
PoV Jian
Aku mengangkat tanganku, di atasnya ada kunci yang berputar mengambang. Rui dan Neo menatapnya tak berkedip.
"Kau sungguhan berhasil mendapatkannya, Jian." Rui berseru takjub.
Aku mengangguk, "Butuh berhari-hari untuk menemukannya, Rui. Aku seperti mengitari semua lorong di dalam gua itu. Baru menemukan ruangan luas yang menyegelnya di langit-langit. Kupikir aku benar-benar tidak bisa keluar."
"Apakah kamu menjumpai kesulitan, Jian? Seperti misalnya bertemu binatang-binatang buas seperti saat kita di dalam labirin?" Neo bertanya.
"Tidak ada. Aku bahkan tidak melihat apa-apa selain dinding gua yang dipenuhi lukisan kuno."
"Lukisan kuno?" Neo menaikkan sebelah alisnya.
"Itu seperti kisah tentang bagaimana kristal pusaka itu terbentuk, Neo. Aku menemukan semua sejarahnya di dalam gua itu. Sepertinya seseorang sengaja menyegel kuncinya di dalam gue gelap tersembunyi itu."
Aku menceritakan semuanya pada Rui dan Neo. Mulai dari kisah tentang pelintas dimensi pertama di Kota Pubu, tentang hubungannya dengan Ratu Kota Pubu kala itu, dan bagaimana mereka akhirnya menciptakan pusaka itu.
Neo menghela napas, "Aku mengerti."
"Apa yang kamu mengerti, Neo?" Rui menatapnya.
Neo menghela napas lagi, "Kamu pernah menonton serial drama romantis tidak?"
Rui menatapku, lalu menggeleng, "Aku tidak pernah menonton serial drama, apalagi yang berbau romantis. Uh, tidak cocok." Rui melambaikan tangan.
Neo memandangnya jijik, "Kamu ini kenapa? Tidak suka ya tidak apa-apa, tidak usah meremehkannya seperti itu!" dia malah berseru tidak terima.
"Memangnya apa yang mau kamu ceritakan, Neo?" aku menengahi pertengkaran keduanya.
Neo nyengir lebar, "Kamu memang yang paling peduli padaku, Jian," ucapnya penuh percaya diri, "Eh, maksudku, tentang Huan dan Yanran itu ...," Neo menghentikan kalimatnya.
"Apa?" Rui menatapnya tidak sabaran.
Mereka ini, bisakah berhenti berdebat sehari saja? Bahkan setelah terbangun dari tidur selama seminggu, aku tetap masih harus mendengar perdebatan mereka yang tidak penting itu!
"Apa kamu tidak bisa membayangkannya, Rui? Yanran mencintai Huan. Tapi Huan menikahinya karena Yanran berjanji akan mencarikan jalan keluar agar dia bisa pulang. Karena Yanran sangat mencintai Huan, dia mempertaruhkan semua kemampuannya untuk membuat pusaka yang bisa membuka portal ke dimensi lain. Tapi saat pusaka itu sudah siap digunakan, Yanran justru tidak bisa melepaskan suaminya untuk pergi. Karena dia mencintainya."
Aku dan Rui saling tatap. Kisah ini menarik untuk diikuti. Aku sudah mengetahuinya saat aku melihat lukisan-lukisan kuno itu.
"Sebenarnya, penjahat yang sebenarnya bukanlah Yanran yang sudah membunuh Huan. Bukanlah Yanran yang melarang Huan untuk pulang ke dunia asalnya. Tapi itu adalah Huan. Huan yang tidak pernah mengerti perasaan seorang wanita yang tidak rela ditinggal pergi orang yang dicintainya. Huan yang tidak mengerti bagaimana perasaan seorang ibu ketika dipisahkan secara paksa dari anak pertamanya. Perasaan itu membuat hati Yanran menjadi beku, dia menyesal telah membuat pusaka itu. Dia ingin menghancurkannya, tapi Huan lebih dulu menyegelnya tanpa persetujuan kedua belah pihak. Suami durhaka itu akhirnya mati karena sekarat di tangan istrinya sendiri."
"Neo, kenapa kamu mengerti sekali jalan cerita mereka? Bukankah kamu bahkan tidak melihat lukisannya sama sekali?" Rui menatapnya heran.
Neo menggaruk tengkuknya, "Aku pernah menonton drama dengan alur serupa. Tapi konfliknya berbeda."
