Ice Cream

Ice Cream
Hangout



Beberapa jam sebelumnya....


Panas matahari di weekend tidak membuat orang-orang mengeluh, mereka sibuk membawa anggota keluarga, teman-teman, atau kekasih untuk bertamasya ke pantai.


Begitu juga Reina dan lima temannya yang mengajak hangout ke pesisir pantai, berlarian diatas pasir putih, menikmati ombak atau pun tertawa-tawa untuk membicarakan apa pun itu.


Tapi Reina hanya duduk diam tanpa mau beranjak pergi, berada di bawah bayang-bayang pohon kelapa dengan satu minuman bersoda dan sebatang rokok di mulutnya.


Terpikir seseorang yang membuat suasana hati Reina tidak nyaman, sosok lelaki dari masa kecil, cukup lama Reina berhenti mengingatnya lagi, tapi sekarang dia tiba-tiba datang dengan sikap berbeda.


Satu hembusan asap rokok yang dia hisap, tidak membuat hatinya berubah, keinginan untuk melepas beban pikiran karena ibu tiri di rumah, seakan percuma saja.


"Rein kenapa Lo ?." Satu teman lelaki datang menghampiri.


Sedikit Reina melirik kemudian menjawab .."Nggak apa-apa, Jun."


"Masalah ibu tiri Lo lagi ?."


"Ya itu memang masalah, tapi sekarang bukan karena ibu tiri Gua."


"Ceritalah, siapa tahu Gua bisa bantu."


"Gak, gak perlu, ini masalah Gua sendiri."


Awalnya memang Reina jalan bareng teman-temannya ke pantai karena Juna, atau Junaidi pun ikut bersama mereka, tapi entah kenapa dia seakan tidak perduli tentang Juna sekarang.


Dari segi mana pun orang melihat, Juna adalah lelaki yang tampan, kulit putih dan tubuh atletis, terlebih lagi, dia sama seperti Reina, anak seorang pengusaha kaya di kota ini.


"Ok, kalo Lo gak mau cerita gak apa-apa, tapi kalo emang Lo butuh bantuan bilang aja."


"Gua tahu kok, jadi santai aja. "


Juna sangatlah populer di sekolah, nyatanya dia pula seorang model sampul majalah, dan memiliki hidup glamor dengan segala keinginan yang bisa dia dapatkan.


Tentu banyak pula wanita ingin menjadi pacarnya, siapa yang bisa menolak lelaki dengan ketampanan, kekayaan, ketenaran, dan status sosial sebagai orang terpandang.


Begitu juga untuk sekarang, banyak wanita melihat ke arah Juna, dia menjadi pusat perhatian karena memang bisa dibilang terkenal.


Mereka-mereka mulai berkomentar, berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah Juna....


"Lihat ganteng banget dia."


"Bukankah dia itu model majalah B.O.D.O itu."


"Masa ?, Apa boleh Gua minta foto."


"Buat apa ?."


"Gak tahu buat apa, cuma pengin foto bareng aja."


Juna hanya menganggap bahwa Reina satu-satunya wanita yang menarik untuk dia dekati. Memang setiap wanita dengan suka rela merayu-rayu. Bicara soal penampilan, banyak pula wanita yang tidak kalah cantik.


Tapi itu hanya sebatas bentuk wajah, bagimana mereka menunjukkan make up tebal dan cara pandang orang lain dengan sudut yang tepat.


Mereka tidak lebih untuk seseorang mengisi waktu luang disaat dia ingin bermain-main.


Sedangkan kecantikan Reina memiliki sesuatu yang tidak bisa dibandingkan dengan wanita lain, ya... tanpa perlu berdandan, atau melakukan segala sesuatu di wajahnya dia sangatlah menawan, bukan polesan kuas cat atau operasi ketok magic.


Ditambah lagi, Reina adalah seorang idola bagi para lelaki di sekolah.


Juna selalu ingin memiliki sesuatu yang tidak bisa didapatkan oleh orang lain. Karena hal itu, jika dia bisa memiliki Reina, maka orang lain dianggap seperti pecundang,


Mereka mencoba mendapatkan Reina, sedangkan tidak tahu posisi mereka sebatas orang rendahan. Tidak ada yang boleh memiliki Reina selain dirinya.


