
Rui segera mengalirkan sihirnya, mengurangi pembekuan dalam tubuh Jian. Dia tidak peduli tubuh itu masih bernapas atau tidak, Rui hanya ingin menyelamatkannya dan membuatnya hangat dalam pelukannya.
Rui berlari membawanya memasuki portal. Dalam beberapa detik, mereka muncul di puncak gunung lagi. Rui memungut tongkatnya yang sempat terjatuh di tempat itu sebelum dia memasuki portal.
Rui segera terbang membawa Jian kembali ke rumah Zhu dan Zhi. Dia menangis di sepanjang perjalanan. Badai mengamuk setiap saat di tebing yang dia lewati ini.
"Bertahanlah, Jian. Setidaknya sampai kita melewati badai ini," Rui bergumam pelan. Dia mempertahankan konsentrasinya sebaik mungkin. Dia harus terbang stabil agar Jian tidak merasa kesakitan.
Padahal tubuh itu sudah membeku dan terkubur berhari-hari. Jika berpikir jernih, Rui tentu tidak akan menganggap Jian benar-benar belum mati, kan?
Brak!
"Aduh!" sebuah pohon tumbang, mengenai ujung tongkat sihir Rui yang terbang tak terlalu tinggi.
Rui terjatuh berguling-guling dari atas tebing. Tangannya memeluk Jian dengan erat agar tak terpisah.
Tubuh Rui berhenti berguling setelah tiba di dasar tebing. Rui memejamkan mata, menghela napas lega karena tak berlangsung lama.
Rui berusaha berdiri lagi, lalu kembali terbang menuju rumah Zhu dan Zhi. Tapi sepertinya kakinya terkilir. Dia tidak bisa berdiri lagi.
Rui terisak, "Jian, kamu harus bertahan," Rui meringis, mengandalkan tongkatnya untuk berdiri lagi.
"Cukup, Rui." Seseorang muncul dan memegang kedua bahunya, menatap dengan tulus.
Rui mendongak, melihat sosok itu, Rui menangis semakin keras, "Zhu, cepat tolong Jian."
Zhu melambaikan tangannya, muncul portal teleportasi yang langsung menuju rumahnya. Rui menyerahkan Jian pada Zhu, mereka memasuki portal bersama-sama.
...----------------...
"Apakah Jian baik-baik saja, Zhu?" Rui bertanya lagi.
Itu sudah ketiga kali dia menanyakan hal yang sama. Zhu belum memberikan jawaban hingga sekarang. Sihir penyembuhannya masih menyelimuti tubuh Jian..
"Dia masih hidup. Tapi mungkin butuh waktu lama untuk membuatnya bangun lagi. Aku membutuhkan akar Pohon Kuk untuk menyerap luka dalamnya. Teratai terakhir yang kami punya, sudah kugunakan untuk menyembuhkan Neo." Zhu menatap Jian lamat-lamat, gadis yang selalu kuat itu kini hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang.
"Di mana aku bisa menemukan Akar Pohon Kuk?" Rui segera berdiri, menandakan dia siap pergi ke mana pun untuk menyelamatkan teman terbaiknya.
"Di Hutan Gumpalan Kuning. Hutan itu adalah Hutan Pohon Kuk. Dikenal sebagai Hutan Gumpalan Kuning karena Pohon Kuk meneteskan getah berwarna kuning pada periode tertentu. Tapi yang kita butuhkan bukan getahnya, tapi akarnya." Zhu mengangkat tangan kanannya, muncul sebuah peta yang menunjukkan posisi Hutan Gumpalan Kuning.
"Aku juga pernah melihatnya, Zhu. Peta yang kami miliki dari Ratu Hudie juga memperlihatkan bagian Hutan Gumpalan Kuning. Aku akan pergi ke sana sekarang, Zhu. Terima kasih." Rui mengambil tongkatnya.
"Aku tidak menyuruhmu pergi, Rui!" Zhu langsung berseru tegas. Rui menatapnya dengan perasaan sedikit takut. "Kamu baru saja terluka, Rui. Kamu juga baru pulih dari Racun Hitam." Zhu menggeleng tegas. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi lagi. Aku akan menyuruh Zhi untuk mengambilnya ke sana."
