Ice Cream

Ice Cream
Segitiga pusaka



Hari-hari berjalan seperti biasanya.


Ryan menjalankan tugasnya sebagai penjaga untuk Reina, pagi hari beranjak masuk ke rumah Brahman dengan maksud membangunkan wanita pemalas yang gemar merepotkan orang lain itu.


Memasuki ruang tamu, sosok lelaki buntal duduk santai dengan sebuah koran pagi, secangkir kopi, roti lapis dan cerutu di mulutnya. Sebuah rutinitas untuk Brahman karena dia menikmati suasana layaknya seorang raja.


"Ryan kemarilah." Panggil Brahman yang melihat Ryan masuk.


"Ada apa pak ?." Sopan Ryan menjawab panggilannya.


"Kau selalu datang sepagi ini, aku salut kau benar-benar menjadi anak yang rajin."


"Itu sudah menjadi kebiasaan ku pak, karena aku tidak mungkin membiarkan ibu selalu repot untuk mengurus rumah."


Sepeninggal ayahnya, Istianti pergi pagi pulang sore, atau pun pergi sore pulang pagi, bekerja sebagai kuli pabrik plastik yang menjalankan sistem tiga shift, tentu membuat Ryan harus bisa mengurus dirinya sendiri.


Ryan tidak menolak untuk memasak, mencuci atau pun membersihkan lantai, karena dia tahu, bahwa ibunya sudah terlalu lelah dengan rutinitas pekerjaan yang menguras banyak waktu dan tenaga.


Agar tidak dianggap beban keluarga, maka Ryan haruslah berguna untuk meringankan pekerjaan ibunya di rumah.


"Aku sedikit berharap jika Reina seperti mu... setidaknya dia bisa bangun lebih pagi agar tidak menjadi wanita pemalas, bukan tentang hal lain." Perjelas Brahman.


Bagaimana pun Ryan sadar atas sindiran Brahman, siapa juga yang ingin seperti dirinya, lelaki udik, dekil, kusam dan madesu (masa depan suram).


"Aku tahu itu pak." Ryan masih coba untuk tersenyum.


Brahman mengambil dompet dari belakang celananya dan mengeluarkan dua lembar uang merah bergambar wajah presiden pertama Indonesia yang tersenyum cerah.


"Ambilah ini, aku yakin kau tidak mendapat uang saku untuk sekolah." Kata Brahman.


Ryan tidak menolak untuk sebuah uang, meski dia membenci sosok lelaki buntal itu, tapi jika Ryan keras kepala dan menolak pemberian Brahman, maka dia akan mendapat kerugian saja.


"Terimakasih pak."


Tidak lama, Sela yang datang dari arah dapur berjalan santai dengan memberi senyuman saat menyapa Ryan.


"Nyonya, selamat pagi." Ucap Ryan sopan.


"Ini belum jam 6 dan kau sudah datang."


"Bukankah seperti biasanya nyonya."


"Hmm tapi Reina masih tidur."


Ryan tidak mungkin memanggil Sela dengan sebutan 'kakak' seperti yang dia inginkan ketika ada di sebelah Brahman.


"Biar aku yang membangunkan nona Reina."


"Itu akan sedikit membantuku."


Sela tahu seberapa sulit membangunkan sang tuan putri pemalas, bahkan jika dalam kondisi 'M' Reina akan mengamuk dan marah hanya karena ketukan pintu.


Ryan berdiri...."Kalau begitu, biar aku bangunkan nona Reina terlebih dahulu."


"Apa kau tidak ingin sarapan roti bakar dulu ?."


"Tidak perlu, nyonya, terimakasih."


Namun ajaibnya, baru Ryan naik ke lantai dua menuju kamar Reina, sosok wanita pemalas itu sudah berdiri dengan menyilaukan tangan di depan dada.


Walau pun Reina sudah bangun, tapi wajah kusut dan rambut masih berantakan. Mungkin dia terbangun karena mendengar suara berisik pembicaraan Ryan dan Brahman dari lantai bawah.


"Oh, kau sudah bangun nona Reina... Kalau begitu aku tunggu di bawah."


"Tunggu kau jangan pergi, masuk lah."


"Kenapa ?, Bukankah kau harus mandi dan bersiap-siap, tidak mungkin aku menjagamu di dalam kamar." Jawab Ryan yang jelas menolaknya.


"Jangan banyak bicara." Reina menarik paksa tangan Ryan masuk.


Ruang kamar Reina masih seperti biasanya, hancur, satu kata itu sudah menggambarkan suasana yang di lihat oleh Ryan.


"Bagaimana mungkin kau bisa tidur dengan nyaman di ruangan ini."


