
Saat aku mendatangi kamar Neo, dia terlihat sedang mengobrol dengan orang lain, aku dan Zhi mendekati mereka berdua.
"Dia kakakku, namanya Zhu," Zhi tersenyum padaku, dia melihatku menatap Zhu sangat lama sebelumnya, dia mungkin merasa aku sedikit penasaran mungkin?
"Dia adalah gadis yang kuceritakan tadi, Zhu," Neo menatapku dengan ekspresi jahilnya.
"Zhu, apa yang dia ceritakan padamu?" aku langsung mengalihkan tatapanku ke arah wanita dewasa berwajah cantik yang berdiri tak jauh dariku.
"Dia bilang kau adalah gadis yang sangat menyenangkan, Jian. Kau sangat kuat dan selalu membantu teman-temanmu saat mereka kesulitan," Zhu tersenyum sambil menepuk pundakku, "Dia juga bilang tidak ingin membuatmu kesulitan lagi."
Eh? Itu poin dari mana? Apakah Neo benar-benar berkata seperti itu? Seharusnya dia laki-laki tidak tahu terimakasih, kan? Kenapa mendadak berbicara hal tidak masuk akal seperti itu?
"Neo, minum obatmu lagi," Zhu mengambil nampan yang berada di atas meja. Itu berisi banyak sekali obat-obatan herbal.
Apakah Neo sungguhan separah itu? Kenapa dia harus meminum banyak sekali obat?
"Zhu, bisakah jangan membiarkan Jian melihatnya? Aku tidak suka terlihat lemah," Neo menerima mangkuk pertama, dia menghabiskannya dalam sekali telan, lalu diteruskan dengan mangkuk kedua dan ketiga, dia bahkan tidak perlu makan buah untuk menghilangkan rasa pahitnya.
"Sebenarnya kamu tidak terlihat sedang sakit sama sekali, Neo. Kamu minum obat seperti seseorang yang sedang kehausan," aku tidak peduli pada tatapan Zhi dan Zhu yang sepertinya tidak setuju dengan kalimatku.
Tapi aku menyadari ada yang salah di sana, Zhi dan Zhu saling menatap, kemudian keduanya menatap Neo bersamaan, saat keduanya menatap Neo, wajah Neo langsung berubah menjadi serius saat menanggapi tatapan keduanya.
"Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, Neo?" aku bertanya curiga.
Nei langsung menggeleng, "Aku hanya merasa ... sangat lapar! Zhu, bisa bawakan aku sarapan sekarang juga?" Neo menatap Zhu dengan mata berbinar. Sebenarnya itu menjijikkan sekali.
"Kita periksa dulu keadaan temanmu yang terkena racun energi hitam itu, seharusnya sudah membaik, kan?" Zhu menatap adiknya, Zhu langsung mengangguk saat itu juga.
Zhu membantu Neo untuk berdiri, lalu memapahnya saat berjalan. Harusnya dia memang tidak baik-baik saja, kan?
"Neo, apa kamu masih merasa tidak nyaman?" aku bertanya ragu-ragu, dia terlihat menutupi sesuatu dariku.
Neo melambaikan tangan, "Tenang saja, Jian. Aku hanya kesemutan," Neo menjawab tak peduli, terus berjalan di depanku.
Aku menghela napas kesal, apa yang Neo sembunyikan itu? Mungkinkah Zhi dan Zhu mengetahuinya? Atau sesuatu itu memang hanya diketahui mereka bertiga?
"Aku peringatkan kamu, Neo. Jika berani menutupi apapun dariku dan Rui, aku akan mengeluarkan kamu dari tim kita! Sebaiknya jangan coba-coba menyimpan sesuatu sendiri dan tidak membaginya dengan kami," aku berkata serius, Neo tidak boleh melupakan peraturan tak tertulis ini.
Neo terdiam sebentar, kemudian berbalik menatapku sambil tersenyum, "Kubilang tenang saja, Jian. Memangnya apa yang perlu kututupi dari kalian?"
Aku terdiam, tidak menatapnya lagi. Kami masuk ke kamar Rui. Temanku yang penakut itu rupanya sudah bangun, saat aku mengunjunginya sebelum ke kamar Neo, Rui masih tertidur lelap, bibirnya yang semula kehitaman sudah berangsur normal. Kini warna bibirnya sudah betulan kembali, Rui bahkan tersenyum menyambutku sambil bertanya apakah aku baik-baik saja.
Dasar, seharusnya dia bertanya pada dirinya dulu apakah dia baik-baik saja.
"Apakah sudah membaik, Rui?" Zhi bertanya lembut.
Rui mengangguk dan mengucapkan terima kasih, dia bilang dia kelaparan sejak semalam.
"Tentu saja, kalian sepertinya tidak makan sejak kemarin pagi. Terus tak sadarkan diri hingga hari melewati malam. Bukankah sudah saatnya kalian makan?" Zhu terkekeh pelan, mengajak kami ke ruangan utama di rumah mereka.