"Tidak perlu, Zhu. Aku akan pergi menemani Rui pergi ke Hutan Gumpalan Kuning. Lagipula aku yang paling hafal rute di tempat itu." Neo tiba-tiba menyahut sambil melangkah memasuki kamar.
"Kau lebih tidak boleh lagi! Tubuhmu itu sekarang, kondisinya lebih buruk dari Jian yang masih tidur! Jangan coba-coba!" Zhu memarahi Neo, "Jangan membuat pengobatanku sia-sia lagi, Neo."
Neo nyengir lebar, "Aku berutang nyawa banyak sekali pada Jian, Zhu. Jika aku tidak membantunya sekarang, mungkin tidak ada kesempatan lain lagi."
"Biarkan saja, Zhu. Mereka punya hak untuk memutuskannya sendiri. Kita hanya pemeran pendukung dalam cerita mereka. Kita harus menghargai keputusan mereka," Zhi muncul dari belakang Neo.
Zhu tidak menjawab, dia berdiri membelakangi orang-orang yang berbicara dengannya.
"Zhu, masalah ini datang untuk kami selesaikan. Kecelakaan ini ada untuk kami obati sendiri. Sejak awal perjalanan kami memang ujian. Jika bukan kami yang menyelesaikan, takutnya ujian kami jadi gagal. Jadi, selama kami masih terjebak dalam perjalanan ini, bukan tugas kalian untuk membantu kami menyelesaikan ujian kami." Neo menjelaskan dengan nada halus.
Zhu menatapnya intens.
Ruangan itu senyap dalam sekejap. Zhu belum memberi izin, Rui dan Neo hanya bisa menunggu persetujuannya. Mereka harus menghormati orang-orang yang sudah menyelamatkan nyawa mereka berkali-kali.
Rui menyikut lengan Neo, memberi isyarat untuk kembali membujuk Zhu agar mengizinkan mereka pergi bersama.
"Pergilah. Tapi Zhi harus ikut bersama kalian." Zhu akhirnya memutuskan.
"Aku?" Zhi menunjuk dirinya sendiri, terkejut.
"Iya. Kamu." Zhu melotot, "Pergilah sekarang. Supaya Jian bisa segera sembuh."
Neo mengucapkan terima kasih sebelum keluar dari kamar.
"Meong!" Piu Piu mengikuti langkahnya.
"Kamu muncul dari mana?" Neo terkejut melihat Piu Piu lagi. Sebelumnya kucing itu sudah menyelamatkannya dari dalam gua. Setelah menghilang berhari-hari, Piu Piu muncul lagi setelah Jian kembali ditemukan.
...----------------...
Tiga orang itu terbang rendah di atas puncak-puncak pohon Hutan Roh Penasaran. Terbang lurus ke arah timur.
"Neo," Rui memanggil.
"Hm?"
"Apanya yang tidak apa-apa, Rui? Kalau bertanya yang jelas dong!" Neo bersungut-sungut.
"Maksudku, kamu kan baru sembuh, masih harus beristirahat." Rui menggaruk tengkuknya.
Neo mengembuskan napas kasar, "Aku mana bisa beristirahat, Rui. Melihat Jian pulang dengan keadaan sepayah itu. Memangnya kamu masih bisa tidur nyenyak?"
Rui tidak menjawab lagi.
"Kalian ini, berteman sejak kapan?" Zhi menengahi keduanya.
Rui menatapnya, "Eh, kami tidak pernah berteman." Ucapnya asal.
Refleks Neo langsung menatapnya heran, "Maksud kamu apa? Aku bukan temanmu?" dia melotot kesal.
"Aku tidak bilang kamu bukan temanku, Neo." Rui mengangkat bahu.
"Iya, tadi kamu bilang kita tidak pernah berteman!" Neo berseru kesal.
Rui menaikkan sebelah alis, "Bukankah kita bertiga memang tidak pernah berteman, kan? Dulu kita selalau bermusuhan. Setelah tiba di Kota Pubu, juga masih bermusuhan. Baru-baru ini kita malah menjalin persahabatan yang terbilang cukup erat."
"Huh!" Neo mendengus.
Zhi terkekeh pelan melihat keduanya berdebat.
"Kenapa kamu tertawa, Zhi?" Neo dan Rui bertanya bersamaan, menatap Zhi yang terkekeh-kekeh sendiri seperti orang gila.
