
Ryan datang ke rumah sakit.....
Di sana Jaelani masih duduk menemani Istianti yang tampak lemas, tapi melihat kehadiran Ryan, ekspresi Isti jelas tidak senang.
Ryan berjalan masuk dengan santai..."Ibu, aku datang."
"Kenapa kau disini." Dibalasnya oleh Isti marah.
"Kenapa ?, Tentu saja aku ingin menjaga ibu."
"Tidak bukan itu, ini masih jam sekolah, tapi kenapa kau datang kemari."
Senyum terpaksa ditunjukkan oleh Ryan..."Aku memutuskan untuk tidak berangkat."
"Kau itu....." Istianti berniat marah, tapi dengan kondisi tubuhnya yang lemah, dia hanya bisa mengelus dada.
"Maafkan aku, tapi seakan percuma, meski aku berangkat sekolah, aku merasa khawatir dengan kondisi ibu." Ryan beralasan.
Walau pun hanya sebagai alasan karena dia bangun kesiangan sehingga dipastikan terlambat, tapi pernyataan bahwa Ryan khawatir itu memang benar adanya.
"Apa kau sudah memberi tahu sekolah."
"Ya sudah ibu, aku mengirim pesan kepada Bu Gea... Dan ...." Ryan memfoto Ibunya dengan kamera.
"Kenapa kau memotret ibu."
"Hanya sebagai bukti, karena ibu Gea selalu kritis jika bersangkutan dengan kehadiran dan kedisiplinan murid, jadi aku harus mengirim foto ini agar ibu Gea percaya." Jawab Ryan.
"Terserah kau saja. Tapi ibu tetap tidak mau kau seenaknya membolos, apa kau tahu, ibu ingin kau menjadi orang pintar, dan hidup lebih baik di masa depan."
"Iya ibu aku paham." Patuh Ryan menjawab dengan kepala tertunduk.
Jaelani tersenyum sendiri, dia tahu bahwa Isti ingin Ryan tetap berangkat ke sekolah, tapi Ryan pun menganggap bahwa ibunya lebih penting untuk sekarang.
"Tenanglah Isti, anggap saja, apa yang Ryan lakukan adalah sebagai bakti kepada orang tua." Jaelani coba memberi pembelaan.
"Itu benar ibu, aku adalah anak yang berbakti kepada orang tua, Nusa, bangsa dan negara." Lanjut Ryan menguatkan pendapat Jaelani.
Lemas tangan Isti memijat kening... "Kau pandai sekali beralasan, aku tidak berpikir kau mirip dengan ayahmu."
"Tidak Isti, dia benar-benar mirip dengan Abram, karena sifat Abram tidak akan meninggalkan keluarganya saat susah." Jawab Jaelani .
Isti bisa mengingat hal itu, bagaimana pertemuannya dengan Abram karena dia tidak mau meninggalkan seorang wanita di tengah malam sendirian.
"Jae kau bisa pulang, Ryan ada disini sekarang."
Jaelani pun menerima tawaran Isti..."Baiklah, kini giliran Ryan yang harus menjagamu."
Setelah Jaelani keluar, seperti biasa Ryan mengambilkan beberapa makanan kecil dan juga buah-buahan yang dia potong, meski pun, sebagian besar semua makanan itu dihabiskan oleh dirinya sendiri.
"Ryan ambilkan tas ibu."
Menuruti keinginan ibunya, Ryan menyerahkan tas yang ada di meja sebelah tempat tidur itu.
Tangan Isti mengambil sebuah kartu ATM yang dia dapatkan dari Dianti dan memberikannya kepada Ryan.
"Apa ini ibu." Ryan bertanya bingung.
"Kau simpanlah kartu ATM itu, ibu sedikit berharap agar kau tidak menggunakan uang di dalamnya." Jawab Isti.
Tentu Ryan berpikir bahwa ATM yang Ibunya miliki adalah uang tabungan untuk masa depan dan dana darurat, sehingga di lain situasi yang penting, uang di dalamnya tidak boleh di gunakan.
"Aku mengerti ibu, tapi kenapa ibu menyerahkannya kepadaku."
"Entahlah, seperti terlintas di dalam benak ibu, jika kau harus menyimpannya, mungkin suatu hari nanti, kau akan memerlukan semua uang itu."
Jika perihal biaya pengobatan dan biaya rawat inap semua sudah ditangani oleh Brahman, bahkan sekarang, ibunya berada di kamar VIP dengan fasilitas lebih baik.
Ryan pun merasa ada sesuatu yang janggal dari sikap ibunya saat ini, tapi semua anggapan buruk yang terlintas didalam benak Ryan segera dia sangkal sendiri.
"Ya ibu ingin tahu, bagaimana hubungan mu dengan Reina."
"Kenapa kau terlihat gugup ?, Memang ada masalah dengan kau dan Reina ?."
