Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Penyelamatan Akademi Dixia



Semuanya tampak gelap. Aku tidak tahu kami berada di mana, mungkinkah kembali tertangkap? Kami masih berada di penjara? Kami ditempatkan di penjara tergelap?


"Jian, kau sudah bangun?"


Aku mendengar sebuah suara.


"Jian, kamu baik-baik saja?"


Aku membuka mata perlahan-lahan. Di sampingku ramai, aku melihat dua temanku, dan yang tak terduga, mereka bersama ....


"Win, Yets, Bim? Kalian kenapa di sini?" aku bertanya bingung. Bukankah kami dituduh mencuri? Dan semua orang tidak lagi memercayai kami?


"Mereka yang sudah menyelamatkan kita, Jian. Saat di ruangan penjara, kau ingat, Rux kembali menyerang, Neo memperingatkanku, kemudian kita semua menghilang setelah terkena hantaman, mereka yang membawa kita ke ruangan rahasia Penjaga Pintu," Rui menjelaskan sedikit.


"Kapan kalian bangun?" aku bertanya, karena saat aku bangun, semua orang tampak sudah lama menungguku bangun. Aku tidak berharap hanya aku yang pingsan.


"Kami tidak pingsan, Jian. Hanya kamu saja," Neo menceletuk.


Aku melotot kesal melihat wajahnya. Aku beringsut duduk, berusaha memperhatikan sekeliling dengan benar. Ruangan ini memiliki atap yang tinggi. ada sirkulasi udara di mana-mana, meja-meja panjang dengan ratusan kursi, dan rak-rak tinggi berisi ribuan buku, dan tiga buah ranjang kuno, salah satunya yang kutiduri, dia berderit saat aku bergerak sedikit.


"Ini tempat kami biasa beristirahat, Jian, tidak ada kamar, hanya ruangan besar tanpa sekat. Kupikir menyembunyikan kalian di sini adalah tempat teraman," Win menjawab rasa penasaranku tentang ruangan luas ini.


"Tapi, Win. Kenapa kamu menyelamatkan kami?" aku bertanya pelan.


Win menghela napas, "Aku sudah tahu apa yang terjadi," jawabnya.


"Eh? Tahu dari mana?" aku memasang wajah terkejut. Dia tahu dari mana? Bahkan kami tidak melihat Win dan dua temannya membantu kami saat kami diserang oleh ratusan hantu saat itu.


"Sebelumnya aku minta maaf, Jian, Rui, Neo. Karena tidak memberitahu kalian tentang satu hal. Kami orang-orang Akademi Dixia adalah orang yang tidak mudah memercayai orang luar. Sejak kalian masuk, aku sudah memasang sihir perekam di tubuh kalian. Itu hanya mendengar semua yang kalian bicarakan, dan hanya kami yang mendengarnya. Aku tahu saat Neo merencanakan pencurian pusaka. Saat kalian muncul tepat setelah pusaka hilang, kupikir Neo benar-benar mencurinya, karena baju yang dipakai Neo sama seperti baju yang dipakai pencuri itu," Win menghentikan penjelasannya sejenak, menghela napas.


"Kami memutuskan diam saja karena tuduhan kami tidak terdengar meyakinkan, terlebih saat kami mendengar kesungguhan Neo kalau dia benar-benar tidak mencuri apapun," Yets melanjutkan.


"Tapi saat kami mendengar pembicaraan kalian dari sel penjara, kami tau kalau pencurinya bukan Neo. Kami juga mendengar kalian berusaha melarikan diri dengan mencuri kunci dari ruangan sipir, saat itulah kami memutuskan membantu kalian. Aku menyuruh Bim untuk memanggil semua sipir dan membuat seluruh penjara kosong. Itu memberi peluang besar untuk entitas sihir Jian bergerak cepat," Win mengelus kepala Piu Piu sambil tersenyum.


"Aku tidak berpikir kawanan serigala salju akan tahu secepat itu, kami tidak berpikir kalau pencuri sebenarnya benar-benar Rux si Serigala Salju. Kami mengikuti mereka, lalu menemukan Jian sudah bertarung dengan mereka, Rui bahkan meledakkan ruangan penjara," sambung Win, "Saat itulah kami muncul, saat Rux melemparkan satu serangan mematikan, kami membawa kalian pergi sebelum mereka menyadarinya."


