Ice Cream

Ice Cream
kebohongan



Jaelani melihat semua, tentang pertemuan seorang anak dengan kedua orang tuanya, wajah yang layu, kerinduan satu sama lain dan berat hati untuk mengakui perasaan masing-masing.


Bagaimana pun seorang Istianti yang dia kenal sangatlah teguh di dalam pendirian, ketika berkata A tidak sekali pun berganti menjadi C, D, atau juga F.


Namun Jaelani menyaksikan sendiri, jika Istianti yang tidak ingin melibatkan diri dengan keluarga Jayanaga. Kini menundukkan kepala untuk memohon bantuan kepada kedua orang tuanya.


Memang bukan hal aneh, ketika ada seorang anak meminta sesuatu kepada ayah dan ibu mereka. Terlebih lagi, mereka berasal dari keluarga konglomerat yang dimana hartanya menumpuk ibarat gunung emas. Tidak akan sulit membeli sebuah rumah saat anaknya ingin bermain rumah-rumahan.


Tapi selama tujuh belas tahun Jaelani mengenal Istianti, tidak sekali pun Jaelani mengetahui tentang masalah yang di sembunyikan antara dia dan keluarganya.


Dia ingat seberapa ingin Abram membawa Istianti pulang ke rumah, tapi selalu saja ditolaknya dengan marah. Sampai hari ini, Jaelani sadar, bahwa keluarga Istianti atau nama aslinya Istian Azalia Jayanaga, adalah putri konglomerat dari pulau Sumatra.


Beranjak keluar dari restoran, Wirakarna masih bersikap keras kepala, dia jual mahal untuk sekedar memeluk Istianti. Namun berbeda dengan Dianti, sebagai seorang ibu, tentu kerinduan kepada Isti selama dua puluh tahun ditumpahkan dalam pelukan.


Dianti memberikan secarik kertas ke tangan Isti ..."Isti, simpan nomor ibu ini, jika ada masalah, atau kau memerlukan bantuan apa pun, katakan saja."


"Terimakasih ibu, ayah."


"Aku masih belum memaafkan mu, ini hanya karena ibumu memaksa, jika tidak..." Kata Wirakarna yang langsung di potong oleh Dianti.


"Tua Bangka, jangan keras kepala, kau sudah tua, ingat umur, putrimu meminta bantuan, harusnya kau berusaha untuk memenuhi keinginannya." Ucap Dianti kesal dengan sikap Wirakarna.


Mereka berdua pun segera pergi dengan mobil yang sudah di siapkan oleh para pengawal pribadi.


Begitu juga Jaelani yang sudah menyalakan mobil untuk bersiap pulang. Hingga di dalam perjalanan, Jaelani ingin bertanya tentang rasa penasarannya kepada Isti.


"Apa Abram tahu tentang asal usul keluarga mu ?." Tanya Jaelani.


Tanpa emosi dan hanya menatap keluar kaca mobil Istianti menjawab .... "Ya dia tahu, Abram selalu ingin membawaku pulang dan menyelesaikan masalah yang aku miliki."


"Tapi kenapa kau tidak melakukannya."


"Ini tidak sederhana Jae, aku sudah memutuskan pergi dan meninggalkan keluarga ku... Namun tepat sebelum Abram meninggal, aku berjanji akan pulang jika dia mau keluar dari pekerjaannya dengan Brahman. Hanya saja semua tidak berjalan seperti harapan." Lemas jawaban Isti untuk menggambarkan betapa hancur kebahagiaan itu saat tahu Abram meninggal.


"Bukankah sekarang waktu yang tepat untuk mu pulang."


"Waktu yang tepat kah ?, Sayang sekali, Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu lebih lama lagi." Balas Istianti melengkungkan sedikit bibirnya.


Jaelani sadar ada sesuatu dibalik ucapan Isti..."Apa maksudmu ?."


"Itu tidak penting, selama tujuanku sekarang bisa tercapai, aku ...."


Wajah Istianti tampak pucat, suaranya begitu serak dan layu, tiba-tiba terdengar batuk begitu dalam.


"Apa kau baik-baik saja Isti..."


"Tidak apa-apa, aku harus pulang, aku yakin Ryan menunggu di rumah."


Sekali lagi, suara batuk dari Isti semakin kuat, hingga terlihat ada noda darah yang menempel di telapak tangannya.


"Tapi kau tidak terlibat sehat, kita harus pergi ke rumah sakit."


"Jangan, aku hanya ingin pulang." Suara Isti semakin lemas.


