Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Satu Lawan Satu



"Hai, Jian. Kita bertemu lagi."


Aku tertegun sejenak. Suara berat itu mengintimidasiku. Sosoknya muncul dari dalam bayangan gelap yang menggunung tak jauh dari tempatku berdiri.


"Kau, kau sudah mati." Aku mengangkat tongkat sihirku, menatapnya dengan tajam, tidak membiarkan dia menyerangku.


"Sejauh ini, lelah sekali mendengarkan kalian berdebat satu sama lain. Hingga akhirnya aku memiliki waktu yang tepat untuk memunculkan diriku lagi." Rux melangkahkan kakinya ke arahku, langkah kaki itu menyebarkan aura gelap ke mana-mana. Sangat mengerikan. "Dengar, Jian. Aku tidak mati dengan mudah. Aku adalah jiwa yang bersemayan di Botol Jiwa Akademi Dixia. Aju tidak bisa dibunuh dengan mudah."


"Jangan mendekat! Atau aku akan membunuhmu!" Aku berseru sambil melangkah mundur. Kekuatan sebesar ini, mampukah aku melawannya sendirian?


Rux tertawa, suara tawanya menggema, "Kau akan membunuhku? Kamu sendiri bahkan tidak tahu apakah bisa bertahan atau tidak. Ingat, Jian. Kamu sendirian. Rui sudah menjadi sanderaku, dan Neo tidak berdaya karena tubuhnya munafik. Hanya ada kau sendiri."


Aku menelan ludah. Dia benar, aku hanya sendiri. "Tapi walaupun sendiri, aku harus tetap membunuhmu, Rux. Aku akan melindungi teman-temanku walau harus menghabisi nyawaku sendiri!"


Splash!


Aku terkesiap, Rux berdiri tepat di hadapanku. Jemarinya yang dingin menyentuh daguku, aku dipaksa mendongak menatap wajahnya yang pucat.


"Aku tidak ingin mencari masalah denganmu, Nona. Sebaiknya berikan dua benda pusaka itu, kamu harus menghemat energi untuk pulang kembali ke Desa Terkutuk. Temanmu itu, mungkin tidak akan tertolong jika kamu tidak segera membawanya menemui Peri Penjaga." Rux tersenyum miring.


Aku menggeleng kuat-kuat, "Kau berbohong!"


"Apakah aku terlihat seperti sedang berbohong?" Kini wajah Rux hanya berjarak setengah jengkal dari wajahku. Hembusan napasnya begitu dingin, tatapan matanya tajam, suaranya menyeramkan. Ini bukan Rux yang sama seperti saat kami baru mengenalnya di Akademi Dixia.


"Berikan benda pusaka itu, Jian!" Rux mengibaskan tangan kirinya, Rui dan binatang magisnya muncul, mereka dikurung di dalam lingkaran penghalang berlapis es yang dikelilingi energi hitam.


"Lepaskan mereka!" Aku berseru parau, melempar kekuatanku ke arah penghalang itu, berusaha menghancurkannya, tapi itu sia-sia.


"Jika kamu memberikan benda pusaka, mungkin aku akan mempertimbangkan lagi apakah akan membunuhnya atau membiarkannya hidup," Rux tersenyum, senyumnya menyeramkan meski dia berusaha senyum seramah mungkin.


Aku justru tertawa, membuat senyum Rux tersumpal, "Kenapa kamu tertawa, gila!" Rux mendorong tangan kirinya, lingkaran penghalang itu menggelinding cepat hingga menabrak dinding batu.


Rui berteriak kesakitan, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkannya. Aku menoleh ke belakang, Neo terlihat pucat karena terlalu lama menahan rasa sakit.


"Dengarkan aku, Rux. Meski aku memberikan pusaka ini padamu, juga tidak akan bisa kamu gunakan."


Rux berteriak kencang, tangannya mengeluarkan sihir hitam, dilemparkan ke sembarang arah, separuh dinding runtuh, menciptakan getaran hebat.


Aku harus menahan rasa takutku, "Kamu tidak punya teman. Kamu tidak punya hati yang tulus. Kamu hanya bisa merampas dari orang lain yang sudah mendapatkannya lewat pertarungan hidup-mati. Kamu pikir kamu bisa dengan mudah mendapatkannya dari kami? Tidak akan!" Aku mengangkat tongkat sihirku, melompat ke udara, lantas menghantamkannya ke bawah.


Salju-salju berhamburan, menciptakan badai besar yang menggulung apa saja yang dilewatinya. Aku mengamankan Neo agar tidak terlibat pertarungan satu lawan satu ini.