Hanya dirinyalah yang pantas...


"Males Gua." Jawab Reina sembari menghisap rokok di mulut.


"Lah napa Lo ?, Padahal tadi Lo pengin banget ikut gara-gara ada Juna, sekarang Lo ogah-ogahan main." Balik Wina bertanya karena perubahan sikap temannya ini terlalu aneh.


"Gak papa win."


"Iya, iya, ngomong-ngomong cowok tadi yang bareng Lo siapa namanya ?."


"Dia, Ryan."


"Ryan ?, Kaya Gua pernah denger."


"Perasaan Lo aja kali, nama Ryan tuh banyak, tukang parkir di Indostore juga Ryan, kuli bangunan juga ada yang namanya Ryan."


"Gua heran, napa Lo kenal mereka, dan juga Lo kelihatan sewot gitu." Wina tidak tahu kenapa Reina kesal.


"Udahlah, Lo entar juga tahu besok, jangan tanya-tanya lagi pikiran Gua butek sama nama Ryan tuh."


Tentu Wina merasa kegelisahan dari sikap Reina sekarang, itu seperti bukan dirinya yang biasa dia kenal, dan semua karena lelaki bernama Ryan.


Wina penasaran, apa hubungan antara Reina dan Ryan itu, sedangkan Juna jelas-jelas menjadi lelaki yang sedang Reina dekati untuk waktu lama.


Hari sudah beranjak sore, Reina dan teman-temannya pun memutuskan untuk pulang, tapi siapa sangka di perempatan jalan, ketika mobil berhenti saat lampu lalulintas menyala warna merah, satu orang tidak sengaja melihat sesuatu yang menarik.


Sebuah kafe modern bertema klasik, dua orang yang duduk di sebelah jendela menghadap ke jalan raya.


"Rein, itu bukannya ibu tiri Lo."


"Ya terus kenapa gitu ?." Jawabnya seakan tidak perduli.


"Lah terus siapa cowok di sebelahnya." Wina pun menunjuk.


"Selingkuhnya kali." Tetap saja Reina tidak perduli, meski Wina membicarakan tentang sosok ibu tirinya.


"Lihat itu, dia Ryan."


Baru setelah Wina menyebut nama Ryan, kepala Reina berputar ke tempat dimana dia menunjuk. Itu jelas di depan mata, tangannya mengepal untuk dua orang yang dilihat.


Tapi Reina coba menutupi ekspresi itu, dia membuang muka dan berpura-pura untuk tetap tidak perduli.


Secara tidak langsung Wina pun menyindir kepada Reina.... "Siapa yang menyangka, cowok tampan gitu sukanya sama emak-emak."


Tidak ada reaksi, hanya dia bisa melihat tangan Reina semakin kuat mengepal untuk menahan emosinya keluar.


"Apa sih bagusnya dia itu, cowok udik, miskin, tidak tahu diri lagi." Kini giliran Juna yang berkomentar.


Seakan Reina memberi respon, tapi tidak seperti yang diharapkan oleh Wina, dimana dia hanya menghela nafas panjang dan berkata...."Aku ingin pulang."


"Kenapa pulang ?, Ini masih sore kali, kita ke diskotik seperti biasa."


"Gak mood, Gua pengin pulang, butek pikiran Gua denger Lo Lo pada ngomongin soal Ryan."


Pada akhirnya Ryan membuat isi pikiran Reina menjadi semrawut, dia berusaha untuk tidak menganggap apa pun, tapi kenyataannya itu tidak membuat dia menjadi lebih baik.


Ketika dia melihat ibu tirinya datang dengan wajah tersenyum setelah pergi bersama Ryan, ada kekesalan di hatinya.


"Kau sudah pulang Reina, apa hangout mu menyenangkan ?." Ucap Sela.


"Ya tentu saja, itu lebih menyenangkan dari pada menghabiskan waktu bersama lelaki muda." Jawaban Reina tidak sesuai dengan nada bicaranya.


Mendengar penjelasan dari Sela, itu hanya membuatnya semakin kesal, karena dia tidak ingin melihat orang lain mendapat perhatian dari Ryan.


Terlebih lagi itu adalah ibu tiri yang membuat hidupnya semakin berantakan.