Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Seekor Beruang Kutub Besi



Kami mematung seketika. Dengan kepala mendongak, kami menahan napas. Tubuhku langsung bergetar hebat. Karena yang di depan kami, benar-benar menyeramkan dan sulit dikalahkan.


Seekor beruang kutub.


Neo langsung mengentakkan tongkatnya, tongkat itu berubah menjadi cambuk rantai yang panjang. Diselimuti es runcing, terlihat mengerikan.


"Hah! Dugaanku benar, ini tidak serumit yang kalian bayangkan, Jian, Rui. Hanya seekor beruang kutub saja, sekali dikalahkan, kita akan maju lagi!" Neo melompat ke udara, menyabetkan cambuknya ke arah beruang kutub itu berdiri.


Gap!


Neo mematung di udara. Pasalnya, cambuk itu remuk menjadi butiran es kecil saat menghantam bulu lembut beruang putih itu.


"Eh, dia ini apa?" Neo segera turun lagi, berdiri di sebelahku, tongkatnya kembali menjadi normal.


"Sepertinya kita tidak akan mengalahkannya dengan mudah, Neo. Selain melawan, kita hanya bisa melarikan diri, bukan mengalahkannya," aku menggenggam tongkatku dengan erat, Piu Piu yang berdiri di depanku menggeram kencang.


Neo mengembuskan napas panjang, "Astaga, beruang mana yang tubuhnya mampu menghancurkan cambuk sekuat itu?" Neo merubah tongkatnya menjadi tombak runcing, "Baiklah, bagaimana kalau kita tusuk-tusuk saja?" Neo memasang kuda-kuda kokoh, lalu melompat ke atas, dan mengarahkan tombaknya tepat di atas kepala beruang besar itu.


Plentang!


Tombak itu justru berdentang jatuh, Neo terpental lima meter dari posisi kuda-kudanya. Dia meringis, mengusap pantatnya yang terasa sakit.


"Hei, itu jelas bukan seekor beruang sungguhan!" Neo berseru protes, "Mana ada beruang yang kepalanya tidak bisa dilubangi?" dia kesal sekali karena serangannya sia-sia.


"Bagaimana kalau kita terbang saja melewatinya?" Rui memiliki ide cemerlang.


Neo mendongak, "Lihat itu, Rui. Ada atap transparan di atas sana. Kita tidak bisa terbang melewati puncak labirin. Jalan satu-satunya adalah dengan mengalahkan beruang keparat ini," Neo memutar-mutar tombaknya, bersiap hendak menyerang lagi.


"Tapi beruang ini jelas tidak bisa dikalahkan, Neo," aku menghentikan gerakan tangannya, menatap beruang yang tampaknya sudah sangat marah itu.


"Laku kita harus apa? Membiarkan tubuh kita menjadi santapan makan malamnya?" Neo mendengus.


"Kita hanya perlu melarikan diri darinya saja," aku menatap mata beruang kutub itu, mata hitam legamnya menyiratkan kilatan kemarahan.


"Neo, kamu sudah memancing kemarahannya, menurutmu, dia mau membiarkanmu pergi?" Rui menggumam pelan.


Neo menimpuk kepalanya, "Jangan bicara omong kosong, Rui," dia bersungut-sungut.


"Bilang saja jika kamu takut," aku menceletuk, menggenggam tongkatku lebih erat lagi, "Dalam hitungan ketiga, kita akan melompati beruang ini, Rui, Neo, jangan bertengkar lagi, bersiaplah!" aku berseru.


"Satu ...."


Rui dan Neo tak bersuara lagi, bersiap ikut melompat bersamaku.


"Dua ...," aku menahan napas, "Jika beruang ini mengejar, kita pasang penghalang sekuat mungkin agar dia tidak bisa menangkap kita," aku menoleh ke belakang, Rui dan Neo mengangguk mantap.


"Tiga!"


Wussshh!


Kami bertiga melompat serempak melewati kepala beruang ini. Melompatinya seperti ini, aku merasa gerakanku seperti diberi efek slow motion. Terasa lambat sekali meski sudah merasa aku melompat dengan cepat.


Brak!


