Ice Cream

Ice Cream
Simulasi



Nella benar-benar memikirkan Ryan, dia merasa bersalah dengan ucapan kasar yang mengatakan dirinya seperti pecundang, itu salah. Merasa paham atas tindakan Ryan karena keadaan memaksa untuk tidak melawan.


Ryan hanya coba melindungi apa yang dia anggap penting. Tidak perduli soal harga diri, rasa malu, terinjak-injak atau pun rasa sakit memar di wajah. Itu luka kecil selama tidak menjadi masalah besar untuk keluarganya.


Mendengar banyak cerita dari ibu-ibu tetangga di warung sayur dan obrolan para bapak-bapak selagi main catur, menceritakan betapa malang hidup keluarga Ryan sejak Istianti dan Abram menikah, sampai akhirnya sang kepala keluarga itu tewas ketika bekerja bersama Brahman.


Seakan hidup tanpa ada hal baik bagi mereka, setelah Abram meninggal pun Istianti bekerja keras setengah mati. Hanya sedikit kompensasi, asuransi, atau bantuan subsidi, namun semua itu tidak membuat keluarga Ryan baik-baik saja.


Kejamnya kota Jakarta yang tidak kenal siapa saudara, biaya hidup tidak murah dengan segala bentuk iuran ilegal, dan perundungan dalam lingkungan sekolah di terima oleh Ryan.


Jika pun mencoba melawan, orang-orang itu dengan mudah untuk memutarbalikkan fakta karena satu alasan, uang selalu menjadi harga mutlak membeli keadilan.


Nela semakin merasa bersalah, karena jika dibandingkan dengan kehidupannya, dia sangatlah berkecukupan, tanpa kurang apa pun, dan hampir tidak ada yang bernai mencari masalah kepadanya.


Terpikir apa yang harus dia lakukan saat bertemu Ryan, ini seperti sebuah lelucon untuk menggambarkan setiap cara agar bisa meminta maaf.


Adegan demi adegan mulai bermain-main dalam imajinasi, dimana lelaki itu bertemu secata langsung untuk bicara...


'Yan... Maafin Gue, Lo tahu gue suka bercanda kan, masa Lo gitu aja tersinggung.'


"Gak, gak, gak, udah lama gak ketemu, gua gak bisa seakrab itu sama Ryan."


Sekali lagi dia membayangkan beberapa dialog di dalam pikiran sebagai simulasi permintaan maaf kepada Ryan.


'Ryan, maaf untuk sebelumnya, aku benar-benar tidak memahami kondisi keluargamu saat ini.... Bla, Bla, bla.'


"Itu bukan Gua, gua gak pernah ngomong kaya gitu..." Tapi ada rasa malu jika harus berkata secara formal.


Atau ..... 'Pergi ke pasar membeli sayur, maaf jika aku kasar, aku harap bisa akur."


Semakin rumit isi pikiran Nela..."Kenapa harus pantun."


Nela terlihat kesal sendiri, dia marah-marah sendiri dan bingung sendiri, bahkan saat tukang mie ayam lewat, dia cepat kabur karena takut salah sasaran jika Nela sampai ngamuk.


"Tapi... Ya tapi... Ahhh s*hit."


Keras Nela menendang tong sampah, dia merasa kesal sendiri karena bingung bagaimana caranya untuk meminta maaf.


"Intinya, gua harus minta maaf...." Ucap Nella untuk menjadi alasan.


Hanya saja, jarak sepuluh meter dari rumah Ryan, Nella menjadi ragu-ragu, berhenti sejenak, kemudian putar arah. Baru Lima langkah dia diam di tempat, terpikir banyak hal, tentang hubungan, persahabatan, kenangan, kebersamaan, ingatan masa lalu, susah, senang, sedih dan bahagia bersama-sama.


Nela tentu tidak berpikir bahwa satu kejadian bisa membuat semuanya menjadi canggung. Serba salah memang, berdiam diri salah, berpura-pura lupa salah dan menyalahkan orang lain pun salah.


"Ah... Sialan kau." Keras Nela memaki dirinya sendiri.


Namun tidak jauh di belakangnya seseorang...."Siapa yang sialan, kau maki-maki di depan rumah orang."


Dan memang benar, ketika melihat sosok yang baru saja bicara.


"Ryan..." Melihat lelaki yang dia maksud kini menampakan diri, tentu membuat Nela bingung dan malu untuk sikapnya barusan.


Menoleh ke kiri dan kanan, dia tidak bisa mencari alasan lain untuk menjawab pertanyaan Ryan.


"Ada apa Nela ?." Ryan bertanya bingung.


"Hmmm itu, aku mau bicara denganmu."


"Katakan saja." Ryan berusaha santai.


"Bagaimana dengan lukamu."


"Ini masih sakit, tapi aku baik-baik saja."


"Jadi... Hmm, itu... Apa kau sudah periksakan ke dokter."


"Hanya luka lecet dan sedikit lebam tidak perlu ke dokter, bahkan mungkin dokter hanya memberi obat merah dan di perban, jadi aku anggap itu percuma saja." Jawab Ryan.


Namun balasan Nella hanya sebuah tawa kaku yang begitu canggung karena dia tidak merasa bahwa perkataan Ryan adalah lelucon.