Aku mengembuskan napas panjang, memang sudah sangat lapar. Artinya tenagaku benar-benar terkuras habis karena pertarungan itu, apalagi Neo, dia sebelumnya sudah terluka, tapi memaksakan diri membantu. Rui juga baru saja pulih dari racun hitam Rux.
Aku tidak tahu apakah kami bisa melanjutkan perjalanan ini tanpa—
Aku membulatkan mata, bagaimana kami bisa melupakan poin penting ini? Kami tidak bisa melanjutkan perjalanan kami tanpa Jam Pasir. Dan Neo bahkan tidak menanyakan apapun pada Rux sebelum membunuhnya, di mana Rux menyimpan Jam Pasir?
Aku tidak enak menanyakannya di depan Zhi dan Zhu. Aku benci ketika seseorang mengingatkan kami kalau kami adalah pelintas dimensi. Itu bukan takdir yang menyenangkan untuk dibahas.
"Neo, bisakah mendekat sedikit?" aku berbisik kepada Neo yang duduk di sampingku, hanya saja jarak kursinya hampir satu meter.
Neo menggeser kursinya lebih mendekat, lalu mendekatkan telinganya ke arahku, "Ada apa?"
"Aku ingat kalau kita melupakan sesuatu, jam pasir itu, Neo. Apa kamu menemukannya?" tanyaku sambil berbisik.
"Tenang saja, benda itu ada di kamarku, Zhu membantuku membuat segel agar tidak ada yang bisa mengambilnya selain kita dan mereka," Neo membuat lingkaran dengan ibu jari dan telunjuknya, lalu mengedipkan sebelah mata.
"Apa kamu sudah bangun lebih dulu dariku dan Rui?"
Neo mengangguk, "Aku sudah bangun sejak tadi malam, dan mendiskusikan tentang jam pasir itu dengan Zhu, dia setuju akan membantu kita. Rupanya kita sangat berjasa bagi desa mereka, Jian," Neo tersenyum, "Mereka ingin membantu kita sampai kita benar-benar bisa kembali ke dunia kita."
Kalau seperti itu, bagus sekali. Tapi kenapa aku tidak menemukan kebahagiaan dalam raut wajah Neo?
"Neo, kamu begitu yakin kita bisa pulang ke rumah?" aku ingin memastikan satu hal padanya.
Aku menatap sorot matanya yang sedikit suram. Neo, apa yang kamu sembunyikan dariku? Hingga kamu mengatakan sesuatu yang tidak penting seperti itu.
...----------------...
Pukul sepuluh pagi, kami serempak berpamitan pada para peri di desa kecil itu. Mereka menyebutnya Desa Terkutuk, bagi orang yang belum pernah memasukinya hanya menganggap desa kecil ini adalah desa angker yang dihuni hantu-hantu dari berbagai wilayah.
"Neo, apakah kamu benar-benar baik-baik saja?" aku bertanya lagi, sekarang kami akan bersiap mendaki Gunung Es Keabadian. Beberapa hari ke depan kami akan berhadapan dengan salju dan berbagai masalah salju lainnya.
"Tentu saja aku baik-baik saja, Jian. Bukankah kamu juga tahu sendiri, bagaimana Zhu menyiapkan obat untukku? Dia bahkan tidak pernah melupakan satu mangkuk pun. Bagaimana aku tidak baik-baik saja?"
Aku tidak menjawab, jika dia memang baik-baik saja, syukurlah. Aku saja yang berpikir terlalu berlebihan. Neo akan baik-baik saja jika dia masih menyebalkan seperti biasa.
"Neo, ini adalah peta Gunung Es Keabadian. Kau akan menemukan Lilin Keabadian dengan cepat dengan bantuan peta ini. Di dalamnya ada mantra yang bisa mengaktifkan keterikatan antara Lilin Keabadian dan Jam Pasir Ajaib, butuh waktu untuk mempelajarinya sebelum membawanya ke dalam Gua Gelap. Jangan ada kesalahan agar tidak terjadi kesalahan di dalam Gua. Terimalah," Zhi mengulurkan tangan, sebuah gulungan peta berwarna merah diterima Neo dari tangan Zhi.
"Juga jangan melupakan ini," Zhu memberikan beberapa botol ramuan, "Ini adalah obatmu, minum tiga tegukan setiap pagi dan malam, jangan melupakannya."
Neo mengangguk, lalu menyimpannya di dalam kantong kecilnya. Aku menatap sorot mata Zhu yang terlihat begitu khawatir saat melepas kami pergi.
Zhu membantu kami melepas segel Jam Pasir, lalu menyerahkannya pada Neo.
"Jam pasir ini sebenarnya hanya jam pasir biasa. Tapi dia memiliki ritme waktu yang berbeda dari standar waktu di dunia ini. Saat mantra diaktifkan dan kalian memasuki Gua Gelap, kalian harus membaliknya, kalian harus keluar sebelum pasirnya habis, jika tidak, Lilin Keabadian akan padam dan kalian akan terjebak di dalam gua. Jangankan menemukan kunci ajaib, kalian bahkan tidak akan bisa keluar dari sana," Zhi memberi kami peringatan.