Aku menjerit histeris, Neo dibanting ke dinding es sebelah kiri oleh beruang itu, tubuhnya merosot jatuh setelah tertabrak dinding es dengan keras, Neo memuntahkan darah lagi.


Aku dan Rui segera membantunya berdiri, tapi beruang itu bergerak cukup gesit, memukulkan tangannya ke arah kami, aku dan Rui segera membuat penghalang yang besar dan kuat.


Tapi penghalang yang kami buat mudah sekali dia hancurkan.


"Lari, Rui!" aku berlari sambil menyeret tubuh Neo yang terluka.


Tapi gerakan kaki kami tidak secepat beruang itu berlari. Hanya butuh beberapa langkah saja baginya untuk mengejar kami.


Beruang itu menyundulkan kepalanya, aku terlempar tiga meter, Neo terlempar lebih jauh lagi, Rui masih berada di tempatnya, mungkin beruang ini merasa Rui tidak melibatkan diri dengannya, jadi tidak menyerangnya.


"Lari, Rui, cepat!" Neo berseru, dia menyeretku dengan kaki terpincang-pincang. Kami sudah berhasil melompati beruang itu, hanya perlu melarikan diri saja.


Rui berlari menghampiri kami, tapi beruang itu menangkap Rui dengan tangannya yang besar, lalu melemparnya begitu jauh. Kini Rui berada di sisi sebelum kami melompat. Untuk bergabung dengan kami, Rui harus melompat sekali lagi.


Neo berdecak kesal, "Beruang sialan, awas kau!" Neo berlari ke depan, aku mencekal lengannya, itu bukan hak yang bisa memecahkan masalah ini.


"Neo, sebaiknya cari cara agar Rui bisa melompat lagi!" aku berseru kesal, tidak mengizinkannya menyerang.


Neo mengembuskan napas kesal, menurunkan tongkatnya lagi. Aku berkonsentrasi, apa yang harus kulakukan? Beruang ini seperti terbuat dari besi. Sangat keras dan tak bisa dikalahkan.


Meong!


Piu Piu melompat ke depan tanpa persetujuanku, cakarnya menutupi wajah beruang kutub sialan itu.


Melihat dirinya sudah diserang lagi, beruang itu semakin mengamuk, tangannya bergerak hendak mencomot Piu Piu dan melemparkannya ke arah lain.


Tapi Piu Piu tidak bisa dilemparkan dengan mudah olehnya. Entah sihir apa yang dimiliki kucingku, cakarnya terbenam di antara bulu-bulu lebat beruang itu, tidak bisa dilepas kecuali atas keinginannya sendiri.


"Cepat melompat, Rui!" Neo berseru, melihat Rui yang sudah bersiap-siap hendak melompat lagi.


Rui melompat dengan sempurna, kembali bersatu denganku dan Neo. Dia mengembuskan napas lega, kakinya terlihat gemetar.


"Kita harus lari sekarang." Aku menarik lengan Rui dan mulai berlari.


"Tunggu!" Neo berseru, mengeluarkan buku kecilnya.


Aku mendengus, "Kamu sungguhan ingin menulis di tengah situasi ini, Neo? Itu tidak penting, kita harus pergi!" aku merebut bukunya, tapi Neo menolak.


"Ini sangat penting, Jian!" Neo merebutnya kembali, menggambar sesuatu dengan cepat.


"Kenapa menggambar orang lidi?" aku menatap malas.


"Untuk mengalihkan perhatian, kamu tidak mau Piu Piu tetap terjebak bersama beruang itu, kan?" Neo menjawab tidak peduli, menyobek kertas itu setelah selesai menggambarnya.


Neo menerapkan mantra ilusi pada gambar itu, merubahnya menjadi wujud kami bertiga.


Tunggu, kami bertiga?


"Ayo lari, Piu Piu! Biarkan dia bermain boneka!" Neo berseru, Piu Piu mencabut cakarnya dari beruang itu, lalu melompat tinggi, tubuhnya kembali seperti semula saat tiba di pelukanku.


Boneka buatan Neo berlari ke arah beruang itu, membuatnya menjadi sasaran empuk beruang. Kami segera berlari meninggalkan beruang itu, berhenti di depan persimpangan.


"Kita menuju ke mana?" aku bertanya.