Kami bertiga terdiam, ternyata Win mendengar semua yang kami bicarakan. Dan mereka benar-benar memercayai kami. Syukurlah, satu-satunya sekutu kami tidak menganggap kami berkhianat.


"Win, lalu apa yang terjadi di luar sana?" Neo bertanya.


Win mengangguk, "Kalian, dengarkan aku. Kami sudah membuat rencana. Kami akan tetap bersama mereka dan mengawasi Rux dari dekat. Sementara itu, kalian gunakan waktu kalian untuk berlatih, waktunya hanya satu hari. Dalam satu hari kalian harus sudah menjadi Penyihir Kartu Perak, sebelum itu terjadi, jangan berani keluar dan menampakkan diri di depan mereka," Win menjelaskan dengan cepat dan serius.


"Tapi, Win. Bagaimana cara kami mendapatkan Kartu Perak hanya dalam satu hari berlatih? Itu nyaris tidak mungkin!" Neo berseru menolak. Yah, itu hanya akan merusak rencana saja.


"Karena itulah, kami sudah meminta Bim menyiapkan ini," Win mengeluarkan tiga butir kelereng bercahaya.


"Eh, ini seperti kelerengku," Neo menceletuk.


"Ini bukan kelerengmu, Neo. Meski aku tidak tahu apa itu kelereng, tapi ini hanya dimiliki klan rubah saja. Sebut saja ini manik rubah, ini berasal dari energi spiritual penyihir yang sudah mati. Biasanya rubah memiliki beberapa manik sebagai sumber energi spiritual mereka. Bim memberikan beberapa maniknya agar kalian memiliki Kartu Perak dalam waktu satu hari. Jangan lupa berlatih dengan sungguh-sungguh, ya!" Win tersenyum lebar, memasukkan masing-masing satu manik ke dalam tubuh kami.


"Lalu, apa yang harus kami lakukan setelah mendapatkan Kartu Perak?" Rui bertanya takut-takut.


"Kalian keluar dan menyekap Rux di dalam ruangan ini. Aku akan memberikan Kartu Segel pada kalian," Yets memberikan satu kartu pada kami, "Ini adalah Kartu Segel. Gunakan untuk menyekap Rux di ruangan ini."


"Tapi kami bahkan tidak tahu pintu ruangan ini ada di mana." Neo mengangkat bahu, wajahnya tampak tidak peduli.


"Apa kalian melihat meriam di depan gerbang kamuflase?" Yets bertanya.


Kami bertiga mengangguk bersamaan.


"Pintu itu berada di antara meriam kedua dan ketiga dari gerbang kiri. Tempelkan kartunya di sana, lalu sebuah pintu akan muncul, masukkan Rux ke ruangan ini, setelah itu kalian pergi ke lorong kamar tamu dan masuk ke kamar Neo. Kami akan menunggu kalian di sana." Win menjelaskan lagi.


Sepertinya ini rencana yang rumit. Kami tidak boleh membuat kesalahan sedikit pun agar tidak mengecewakan mereka yang sudah membantu kami.


"Tapi, bagaimana kami keluar dari sini? Bahkan tidak ada pintu." Neo bertanya lagi.


"Kami akan mengirim portal teleportasi tepat setelah 24 jam berlalu, saat itu pastikan kalian sudah siap dengan serangan kalian. Kami akan memasang mantra pembeku pada Rux, jadi saat kalian menemukannya, dia tidak akan banyak melawan lagi." Win tersenyum, "Kami pergi dulu, Anak-anak."


"Tunggu, Win!" aku berseru.


"Kau mau bertanya juga, Jian?" Win menoleh ke belakang.


"Hm ... kalian berhati-hatilah," aku menghela napas pelan.


"Tentu saja! Ini tanggung jawab kami sebagai Penjaga Pintu. Salah satu tugas kami adalah menjaga Akademi Dixia dari keparat hina seperti Rux," Win terkekeh panjang. Bim melambaikan tangan, sebuah portal teleportasi muncul, mereka menghilang setelah memasuki portal itu.


"Baiklah, teman-teman. Kita hampir berada di medan perang betulan. Jadi, mari kita berlatih sebelum perang itu membunuh kita!" Neo berdiri dengan penuh semangat, mengentakkan tangannya, Pru muncul dalam bentuk pedang es, "Ini akan menyenangkan!"