
Tiga orang tua siswa itu adalah pak Jiwo sang guru PNS, Pak Sunandar sosok wirausahawan toko baju dan Pak Sudarso tuan ajudan Bupati,
Status mereka bertiga di dalam masyarakat tidaklah buruk, bahkan cukup terpandang, berpenghasilan tetap dan juga lancar untuk membayar iuran sampah.
"Jadi katakan padaku Ryan, kenapa kau melakukan tindak kekerasan kepada mereka bertiga." Tanya pak kepala sekolah serius.
Perlahan Ryan maju dan berdiri tepat di sebelah meja para tamu...."Ini cukup menarik untuk dibahas, bapak kepala sekolah dengan pendidikan bergelar profesor ilmu matematika, benar-benar mengajukan pertanyaan berbobot."
"Tidak perlu banyak basa-basi cepat katakan." Ucap pak Jiwo yang tidak bisa diajak bersabar.
"Jangan terburu-buru pak PNS yang sangat mulia, aku ingin mengatakan sebuah logika sederhana." Balas Ryan tersenyum santai.
"Omong kosong, pandai sekali kau bermain dengan perkataan mu."
"Ini bukan permainan... Hmmm ya mungkin memang benar, aku ingin bermain imajinasi yang membuat kasus tiga anak anda menjadi menarik. Jadi tiga dan satu banyak mana ?." Pertanyaan aneh di ajukan oleh Ryan.
"Tentu saja tiga." Pak Jiwo menjawab dan yang lain setuju.
Ryan mulai mengangguk-anggukkan kepalanya tak lazim, ibarat seorang ahli fisika yang hendak menemukan rumus dalam perhitungan hutang piutang.
"Benar sekali, pak PNS ternyata bisa menggunakan 100 persen kapasitas otak anda untuk berpikir." Balas Ryan memberi pujian.
Namun dia tidak terima..."Kau mengejekku hah ?."
"Tidak, tidak, tidak, mana mungkin aku mengejek orang yang lebih tua, itu dosa."
"Sabarlah pak Jiwo biarkan Ryan melanjutkan apa yang ingin dia katakan." Pak Brahman membela.
Ryan lanjut menjelaskan..."Terimakasih pak Brahman, jadi seperti ini... Ibarat anda di keroyok oleh tiga preman yang jelas memiliki badan lebih besar, berotot, tatoan dan brewok lebat menutupi mulut, apa mungkin anda akan menang ?."
"Tentu saja tidak, apa kau bodoh." Jawab pak Jiwo tersenyum sinis.
Ryan mendapat momentum untuk masuk dalam kesempatan...."Ya itu adalah ucapan yang menggambarkan diri anda sendiri. Lantas ketika anda berusaha melawan dan berhasil mengalahkan mereka dengan ilmu kungfu chef, apa anda mau di salahkan ?."
"Maksudmu kau mengalahkan mereka bertiga dan kau sendirian, jelas mustahil, jelas-jelas mereka berkata kau membawa banyak orang untuk berkelahi." Hanya saja yang menjawab perkataan Ryan adalah orang lain.
"Huh ?, Mulut siapa yang mengatakan itu." Tanya Ryan berbalik badan.
"Aku ...." Juna mengacungkan tangan.
Ryan tahu kenapa Juna angkat bicara, dia ingin memutar balikkan fakta, karena saat ini orang menganggap bahwa Juna adalah pahlawan dan Ryan adalah penjahat. Tentu perkataan sang pahlawan lebih terpercaya dari pada penjahatnya.
"Lucu, lucu sekali, aku sampai tidak bisa tertawa karena tahu kebohongan mu ini sangat menjijikkan." Balas Ryan tertawa kecil.
"Tertawalah sepuasnya, aku memiliki saksi yang melihat perbuatan mu."
Tepukan tangan Juna memanggil tiga orang lain yang berjalan masuk dengan tertunduk murung dan sedikit memar di wajah mereka.
"Siapa mereka ?." Ryan bingung karena dia tidak mengenal ketiga orang itu.
"Mereka adalah murid dari sekolah sebelah yang tidak sengaja lewat dan tahu kejadian sebenarnya."
Ryan sadar dari sikap mereka bertiga yang tampak ragu-ragu dan juga luka memar di wajah itu, sebuah cara licik Juna memaksa mereka untuk menjadi saksi palsu.
"Coba katakan dengan jelas apa yang terjadi, Seno." Perintah Juna kepada Seno.
Satu murid lelaki bernama Seno itu perlahan maju, dia pun mulai mengemukakan cerita dalam versinya sendiri.
"Saat itu, ketika siang hari yang terik dengan matahari berada di atas kepala, rasa haus sudah mengeringkan tenggorokan..."
Ryan mengangkat tangan untuk mengkoreksi...."Tunggu, bukankah jam 3 sore waktu itu langit mendung ?."
"Itu benar. Aku ingat kalau sekira jam setengah 6 menjelang malam, barulah turun hujan." Tambah Sela menguatkan sanggahan Ryan.
Tampak bingung, tapi Seno mengubah alur cerita...."Ah iya mendung, tapi kami bertiga merasa haus dan mampir ke taman mencari warung dan membeli minuman."
"Taman sebelah mana yang kau maksud, jika taman komplek Cermai indah, tidak ada warung."
"Lucu sekali, aku tidak pergi ke sana.... Jadi jelas kau hanya mengada-ada."
