
Kami terkepung. Aku dan Rui batal menyelinap ke dalam ruangan Ratu Hudie demi menyelamatkan Para Penjaga Pintu.
Kini Zhi tidak sadarkan diri, Bim terluka parah. Zhu nyaris tak bisa mengendalikan amarahnya lagi. Sementara Ratu Hudie sedang tertawa puas karena berhasil mendapatkan apa yang dia mau.
"Kalian manusia-manusia bodoh! Mengabdi pada seorang ratu yang sejatinya hanyalah seekor iblis kupu-kupu. Kesalahan kalian itu, pantas kalian dapatkan hukumannya. Jangan menyalahkanku karena kalian tidak berhasil mengetahui rahasiaku selama ribuan tahun. Bukankah begitu, Zhu?" Ratu Hudie mengelus kristal bercahaya merah itu sambil menatap remeh ke arah kami.
"Apa yang kau inginkan, Hudie!" Win berteriak kencang, wajahnya dipenuhi luka, amarahnya kian memuncak.
Ratu Hudie tertawa semakin lebar, "Belasan ribu tahun yang lalu, ayahku datang ke dunia ini. Dia memohon pada ibuku untuk memberikan jalan pulang padanya. Ibuku menyetujui permintaannya, dengan syarat, dia harus menikahi ibuku. Ayahku menyetujuinya begitu saja demi bisa kembali pulang ke rumahnya. Puluhan tahun kemudian, ibuku berhasil membuat mantra pada sebuah kristal yang bisa membuka portal ke dimensi lain." Ratu Hudie berjalan mendekat ke arah kami.
"Tapi, wanita hanya wanita. Begitu mencintai seseorang, dia akan tamak terhadap segala sesuatu. Dia tamak pada waktu yang sudah dia habiskan ratusan tahun bersama ayahku. Mereka melahirkan dua anak, ibuku begitu mencintainya. Tidak rela jika dia ditinggalkan oleh pria yang begitu dia cintai. Itu membuat ibuku ingin sekali merahasiakan penemuannya, bahwa dia bisa mengirim suaminya pulang kapanpun dia mau.
"Betapa keras kepalanya pria itu, malah menuduh ibuku menipunya selama ratusan tahun. Ayahku menuduhnya macam-macam, ayahku bahkan berniat menghabisinya. Betapa tidak tahu malunya seorang pria." Ratu Hudie mengangkat tangannya, tongkat sihir paling megah yang pernah kulihat muncul dalam genggaman tangannya.
"Pada akhirnya, mereka tetap harus berpisah. Ayahku menyia-nyiakan perjuangan ibuku, membuatku harus terpisah dari seorang kakak laki-laki yang seharusnya menjadi Raja di dunia ini. Ibuku mati, ayahku mati. Kristal itu terkunci hingga belasan ribu tahun kemudian.
"Sejatinya, aku selalu menunggu momen ini selama belasan ribu tahun aku hidup. Aku telah bertemu banyak sekali Pelintas Dimensi seperti ayahku. Tapi tak ada yang memenuhi syarat untuk menemukan kuncinya.
"Saat nyaris putus asa, aku bertemu tiga anak lugu itu. Menurutmu, haruskah aku melewatkannya begitu saja?" Ratu Hudie merundukkan kepalanya di depan Neo, jarak atara wajahnya dengan wajah Neo hanya berkisar lima centimeter. Neo menutup matanya dan berusaha menghindar, hingga Ratu kembali berjalan menjauhi kami.
"Jian, Rui, Neo. Bagaimanapun, kita harus mengambil kembali kristal itu darinya." Yets berbisik kepada kami, kami bertiga mengangguk serempak.
"Apa yang akan dia lakukan pada pusaka itu, Yets?" Rui bertanya cemas.
"Dia ingin membalas kematian ibunya belasan ribu tahun lalu, Rui. Dia akan membuka portal di dunia kita, dan mengacau di sana. Kamu pikir, kita harus membiarkannya melakukan itu?" Neo menjawab dengan suara rendah.