Isti sudah menahan diri ketika bertemu dengan kedua orang tuanya, mencoba terlihat sehat meski dia tahu rasa sakit yang datang sangat menggangu.


Meski Jaelani khawatir, tapi dia melakukan seperti yang Istianti minta.


"Ok, baiklah...." Jaelani kuat menginjak gas membawa mobil lebih cepat.


Tapi baru setengah perjalanan untuk sampai ke rumah, wajah Istianti semakin pucat, suara batuk yang tidak berhenti, dan hembusan nafas menjadi lebih pelan, hingga beberapa saat kemudian, tubuh Isti jatuh dan tidak sadarkan diri.


Membawa mobil untuk menepi, Jaelani mencoba membangunkan Isti.... "Isti, sadarlah... hei...."


Tidak mendengar jawaban apa pun dari Isti, Jaelani memeriksa pergelangan tangannya, dan dirasakan denyut nadi sangat lemah, dia tahu bahwa kondisi Isti bisa dibilang darurat.


Tanpa tahu harus melakukan apa karena dia bukan dokter, Jaelani memutuskan banting setir dan menuju rumah sakit terdekat.


*******


Jam 11.04, Ryan yang baru sampai di depan rumah, Dan ketika membuka pintu, dia merasakan jika didalam rumah begitu sepi.


Ini tidak seperti biasanya, karena dia sangat tahu ibunya bukan orang yang tidur sebelum tengah malam. Hanya saja, menengok ke kamar, Ryan tidak menemukan sang ibu, begitu juga di ruangan lain.


"Dimana ibu, apa mungkin ibu kembali ke rumah Brahman." Pikir Ryan untuk kemungkinan yang pasti.


Tiba-tiba saja, suara dering telepon milik Ryan menerima panggilan masuk atas nama kontak Jaelani yang tercantum dengan huruf kapital.


Merasakan sensasi yang membuat Ryan tidak nyaman, karena itu sangat jarang terjadi. Ryan sadar di jam 11 malam untuk apa Jaelani menelepon kecuali dengan alasan penting.


Ryan menerima panggilan...."Halo pak Jae, ada apa ?."


"Ryan, kau harus kemari..."


Terdengar aneh, dimana suara Jaelani begitu gugup dan tergesa-gesa...."Kemari kemana ?."


"Rumah sakit, ibumu di rawat."


Seakan petir menyambar di atas kepala... "Apa !!?, Dimana sekarang ibu ?."


"Rumah sakit Adelina, di jalan Serayu."


"Aku akan kesana." Ryan gugup dan bingung.


Dimana jarak antara rumahnya sekarang dengan rumah sakit Adelina cukup jauh, jika pun harus berjalan kaki, itu bisa dua jam lamanya.


Tapi Jaelani lanjut bicara..."Kau pergi ke rumahku, aku sudah minta Nella untuk meminjamkan motornya."


"Baik pak."


Tanpa perlu menunggu kejelasan dari Jaelani tentang apa yang terjadi, Ryan segera saja pergi keluar menuju rumah Jaelani.


Seperti sudah di persiapkan oleh Jaelani, Nella kini berdiri di depan rumah untuk menunggu Ryan datang.


"Aku sudah tahu, pinjamkan aku motor, aku akan pergi kesana."


"Biarkan aku ikut." Nella pun meminta.


Ryan tidak ingin menambah repot jika ada orang lain pergi bersama..."Untuk apa ?."


"Sudahlah jangan banyak tanya. aku juga khawatir sekarang."


"Kalau kau ikut, bagaimana dengan Narmo di rumah."


Tapi dengan entengnya Nella menjawab ... "Jangan khawatirkan itu, memang kau pikir ada penjahat yang berani masuk ke rumahku."


"Kau benar." Ryan pun setuju akan hal itu.


Tidak ada bantahan dari Ryan, karena memang siapa yang berani mencari masalah di rumah Jaelani jika masih sayang dengan nyawanya.


*******


30 menit kemudian...


Ryan yang kini masuk ke tempat parkiran di rumah sakit, sudah melihat Jaelani berdiri di depan pintu masuk dengan wajah serius.


"Pak Jae, dimana ibu." Tanya Ryan.


"Dia ada di kamar 73, kau tidak perlu khawatir, saat ini kondisi Istianti sudah membaik." Jawab Jaelani sembari menepuk pundak Ryan.


Hembusan nafas lega keluar dari mulut Ryan, kegelisahan sepanjang perjalanan seakan lepas begitu saja, setelah mendengar penjelasan Jaelani tentang ibunya.


