
Aku membuka mata, persekitaranku masih gelap, di atas sana hanya ada batuan hitam yang sesekali meneteskan air dari celah-celahnya.
Aku menyeka ujung mata, air mata sudah tak terbendung lagi. Aku tidak melihatnya, tapi aku sudah merasakannya.
Rasa ketika seseorang meninggalkan kita. Seperti itu lah.
Aku ingat terakhir kali, Neo terjatuh saat mengirimkan kekuatan sihirnya kepada Rui. Dan mungkin saat itu ....
"Kamu sudah bangun, Jian?" aku mendengar suara Neo.
Aku langsung beringsut duduk. Neo tampak tersenyum sambil menatap wajahku yang cemas dan ketakutan.
Aku langsung memeluknya, "Neo, kupikir aku tidak akan bertemu denganmu lagi," gumamku pelan.
"Tenang saja, Jian. Aku tidak sedang terburu-buru menemui Tuhan. Aku masih ingin bersama kalian lebih lama," Neo tersenyum lebih lebar.
Aku menatap sekeliling, kami seperti berada di dalam gua yang sangat besar. Hamparan salju terlihat sejauh mata memandang. Di atas kami adalah atap batu yang tampak menawan.
Ada pencahayaan masuk di antara celah-celah batuan gua yang longgar di sisi utara gua. Itu sekitar puluhan meter dari tempat kami duduk.
Tak jauh dari kami duduk, aku melihat Rui terbaring. Banyak noda darah di pakaiannya. Tapi wajahnya terlihat bersih.
"Aku baru saja membersihkan tubuh kalian, tapi aku tidak bisa sekalian mengganti pakaian kalian. Itu tampak terlalu—"
"Terima kasih, tapi tak perlu dijelaskan," aku menempelkan telunjukku di bibirnya. Aku berjalan mendekati Rui.
"Dia mengeluarkan terlalu banyak energi, Jian. Dia masih belum bangun sejak labirin itu hancur dan—"
"Labirinnya hancur?" Aku langsung menatap Neo terkejut. Labirin itu benar-benar hancur?
Neo nyengir lebar, "Kamu benar, Jian. Ketulusan dapat menghancurkan apapun yang menghalangi jalan kita. Selama ini kita dibohongi peta itu, jika kita memahami ketulusan kita sejak awal, kita mungkin sudah menemukan Lilin Keabadian sejak tadi."
"Eh, apakah kamu sudah menemukan Lilin Keabadian?" aku teringat sesuatu.
Neo mengangguk, dia mengangkat tangannya, muncul bongkahan es di tangannya. Di dalam bongkahan itu terdapat sebuah lilin yang menyala.
"Eh, apakah itu lilin sungguhan?" aku memasang wajah bingung melihat lilin itu menyala di dalam bongkahan es batu yang begitu dingin menusuk tulang.
"Ini sungguhan, Jian. Itulah kenapa dia diberi nama Lilin Keabadian. Karena apinya tak pernah padam bahkan jika ditenggelamkan ke dalam air sekalipun."
"Tapi bukankah seharusnya balok es ini yang meleleh?" aku mencoba memegangnya, dan itu benar-benar bongkahan es yang dingin.
"Ini segel kedua, Jian. Aku tidak tahu apa ini bongkahan es sungguhan. Tapi saat labirin itu hancur, hingga meleleh menjadi kolam air di sana," Neo menunjuk kolam dengan diameter sepuluh meter di sisi timur, itu mungkin kolam yang sama di mana peta kami tenggelam, "Hanya bongkahan es ini yang tidak hancur. Saat aku melihatnya dengan Kartu Emas-ku, bongkahan ini menyimpan Lilin Keabadian di dalamnya. Jadi kita masih harus menghancurkan es ini dulu."
"Eh, kenapa tidak hancurkan sekarang?" aku menatapnya polos.
Neo menggeleng, "Aku tidak mampu," Neo terbatuk sedikit.
"Huh, hanya menghancurkan bongkahan es segini saja bilangnya tidak mampu," aku menceloteh, merebutnya dari Neo.
Aku berdiri, hendak menghancurkannya dengan cara membantingnya ke bawah.
Eh, apakah lilin di dalamnya akan ikut hancur?