"Kalau begitu, bukankah harus segera diambil?" Rui memegang tanganku begitu erat, matanya berembun.
Aku tersenyum ke arahnya, "Aku juga merasa takut, Rui. Mari kita bersatu dan saling melindungi. Dan dapatkan kembali kristal itu!"
Kami bertiga, bersama Para Penjaga Pintu yang masih mampu bertarung mulai maju ke depan dan bersiap melakukan serangan ketiga.
SLAP!
Saat Ratu Hudie mengangkat tongkatnya ke atas, Rui dan Neo mendadak berhenti mematung seperti boneka manekin. Matanya tak berkedip dan menatap kosong ke depan. Rui dan Neo mendadak berbalik arah, menyerangku dan Win.
"Hei, ada apa dengan kalian!?" Aku berseru terkejut.
Aku menangkis ratusan serangan bayangan milik Neo, Piu Piu membantuku menangkis serbuan bola api milik Rui. Yets bergegas membantuku dari belakang.
Bim terbang ke belakang Yets, melindunginya dari serangan para boneka hidup itu. Sedangkan Zhu dan Win sudah bertarung dua lawan satu dengan Ratu Hudie.
Kekuatan mereka bagaikan langit dan bumi. Aku khawatir Win dan Zhu akan terluka karena nekat bertarung langsung dengan iblis berusia belasan tahun itu.
Aku menahan napas. Tidak sempat mencemaskan orang lain, harus mencemaskan diri sendiri yang mulai lengah dari serangan lawan.
Ditambah, lawanku adalah sahabat-sahabatku sendiri, "Ada apa dengan kalian, Rui, Neo?!" Aku berseru lagi, menangkis tinju Neo yang nyaris telak mengenai perutku.
"Jian, mungkinkah mereka memiliki sesuatu yang tidak dimilikimu?" Yets bertanya di sela-sela serangannya.
Aku menggeleng, tidak sempat berpikir. Karena nyaris semua yang dimiliki Rui, aku juga memilikinya, apa yang dimiliki Neo, aku juga memiliki beberapa. Jadi apa yang tidak dimiliki aku tapi mereka memilikinya?
"Mereka seperti keracunan sesuatu, Jian. Seperti teman-teman akademimu yang lain!" Yets memberikan penjelasan kenapa dia bertanya seperti itu.
Aku menoleh ke belakang, memperhatikan teman-teman akademiku yang dengan brutal menyerang Bim dan Yets. Lalu memperhatikan sahabat-sahabatku yang menyerangku tanpa kenal siapa yang mereka serang.
"Mungkinkah hadiah kecil itu?" Aku terdiam sebentar setelah mengingat tentang satu hal.
"Apa?"
"Siang tadi Ratu Hudie memberi kami hadiah kecil, Yets. Sebuah alat yang mirip cakram. Kami bertiga memilikinya, tapi aku meninggalkannya di kamar asrama. Mungkinkah itu penyebabnya?"
Aku membulatkan mata, benda itu mengalirkan energi hitam?
Yets menendang perut Neo, membuat Neo mengalihkan fokusnya pada Yets, dan menyerangnya dengan kuat. Yets melafalkan sebuah mantra, lalu memukulkan tinjunya di dahi Neo.
Laki-laki petakilan itu terpental belasan meter, sebuah cakram hitam keluar dari dahinya, Neo menyemburkan darah, lalu menatap sekeliling seperti tidak menyadari apa yang baru saja terjadi padanya.
"Lakukan hal yang sama pada Rui, Jian!" Yets berteriak kepadaku.
Aku bergegas mengarahkan tanganku ke dahi Rui. Dan cakram hitam itu juga keluar dari dahinya. Rui terkulai lemas, aku segera menangkap tubuhnya yang nyaris terjatuh.
Aku melihat Neo yang segera bangun untuk membantu Win dan Zhu. Sekarang Yets sudah menyingkirkan puluhan cakram hitam dari tubuh teman-teman kami.
