
Menunggangi serigala tak seburuk yang kupikirkan. Jika tidak membayangkan betapa menyeramkannya hewan berkaki empat ini, aku mungkin bisa berlari lebih cepat lagi.
Lima belas jam berlari, aku selalu tertinggal, terkadang Zhi sengaja melambatkan lajunya untuk menemaniku di belakang.
Aku menghela napas lega begitu tiba waktunya bermalam. Rui memberiku air minum, dia bilang dia sangat menyukai serigalanya. Aku tersenyum sambil mengatakan kalau dia hebat.
Aku duduk termenung selama beberapa detik, tiba-tiba teringat kebersamaan kami bertiga. Aku menghela napas, Neo memang selalu berada di sisi kami, tapi kini dia hanya seekor anak serigala.
Dia tidak bisa menemani kami di sepanjang perjalanan ini. Kami bahkan tidak bisa mendengar suaranya yang selalu menjahili kami itu.
Mengingat tujuan kami berada di sini adalah untuk menghidupkan kembali Neo, aku harus tetap semangat dalam perjalanan ini.
"Jian." Win berjalan mendekatiku, "Kenapa kamu tidak berkumpul bersama yang lain?"
Aku terdiam, melihat Zhi dan Rui yang duduk di depan api unggun, dia terlihat semakin bahagia. Tidak terlalu sering mengingat Neo sepertiku. Aku cukup senang melihatnya sudah lebih baik.
"Jian." Win memanggil namaku lagi.
Aku menatapnya, "Aku ingin melamun saja, Win. Aku baik-baik saja."
Win menghela napas. Dia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari kantong kecilnya. Aku melihatnya yang begitu familier.
"Eh, bukankah itu buku catatan Neo?" Mataku membulat begitu mengingat betapa pentingnya buku itu bagi Neo.
Rui dan Zhi mendekat ke arah kami begitu mendengar aku berseru terkejut. Zhi tampak terkejut melihat Win mengeluarkan buku kecil itu.
"Tidak apa-apa, Zhi. Kita sudah menundanya selama berhari-hari. Mereka harus tahu meski Neo tidak ingin mereka tahu." Win berkata pelan.
Aku segera mengambil buku itu darinya, Rui duduk di sebelahku. Kami membaca buku itu bersama-sama.
"Hari ini, aku tiba di sebuah tempat yang tak kuketahui gara-gara mengikuti dua orang teman sekelas. Kupikir jika aku tidak membawa mereka berdua keluar, mereka tidak akan kembali.
"Aku melakukannya bukan karena takut kehilangan dua orang itu. Tapi aku merasa bertanggung jawab saja. Keduanya tiba di sini, karena aku tak sengaja membohonginya tentang ruangan teater yang sebenarnya tidak pernah ada di sekolah kami.
"Tiba di tempat itu, aku mulai menyadari bahwa kami terjebak di tempat yang tidak seharusnya. Membuat kami harus berusaha cukup keras untuk kembali pulang ke rumah kami.
"Kami mempelajari beberapa ilmu sihir setelah bertemu pemimpin di dunia ini. Tampaknya belajar sihir tidak seburuk yang kupikirkan. Ratu itu mengatakan kami harus menjadi kuat sebelum melakukan perjalanan panjang untuk mencari kunci pusaka yang bisa mengantar kami pulang.
"Tapi sepertinya, salah satu temanku itu tidak menginginkan kami melakukan perjalanan itu. Katanya terlalu membahayakan. Katanya takut kami tidak kembali dengan nyawa kami.
"Saat itu aku mengerti, tidak semua orang memiliki keberanian yang sama sepertiku. Aku terus berpikir bagaimana membuatnya percaya kalau kita bisa saling melindungi.
"Malam ini aku memutuskan untuk menemui ratu itu. Aku merasa jika aku tidak bisa melindungi dua orang itu, aku merasa gagal menjadi seorang teman.
"Lalu dia membantuku untuk menjadi lebih kuat agar bisa melindungi dua temanku. Tapi aku tidak menyangka, hal itu memiliki dampak lebih buruk dari yang kupikirkan sebelumnya.
"Aku pernah bersumpah untuk melindungi mereka menggunakan nyawaku sendiri. Mereka takut mati, mereka takut ada yang mati di antara kami bertiga. Jadi aku sudah memikirkannya, meskipun harus ada yang mati, maka akulah orangnya.
"Aku selalu berusaha agar tidak menempatkan teman-temanku ke tempat yang berbahaya. Aku selalu berusaha untuk tetap melindungi mereka. Tapi sepertinya, seiring aku semakin kuat, semakin pendek juga usiaku.
"Jian, Rui. Aku tidak berharap kalian membaca bagian ini suatu saat nanti. Aku ingin mengakuinya, tapi tidak ingin melihat kalian merasa sedih karena kecerobohanku sendiri.
"Jian, Rui. Di dalam tubuhku ada seekor serangga. Anggap saja seperti itu. Serangga itu mati, aku menyerap energinya untuk membuat diriku semakin kuat.
