Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Kabut Beracun



Win tersenyum, "Tenang saja, Jian. Zhu sempat membuka portal menuju tempat aman di aula samping, mereka pasti sudah berada di tempat aman dan baik-baik saja."


Aku menghela napas lega, meski situasi kami sedang tidak menguntungkan, setidaknya teman-teman akademiku baik-baik saja sekarang.


Aku dan Rui pergi ke kamar tanpa perasaan yang mengganjal. Kami harus segera tidur, mengisi tenaga, besok kami akan berlatih sihir lagi.


...----------------...


"Bagus, Jian, Rui. Sudah ada kemajuan." Win melempar air minum, aku dan Rui menangkapnya.


"Aku merasa tubuhku jauh lebih kuat dibanding sebelumnya, Win." Rui tersenyum senang.


Pagi ini, kami gunakan hanya untuk berlatih. Lalu malamnya kami berkumpul di ruangan Para Penjaga untuk berdiskusi tentang rencana kami di Kota Luse.


Win membuka peta itu lagi, dan melipat separuhnya. Kemarin kami sudah membahas lipatan pertama, kini Win membuka lipatan baru lagi.


"Ini adalah pusat kehidupan di Kota Luse." Win menunjuk titik ramai dengan telunjuknya.


Rui memegang lenganku, "Dari peta saja, ini terlihat menyeramkan."


"Tidak ada binatang buas di Kota Luse, Rui. Tidak perlu khawatir.


"Lalu, apa?" aku berpikir.


"Mungkinkah racun-racun tanaman?" Rui bertanya.


Zhi menggeleng, "Yang perlu kita takutkan adalah, bagaimana membuat warganya percaya pada kita, dan mau berbaur dengan kita."


"Apakah mereka sulit bersosialisasi, Zhi?" tanyaku.


Zhi mengangguk, "Mereka ini tidak hidup berkelompok. Melainkan hanya hidup sendiri-sendiri. Dengan sesama warga saja mereka jarang sekali akur. Apalagi kepada pendatang seperti kita."


"Tenang saja, Zhi. Kita tidak ke sana untuk berbaur. Melainkan mencari tumbuhan obat. Jadi tidak penting seperti apa orang Kota Luse. Yang penting adalah kita harus mendapatkan tumbuhan obat untuk Neo." Win tersenyum lebar.


Zhi mengangguk-angguk, "Kita memerlukan uang Kota Luse yang banyak, Win. Harga makanan di sana sangat mahal."


"Aku sudah mempersiapkan beberapa barang berharga yang langka untuk ditukarkan dengan mata uang Kota Luse." Win bahkan sudah mempersiapkan apa yang kami perlukan.


Kami kembali ke kamar dan beristirahat.


Kegiatan kami selama di Akademi Dixia selalu sama. Berlatih di pagi hari, beristirahat di siang hari, berdiskusi, lalu kembali tidur.


Besoknya seperti itu lagi, lalu besoknya juga masih seperti itu. Sesekali Rui bercerita tentang dirinya yang semakin tertarik dengan Win.


Hingga hari di mana kami berangkat ke Kota Luse akhirnya tiba. Kami berdiri di depan Akademi Dixia, para hantu mengucapkan selamat tinggal kepada kami. Mereka juga berharap perjalanan kami senantiasa lancar hingga kembali pulang.


Kami melesat terbang ke arah Kota Luse. Begitu sampai, Win langsung menyuruh kami untuk menyembunyikan tongkat sihir. Dia bilang tongkat sihir terlalu mencolok jika terlihat oleh orang Kota Luse.


Kami berhenti di depan Wilayah Pertahanan. Ada beberapa prajurit yang berjaga di sana. Mereka tidak menggunakan tongkat sihir sebagai senjata.


Tapi baju zirah yang mereka kenakan bisa melindungi diri dari musuh, sekaligus senjata terbaik yang mereka gunakan.


Sebelumnya Win pernah menceritakan tentang hal ini. Katanya, hanya sepuluh persen warga Kota Luse yang bisa teknik sihir.


Para prajurit ini tidak memakai tongkat sihir, karena tidak ingin menakuti warga mereka yang tidak bisa sihir. Jadi mereka hanya memakai kostum keren ini untuk melawan jika ada musuh.


Itu juga termasuk salah satu alasan kenapa kami tidak boleh asal-asalan mengeluarkan tongkat sihir. Warga sekitar bisa saja ketakutan dan merasa terancam dengan kehadiran kami.


"Berhenti." Salah satu prajurit menghentikan kami yang sedang berjalan masuk.


Zhi yang mengerti maksudnya langsung mengeluarkan Kartu Persetujuan miliknya dan menyerahkannya pada prajurit itu. Win mengikuti Zhi, tapi hanya mengeluarkannya saja, tidak diperlihatkan lebih jelas.


