
Saat aku dan Rui kembali ke tempat di mana Win dan Yets menunggu kami, Neo terlihat sudah duduk nyaman di salah satu meja. Berbincang dengan hantu-hantu lain di Akademi Dixia.
Rui mencolek lenganku, "Dia bahkan mudah bergaul dengan hantu," bisiknya.
Aku tertawa kecil menanggapi celetukan Rui, "Mungkin karena hantunya tidak menyeramkan, Rui," jawabku.
Rui mengangguk-angguk, "Aku boleh jujur padamu kan, Jian?" Rui semakin mengecilkan volume suaranya.
"Tentu saja, apa itu?"
"Aku sebenarnya mencintai Win sejak pandangan pertama."
"Wow!" aku berseru tertahan. Orang-orang yang berkumpul di depan kami sampai menatapku dengan heran.
Rui langsung menutup mulutku, "Bisakah rahasiakan tentang itu? Aku malu jika sampai ada yang tahu, Jian!" Rui berbisik di telingaku.
Aku terkekeh, "Tentu saja, Rui. Tadi itu aku hanya terkejut saja. Kamu yang dulunya selalu menghindari hantu malah jatuh cinta dengan hantu yang sudah bergentayangan selama ribuan tahun," aku kembali menahan tawaku.
"Hei, kenapa berdiri di sana? Ayo bergabung dengan kami!" orang-orang Akademi Dixia berseru memanggil kami. Aku menatap Neo, dia bahkan terlihat tidak peduli sama sekali.
"Hei Neo. Apa kamu sudah berkenalan dengan mereka?" Rui berbisik di telinga Neo.
Neo mengangguk, "Tapi Rui, bisakah tidak perlu berbisik? Telingaku panas karena aku sudah berteman dengan hantu."
Aku tertawa lagi, Rui memang suka sekali berbisik. Aku ingat sekali saat berkenalan dengannya dulu, Rui menyenggol lenganku dan berkata maaf sambil berbisik pelan. Kupikir dengan rambut pirang itu dia terlihat tomboy dan petakilan. Tapi denganku yang pendiam saja dia masih lebih pendiam.
"Hai, Teman Neo. Namaku June. Dia Rux, sebelah Rux adalah Paw, sebelah Paw adalah Kie. Kami dari spesies yang sama, serigala salju," June tersenyum ramah, "Aku sudah kenal kalian. Kamu Jian, yang rambut pirang adalah Rui."
Aku menatap Neo, "Kamu mengenalkan kami pada mereka, Neo?"
"Maaf, tapi kami bukan Teman Neo. Hanya kebetulan bertemu saja," Rui menggeleng keberatan saat June menyebut bahwa kami adalah teman Neo. Kalimat itu persis seperti yang dia katakan saat pertama kali berkenalan dengan Sue dan Tomu.
Kulihat wajah Neo tampak terlipat, "Kamu masih keberatan menganggapku teman, Rui," gumamnya pelan.
"Kamu itu bukan teman, tahu! Lebih mirip pengganggu," aku membela Rui.
"Tapi, kenapa mengadakan perjamuan di siang hari? Bukankah seharusnya biasanya malam?" aku bertanya penasaran. Pasalnya, aula besar ini sangat ramai hantu-hantu yang sibuk menata makanan dan merapikan kursi.
"Ah, itu ... memang biasanya kami laksanakan malam hari. Ini adalah perjamuan yang diadakan setiap tahun di minggu pertama bulan ke tujuh. Kebetulan nanti malam ada gerhana bulan, jadi kami majukan perjamuannya di siang hari," jelas Rux, June mengangguk-angguk.
"Memangnya kenapa kalau gerhana bulan?" Rui menambahkan pertanyaan.
"Sstt ... kalian tidak tahu ya? Akademi Dixia punya benda pusaka yang harus dijaga selama mati oleh kami. Benda pusaka itu akan keluar dari formasinya saat gerhana bulan terjadi. Kami harus menjaganya agar tidak ada yang berniat buruk terhadap benda pusaka kami. Itulah kenapa kami melakukan perjamuan tahunan di siang hari, nanti malam kami akan sangat sibuk menjaga setiap sudut Akademi Dixia agar tidak ada yang mencuri pusaka kami," Rux tersenyum ramah.
Aku jadi ragu pada Rux, kenapa dia santai sekali membocorkan rahasia tempat tinggal mereka kepada orang asing seperti kami?
Sepertinya pusaka yang dimaksud mereka adalah jam pasir itu, kami beruntung datang tepat waktu, mungkin kami bisa meminta kepada Win baik-baik untuk pusaka itu. Jika pusakanya keluar sendiri nanti malam, tak sulit jika berbicara pada Win secepatnya.
Selesai perjamuan, aku meminta Neo untuk berkumpul denganku dan Rui di kamar kami. Untuk membahas tindakan selanjutnya tentang pusaka pertama yang akan kami ambil.