Aku menepuk dahi, itu benar-benar tidak penting. Sama sekali tidak penting.
"Tapi aku masih tidak mengerti, bagaimana Huan bisa masuk ke Kota Pubu?" Rui menceletuk.
Neo menganggukinya, "Aku lebih tidak mengerti lagi, bagaimana kita bisa tiba-tiba masuk ke sini? Bagaimana portal itu muncul di perpustakaan sekolah kita? Bukankah itu lebih aneh?"
Aku terdiam. Jika dipikirkan, itu benar. Kenapa portal menuju dunia lain tiba-tiba muncul di perpustakaan sekolah kami? Menyatu dengan pintu ruangan baru?
"Karena portal itu akan terbuka setiap seratus tahun, Jian." Zhu tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya, sambil tersenyum dan membawakan nampan berisi camilan malam.
"Zhu, apa maksudmu?" Rui bertanya.
"Portal itu, terbuka dengan sendirinya setiap seratus tahun sekali, Rui. Seperti sudah terjadwal oleh sistem, seluruh portal menuju Kota Pubu akan terbuka di penjuru dunia manapun. Kebetulan sekali, portal itu terbuka di perpustakaan sekolah kalian. Seratus tahun kemudian, kita tidak tahu dia akan terbuka di mana lagi." Zhu menjelaskan.
"Apakah ada portal dari dunia lain yang terbuka di Kota Pubu?" giliran Neo yang mengajukan pertanyaan.
Zhu menggeleng, "Portal menuju dunia lain itu, tidak pernah terbuka di Kota Pubu, Neo. Tidak ada portal dari mana pun yang bisa terbuka di Kota Pubu. Kalaupun ada, itu sangat mustahil."
"Kenapa?" Aku, Rui dan Neo bertanya serempak.
Karena jika tiba-tiba ada portal yang terbuka menuju dunia kami tanpa perlu kristal pusaka itu, setidaknya kami bisa pulang lebih cepat.
Aku, Rui dan Neo saling menatap, kemampuan apa?
"Kemampuan menciptakan portal ke dunia lain." Zhu menjawab keheranan kami.
"Eh, tapi kami memiliki pertanyaan serupa. Siapa tokoh yang memiliki kemampuan membuka portal Kota Pubu di dunia lain?" Neo balas bertanya.
Zhu terdiam sejenak. "Kalau tentang itu, aku tidak tahu. Dan tidak pernah ada yang tahu. Selama ini kami selalu bertanya, bagaimana mungkin Kota Pubu kami selalu memiliki pendatang baru yang mengaku datang dari dunia lain nyaris setiap seratus tahun. Karena itu, Ratu Hudie selalu mencatat setiap pelintas dimensi yang datang ke kota kami ini. Dia melakukan riset tentang fenomena yang terjadi setiap seratus tahun ini. Dan tetap belum mendapatkan jawabannya."
"Siapa pelintas dimensi pertama di Kota Pubu?" Rui menambahkan pertanyaan lagi.
Zhu mengangkat bahu, "Dalam catatan sejarah di perpustakaan Akademi Hudie, orang pertama di halaman buku itu adalah Huan. Tapi sebelum Huan, ada banyak sekali Pelintas Dimensi yang mungkin tidak tercatat sejarah. Waktu belasan hingga puluhan ribu yang lalu, masih menjadi misteri di Kota Pubu. Kami hanya mencatat sejarah yang diketahui para leluhur saja."
"Sudah kuduga. Masalah ini muncul ketika Huan datang ke dunia penyihir ini." Neo menyikut lenganku dan berbisik.
"Diam, Neo. Dengarkan saja penjelasannya." Aku melotot kesal.
"Huh, memangnya penjelasan apa?" Neo menatapku malas.
"Sepertinya kita harus menyelesaikan satu hal juga, Jian, Neo." Rui tiba-tiba memotong perdebatanku dengan Neo.
"Menyelesaikan apa?" tanyaku.
"Misteri tentang portal itu," Rui menjentikkan jarinya.
"Untuk apa?" Neo terkekeh, "Maksudku, bukankah itu terlalu tidak penting?"
Rui mendengus kesal, "Kita terjebak di sini saja sudah merupakan mimpi buruk, Neo! Sudah berbulan-bulan kita di sini. Keluarga di rumah pasti cemas dan mungkin mengira kita sudah meninggal secara misterius! Memangnya kamu ingin seratus tahun ke depan ada orang yang bernasib sial seperti kita?"