Sementara Bim memasukkan mutiara jiwanya ke dalam tubuh Zhi. Interaksi dua orang itu terlihat sangat manis. Aku tahu, seharusnya tidak mengatakan hal semacam itu, tapi melihat Bim yang mengorbankan dirinya sendiri untuk menghidupkan Zhi, sepertinya hubungan keduanya tidak begitu sederhana.
"Jian, apakah aku baru saja melukaimu?" Rui bergumam pelan, matanya setengah terbuka, dia menatapku penuh penyesalan.
Aku tersenyum sambil menggeleng, "Kita selalu saling melindungi, Rui."
Suara kaki berderap masuk ke dalam Aula Besar. Sepertinya Pasukan Kota Pubu yang berada di pihak Ratu Hudie sudah menghabisi seluruh Pasukan Desa Terkutuk kami. Sekarang mereka bersiap hendak meratakan Aula Besar ini dengan tombak-tombak mereka yang tajam.
"Jian, apa yang harus kita lakukan?" Rui memelukku erat, "Aku tidak mau berada di sini lagi, aku ingin pulang," Rui menangis terisak.
Aku menghela napas pelan, "Kita akan pulang, Rui. Tapi sebelum itu, kita bantu Yets menyelamatkan teman-teman kita dulu, ya?" Aku mencengkeram kedua bahunya, "Dengar, ini bukan saatnya kamu menangis. Situasi kita genting, kita bisa mati kapan saja. Jadi, lindungilah dirimu sebaik mungkin, Rui."
Rui mengangguk berkali-kali, dia memanggil binatang sihirnya. Dalam lima menit, Rui sudah menyelamatkan puluhan orang, menghabisi puluhan pasukan.
Aku tersenyum tipis. Dia sebenarnya sangat kuat, hanya saja dia belum cukup dewasa untuk menanggapi situasi di depannya.
"Jian, selamatkan aku!" itu suara Flo, aku menoleh ke belakang, tubuhnya terbanting keras, lantas sebuah tombak menusuknya dengan kuat, darah segar terciprat ke mana-mana. Aku menutup mata, Flo, aku tidak sempat menyelamatkan nyawamu.
Brak!!
Aku terkesiap, segera kembali fokus ke depan. Ternyata Agg baru saja membunuh seorang bawahan Ratu Hudie yang mengarahkan tombaknya kepadaku.
"Tetap fokus, Jian! Serangan ini tidak akan ada habisnya." Agg menebaskan pedangnya sekali lagi, kepala berikutnya terjatuh.
"Agg, bantu aku mencari Sue dan Tomu."
"Mereka sudah mati, Jian," Agg menjawab pendek, "Yang perlu dikhawatirkan adalah Neo!"
Aku segera mencari keberadaan temanku itu. Aku melihat Win jatuh berdebam dengan tubuh penuh luka. Neo tergeletak di sebelahnya, Zhu sedang beradu kekuatan dengan Ratu Hudie.
Langit bergemuruh, petir saling menyambar, ribuan kupu-kupu hitam terbang mengelilingi atap aula yang hancur separuh.
Aku melesat menghampiri Neo. Dia sungguh sudah babak belur. Tangannya gemetar, bahkan tak kuat mengangkat senjata sendiri. Napasnya menderu, aku bisa mendengar suaranya yang menyedihkan.
"Neo, ...," aku duduk bersimpuh sambil mengguncang pipinya, "Bangunlah, kita akan pulang," aku menangis terisak di sebelahnya.
Tapi tubuh itu bahkan sudah tak bergerak lagi. Matanya sudah tidak mau terbuka lagi. Aku memeluk Neo dengan erat, berseru-seru menyuruhnya bangun. Tapi aku tak dihiraukan..
Duarrr!
Ledakan besar menghancurkan seluruh aula. Zhu terpental belasan meter, Win segera menangkapnya agar tak terjatuh.
Aku mendongak, Ratu Hudie mengambang dikelilingi ribuan kupu-kupu berwarna gelap. Ekspresi wajahnya menunjukkan kemenangan, kristal pusaka itu berhasil dia dapatkan. Usaha kami sia-sia, kami tetap kalah dari segi manapun.
Aku mengembuskan napas pelan. Haruskan kami semua mati di sini?