"Memang apa yang terjadi, tidak biasanya ibu sampai masuk ke rumah sakit."


"Aku tidak tahu, saat kami dalam perjalanan pulang, ibumu tiba-tiba saja pingsan." Balas Jaelani.


"Perjalanan pulang, memang pak jae dan ibu pergi kemana." Itu yang Ryan bingung.


"Istianti meminta ku mengantarnya untuk bertemu orang."


"Dia tidak mengatakan kalau akan pergi."


"Sudahlah jangan pikirkan itu, sebaiknya kau pergi menemui Istianti terlebih dahulu." Balas Jaelani merasa tidak nyaman untuk menjelaskan secara detail tentang siapa yang Istianti temui sebelumnya.


"Ya pak Jae benar." Ryan pun menurut saja.


Setibanya di kamar 73...Ryan segera masuk ke dalam kamar tempat ibunya di rawat, dia bisa melihat senyum di wajah sang ibu di tunjukan kepada Ryan begitu lemas.


"Kau harusnya tidak perlu datang kemari, Ryan." Ucap Istianti lirih kepada Ryan dengan sedikit senyum lemas.


"Bagaimana mungkin aku tidak datang kemari, setelah mendengar kabar kalau ibu masuk ke rumah sakit."


"Tapi besok kau harus berangkat sekolah." Itu hanya sekedar alasan, dimana Istianti tidak mau melihat Ryan khawatir.


"Percuma saja aku sekolah, jika aku tidak bisa menjadi anak yang berbakti kepada ibu."


"Kau itu...." Di usap kepala Ryan perlahan.


Tidak bisa dipungkiri kebingungan dalam hati Ryan jika melihat sang ibu sakit, hanya Istianti lah satu-satunya keluarga yang tersisa, sehingga Ryan tidak ingin kehilangan siapa pun lagi.


"Apa yang terjadi ?, Aku tidak tahu kalau ibu sakit."


"Tidak apa-apa, ini hanya asam lambung ibu naik." Beralasan Istianti.


"Itulah sebabnya kalau ibu telat makan."


"Bukan telat makan, memang kita kadang gak punya apa pun untuk di makan." Balas Istianti tertawa lemas.


"Kenapa ibu masih sempat-sempatnya tertawa. Harusnya ibu bisa jaga kesehatan, tapi sekarang ibu di rumah sakit, dengan uang kita yang kadang tidak bisa membeli makanan, bagaimana caranya untuk membayar biaya rumah sakit."


"Soal itu.... Aku sudah membayarnya." Jawab Jaelani.


Jaelani berjalan masuk dan berdiri untuk membuat suasana kegelisahan Ryan menjadi lebih tenang.


"Jae." Isti merasa senang karena kebaikan dari Jaelani itu.


"Jangan khawatirkan soal biaya, kau cepat-cepat lah sembuh Isti." Ucap Jae.


"Terimakasih pak Jaelani."


Jaelani memberi Ryan uang..."Ryan, bisa kau beli beberapa minuman di luar."


"Baik pak."


"Kau temani Ryan." Jaelani pun meminta Nella ikut.


"Iya ayah."


Tentu bukan sekedar meminta membeli minuman, Jaelani ingin berbicara empat mata dengan Istianti, karena sesuatu yang serius sedang dia pikirkan.


Setelah Ryan keluar untuk membeli apa yang Jaelani minta, raut wajahnya seketika berubah.


"Kenapa kau berbohong Isti, penyakit mu sekarang bukan asam lambung. Aku sudah mendengar penjelasan dokter, jika kau mengalami Hepatitis dan itu sudah cukup parah." Ucap Jaelani di wajahnya yang rumit.


"Lantas apa yang kau inginkan ?, Menceritakannya kepada Ryan ?, Kau ingin membuat anak itu sedih ? Jika dia tahu bahwa ibunya akan pergi meninggalkan dia sendirian." Tegas jawaban Isti yang tidak ingin Jaelani memberitahukan kepada Ryan.


"Itu ... Tidak.."


"Kau berjanjilah Jae untuk tidak mengatakan apa pun, biar tuhan yang mengatur waktu hidupku." Isti meminta secara langsung.


"Baiklah."


"Ya... Aku tidak memiliki banyak waktu, aku tidak bisa kembali ke rumah, atau menepati janji kepada Abram, hanya satu ini keinginan ku yaitu menuntaskan semua dendam ini."


Tidak ada hal lain untuk Istianti pikiran tentang hidupnya sendiri, hanya sebuah alasan kenapa dia harus hidup dengan satu tujuan.