Karena tandatangan milik kami palsu, jadi kami mengikuti Win yang hanya memperlihatkan kartu itu sekilas kepada penjaga.


Prajurit itu malah berdiskusi dengan temannya, berbisik-bisik, lalu menunjukkan kartu milik Zhi ke temannya.


Aku menahan napas, bagaimana ini?


Zhi mencegah saat prajurit itu hendak merebut kartu di tanganku, dia tersenyum dengan ramah, "Tuan, kami adalah saudara, kami datang ke sini untuk tujuan khusus. Kami meminta izin bersamaan dengan Pengurus Kartu Perizinan. Jadi, kartu mereka sama denganku, kamu sudah melihat kami semua membawa kartu masing-masing, bukankah itu cukup?"


Prajurit itu kembali menatap temannya dan berdiskusi lagi. Aku menelan ludah, sebenarnya apa yang mereka bicarakan ini? Setelah temannya mengangguk, kartu milik Zhi dikembalikan.


Mereka mempersilakan kami masuk, Zhi mengucapkan terima kasih.


Rui langsung menyusulku, "Tadi itu cukup menegangkan," bisik Rui.


Aku menganggukinya, "Kupikir kita akan ketahuan."


"Tenang saja, kita sudah aman, Rui." Win tersenyum sambil menepuk pundaknya sekali.


Wajah Rui terlihat memerah, kemudian dia terbatuk pelan, aku nyaris tertawa melihatnya yang tiba-tiba tersedak hanya karena ditepuk pundaknya oleh Win.


Aku langsung menyeretnya dan berjalan mendahului Win dan Zhi, "Lain kali, jangan terlalu memperlihatkan perasaanmu di depannya, Rui. Kalau dia tahu, bagaimana kamu akan terus melanjutkan petualangan ini?" aku berbisik di telinganya.


Rui menatapku dengan kesal, diam-diam dia mencubit pinggangku, rasanya sakit sekali.


"Bagaimana mungkin itu terlihat, Jian?" Rui balas berbisik.


Aku tersenyum jahil, "Wajahmu tadi merah sekali, Rui. Makanya aku langsung menarikmu menjauh darinya, jika dia tahu wajahmu memerah hanya karena dia menepuk pundakmu, aku tidak bisa membayangkan lagi apa yang akan terjadi padamu nantinya."


"Diam, Jian. Nanti dia curiga," Rui mencubit pinggangku sekali lagi.


Setelah keluar dari Wilayah Pertahanan, kami disambut oleh hutan hujan yang begitu gelap. Aku memperlambat langkahku sebelum mulai berjalan.


"Win, bisakah kita menggunakan tongkat sihir saja?" aku meminta keringanan.


Tampaknya berjalan di antara pepohonan dan semak belukar rapat terlalu berisiko terkena racun serangga.


"Tidak bisa, Jian. Wilayah ini rawan racun, Jian. Kamu juga melihatnya, kan?" Win menggeleng dengan tegas.


"Melihat apa?" aku menoleh ke arah sekeliling, memangnya melihat apa selain pepohonan rapat?


"Asap, Jian. Di atas sana ada asap tebal. Asal itu mengandung racun, meski tidak mematikan, tapi juga tidak bisa dihirup terus-menerus. Bisa merusak inti energi magis kita. Itu juga salah satu alasan kenapa tidak boleh terbang menggunakan tongkat sihir di hutan ini." Win menunjuk ke atas sambil mendongak.


Aku ikut mendongak, di atas sana memang ada asap tebal berwarna putih. Kupikir itu hanya kabut, ternyata mengandung racun?


"Tapi bagaimana jika—"


"Kita hanya perlu berjalan beberapa kilometer untuk tiba di tengah hutan ini, aku akan memanggil kawananku untuk membantu perjalanan kita," Win berjalan lebih dulu, menyingkirkan beberapa semak dari jalur kami.


Sebenarnya aku bukan takut karena hutan ini minim cahaya matahari, tapi bagaimana jika tiba-tiba ada binatang melata yang beracun?


Zhi menepuk pundakku, "Minum ini, Jian, Rui." Zhu memberikan botol ramuan kecil pada kami.


"Apa ini?" Aku menerima botol kecil itu.


"Ramuan anti racun serangga." Zhi menjawabnya cuek.


"Apakah Win sudah meminumnya juga?" Rui bertanya asal.


Aku langsung menutup mulutnya, "Rui, kamu lupa ya, dia itu seekor serigala! Mana mungkin takut dengan racun serangga!"


Rui nyengir lebar, Zhi menoleh heran. Sepertinya dia belum mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Rui barusan.


"Aw!"


"Win!" Rui langsung melompat ke arah Win, laki-laki itu terduduk sambil memegangi kakinya.