"Tidak bukan masalah, hanya saja... Apa yang ibu harapkan antara aku dan Reina ?. Pada akhirnya, Reina tidak akan menganggap ku lebih dari orang yang membantu keperluannya." Balas Ryan sembari tertawa kaku.
"Jika memang begitu, tidak masalah. Tapi ibu ingin kau menjaga Reina, meski ibu tidak senang dengan Brahman, Reina tidaklah terlibat dalam masalah ayahnya."
"Aku mengerti ibu, aku akan menjaga Reina." Ryan jelas patuh kepada perintah Istianti.
Di sore hari, ketika Ryan dan Istianti beristirahat... Satu orang berjalan masuk dia adalah Brahman, kali ini dia datang sendirian, tanpa Sela atau pun Reina.
Brahman berjalan yang santai dengan kedua tangan di belakang, sepatu hitam kulit buaya mengetuk lantai dan juga cara dia menatap sekitar, membuat Istianti merasa tidak nyaman.
"Apa kau sudah merasa nyaman di ruang VIP ini, Isti." Tanya Brahman.
"Harusnya pak Brahman tidak perlu repot-repot, membiayai pengobatan di ruang yang mahal seperti ini."
"Tidak apa-apa, bukan masalah besar, kau bisa menganggapnya sebagai bantuan dari seorang teman. Apa lagi Abram sudah cukup banyak menghasilkan keuntungan saat dia bekerja denganku. Tentu apa yang aku berikan ini adalah harga murah." Jawab Brahman dengan ekspresi wajah seperti mengejek.
"Kalau begitu aku tidak akan sungkan, pak."
Melihat ke arah Ryan, Brahman menepuk pundaknya. Ekspresi wajah yang begitu tenang, tanpa senyum, tanpa keraguan atau apa pun untuk di perlihatkan.
"Ryan, bisa kau keluar sebentar, aku ingin bicara dengan ibumu empat mata."
Tentu Ryan tidak menganggap jika Brahman akan melakukan hal buruk. Ini adalah rumah sakit, ada pula CCTV yang memantau kondisi ruangan dan menjadi hal bodoh kalau Brahman berniat mencelakai ibunya.
"Baik pak." Ryan pun menurutinya.
Setelah Ryan keluar, Brahman duduk di sofa yang berada di sebelah ranjang Isti.
"Bagaimana keadaan mu sekarang, apa sudah merasa baik."
Tersenyum lemas Isti menanggapi pertanyaan Brahman ..."Aku tidak bisa mengatakan jika sekarang kondisi ku sudah membaik, paling tidak aku merasa nyaman."
"Baguslah kalau begitu."
Isti sadar bukan itu yang ingin dia bicarakan...."Aku tahu jika pak Brahman meminta Ryan keluar bukan untuk bertanya tentang kondisi ku saja."
"Memang benar, ada hal lain yang ingin aku tanyakan."
"Tentang apa itu."
Tanpa perlu Brahman beralasan dia angkat bicara...."Apa kau menaruh dendam kepadaku, tentang kematian Abram."
"Soal itu ...." Ragu-ragu untuk Isti bicara jujur, karena bagaimanapun sekarang di hadapannya adalah sosok musuh yang ingin dia singkirkan.
"Tidak apa, katakan saja semuanya, aku termasuk orang yang menerima kritik dan saran dari orang lain."
Tentu saja tidak, Brahman bukan orang yang begitu bijak dengan menghargai kritik terhadap dirinya. Dia selalu bertindak untuk tujuan pasti, tidak peduli itu benar atau salah, semua harus berada di dalam kendalinya.
Istianti merasa, bahwa dia tidak bisa lagi bersembunyi dibalik senyum patuh layaknya pembantu di hadapan majikan.
"Ya.... Itu adalah alasan kenapa aku kembali ke kota ini."
"Tentu saja, harusnya aku tahu sejak awal ...." Brahman tertawa terbahak-bahak.
Kini Isti cukup berani berkomentar..."Apa itu lucu ?."
"Tentu saja, karena kau salah kalau menuduh bahwa aku adalah dalang dari kematian Abram. Apa kau tahu, proyek jalan tol trans Sumatra yang kami berdua jalankan sebelum Abram tewas, membuat satu saingan perusahaan ku marah dan mereka berniat membunuh ku."
"Pada akhirnya, suamiku lah yang tewas karena menyelamatkan mu. Ya aku sudah mendengar cerita itu berulang kali."
"Kalau begitu, apa kau tahu, siapa saingan yang mengirim orang-orang itu untuk menyerang ku. Dia adalah Adisaka Husein, menantu keluarga Jayanaga. Saudara iparmu sendiri." Jawab Brahman serius.
Isti tidak pernah tahu soal itu, karena dari kasus yang di tangani oleh pihak kepolisian, hanya segerombolan preman datang dan membuat rusuh di tempat Brahman karena tidak mendapat uang keamanan.
Sedangkan nama Adisaka tidak pernah muncul, atau pun terlibat untuk urusan dengan Brahman.