"Lurus saja, di depan sana ada tiga cabang, di situ baru kita belok ke kanan," Neo menjawab sambil terus berlari.


"Apakah akan ada titik merah berikutnya?" Rui bertanya.


"Seharusnya tidak ada. Baru ada setelah persimpangan berikutnya lagi," Neo menjawab lagi.


"Apakah sudah aman?" aku menoleh ke belakang, beruang itu sudah tidak terlihat.


"Dia tidak mengejar," Neo menambahkan.


Kami berhenti berlari setelah merasa situasi kami aman, mengembuskan napas lega. Tersenyum puas.


"Beruang itu, hanya besar saja, tapi bodoh sekali," Rui menceletuk.


Neo terkekeh, "Beruang itu tidak sebodoh dirimu, Rui."


Rui terdiam. Situasi menjadi hening setelah Neo mengucapkan kalimat itu lagi.


"Eh, aku hanya bercanda," Neo nyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya.


Rui mengeluarkan botol air dari dalam kantong kecil, "Aku haus sekali."


Aku dan Neo sontak tertawa, "Dia diam karena haus, Neo." Aku berbisik di telinganya.


"Kalau di atas sana ada matahari, pukul berapa sekarang?" Rui bertanya lagi.


Neo sedikit berpikir sebelum menjawab, "Mungkin matahari sudah terbenam."


"Bukankah sudah saatnya makan malam?" aku juga ikut bertanya.


"Mari kita makan malam di sini saja," Neo memeriksa peta, "Seharusnya butuh waktu satu jam hingga titik merah tiba di tempat kita. Kita harus menyelesaikan makan malam dalam lima belas menit, lalu berjalan lurus dan berbelok ke persimpangan buntu di depan sana sebelum titik merah melewatinya."


Kami mengeluarkan perbekalan, itu masih roti tawar yang sama seperti kemarin.


"Menurutmu kapan kita keluar dari labirin ini?" Rui mendongak, menatap di atas sana yang gelap.


"Saat kita sudah menemukan Lilin Keabadian," Neo menjawab singkat.


"Apakah itu membutuhkan beberapa hari?" Rui bertanya lagi.


"Mungkin," Neo menghela napas pelan, "Labirin ini besar sekali, kita baru melewati beberapa persimpangan, di depan sana, akan ada hingga ratusan persimpangan sebelum kita tiba di tengah labirin, Lilin Keabadian itu berada di sana."


"Tapi makanan kita nyaris habis," Rui memeriksa kantong kecilnya, wajahnya terlihat sedih.


Aku menepuk pundaknya, "Setelah ini, mari kita menghemat makanan kita, Rui. Agar kita tidak kekurangan makanan," aku tersenyum menatapnya.


"Andai saja aku tahu kita akan muncul di dalam sebuah labirin raksasa, aku pasti akan menyiapkan lebih banyak perbekalan makanan sebelum kita masuk ke sini." Neo mengunyah rotinya.


"Ini sudah lima belas menit, Neo. Ayo kita bergerak sekarang." Aku menenggak air minum.


"Ya, ayo kita bergerak sekarang, "Neo menyeka tangannya di jubah yang dia pakai.


Rui mengangguk, dia sudah menyelesaikan makannya tiga menit lebih cepat dari kami.


Kami melanjutkan perjalanan kami, seharusnya masih ada sekitar lima jam sebelum waktunya tidur, atau mungkin, malam ini kami tidak akan memiliki waktu untuk tidur?


"Lorong kanan adalah tujuan kita, tapi ada titik merah di sana, kita akan mengambil jalan lurus sejauh lima belas meter lalu berbelok ke kiri untuk bersembunyi sebentar. Kita lihat dulu ke mana titik merah itu berjalan," Neo menunjuk jalan lurus di depan kami.


Setelah berjalan lima belas meter, kami berbelok ke kiri seperti yang diintruksikan Neo. Titik merah di lorong yang benar itu berjalan lorong yang sebelumnya kami lewati.


Kami sedikit mengintip, "Menurutmu, apakah itu beruang kutub juga?" Rui bertanya pada Neo.


Neo mengangkat bahu, "Boleh jadi iya, boleh jadi juga tidak."