusat Kota bersama Para Penjaga Pintu yang legendaris ini, tentu saja adalah hal yang beruntung untuk dijadikan kenangan." Win tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Rui.


"Penjaga Pintu yang legendaris? Apakah kalian ini seperti itu?" Neo bertanya penasaran.


Mereka berlima terdiam sejenak, adapun Zhi malah langsung tertawa lebar, tidak bisa menahannya lagi. Zhu segera menegurnya untuk diam.


"Ada apa?" Neo menatap dengan wajah polos, membuat mereka tidak sanggup menahan tawa lagi.


"Neo, usia kami ini, lima ribu tahun lebih. Warga Kota Pubu lainnya, adalah penyihir tingkat bawah yang hanya berusia kurang dari lima ratus tahun. Tentu saja mereka menganggap kami ini adalah leluhur yang legendaris. Bahkan hanya satu dari sepuluh warga Kota Pubu yang mengetahui keberadaan kami. Kalian termasuk beruntung." Win menjelaskannya dengan berbangga diri.


Neo langsung melambai tak peduli, "Jangan dulu membicarakan keberuntungan, Win. Kami masih sial selama kami belum melintasi portal dimensi itu," dia mendengus.


Win tertawa lebar, "Baiklah. Sesuatu yang terhormat bisa mengantarkan kalian kembali ke rumah." Win memilih mengalah, menunjukkan sikap sopan pada kami.


Aku tersenyum, bagaimanapun, bisa mengetahui kalau dunia seluas ini tentu adalah sebuah keberuntungan bagi kami.


"Aku ingin melihat toko sepatu itu, Win. Bisakah kita mampir sebentar?" Rui menunjuk ke depan.


Kami bertiga diperbolehkan berkeliling sepuasnya, dan menyuruh kami kembali berkumpul di depan penginapan sebelum gelap, besoknya sudah harus kembali ke Akademi Hudie.


Kami bisa bermain sesuka kami, ke tempat mana saja yang ingin kami datangi. Belakang ini Neo selalu mengungkit tentang industri hiburan di dunia sihir.


Jadi kami mencari pusat perbelanjaan yang mungkin ada bioskopnya. Tapi mungkinkah ada bioskop di dunia ini?


"Ini seperti rumah bordil—"


"Jangan dikatakan, Neo!" Rui langsung menutup mulutnya sebelum Neo mengatakan lebih banyak.


"Sepertinya, dunia ini tidak berubah sejak ribuan tahun yang lalu. Saat bumi sudah berlomba-lomba menciptakan industri hiburan terbaik, di sini justru masih seperti zaman dahulu. Hanya mengandalkan beberapa mesin kecil untuk menghidupi warga yang tidak memiliki kemampuan sihir tinggi." Neo menghela napas prihatin.


"Kupikir hidup seperti ini lebih baik, Neo." Aku menceletuk, menatap bangunan-bangunan rumah yang begitu unik, jalanan yang bersih, udara yang segar, juga warga yang ramah.


Neo mengangguk, "Mungkinkah waktu di sini lebih kambat dari pada di bumi kita, Jian?"


Aku terdiam sejenak, teori apa lagi ini? Kenapa dia mendadak menanyakan hal tidak bisa kujawab dengan benar?


Neo tersenyum lebar, "Aku tidak sedang memaksamu untuk menjawabnya, Jian. Diam saja juga tidak apa-apa."


Aku mendengus kesal, dia ini benar-benar ingin membuatku kesal, ya?


"Jika soal masalah perbedaan waktu, sepertinya tidak mungkin. Lokasi kita ini, belum tentu berada jauh dari matahari, kan? Setiap hari matahari terbit begitu hangat. Jadi hal yang paling masuk akal adalah ...," Neo menggantung kalimatnya, menatap kami satu-persatu, membuat penasaran saja.


"Apa, Neo?" Rui bertanya tidak sabar.


"Adalah kita benar-benar pindah ke masa lalu."


Aku dan Rui saling tatap, "Maksudnya?"


"Iya. Kita tiba di Kota Pubu di masa yang lebih kuno." Neo mengangguk mantap.


"Tidak mungkin. Usia mereka saja sudah sangat tua. Tidak mungkin kita masih berada di masa lalu!" Rui tertawa sambil menyangkalnya.


Neo balas menertawainya, "Kamu jangan terlalu serius, Rui. Aku kan juga hanya mengatakan apa yang menurutku mungkin saja."


"Apanya yang mungkin?" Rui tetap tidak bisa nenerima pemikiran Neo itu.


"Ya mungkin saja. Meski usia mereka sudah lima ribu tahun, usia Bumi jauh lebih tua. Jutaan tahun lebih tua!"


Rui membuang muka, mulai merasa risih dengan omong kosong anak itu. Kami memutuskan berjalan mendahuluinya menuju toko sepatu di depan sana.


Kami memilih beberapa sepatu yang bagus. Tapi belum menemukan yang cocok untuk dibeli dan dipakai.


"Yang ini saja." Rui mengambil sepasang sepatu hitam legam yang terlihat elegan. Sepatu yang dia pilih ini, bisa dipakai siapa saja.


"Kenapa kamu tidak memilih sepatu wanita saja, Rui?" tanyaku.


"Agar Neo bisa memilikinya juga."


Aku dan Neo saling tatap, masih belum mengerti apa maksud Rui membawa kami membeli sepatu di toko ini.


"Jian. Neo. Kita ini sudah mengalami hidup-mati bersama-sama. Kita melangkah di jalan yang sama, memiliki tujuan yang sama. Jika kita memiliki sepasang sepatu yang sama, kelak kita benar-benar hanya boleh berjalan beriringan satu sama lain saja. Tidak boleh berpisah terlalu jauh. Ingat, kan?" Rui merangkul pundak kami berdua.


Mendengar ucapannya ini, membuatku sangat terharu. Rui adalah temanku yang paling baik, paling jahat, paling lemah, sekaligus yang paling kuat. Dia menjadi seperti sekarang, selain karena dipaksa situasi, juga karena kehadiran kami yang saling melindungi satu sama lain bersamanya.


Aku dan Neo mengangguk, segera memakai sepatu yang dipilih oleh Rui. Kelak akan selalu kupakai sepatu keren ini.


Kami tertawa lebar saat melangkah bersama-sama di jalanan Kota Pubu yang tenang. Langkah kami terdengar lebih tegas setelah memakai sepatu baru. Aku juga tidak pernah merasa bahagia seperti sekarang. Bersama teman-temanku, tanpa memedulikan ancaman lagi. Jalan pulang sudah di depan mata.


"Murid Jian, Murid Rui, Murid Neo. Apa kabar? Kami secara khusus mendapat tugas untuk menjemput kalian kembali ke Akademi. Silakan ikuti kami."


Dua orang penjaga berseragam Akademi Hudie muncul di belakang kami. Neo menolak dan bilang kami masih menunggu seorang teman.


Tapi mereka tidak mau pergi, melainkan memaksa kami untuk ikut bersama mereka.


"Perintah Master, tidak bisa kami tunda."


"Lalu bisakah kalian ikut kami menjemput teman kami itu?" Rui bertanya dengan lembut.


"Kalian pergi dulu bersama kami, urusan teman kalian itu, kami akan mengurusnya setelah kalian tiba di Akademi dengan selamat."


Aku menatap kedua temanku bergantian. Ada apa ini? Bukankah tidak sesuai aturan sebelumnya?