"Wow, Jian. Kamarmu canggih sekali," Neo malah bermain-main dengan cermin sihir di kamar kami. Cermin itu mirip seperti Kamera Instagram di dunia kami, kami bisa berkonsentrasi dan memikirkan akan seperti apa wajah kami dan penampilan kami saat menghadap cermin itu. Dan Neo antusias sekali mencobanya, seperti aku dan Rui saat baru masuk ke kamar beberapa jam yang lalu.
"Neo, bisakah duduk dulu? Jian akan membahas sesuatu yang penting," Rui menegurnya dengan malas.
Aku terkekeh, "Karena kamu hanya memeriksa saja, Neo. Kamu tidak memperhatikan apa yang tertulis di atas pintu, padahal di sana terdapat tulisan besar tentang apa saja yang ada di dalam kamar. Kami memilih fasilitas sihir tingkat tinggi, sedangkan kamu hanya masuk ke kamar tamu biasa," aku iseng menjelaskan.
"Ah, masa? Bukannya tadi tidak ada tulisan apa-apa di luar?" Neo berjalan memeriksa ke luar. Sebelum dia mendongak, aku segera mengucapkan mantra ilusi, muncul tulisan di atas pintu.
'Kamar Fasilitas Sihir Tingkat Tinggi'
"Wah! Benar! Kalian curang! Kenapa tidak bilang padaku? Harusnya tadi bilang! Aku akan pindah kamar nanti malam." Neo berseru kesal begitu menyadari kesalahannya.
"Jian, bukankah tidak ada apa-apa di atas pintu?" Rui berbisik di telingaku.
Aku terkekeh kecil, "Aku hanya mengerjainya saja," balasku sambil berbisik, "Sebenarnya aku memberikan mantra ilusi di matanya, dia melihatnya ada tulisan seperti itu, padahal tidak ada apa-apa di sana." aku tertawa kecil, Rui ikut tertawa, tampak setuju dengan perbuatanku.
"Aku akan memberikan kamar ini untukmu jika kamu mau membiarkanku bicara, Neo. Kemarilah, sesuatu ini sangat penting," aku berkata serius.
Neo langsung mendekat, "Apa itu?"
"Kamu dengar, kan, apa yang dikatakan Rux tadi?" aku memelankan suaraku, takut ada yang lewat dan mendengar percakapan kami.
"Memangnya kenapa?" Neo menaikkan sebelah alis.
"Pusaka yang mereka maksud adalah Jam Pasir Ajaib, Neo. Itu yang kita butuhkan. Nanti malam adalah gerhana bulan, dan pusaka itu akan keluar dan menyerap energi bulan untuk membentuk penghalang abadi yang baru. Kita bisa memanfaatkan gerhana bulan untuk meminjamnya dari mereka. Jika kita bicara dengan Win, dia pasti mengizinkan kita meminjam sebentar."
"Dari mana kamu tahu kalau pusaka itu bisa menyerap energi bulan?" Neo bertanya penasaran.
"Aku membacanya di buku barusan," aku menunjukkan sebuah buku, "Apa kalian setuju dengan ideku?"
Neo dan Rui saling tatap setelah mendengar ide dariku. Ini terdengar sangat sempurna.
"Itu terdengar mudah," Neo mengangguk setuju, "Aku setuju."
"Bagaimana denganmu, Rui?" aku menatap Rui. Dia mengangguk tanpa mengatakan apapun. Aku tahu, dia akan menyetujui apapun yang aku dan Neo putuskan.
"Kalau begitu, aku akan menemui Win di luar, mungkin dia tidak akan keberatan," aku berdiri, "Kau bisa pergi sekarang, Neo," Aku menarik tangan Neo agar berdiri dan segera meninggalkan kamar kami.
"Hei, kamu bilang akan menyerahkan kamar ini jika aku bersedia mendengarkan kamu bicara! Kalian yang seharusnya keluar dari kamarku!" Neo menarik tanganku dan Rui agar segera keluar dari kamar kami.
"Dasar kau! Menyebalkan sekali!" Rui berseru tidak terima, "Jian, kenapa kamu diam saja membiarkan kamar keren kita direbut keparat itu!" Rui melotot padaku.
Aku tidak tahu Rui akan begitu marah, "Aku minta maaf karena memberikan kamar ini padanya, Rui. Tapi, bukankah berada di kamar manapun selalu menyenangkan jika kita tinggal berdua?" aku tersenyum menghiburnya.
Rui menghela napas panjang, "Baiklah, anggap saja itu hadiah untuk keparat!"
"Omong-omong, Jian, bisakah aku ikut denganmu?" Rui berbisik lagi.
"Ikut ke mana?" aku bertanya heran.
"Menemui Win," Rui nyengir lebar, "Jangan salah paham, Jian, aku hanya ingin menemanimu saja."
Aku terkekeh pelan, "Tentu saja kamu bisa ikut denganku, Kawan. Mari kita menemui Win sekarang!"