"Tapi saat aku bertarung dengan Rux, serangga itu bangkit lagi. Aku tidak bisa mengendalikan energi yang kuserap darinya.
"Aku sungguh tidak berharap kalian akan membaca bagian ini. Aku selalu ingin mengatakan semuanya pada kalian. Tapi aku selalu tidak siap.
"Zhu bilang, cepat atau lambat aku harus memberitahu kalian. Tapi aku tidak punya keberanian yang cukup untuk mengatakannya. Akhirnya aku menulis bagian menyedihkan ini di dalam jurnal yang seharusnya tertulis kenangan indah kita bertiga di sini.
"Maaf, aku jadi harus mengotori kenangan indah kita dengan bagian paling menyedihkan ini. Jian, Rui. Suatu saat ketika kamu berdua pulang ke rumah, aku mungkin tidak bisa ikut dan terpaksa harus tinggal.
"Win bilang tidak ada cara untuk membuat tubuhku kembali utuh. Zhu bilang tidak ada cara untuk mengeluarkan serangga ini dari tubuhku.
"Setiap kali aku melihat kalian berdua yang begitu lahap ketika makan, yang begitu bertenaga ketika bertarung, aku selalu ingin menangis karena aku tidak bisa melindungi kalian dengan benar.
"Beberapa hari terakhir, aku selalu diam-diam menulis beberapa kata di buku ini. Supaya ketika aku meninggalkan kalian, aku memiliki beberapa kalimat yang bisa membuat kalian tidak melupakanku selamanya.
"Meskipun ini terakhir kali, setidaknya aku tidak menyesal telah mengenal kalian di dunia yang indah ini.
"Ketika tiba di bagian ini, bisakah kalian jangan menangis? Bukankah kita sudah berhasil menemukan kunci pusakanya? Sebentar lagi kalian akan pulang. Jangan menangis lagi.
"Jian, Rui. Jika kalian pulang, bisakah jangan berikan buku ini kepada nenekku? Bisakah jangan beritahu kabar kematianku kepada nenekku? Aku merasa lebih sakit dari sebelumnya jika dia sampai tahu.
"Jian, Rui. Aku selalu ingin merindukan kalian. Aku selalu ingin ...,"
Aku menghela napas. Menyeka pipiku yang basah. Tampaknya Neo belum menyelesaikan kalimat terakhirnya. Aku tidak tahu apa yang seharusnya Neo tulis menggantikan titik-titik itu.
Neo. Apakah kau benar-benar tidak menyadarinya? Kamu masih berada di sisi kami. Kamu masih memiliki kesempatan untuk tetap hidup.
Dan kami berada di sini, untuk mempertahankan tubuh yang begitu kamu cintai itu. Neo, kamu harus bertahan beberapa bulan lagi.
Setelah kami menemukan tumbuhan obatnya, kami akan membawakan tumbuhan itu untukmu. Biarkan Zhu merawat tubuhmu dan mengeluarkan serangga itu.
Di antara kami, tidak ada seorangpun yang menginginkan kamu pergi.
Win melambaikan tangannya pelan, seekor anak serigala muncul dari tangannya. Aku dan Rui saling tatap, tangis kami kembali mengeras.
Lalu kami memeluk anak serigala itu dengan erat.
"Neo, bisakah tak perlu menuliskan hal tidak penting itu? Kamu sendiri tahu, itu merusak kisah indah perjalanan kita di dunia fantasi! Jika kamu mengerti kalimatku, seharusnya cepat kamu hapus saja!" Aku berseru marah. Lalu menyimpan buku catatan kecil itu di dalam kantong kecilku.
Win tersenyum tipis, "Apakah kalian masih merindukan Neo?"
Aku dan Rui mengangguk, "Kami memang selalu merindukannya," aku terkekeh pelan.
"Tapi, Win. Bagaimana kalian tahu tentang penyakit Neo, sementara kami yang selalu berada di sisinya tidak tahu? Saat kita berada di Akademi Hudie, aku dapat merasakan kalian yang begitu memahami tubuh Neo. Sedangkan kami yang paling dekat dengannya justru baru tahu semuanya setelah dia pergi." Rui menanyakan hal yang cukup serius. Aku jadi ikut memikirkannya. Sebenarnya sejak kapan Win mengetahui ini?
Win terlihat melirik Zhi yang terdiam sejak aku membaca buku catatan Neo.
"Aku yang lebih dulu tahu." Zhi bersuara.
Aku dan Rui menatapnya.
"Waktu itu saat dia membunuh Rux di Desa Terkutuk kami, aku sudah tahu kalau dia terluka parah. Aku dan kakakku hanya mengira dia terluka karena energi hitam Rux. Tapi ternyata dia juga seorang pengguna sihir terlarang."
Aku dan Rui terdiam, kami sudah mendengar tentang hal ini sebelumnya.
"Jian, Rui. Beristirahatlah lebih awal, besok kita akan memasuki Kota Luse. Kalian harus mengumpulkan energi untuk besok."