
Kami bertiga memantapkan hati untuk melompat ke dalam portal. Dengan senjata yang digenggam erat, kami tahu apa yang akan menunggu kami di depan sana.
Semoga saja portal Win muncul di tempat sepi. Sehingga kami bisa bergerak sembunyi-sembunyi tanpa harus mengundang perhatian seluruh orang.
Neo melompat lebih dulu, aku dan Rui menyusul. Sekilas, kami hanya melihat cahaya terang yang menyakiti mata, hingga kami harus memejamkannya agar tidak terasa sakit.
Saat cahaya terang sudah mulai meredup, kami mendarat di tempat tujuan.
Sepertinya harapan kami terkabul. Kami muncul di dalam kamar Neo. Neo menghela napas lega. Lalu meminta kami mengendap-endap keluar dari kamar.
"Sepertinya mereka semua berkumpul di Aula Besar," Neo berbisik, "Aku ingat Win pernah bilang tentang mantra perekam. Aku akan mengaktifkannya dan menghubungi Win dari jauh."
Neo memperbaiki posisi berdirinya dan mulai berkonsentrasi, matanya memejam dan tangannya mengepal, Neo menarik napas panjang.
"Win, apa kamu mendengar suaraku?" Neo bergumam pelan, "Jika kamu mendengarnya, datanglah ke kamarku lima menit lagi, Win. Aku ingin menyampaikan rencana kami, ini akan merubah seluruh rencana yang sudah kamu buat. Kami menunggu kalian datang, jika tidak datang dalam lima menit, kami terpaksa keluar dan mencarimu. Rencana ini benar-benar harus dirubah."
Neo menatap kami berdua, "Jika Win mendengarnya, seharusnya dia datang lima menit kemudian. Jika tidak, mari kita keluar sendiri mencarinya."
Kami tidak tahu apakah Win benar-benar mendengar suara Neo. Kami menunggu beberapa menit di kamar Neo seperti yang dia katakan.
Lima menit kemudian, kami tidak menemukan tanda-tanda seseorang akan membuka pintu kamar, apalagi kemunculan portal teleportasi.
"Neo, apakah Win mendengar pesan darimu?" Rui mulai bertanya khawatir.
Neo mengangkat bahu, "Tunggu sebentar lagi. Terlambat sangat wajar bagi siapapun. Tapi jika lima menit lagi mereka belum muncul, kita harus pergi dari sini dan bertindak."
Aku menahan napas, situasi ini sangat menegangkan. Kami sekarang buronan Akademi Dixia dan tidak bisa bergerak bebas seperti sebelumnya.
Plup!
Astaga! Kupikir seseorang mengetahui keberadaan kami. Rupanya itu Win dan teman-temannya. Mereka menghela napas lega melihat kami bertiga sampai dengan selamat.
"Bagaimana? Apakah kartu kalian sudah berubah?" Win bertanya pada kami. Kami bertiga mengangguk serempak.
"Win, kita harus merubah rencana," Neo langsung mengucapkan tujuan utama kami meminta mereka bertemu.
"Rencana apa, Neo?" Win bertanya penasaran.
Neo melambaikan tangannya, jam pasir itu mengambang di atas tangannya.
Wajah mereka bertiga berubah seketika, "Ini, bagaimana mungkin ini bisa ada padamu? Neo, kenapa ini bisa ada padamu? Mungkinkah—"
"Diam, Win. Aku belum menjelaskan apa-apa," Neo meletakkannya di atas meja, "Ini adalah pusaka palsu. Aku membuatnya dengan pena ajaib dan sihir ilusi. Inilah rencana yang ingin kudiskusikan dengan kalian," Neo menatap satu-persatu para penjaga pintu itu dengan serius.
"Baiklah, Neo. Maaf kami sempat berprasangka buruk terhadapmu. Katakan apa yang kalian rencanakan?" Yets menepuk bahu Win, menatap Neo lebih lembut.
"Aku ingin kalian membawa pusaka palsu ini ke tengah-tengah semua orang. Lalu mengatakan kalau pusaka yang sebenarnya tidak dicuri, melainkan yang dicuri itu adalah palsu, dengan begini, Rux akan keluar dengan panik dan memeriksa apakah pusaka yang dia curi benar-benar palsu. Pada kesempatan ini, kami akan mengejarnya dan merebut pusaka yang asli darinya," Neo menjelaskan ulang.
Mereka bertiga berdiskusi sejenak, lalu tanpa menunggu lama, mereka menyetujui apa yang Neo rencanakan. Mereka mengambil jam pasir palsu, kemudian membawanya ke Aula Besar.
Sebelum pergi, Yets mengaktifkan mantra menghilang di tubuh kami, "Kalian awasi sekitar dari dekat saja, dengan mantraku, tidak akan ada orang yang melihat kalian. Kami percayakan urusan Rux pada kalian."
Mereka bertiga menghilang lagi, kami menghela napas panjang. Sepertinya akan berakhir tanpa hambatan.
Kami keluar dari kamar Neo, dan menemukan semua orang sudah heboh tentang pusaka ajaib yang masih aman di tangan para penjaga.
"Baguslah jika pusaka yang dicuri adalah palsu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa dengan pusaka palsu."
"Syukurlah, Para Penjaga Pintu ternyata sudah menduga apa yang akan terjadi pada malam gerhana bulan."
"Tapi, Win. Jika kau tahu yang mereka curi adalah palsu, kenapa tidak langsung diadili dan malah membiarkan mereka mendekam di penjara beberapa hari?" June sedikit curiga dengan kemunculan pusaka yang mendadak ini.