Aku menelan ludah, Rui menggenggam lenganku sangat erat, "Bagaimana jika itu terjadi pada kita, Jian?" dia bertanya ketakutan.
Aku menyentuh punggung tangannya, "Tidak apa-apa, Rui. Selama kita bertiga selalu bersama, tidak akan terjadi apapun, percayalah."
Rui tersenyum menatapku, lagi-lagi dia mengucapkan terima kasih.
Zhi dan Zhu juga tersenyum menatapku, "Kalian bertiga adalah sahabat yang istimewa. Selama kalian terus bersama, aku bahkan bisa menjamin kalau kalian akan baik-baik saja," Zhi menepuk pundakku lagi.
"Zhu, Zhi, bisakah kami berangkat sekarang?" Neo menutupi kepalanya dengan tudung jubah putih yang dia kenakan, lalu melilit lehernya dengan syal berbulu.
Aku merapatkan jubahku juga, perjalan ini akan menjadi perjalanan terdingin sepanjang kami berjalan.
Hanya Rui yang memakai pakaian tanpa dilapisi jubah tebal, kaus kaki merah mudanya menutupi kaki hingga lutut, Rui tidak pernah takut kedinginan sejak dirinya memiliki kekuatan api.
Kami berjalan di jalanan desa yang ramai. Salju menutupi seluruh jalan, sebenarnya desa ini sempurna tertutup salju sejak kemarin, Zhi bilang, desa ini sudah berada di luar Hutan Roh Penasaran, dan masuk wilayah Gunung Es Keabadian, hanya saja kedatangan Rux kemarin membuatnya menjadi gersang dan menyeramkan.
"Hei, itu pasar yang kumaksud! Bisakah kita mampir sebentar?" Rui berseru girang, dia sejak kemarin ingin berkeliling di pasar itu. Aku menyetujuinya, kami bisa berkeliling sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.
Tujuan utama Rui adalah membeli manisan buah, dia sangat menyukainya, tentu saja tidak akan melewatkan yang satu itu.
Neo berpisah dari kami sebentar, katanya ingin membeli sesuatu, aku mengangguk, memberinya syarat untuk tidak pergi terlalu jauh.
"Jian, cicipi yang satu ini, rasanya enak sekali," Rui tersenyum lebar, ingin menyuapkan satu buah padaku, aku membuka mulut, mengunyahnya, meski rasanya terlalu manis, aku akan tetap mengangguk dan bilang aku menyukainya di depan Rui.
"Teman-teman!" Neo berlari menghampiri kami, dia membawa tiga buah gantungan giok, ada ukiran nama kami di masing-masing gioknya.
Punyaku berwarna putih, punya Rui berwarna merah, punya Neo sendiri berwarna biru, terlihat indah, kami menerimanya dan mengucapkan terimakasih.
"Dari mana kamu mendapatkannya, Neo?" aku bertanya penasaran.
"Sebenarnya aku sudah pergi ke sini semalam, dan sempat meminta seorang pedagang aksesoris untuk membuatkan tiga gantungan giok untuk kita bertiga. Hari ini aku mengambilnya, apakah kalian suka?" Neo tersenyum lebar.
Dia aneh sekali sejak tadi pagi, aku sedikit mengiranya berbohong tentang dia pergi ke pasar semalam, tapi melihatnya membuatkan gantungan giok untukku dan Rui, aku jadi tidak punya alasan untuk mencurigainya lagi.
Meong!
Piu Piu muncul begitu saja diantara kami, dia terus mengeong dan menggoyangkan ekornya. Aku tertawa renyah, Piu Piu sepertinya marah pada Neo.
"Neo, kurasa kamu harus membelikannya juga," ucapku, Piu Piu cemburu karena hanya dia yang tidak mendapat hadiah.
Neo tertawa, "Aku tahu, aku juga sudah menyiapkannya," Neo mengeluarkan sebuah kalung yang sangat cantik, "Ini adalah kalung untuk kucing peliharaan yang tidak diberikan kalung oleh pemiliknya," Neo memakaikannya di leher Piu Piu, "Karena kamu wanita, aku jadi membelikan yang warna merah muda, kamu tidak keberatan kan? Aku takut kamu keberatan karena saat bertarung kemarin, kau terlihat sangat gagah, Piu Piu," Neo tertawa lebar.
Aku mengernyit, "Dia seharusnya betina, bukan wanita," sungutku.
"Tidak apa-apa, Jian. Bukannya sama saja, ya?" Neo melambaikan tangan tidak peduli.
"Itu artinya kamu menyamakan semua wanita dengan binatang, Neo! Kami berdua wanita, tentu saja tidak terima!" Rui menatapnya kesal, aku mengangguk-angguk.
"Huh!" Neo membuang napas kasar, "Baiklah, baiklah, aku minta maaf kalau begitu!"