Sudahlah, benda pusaka yang disimpan ribuan tahun tidak akan bisa hancur dengan mudah. Aku membantingnya dengan keras di bawah.
Tapi bongkahan es itu terlalu menyeramkan. Jangankan hancur, dia justru berdentang dan memantul seperti melemparkan bola-bola besi.
Neo tertawa, menggelengkan kepala, dia tidak peduli lagi dengan apa yang kulakukan pada bongkahan es ini.
Aku mencoba menghancurkannya dengan sihir, tapi tetap tidak bisa. Aku bahkan melemparnya hingga puluhan meter, tapi jangankan hancur, dia bahkan tidak lecet sedikitpun.
"Sudahlah, Jian. Jangan membuang tenagamu sia-sia. Tunggu saja Rui bangun, lihat apakah bola-bola apinya bisa memanggang bongkahan ini hingga hangus atau tidak." Neo merogoh kantong kecilnya.
"Aku sudah mengambil peta kita dari dalam air syukurlah dia tidak luntur apalagi hancur. Mantra di dalamnya juga baik-baik saja. Saat Rui bangun nanti, kita masih akan beristirahat hingga beberapa jam dulu untuk memulihkan fisik." Neo mengeluarkan peta itu dari dalam kantongnya.
Aku memeriksanya, peta itu memang baik-baik saja, aku mengembalikannya pada Neo.
"Kamu baik-baik saja kan, Neo?" aku bertanya memastikan, "Terakhir kali kulihat, kamu menghantam dinding begitu keras hingga berdarah, kupikir kamu—"
"Aku baik-baik saja, Jian. Aku tidak tahu obat apa yang diberikan Zhi, tapi saat tubuhku terhantam sesuatu, bahkan rasa sakit apapun akan hilang saat aku meminum obat itu. Tapi saat melupakannya walau hanya satu hari, tubuhku terasa remuk dan bahkan tidak bisa berbicara," Neo terkekeh, "Tapi itu tidak akan terjadi lagi, alias hanya terjadi sekali saja."
"Apakah obatnya masih ada?"
Neo terdiam, "Obat itu, akan habis dalam lima hari," Neo menunduk, dia terlihat sedih.
Aku memahami ketakutannya. Meski tidak pernah melihat bagaimana Neo akan kesakitan jika dia tidak meminum obatnya, tapi dia pasti sangat takut jika akan mengalaminya lagi.
Aku menepuk bahunya, tersenyum lebar, "Tenang saja, Neo. Jika kuperhatikan, tubuhmu akan baik-baik saja jika tidak terlalu banyak mengeluarkan sihir. Dalam lima hari terakhir, aku berjanji tidak akan membuatmu bertarung," aku tersenyum lebih lebar.
Aku menghampirinya, "Kamu sudah bangun, Rui?"
"Tidak, Jian. Aku baru saja mengigau," Rui terkekeh pelan, memelukku dengan erat, "Kalian terlihat serius sekali tadi, jadi aku hanya bisa mendengarkan saja."
"Terima kasih," Neo menceletuk.
Aku dan Rui tersenyum sambil menatapnya. Kita memang belum menemukan akhir bahagia dari kisah perjalanan kami di Kota Pubu.
Tapi kami selalu merasa bahagia setiap hari saat berkumpul satu sama lain. Mungkin tidak akan ada akhir bahagia, melainkan hanya ada bahagia hingga akhir.
...----------------...
Aku duduk berhadapan dengan Rui, di depan kami adalah Segel Lilin Keabadian. Neo menonton saja, kami tidak mengizinkannya membantu kami untuk menghancurkan segel ini. Dengan kondisi tubuhnya yang melemah, terlalu berisiko.
Aku menautkan tanganku dengan tangan Rui, mata kami tertutup, kami mulai berkonsentrasi mengalirkan kekuatan kami ke dalam segel. Kami berupaya menyerap energi segel ini. Aura dingin dari segel memasuki tubuhku, aku menggigil karena mulai merasakan seluruh tubuhku seperti membeku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Rui, tapi telapak tangannya masih terasa hangat, berbanding terbalik dengan telapak tanganku yang mengeras seperti es.
Napasku mulai menderu, aku seperti tidak bisa membuka mata lagi, semuanya seakan membeku, hanya energiku saja yang tetap aktif menyerap energi segel, aku seperti tak sanggup lagi mengendalikan energi yang masuk ini.