Aku membuat tombak-tombak runcing dari angin yang kukendalikan. Jutaan tombak runcing itu melesat ke arah Rux. Dia berkelit ke sana-kemari. Menghindari tombak-tombak yang meluncur cepat ke arahnya, tidak menyisakan ruang aman, Rux membuat penghalang besar di sekitar tubuhnya.


Penghalang itu berubah menjadi sihir hitam yang sangat kuat. Rux mengarahkan tangannya ke depan. Bulatan sihir hitam itu membuat seluruh gua tidak terlihat. Aku meluncur turun, serangan itu luput. Menyisakan gelombang energi hitam yang menyebar ke seluruh penjuru gua.


Aku terbatuk, menyeka ujung bibir. Napasku menderu. Kakiku sudah gemetar bahkan sebelum dia memulai serangan yang sesungguhnya.


Aku menoleh ke belakang, Neo duduk bersandar dinding gua, tidak berdaya. Aku menatap Rui dan anjingnya yang tergeletak pingsan di dalam penghalang hitam.


"Berikan pusakanya padaku, Jian. Temanmu, aku jamin dia tidak akan mati di tanganku," Rux mengulurkan tangan kanannya seraya memamerkan senyum mengerikan.


Aku menggeleng, tidak akan kuserahkan apapun yang terjadi.


"Jangan mempersulit keadaan, Jian!" Rux berteriak kesal, tubuhnya mengambang, dipenuhi kilatan energi gelap, seluruh tubuhnya seakan menghitam, hanya memperlihatkan bola matanya yang kuning terang.


Aku menahan napas, kekuatan sebesar ini, aku tidak akan mampu menahannya sendirian. Dia bahkan tidak bisa kulukai dengan sihir tingkat menengah ini. Kartuku masih perak, tidak akan berguna bagaimanapun aku mencoba.


HYA!!


Aku hanya bisa membuat penghalang sekuat mungkin, berharap agar penghalangku tidak hancur dengan mudah.


Brak!


Penghalangku tetap hancur berkeping-keping, energi hitam itu akan menghantam tubuhku, aku menyilangkan kedua lenganku, membuat penghalang baru.


Srooom!


Aku tidak sempat membuat penghalang baru. Tapi sebuah serangan es tiba di depanku tepat sebelum energi gelap menghantam tubuhku.


Tangan kanan Neo memegang pedang es yang mengeluarkan asap dingin. Wajahnya pucat, tubuhnya dibasahi keringat, Neo dengan gagah melindungiku dari serangan energi hitam Rux.


"Dengar Rux. Kamu tidak akan bertahan jika aku menyerangmu selama satu jam ke depan. Sihir terlarangmu ini, sudah menghancurkan seluruh organ di dalam tubuhmu. Kamu masih hidup karena mengandalkan botol jiwa milik Akademi Dixia. Kamu diuntungkan karena telah menjadi hantu di Akademi Dixia selama ribuan tahun. Tapi botol jiwa itu bahkan tidak akan membantu banyak. Tubuhmu tetap akan hancur begitu kamu menggunakan sihir terlarang itu, Rux. Jadi tidak ada gunanya kamu merampok benda pusaka ini dari kami. Tidak akan berguna untukmu." Neo berjalan mendekat.


Dia memegang tangan kiriku dengan lembut, memindahkan dua benda pusaka itu ke tanganku. Aku menggeleng, "Kamu tidak boleh bertarung, Neo."


Neo tersenyum lebar, "Aku bukan ingin bertarung, Jian. Aku ingin menyelamatkan Rui. Jaga benda ini baik-baik."


"Tidak, Neo. Jangan!" Aku segera menangkap tangan kanannya. Neo menepisku, lantas melompat ke udara, melemparkan pedangnya ke arah penghalang hitam yang mengurung Rui dan anjingnya.


Begitu pedang itu menancap, Neo mengarahkan dua jari ke pedangnya, menyebutkan sebuah mantra. Penghalang itu hancur begitu saja, menarik tubuh Rui dan anjingnya sebelum Rux menyadarinya.


Aku menangkap tubuh Rui, "Rui, ini aku!" aku mengguncang pipinya, Rui tidak bereaksi. Aku takut dia akan terkena racun hitam lagi.


Aku menatap ke depan, Neo masih berdiri di posisinya, berhadapan dengan Rux. Aku berteriak menyuruhnya mundur. Dia tidak boleh bertarung, kenapa dia keras kepala sekali?


"Sebentar saja, Jian. Aku merasa tidak puas jika belum memukul wajahnya yang sok kuat ini." Neo melambaikan tangan. Dia menyatukan kedua tangannya, pedang es itu mengambang di depannya. Tubuh Neo bercahaya, berbeda dengan Rux yang diselimuti asap hitam.