Sontak, Neo langsung tertawa terbahak-bahak, "Hei, siapa yang memedulikan hidup manusia di masa depan? Seratus tahun kemudian, mungkin saja warga bumi benar-benar bisa menciptakan portal sendiri. Kamu kenapa tiba-tiba membahas hal tidak penting itu?"
"Menurutku Rui ada benarnya." Zhu memotong ocehan Neo sambil menepukkan tangannya di meja, "Tapi urusan ini, tentu tidak akan hanya mengandalkan kalian bertiga saja. Kami Para Penjaga, termasuk Win dan teman-temannya tentu harus membantu. Karena urusan ini tidak hanya menguntungkan bagi dunia kalian saja, tapi bagi Kota Pubu kami juga. Supaya kelak tidak ada pelintas dimensi yang tersesat di Kota Pubu lagi. Juga tidak perlu menambah korban seratus tahun sekali itu. Kami menderita seratus tahun sekali karena banyak orang dari dunia lain yang tersesat. Bukankah sangat bagus? Kita sama-sama saling menguntungkan."
Aku menatap Zhu lamat-lamat, Peri Penjaga satu ini, memiliki hati yang baik dan menyenangkan, mungkinkah dia tidak menyukai Pelintas Dimensi?
"Zhu, mungkinkah kamu juga merasa keberatan dengan kehadiran kami?" aku memberanikan diri bertanya. Karena jika kekhawatiranku benar, kami sungguh sudah membuat Zhu sangat tidak nyaman, kami merepotkannya berkali-kali.
Zhu tertawa, "Tentu saja iya, Jian. Aku selalu keberatan saat mendengar kabar tentang kedatangan Para Pelintas Dimensi ini. Termasuk kalian," Zhu menatap kami bergantian, "Tapi, setiap Pelintas Dimensi tidak memiliki nasib yang sama. Selama ribuan tahun, belum pernah ada Pelintas Dimensi yang seberuntung kalian. Sungguh aku tidak berbohong. Aku dan Zhi tidak pernah setulus ini saat melayani Pelintas Dimensi," Zhu tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumnya. Itu sungguh melegakan.
Neo malah menepuk dahi, "Zhu, kenapa kamu setuju dengan ide konyolnya?" rupanya dia masih tidak terima dengan pemikiran Zhu yang menyetujui ide Rui.
"Ini bukan ide konyol, Neo. Ini sangat masuk akal." Aku menimpuk kepalanya karena terlalu kesal. Dia ini kenapa tiba-tiba cerewet sekali?
"Kamu kalah suara, Neo. Jadi hanya bisa menurut saja," Rui nyengir kuda sambil menatapnya jahil.
"Terserah kalian saja."
...----------------...
Dua hari kemudian, kami sudah memutuskan untuk melakukan perjalanan kembali ke Akademi Hudie. Kali ini kami tidak hanya bertiga saja.
Zhu, Zhi, Win, Yets dan Bim akan ikut bersama kami. Kotak pusaka itu hanya bisa dikeluarkan menggunakan formasi yang dipasang leluhur Para Penjaga ini.
Kami akan berangkat ke Akademi Dixia untuk mengembalikan Jam Pasir dan menjemput Para Penjaga Pintu Akademi Dixia.
"Kalian sudah siap?" Zhu dan Zhi keluar dari rumah sambil membawa tongkat sihir masing-masing.
Zhu melambaikan tangan. Portal teleportasi muncul di depan kami. Itu cukup untuk membuat Neo terperangah dan bergegas mengeluarkan buku kecilnya lagi.
Aku menyikut perutnya, ini bukan situasi yang tepat untuk menulis buku jurnal.
Tapi jika diingat-ingat, akhir-akhir ini aku belum melihat Neo mengeluarkan buku kecilnya itu di depanku dan Rui lagi. Atau mungkin dia hanya menulisnya diam-diam saja? Aku sungguh tidak peduli, lupakan saja.
"Zhu, bisakah ajarkan kami melakukannya juga?" Neo mengalihkan pandangannya ke arah Zhu, mengabaikan peringatan dariku.
"Boleh. Syarat untuk bisa membuka portal sendiri adalah ...," Zhu menatap Neo tajam, "Harus menguasai Ilmu Keabadian. Jika menguasai Ilmu Keabadian, kamu akan panjang umur, tidak akan mati meski sudah ribuan tahun."