Tubuhku bergetar kedinginan, aku mencengkeram tangan Rui dengan erat, berharap energi panas dari tubuhnya dapat mengalir ke tubuhku juga.
Tiba-tiba aku merasa sesuatu memelukku dengan erat, ada energi khusus yang mengelilingi tubuhku, mulai terasa hangat, aku merasa tubuhku tak sedingin sebelumnya. Aku lebih bisa mengendalikan kekuatanku.
Aku menahan napas, bersikeras menyerap energi lebih banyak lagi. Meski belum ada hasil yang terlihat, tapi rasanya tidak terlalu mustahil untuk menghilangkan segel ini.
Bruk!
Aku membuka mata, konsentrasiku buyar seketika. Aku menoleh ke belakang, Neo jatuh pingsan di belakangku.
"Hentikan dulu, Rui!" aku berseru, segera membaringkan Neo.
"Dasar keras kepala, sudah kukatakan tidak perlu ikut campur," Rui terlihat kesal.
"Maaf, Rui. Sepertinya ini salahku, tubuhku membeku saat kita berusaha membuka segel ini. Mungkin melihatku begitu kedinginan, Neo memelukku sambil mengalirkan energinya ke tubuhku. Jadi ini bukan salah Neo," aku memutuskan untuk membela Neo. Dia pasti cemas karena aku.
Rui menghela napas, "Aku yang tidak perhatian, Jian. Tubuhmu tidak sepertiku, meski menyerap energi es begitu banyak, aku tidak akan kedinginan.. Seharusnya aku memikirkanmu sebelum kita mulai melakukannya." Rui menunduk merasa bersalah.
"Sudahlah, kita semua melakukan kesalahan yang berbeda. Mari kita berikan pertolongan pertama dulu pada Neo. Urusan tentang segel ini, cara pertama sudah gagal, kita perlu mencari cara lain lagi."
Rui mengangguki saran dariku. Dia berdiri, bilang akan memeriksa seberapa besar gua ini. Mungkin akan menemukan sesuatu yang bisa kami makan. Aku mengizinkannya, Rui ditemani anjing magisnya.
Aku menatap wajah Neo yang terlihat pucat, aku mengembuskan napas panjang, "Kamu keras kepala, Neo."
"Kau mengecewakanku, Jian."
Aku terdiam, dia sudah bangun? "Apa yang kamu katakan, Neo?" aku menatapnya kesal.
"Seharusnya kamu abaikan saja aku, Jian. Jika kamu melanjutkan formasinya, segel itu mungkin sudah terbuka."
"Kamu pikir aku bisa terus berkonsentrasi melihat temanku pingsan? Bahkan jika aku berusaha melanjutkannya, formasi itu akan tetap gagal. Kita tidak cukup kuat untuk menghancurkannya."
Uhuk!
"Neo!" Aku berseru panik.
Neo kembali memuntahkan darah, tubuhnya mendadak menggigil kedinginan. Gejala ini terlihat mirip seperti saat kami baru keluar dari Akademi Dixia.
"Aku tidak apa-apa, Jian, jangan mengkhawatirkan aku." Neo menepis tanganku yang hendak membantu menyeka darah itu dari bibirnya.
Aku merogoh kantongnya, "Minum obatnya lagi, Neo. Harusnya kamu akan baik-baik saja kita meminum obat ini."
Neo mengambilnya. Lalu menenggak sebanyak tiga kali. Tapi beberapa menit kemudian, tidak terjadi apa-apa, tubuh Neo justru semakin terlihat buruk.
"Neo, apa yang harus kita lakukan?" aku semakin panik, Neo tidak memedulikanku lagi, napasnya menderu, dia tidak tidur, tapi matanya terus terpejam seakan kehilangan kesadaran.
Argh!!
Aku mendengar teriakan dari jauh. Saat menoleh, Rui sudah tergeletak di atas hamparan salju. Tubuhnya tidak bergerak lagi.
"Apa itu?" Aku berdiri, hendak berlari ke arah Rui, tapi sesuatu seperti bayangan hitam terlihat menyeramkan, sesuatu itu menyeret tubuh Rui hingga tak terlihat lagi.
"Hai, Jian. Kita bertemu lagi."
Rux?