Win menggaruk tengkuk, "Memberi mereka pelajaran kecil saja tidak akan membuat masalah menjadi besar, kan?"
Kami bertiga saling tatap, kami kurang menyetujui jawaban polos dari Win!
"Tenang saja, dia tidak akan menyadarinya. Aku ingin membalas dendam pada kawanan serigala itu secara pribadi. Mereka pernah memukul kepalaku hingga berdarah, sialan," Neo terlihat benci sekali saat menatap wajah June, Paw dan Kie.
Rui terkekeh, "Lakukan sekarang saja, Neo. Toh, mereka tidak bisa melihatmu. Bukankah kamu biasa melemparkan kelereng jika kesal dengan seseorang?"
Aku ikut terkekeh, Rui benar. Neo tampak kesal dengan gurauan kami, mengancam akan membalas dendam pada kami juga.
Saatnya kami mencari keberadaan Rux, dia tidak terlihat berkumpul dengan kawanannya. Entah dia berada di mana, kami sudah mengelilingi semua orang, menatap dari atas, memeriksa seluruh gedung akademi, juga masih tidak terlihat.
"Jian, bagaimana kalau Rux sudah melarikan diri?" Rui berbisik khawatir.
Sejujurnya, aku juga mengkhawatirkan hal yang sama. Karena Rux tidak terlihat di mana pun hingga berjam-jam sejak pusaka palsu disimpan dan disegel kembali.
"Meskipun kabur, dia pasti akan kembali," Neo terlihat masih penasaran, ke mana Rux pergi?
Win menghubungi kami, bertanya apa yang akan mereka lakukan ketika Rux tak kunjung datang, Neo meminta mereka untuk meminta para hantu kembali menyegel pusaka itu.
"Neo, apakah ini akan berjalan lancar? Bagaimana jika pusaka itu ketahuan palsu saat segelnya dipasang?" Rui kembali mengutarakan kekhawatirannya.
Neo lagi-lagi menggeleng, "Memangnya kamu tidak bosan khawatir terus? Tenang saja, rencanaku dijamin berhasil. Kamu tidak perlu terlalu khawatir, Rui. Tidak ada gunanya." dia bersungut-sungut kesal.
Aku menepuk-nepuk pundak Rui agar kecemasannya mereda. Rui tersenyum padaku, "Terima kasih, Jian."
"Itu dia!" Neo berseru sambil menunjuk ke atas.
Sontak kepala kami langsung mendongak. Itu benar-benar Rux!
"Tapi kenapa semua orang tidak menyadarinya?" Rui menyipitkan mata menatap Rux yang mengambang di atas sana.
"Karena dia juga memakai mantra menghilang, Rui. Hanya orang yang memakai mantra yang sama yang bisa melihatnya, seperti kita," Neo membantu menjelaskan.
"Apakah dia akan mencuri pusaka yang disegel itu?" aku memperhatikan gerak-geriknya yang seperti menunggu waktu yang tepat untuk bertindak.
"Tentu saja. Aku sedikit salah perkiraan, ternyata dia orang yang sungguh cekatan, membuang yang palsu dan mencuri kembali yang dipercaya sebagai yang asli," Neo terkekeh, "Tunggu apa lagi? Ayo kita maju!" Neo mengeluarkan tingkat sihirnya, Pru berubah menjadi tombak panjang yang runcing. Diselimuti es dan mengeluarkan kesiur angin dingin.
Neo melompat ke atas, kami menyusul. Rux langsung menyadari ada tiga orang yang menyerbunya, mantra menghilangnya terlepas, begitu juga dengan mantra menghilang kami.
Kami terlihat jelas sedang beradu tinju tepat di atas pusaka palsu disegel. Win mendongak menatap keributan di atas.
"Pencurinya datang lagi!" para hantu berseru melihat keributan di atas aula.
Win bergegas mempercepat proses penyegelan. Seakan tahu apa yang dilakukan Win, Rux melesat menuju segel itu dan memecahkannya, tanpa peduli apapun lagi.
Win langsung menyerangnya, Rux berhasil mendapatkan pusaka itu, tapi kini dirinya dikepung semua orang, termasuk kami.
"Rux! Kami tahu kamu sudah menjebak kami dan membuat semua orang menganggap kami sebagai pencuri. Huh, itu sungguh bukan tabiat kami. Kami lebih memilih untuk minta baik-baik dari pada mengambil jalan seperti itu. Terima hukumanmu, Rux, kembalikan pusakanya!" Neo mengangkat tangan, pusaka di tangan Rux berubah menjadi kertas kembali.
"Sebenarnya, kau sudah dijebak! Seperti kau dulu menjebak anak-anak tidak bersalah ini!" Win berseru dan mengarahkan tangannya ke depan, tanpa ragu menyerang Rux dengan energi sihir terhebatnya, "Terima hukumanmu, Rux!"
Sroomm!!
Rux sempat mengarahkan tangannya ke arah Neo sebelum menghilang begitu saja.
Splash!
Tubuh Rux tiba-tiba berubah menjadi sebuah kertas jimat berwarna hitam.
"Gawat! Kita yang sudah dijebak!" Yets berseru serius.
"Apa?" Neo tempak terkejut, dia tersungkur jatuh sepersekian detik setelah Rux melancarkan serangan tiba-tiba terhadapnya.
"Neo, kamu baik-baik saja?" aku membantu Neo menstabilkan serangan di tubuhnya.
"Dia, dia sudah mempelajari sihir terlarang!"