Sontak saja, lelaki bernama Seno itu terdiam di tempat, semua yang dia ucapkan tidak lebih dari karangan cerita fiksi belaka.
"Aku percaya, jika satu orang ini dipaksa oleh Juna untuk mendongeng untuk mempersulit masalah ku. Benar begitu kan, Sano." Ucap Ryan.
"Ti...tidak, aku tidak dipaksa."
"Baiklah, itu tidak penting." Ryan tidak berharap apa pun, karena sadar Sano diancam oleh Juna.
Sano melangkah mundur setelah semua kesaksiannya terbantahkan oleh Ryan. Juna pun terlihat semakin kesal, dia sudah mengepalkan tangannya seperti ingin memukul Sano.
Hanya saja, di depan semua orang tentunya dia masih berusaha menahan diri.
"Kalau begitu, apa yang bisa membuktikan jika kau tidak bersalah."
"Pertanyaan bagus... Ini yang aku tunggu."
Senyum Ryan melengkung lepas dan berjalan maju ke meja para tamu, mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Kemudian memilih sebuah pemutaran video dengan suara jelas terdengar di telinga mereka.
Mata semua orang terbuka lebar, melihat bagaimana perilaku tiga orang mulai mengeroyok Ryan tanpa memberi kesempatan.
Juna terkejut..."Darimana kau memiliki video ini."
"Apa perlu aku menjawabnya ?." Tersenyum Ryan puas.
Di ikuti oleh tiga korban yang melihatnya bersama..."Jelas itu tidak benar, ini editan, kami bertiga adalah korban, dan dia yang melakukan pemukulan kepada kami."
"Aku sendirian dan kalian bertiga, lantas apa semua bekas luka yang aku dapatkan ini muncul begitu saja, tentu aku membela diri." Tegas balasan dari Ryan.
Jiwo merasa Ryan semakin kuat mendorong anaknya ke sudut yang bersalah, dia pun angkat bicara..."Tapi apa kau lihat, seberapa parah anakku mendapat perawatan."
Sela tidak menyukai sikap Jiwo... "Lantas apa yang harus Ryan itu lakukan ketika di keroyok oleh mereka bertiga, pasrah saja begitu paman ?."
"Kau gadis kecil banyak bicara, dasar tidak tahu sopan santun." Balas jiwo keras kepada Sela.
"Pak Jiwo, berani kau bicara dengan nada tinggi kepada istriku, kau akan tahu akibatnya." Brahman tidak membiarkan PNS itu berbuat seenaknya.
Ryan tersenyum puas, karena saat ini bukti ada di tangannya, meski mereka memaki-maki hingga mulut berbusa, dia tidak peduli.
"Video ini hanya salinan, aku sudah mengcopy nya di ponsel lain, aku bisa dengan mudah mengirimkan rekamannya ke media sosial, stasiun televisi, koran harian, warung kopi, atau kemana pun, aku yakin itu akan menjadi video viral... Kalian bertiga bisa terkenal." Tawa Ryan keras mengejek dan semakin bersemangat.
Juna marah ..."Kau licik, tidak tahu diri. Dasar pecundang."
"Teruslah kau menggonggong Juna, kau mengatakan aku licik, aku tidak peduli... Untuk apa aku harus menerima pembullyan dengan lapang dada, kalau bisa menyingkirkan sampah-sampah seperti kalian."
Tidak ada yang bisa berkomentar untuk melawan argumen Ryan. Semua orang terdiam di tempat, bahkan ketiga wali murid sebagai dalang atas pemukulan Ryan meneguk air ludah karena khawatir.
Namun satu orang tua yang sebelumnya cuma diam, yaitu pak Sudarso, kini dia mencoba untuk bicara...."Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, ini hanya kesalahpahaman, kenakalan anak muda, jadi...."
"Apa bapak-bapak ini bercanda, saat kalian merasa ada di posisi yang benar, kalian semua mendorong ku layaknya penjahat... Sedangkan sekarang, aku sudah membalikkan keadaan, epic comeback, kalian berlagak bijak, sopan dan ingin berakhir kekeluargaan. Apa kalian sedang melawak ?, tapi maaf, aku tidak tahu dimana letak lucunya."
Ryan tidak memiliki alasan untuk berdamai begitu saja, mata harus dibalas dengan mata, mereka bukan orang yang memberi belas kasih, dan Ryan pun bisa melakukan hal sama.
"Kau terlalu banyak meminta, sudah bagus kami tidak membawa polisi datang kemari." Sebuah ancaman klasik seorang ajudan Bupati untuk memaksa orang-orang miskin seperti Ryan agar tidak berani melawan.
"Aku tidak peduli jika kalian membawa polisi, lurah, camat, bupati, pengacara, hakim atau sebagainya, aku memiliki bukti kuat dalam video ini dan kalian bisa apa ?." Balas Ryan dengan berani.
Ajudan Bupati, pak Sudarso seakan tidak mau menerima jawaban itu, melangkah maju dan siap memberi satu tamparan kepada Ryan.
Tapi dari belakang, satu sosok bertubuh tinggi besar datang dan menangkap tangan orang tua itu.
"Apa kau tidak memandang usia pak tua, beraninya main kasar dengan seorang anak kecil." Ucap lelaki itu yang ternyata adalah Jaelani.
Siapa yang menyangka, jika Nela dan Narmo tahu masalah ini, Sehingga membawa ayah mereka untuk datang membantu.