Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Ujian Yang Sebenarnya



Kami bertiga masih termenung di depan kolam panjang penuh buaya itu. Tidak tahu harus melanjutkan perjalanan atau tidak.


Peta kami hilang, terjatuh di dasar kolam, tak ada cara untuk menemukannya. Bahkan jika kami melewati kolam ini, kami belum tentu bisa melanjutkan perjalanan ini tanpa peta labirin.


Apalagi, mantra sihir untuk menyatukan kekuatan Jam Pasir Ajaib dan Lilin Keabadian juga berada di peta itu. Tanpa peta itu, kami tetap tidak bisa memasuki gua gelap untuk menemukan kunci pusaka itu.


"Ini semua salahmu, Neo!" Rui berseru, dia berdiri dengan wajah berapi-api, dia sudah menangis sejak tadi.


"Kenapa menyalahkanku? Kamu pikir aku tahu kalau di dalam kolam itu ada sesuatunya?" Neo menyangkal, tidak suka kalau Rui menyalahkannya.


"Jelas-jelas itu salahmu! Kamu terlalu ceroboh, tidak memeriksa sebelum bertindak. Siapapun tidak akan tahu ada apa di dalam kotak sebelum memeriksanya terlebih dahulu! Karena kecerobohanmu, peta itu jadi tenggelam, dan mengambilnya sangat mustahil!"


"Aku juga tidak tahu, Rui. Baiklah jika kamu menyalahkanku tentang kecerobohanku. Tapi soal peta yang terjatuh, itu bukan salahku. Aku sudah berusaha menyelamatkannya, tapi kalian tidak berusaha apapun!"


"Dengar Neo, kamu pikir kita masih bisa berjalan tanpa peta itu? Bahkan kita tidak tahu di mana titik-titik merah yang lainnya berada. Kita juga tidak tahu di mana jalan yang tidak buntu! Dan kita juga tidak tahu mantra seperti apa yang tersembunyi di balik peta itu! Kita akan tetap berada di sini tanpa peta itu!"


"Apakah kamu menyuruhku melompat secara suka rela ke dalam kolam, Rui? Apakah kamu mau menyerahkan nyawaku kepada buaya-buaya ini? Apakah kamu benar-benar—"


Plak!


Aku menampar Neo, aku sudah cukup marah dengan masalah ini. Kenapa Neo dan Rui malah bertengkar dengan suara keras di tengah labirin raksasa ini?


"Jika aku dan Rui tidak menyelamatkanmu, mungkinkah kamu tetap bisa menyelamatkan peta itu?" aku menatapnya tajam.


Neo terdiam sambil menunduk, tidak berkata apapun lagi.


Aku kembali duduk bersandar dinding es, memejamkan mata, berusaha memikirkan apa yang harus kami lakukan untuk memecahkan masalah ini.


Aku menarik napas panjang, berpikir bagaimana cara mengambil peta yang tenggelam. Tapi kami bahkan tidak tahu seberapa dalam kolam ini. Kami juga tidak tahu bagaimana menyingkirkan buaya-buaya ganas di dalam kolam.


Tapi, harusnya kami bisa melanjutkan perjalanan tanpa peta. Bukan untuk menyatukan Lilin Keabadian dan Jam Pasir Ajaib, melainkan hanya untuk mengambil Lilin Keabadian saja.


Aku berpikir kalau semua binatang ini mungkin hanya jebakan yang diciptakan oleh segel Lilin Keabadian yang berada di tengah-tengah Labirin Es.


Jika segelnya pecah, kemungkinan besar titik-titik merah di dalam labirin juga menghilang. Kesimpulannya, kami harus menemukan Lilin Keabadian dulu sebelum mencari peta itu lagi.


Saat Lilin sudah diambil, baru kami kembali ke kolam ini lagi, dan mengambil peta yang tenggelam, kemudian menyatukan kekuatan Lilin Keabadian dengan Jam Pasir Ajaib.


Aku menatap kedua temanku, terutama Neo, yang saat ini hanya menunduk sambil memeluk lutut. Aku sedikit merasa bersalah karena sudah menamparnya tadi.


Aku duduk di depan Neo, "Maafkan aku, Neo. Tadi itu, aku sedikit terbawa emosi. Aku tidak seharusnya menamparmu," aku menatapnya serius.


Neo tidak menjawab, masih menunduk dan tidak mau mendengarkan aku bicara.


Rui juga sama, dia duduk membelakangi kami, aku dapat mendengar isak tangisnya yang tersedu itu.


"Dengarkan aku, Teman-teman. Kita tidak boleh putus asa di tengah jalan seperti ini. Kita sudah hampir mencapai tujuan kita, tidak ada jalan selain terus maju," aku berusaha membangkitkan semangat kedua temanku lagi, "Aku sudah menemukan caranya, Teman-teman."


Neo mendongak, menatapku dengan matanya yang sedikit sembap, "Apa kamu juga masih mau menyuruhku melompat ke dalam kolam itu, Jian?"


Aku tersenyum, menepuk pundaknya dan menggeleng, "Tentu saja tidak. Kita bisa tetap berjalan bahkan tanpa peta."


Rui membalikkan tubuhnya, "Bisa kamu jelaskan padaku bagaimana rencanamu, Jian?"


Aku menyuruh teman-temanku berkumpul, lalu menjelaskannya dari awal. Bahwa semua rintangan ini kemungkinan diciptakan oleh segel yang mengunci Lilin Keabadian, dan akan menghilang jika kami berhasil membuka segelnya. Dan akan kembali ke kolam ini lagi setelah kami memiliki lilinnya, untuk mengambil peta dan mempelajari mantra untuk menyatukan dua benda pusaka itu.