Tidak senang Reina dengan perkataan Ryan..."Masalah ?."


Ryan berjalan ke arah satu kursi, dimana ada sebuah pusaka segitiga bertali dengan corak garis-garis tergeletak di atasnya.


Seakan tidak peduli benda apa yang Ryan lihat, dia mengambilnya dan melempar ke atas ranjang Reina.


Melihat hal itu, Reina yang hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuh telan*jang sebelum mandi, dia menunjukkan ekspresi tidak senang kepada Ryan.


"Jangan seenaknya melempar barang milik orang lain."


"Harusnya kau letakkan itu ke tempat yang benar, itu tidak nyaman untuk aku lihat, bagaimana pun juga aku tetaplah lelaki."


"Oh, kau lelaki ?."


"Memang selama ini kau pikir aku siluman ?, Apa perlu kau melihat buktinya." Balas Ryan.


Reina berjalan semakin dekat ke tempat Ryan, tanpa merasa malu sedikit pun yang hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya, kini duduk di atas pangkuan Ryan.


"Apa yang kau lakukan, cepatlah pergi mandi, aku disini tidak untuk melihatmu striptis."


"Aku hanya ingin membuktikan jika kau benar-benar lelaki." Jawab Reina masih menggodanya.


"Tidak perlu ada yang harus aku buktikan."


Ryan masih bisa menahan diri, mengendalikan semua pikiran untuk bisa tenang dan tidak terhasut rayuan maut Reina.


Namun, entah jika itu adalah orang lain, aroma harum tubuh Reina yang meski belum mandi, halus kulit putih tanpa cacat dan juga bisikan merayu bisa dipastikan siapa pun akan hilang kendali.


"Apa karena kejadian malam itu, kau benar-benar berubah menjadi pela*cur."


Ekspresi Reina berubah marah dan segera berdiri untuk memberi satu tamparan keras ke arah pipi Ryan. Namun cepat tangan Ryan menangkapnya, menunjukkan tatapan langsung ke mata Reina.


Tidak bisa mengelak ketika Ryan coba mendekatkan diri hingga bisa dia rasa kalau tubuh mereka saling bersentuhan.


"Apa ?."


"Tidak, bukan apa-apa. Hanya sedikit terpikirkan olehku, apa kau terbiasa melakukan hal ini dengan semua lelaki." Kata Ryan menyindir Reina.


"Jangan bercanda." Tapi dijawabnya dengan marah.


Reina menarik kembali tangannya dan berjalan pergi menuju kamar mandi.


Di bawah rintikan shower, Reina bisa mengingat jelas sentuhan tangan Ryan meski terasa sedikit kasar.


"Bagaimana bisa dia berpikir aku mau melakukan hal-hal memalukan itu dengan setiap lelaki." Gumam Reina.


Mulai mengeringkan tubuh, Renia berdiri di depan cermin untuk merapikan rambut yang basah.


"Harusnya dia bersyukur karena aku memberi perhatian, tapi dia berpura-pura tidak tertarik, dasar lelaki."


Membanting sisir di tangannya, dan Reina kembali mengoceh.


"Aku pastikan dia memohon di depanku." Ucapnya tersenyum sendiri.


Beranjak keluar dari kamar mandi, Reina sedikit terkejut dengan apa yang dia lihat di depan matanya sekarang. Dimana Ryan sekarang sedang memegang sesuatu di tangan.


Sebuah kalung liontin plastik miliknya. Tentu Renia sadar, jika ada alasan yang membuatnya terkejut ketika Ryan melihat benda itu.


"Oh, kau sudah selesai, cepat ganti bajumu dan kita berangkat sekolah." Ucap Ryan selagi menaruh kembali liontin itu di atas meja.


Ryan pun mengambil satu set pakaian sekolah yang tergantung di lemari dan memberikannya kepada Reina.


"Kalau begitu, kau keluarlah, aku akan ganti pakaian."


"Ok."


Entah kenapa Ryan merasa aneh, karena dia mendengar jawaban Reina cukup lembut dan menunjukkan wajah malu.


Hingga setelah Ryan keluar, Reina mengambil liontin yang tergeletak di atas meja. Tergambar dalam pikiran untuk ingatan tentang mereka berdua di masa lalu.


Seorang gadis kecil menangis karena kehilangan hadiah ulang tahun pemberian ibunya. Namun digantikan oleh liontin plastik dari hadiah dalam snack ciki milik seorang anak lelaki.


Dia adalah Ryan, sosok yang membuatnya jatuh cinta, meski pun dulu Reina tidak tahu apa itu cinta. Sangat sederhana namun membekas dalam ingatan, sampai akhirnya dia telah lupa untuk waktu yang lama.