"Satu formasi saja, jika kau tidak bisa menghindarinya, kau akan kehilangan satu nyawamu lagi, Rux. Jika kau berhasil menghindarinya, maka aku akan mati di tanganmu. Bukankah begitu, jika seseorang menggunakan Mantra Pelenyap Energi Hitam?"


Aku menatap Neo tidak percaya. Apa yang dia katakan? Mantra Pelenyap Energi Hitam? Dari mana dia mempelajarinya? Dan kenapa dia ingin menggunakan mantra itu? Bagus jika Rux tidak bisa menghindarinya. Tapi Rux terlalu tangguh untuk Neo lawan. Bagaimana jika Rux bisa menghindarinya?


"Hentikan omong kosongmu, Neo! Cepat mundur! Dia bukan lawan untukmu!" Aku berseru, menjentikkan tanganku, mengirim Piu Piu untuk menghentikannya. Pergerakanku terbatas karena tangan kiriku memegang dua benda pusaka yang sedang bersatu. Juga kakiku yang menjadi tumpuan Rui berbaring.


Bum!


Sepertinya Neo sudah memasang segel antara dirinya dan Rux. Piu Piu tidak bisa memasuki segel itu, berdebam jatuh.


Splash!


Tubuh Neo menghilang, lalu muncul tepat di depan Rux. Tangan kanannya bergerak memukul dahi Rux, lalu tangan kirinya memukul dada bagian kanan. Neo berbalik ke belakang, memukul beberapa titik tertentu di punggung Rux. Lalu pedang es yang semula mengambang di tempat, kini sudah berpindah tempat di genggaman Neo.


Neo menggores telapak tangannya sendiri, darah mengucur. Memenuhi segel berbentuk setengah bola itu. Membuatnya berwarna merah bercahaya.


Neo merentangkan tangan, mulutnya menyerukan sesuatu, aku tidak dapat mendengarnya. Sebenarnya formasi macam apa yang sedang dia lakukan ini?


Rux terlihat memberontak, tapi cahaya hitam di tubuhnya memudar seiring darah Neo menyebar ke seluruh penghalang.


Brak!


Namun segel itu hancur sebelum darah Neo benar-benar memenuhi penghalang setengah bola. Neo terlempar jauh, pedangnya menancap di hamparan salju.


Rux terjatuh di tempat, dia memuntahkan darah. Berusaha tetap berdiri.


Neo melesat ke arahku. Tangannya yang berlumuran darah itu memegang dua benda pusaka yang berada di tanganku.


Neo tersenyum, "Ritualnya berjalan lancar." Dia bergumam sambil menatapku dengan wajah penuh kegembiraan.


Cahaya yang menyelimuti kedua benda pusaka ini hilang setelah menciptakan sebuah portal gelap.


"Jian, itu adalah portal menuju anak gua tempat Kunci Ajaib disimpan. Kamu bawa benda pusaka ini masuk bersamamu. Pastikan kamu keluar sebelum pasirnya habis. Aku dan Rui akan mengurus Rux di sini. Kami akan menunggumu keluar, Jian. Masuklah!" Neo berseru, dia mengentakkan tangannya. Segel berwarna merah yang sebelumnya hancur itu membentuk tali rantai yang sangat panjang, melilit tubuh Rux hingga tak bisa bergerak lagi.


"Aku tidak akan pergi sendirian, Neo. Kalian juga harus pergi bersamaku. Bagaimana jika—"


"Sudah tidak ada waktu, Jian. Aku akan mengurus Rux di sini. Rui masih pingsan. Aku akan membawanya menemui Zhi dan Zhu nanti."


Aku memegang tangannya erat-erat, ”Kita tidak boleh berpisah, kita harus tetap bersama," aku menggeleng tegas.


"Lihat, Jian. Rantai itu akan hancur dalam hitungan detik. Jika kamu tidak pergi sekarang, aku tidak akan bisa menahannya." Neo memegang kedua bahuku, "Pergilah, Jian. Aku akan baik-baik saja, Rui juga akan baik-baik saja. Yang perlu kamu cemaskan bukanlah kami. Tapi bagaimana jika kita tidak akan bisa pulang lagi? Begitu portal ini hilang, tidak akan ada kesempatan kedua!"


Aku menggeleng, "Neo!"


"Maafkan aku, Jian." Neo tersenyum. Dia mendorong tubuhku memasuki portal yang nyaris mengecil. Sayup-sayup aku mendengar teriakan Rux yang mengamuk. Rantai itu pasti sudah hancur. Dan Neo segera bertarung lagi dengannya.


Kenapa situasi cepat sekali berubah?