"Bagaimana jika spekulasimu salah?" Neo menceletuk.


Aku terdiam, "Untuk urusan itu, kita serahkan saja pada takdir. Jika takdir masih menyayangi kita, Dia mungkin masih memberi kita kesempatan untuk tetap hidup dan kembali ke dunia kita," aku tersenyum miring.


Rui kembali menunduk, tampak tidak bersemangat.


"Tapi, menurut logika, seharusnya perkiraan itu benar," aku berkata dengan mantap, demi menghidupkan kembali semangat Rui yang sudah padam.


"Hei, pikirkan saja. Dalam permainan gawai sekalipun, mudah sekali bagi pemain untuk menuju garis finish jika tidak ada rintangan sama sekali. Tanpa garis finish, untuk apa mereka lelah-lelah terjebak di dalam labirin?" aku menatap kedua temanku itu bergantian.


Mereka saling menatap, sepertinya mereka mengerti maksudku.


Rui menyeka air matanya, dia memelukku, aku membalas pelukannya, dan berkata kalau kami semua pasti akan menemukan jalan pulang.


"Ayo kita bergerak sekarang, Teman-teman! Rui, kali ini aku memaafkanku!" Neo mengentakkan tangan, tongkat sihirnya muncul dalam bentuk pedang panjang.


"Tunggu dulu!" Rui berseru tiba-tiba.


Aku dan Neo sontak menoleh ke arahnya.


"Eh, bukannya aku tidak memercayaimu, Jian. Tapi bagaimana kita akan menemukan garis finish itu tanpa peta? Juga bagaimana kita akan menghindari posisi titik-titik merah tersisa?"


Aku terdiam sesaat, kemudian melambaikan tangan dengan wajah tidak peduli, "Tenang saja, Rui. Aku sudah menghafal rutenya. Aku juga hafal posisi titik-titik merah tersisa. Hanya ada satu titik merah bergerak di rute labirin kita. Dan itu masih jauh sekali, berada di rute terakhir sebelum garis finish kita."


Neo tersenyum lebar, "Aku sudah menduganya, Jian tidak akan bisa tidur sebelum menghafalkan sesuatu, ayo kita kalahkan buaya keparat ini dulu!" Neo mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.


Tapi, sejak kapan menghafalkan sesuatu adalah syarat agar aku bisa tidur?


"Bagaimana kita akan melewati kolam ini?" Rui bertanya polos.


Aku juga ingin menanyakan itu sebelumnya.


Neo terkekeh pelan, "Seperti ini."


Neo merubah pedangnya menjadi Pru yang sebenarnya. Lalu mengarahkannya ke depan.


"Beku!" Neo berseru, lantas kolam panjang itu membeku, melengkung seperti jembatan. Buaya-buaya di bawah sana tidak bisa melakukan apa-apa.


"Ayo kita lewat!" Neo berlari lebih dulu di atas jembatan keren itu. Kami berdua menyusul.


Ini keren sekali! Kami berjalan di atas jembatan es yang menakjubkan. Dan buaya-buaya itu seakan tidak berdaya selain membiarkan santapannya lewat.


Setelah melewati jembatan itu, kami berbelok ke kiri, lalu masuk persimpangan sebelah kanan. Aku benar-benar menghafal rute-rute itu di luar kepala.


"Hei, bukankah kekuatan ingatan Jian itu sangat hebat?" Rui menceletuk, suaranya menggema saking lengangnya labirin ini.


"Tentu saja. Dia bahkan mengingat rute-rute bercabang di dalam labirin raksasa ini. Siapapun pasti akan menganggapnya sangat keren," Neo menambahkan.


"Tapi kenapa kamu buruk sekali dalam pelajaran fisika, Jian?" Rui bertanya lagi.


Aku tidak bersuara. Teman-temanku ini, selalu bisa membuatku tidak mampu berkata-kata lagi.


...----------------...


Kami akan bertemu titik merah berikutnya dalam satu jam ke depan. Kami sudah terbang selama tiga jam, mungkin di atas sana sudah terik.


Jadi kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Perbekalan kami semakin menipis, Neo berencana untuk melewatkan makan siang mulai hari ini. Aku dan Rui menyetujuinya. Kami hanya minum beberapa teguk air saja.


"Menurutmu, titik merah apa lagi di depan sana?" Rui menceletuk, dia meluruskan kakinya sambil berbaring.


"Mungkin sama seperti sebelumnya, Rui. Kolam dengan buaya-buaya menyebalkan itu." Neo ikut meluruskan kakinya dan berbaring.


"Setelah titik merah di depan, kita akan berbelok ke kanan, dari tikungan itu, mungkin hanya butuh satu jam untuk tiba di titik merah berikutnya. Dan kalian tahu di mana titik merah itu?" aku menatap kedua temanku bergantian.


Mereka mengangkat bahu.


"Dia berada di tengah pertigaan. Artinya kita harus melompatinya dulu sebelum berbelok ke rute berikutnya."


"Apakah itu kolam dengan buaya juga?" Rui bertanya.


Aku menggeleng, "Tidak tahu."


"Jika ingin tahu, lebih baik kita segera bergerak lagi saja. Ini sudah lima belas menit." Neo berdiri di atas tongkatnya lagi.


Aku dan Rui menyusul, mendekati titik merah yang terdiam di tempat itu. Kira-kira, apa titik merah itu?