Ragu-ragu Nela bicara, hingga dia kuatkan keteguhan hati..."Aku tidak menyukai suasana ini, Ryan maaf untuk sebelumnya."


"Kenapa kau meminta maaf."


"Soal aku yang asal saja bicara tentang sikapmu saat dihajar tadi, harusnya aku tahu kau hanya berusaha menahan diri."


Ryan tersenyum sendiri kemudian tertawa..."Itu bukan masalah besar, kau tidak salah, aku tidak lagi bisa seenaknya sendiri, hanya sedikit bersabar, karena takut untuk membuat masalah."


Nella tahu, bagi Ryan dan ibunya, kesempatan yang mereka miliki sekarang menjadi satu harapan untuk masa depan nanti. Jika Ryan tidak bisa menahan diri, harapan itu tidak akan ada artinya lagi.


"Sedikit berjalan-jalan, ya kau tahu, banyak hal terjadi di hari pertama aku masuk sekolah, ini membuatku pusing."


"Tapi bukankah sudah terlalu malam." Balas Nela.


"Harusnya aku yang berkata demikian, ini terlalu malam untuk seorang wanita berjalan-jalan."


"Rumahku hanya beberapa blok dari sini, jadi untuk apa kau khawatir."


Itu menang benar, bahkan jika ada orang waras yang mencoba berbuat jahat kepada Nela, mereka tentu tahu akan berhadapan dengan siapa nantinya. Pak Jaelani mantan preman terkenal di seluruh penjuru kota.


"Ya hanya berbasa-basi agar kau sedikit memikirkan dirimu sendiri, seperti pepatah mengatakan, kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelakunya, tapi juga karena kesempatan."


"Waspadalah, waspadalah...." Lanjut Nella dengan serius.


Tapi setelahnya mereka berdua tertawa terbahak-bahak, karena mengingat sesuatu yang cukup lama tidak pernah di dengar lagi.


"Aku benar-benar ingat kata-kata dari acara berita siang.."


"Ayahmu selalu meniru adegan Itu." Ucap Ryan tertawa senang.


Hanya sedikit berbincang untuk hal-hal tidak berguna, mereka tidak mempermasalahkan apa pun, karena memang semua yang terjadi bukan hal besar.


"Ok, Gua pulang dulu."


"Biar aku antar." Ryan berjalan mengikuti Nella di sampingnya.


"Baiklah."


Meski rumah Nella cukup dekat, Ryan tidak bisa membiarkannya pulang sendirian, karena bagaimana pun dia tetaplah wanita, dan Pak Jaelani pernah meminta untuk menjaga Nella.


"Ryan, apa kau merasa terganggu soal Juna." Tanya Nella.


"Bisa aku katakan itu memang benar, tapi aku tidak berpikir tentang hal lain, hanya menyelesaikan sekolah tanpa membuat masalah."


"Jika kau terus membiarkan Juna bertindak seenaknya sendiri, kau hanya akan menjadi bulan-bulanan Juna." Balas Nella khawatir.


"Aku akan memikirkan cara agar dia tidak menggangu ku lagi."


"Kalau... Ya, kalau kau perlu bantuan, bilang saja padaku."


"Tentu, meski aku tidak minta, kau pasti membantuku." Balas Ryan yang paham sikap wanita satu ini.


"Itulah gunanya sahabat."


Nella merasa tidak nyaman menyebut dirinya sendiri sebagai sahabat, sedangkan kejadian sebelumnya dia seperti meremehkan Ryan.


Merasa dirinya buruk, tapi melihat lelaki yang kini berjalan dengan wajah tersenyum lepas, memberi perasaan aneh dan tidak nyaman karena Ryan terlalu baik.


Tidak pernah sekali pun egois untuk dirinya sendiri, semua kesalahan teman-temannya dimaafkan dengan mudah, tapi karena kebaikan Ryan itulah, ada rasa kesal di hati Nella, dimana dia tahu bahwa Ryan hanya menahan diri demi perasaan orang lain.


Hingga sampai di depan warung rumah Nella, sosok Jaelani sudah berdiri mematung dengan tangan bersilang di depan dada. Itu terlihat horor, bukan soal hantu atau sejenisnya, melainkan sorot mata tajam pak Jaelani membuat siapa pun semaput karena tekanan mental.


"Malam pak."


"Oh, kau Ryan, dan... Nella, ayah pikir kau sudah tidur."


"Soal itu..."


"Ah ayah tahu, kau sedang jalan-jalan malam bersama Ryan."


"Tidak bukan itu."


"Jangan khawatir, ayah tidak melarang mu berpacaran, bahkan ayah merestui kalian, tapi tetap saja, ayah tidak ingin memiliki seorang cucu sebelum kau lulus sekolah." Balas Jaelani tersenyum aneh.


"Tolong jangan bicara yang aneh-aneh pak. Kami hanya sedikit mengobrol saja."


"Ah begitu." Ucap Jaelani lemas.


Ryan melihat keanehan dari cara Jaelani menjawab...."Kenapa aku merasa pak Jaelani menyesal."


"Tidak bukan apa-apa."


"Kalau begitu aku pulang dulu." Ryan pun berpamitan.


Meski Ryan paham untuk anggapan Jaelani tentang hubungan mereka berdua, tapi sedikit pun Ryan tidak pernah membayangkan jika Nella memiliki perasaan lain yang lebih dari sahabat.