Zhi langsung menutup mulutnya, "Kalian punya hubungan yang unik. Aku hanya merasa senang akhirnya mendengar kalian berdebat lagi. Aku senang kalian kembali baik-baik saja. Beberapa hari ke depan, Jian juga pasti akan baik-baik saja. Kita harus cepat tiba di Hutan Gumpalan Kuning."
Neo dan Rui saling menatap, kemudian terkekeh sendiri mendengar perkataan Zhi. Itu terdengar tidak seperti mereka yang sesungguhnya.
Mereka tiba di Hutan Gumpalan Kuning setelah tiga jam terbang. Mereka mendarat di bawah pohon-pohon besar yang meneteskan gumpalan kuning itu.
"Hei, pohon ini masih tidak berubah sejak pertama kali aku melihatnya." Neo mendongak, melihat-lihat dahan-dahan pohon yang terkelupas dan mengeluarkan gumpalan kuning.
"Memangnya apa yang bisa berubah dari pohon?" Rui menatap sekeliling, dia menutup hidungnya, "Baunya menyengat."
"Getah Pohon Kuk memang berbau kurang sedap, Rui. Tapi dia sangat berguna sebagai obat-obatan. Ribuan tahun lalu, getah ini digunakan sebagai senjata berperang. Bahkan diincar banyak kota karena memiliki banyak khasiat untuk tubuh." Zhi menjelaskan dengan senang hati.
Rui membulatkan mulutnya, "Oh ...."
"Pohon mana yang akan kita ambil akarnya, Zhi?" Neo bertanya, memeriksa beberapa pohon.
"Cari yang masih kecil, Neo. Pohon yang sudah besar akarnya akan tenggelam sampai belasan meter, terlalu sulit diambil." Zhi berjalan perlahan sambil memperhatikan langkahnya.
Neo mendongak, "Aku menemukan buah yang pernah kumakan saat pertama kali tiba di sini." Neo terbang ke dahan terdekatnya, kaku memetik beberapa buah.
"Kamu ingat buah ini, Rui?" Neo memberikan satu kepada Rui.
"Tentu saja ingat. Saat itu kamu marah hanya karena aku meminta satu buah lagi." Rui merebut buah yang Neo tawarkan.
"Sekarang kamu sudah menerimanya, kan?" Neo nyengir lebar.
"Eh, itu tidak dihitung. Kamu harus memberikan satu buah lagi untuk menebus utangmu hari itu." Rui menggeleng tegas. Mengulurkan tangannya lagi.
Neo tertawa lepas, "Baiklah, baiklah. Ini untukmu." Neo memberikan satu buah lagi untuk Rui."
"Eh, benar-benar hanya satu buah lagi?" Rui menatapnya tidak percaya.
"Sebenarnya berapa yang kamu mau? Rakus sekali." Neo memandang jijik.
"Kupikir kamu mau memberikan semuanya."
"Enak saja!" Neo segera menyembunyikan tiga buah yang tersisa.
"Kalian ini! Kita kemari untuk mengambil akar Pohon Kuk! Bukan untuk berebut buah!" Zhi menghampiri
mereka sambil mengomel.
"Kamu mau juga, Zhi?" Neo segera menawarinya buah agar dia berhenti mengomel.
Zhi menerimanya dan langsung dimakan habis, "Aku sudah menemukan pohonnya. Aku pinjam tongkatmu, Neo. Bisakah dia berubah menjadi cangkul?"
Sontak Rui tak bisa menahan tawa lagi. Neo benar-benar merubah tongkatnya menjadi cangkul dan menggunakannya untuk menggali tanah.
"Apa yang kamu tertawakan, Rui?" Neo terlihat keberatan Rui menertawainya seperti itu.
"Bukan apa-apa, Neo. Selama ini aku selalu menganggap kalau Pru adalah tongkat terhebat diantara tongkat kita bertiga. Dia terlihat gagah ketika menjadi tombak, terlihat keren ketika berubah menjadi pedang, terlihat menakutkan ketika berubah menjadi cambuk. Tapi semua reputasi itu hancur saat kamu merubahnya menjadi cangkul." Rui tertawa semakin lebar.
Neo tidak menanggapinya, terus menggali hingga melihat Akar Pohon Kuk yang akan mereka ambil untuk mengobati luka Jian.