Ice Cream

Ice Cream
Masa lalu



Isti hanya diam ketika Jaelani mengemudikan mobil menuju satu tempat, dia mulai melamunkan banyak hal yang terjadi di hidupnya selama 17 tahun terakhir.


Diantara semua itu, ada tiga kejadian penuh kebahagiaan dan tidak akan pernah dilupakan oleh Istianti, yaitu pertemuan dengan Abram, pernikahan mereka dan kelahiran Ryan.


Wanita bernama lengkap Istian Azalea Jayanaga yang sudah tujuh belas meninggalkan keluarganya dan berganti nama menjadi Istianti untuk hidup baru, kini mengingat kembali tentang dirinya dari masa lalu.


Keluarga Jayanaga adalah garis keturunan langsung dari anggota kerajaan Sriwijaya yang masih melanjutkan hidup mereka hingga sekarang.


Terlahir di dalam keluarga kaya raya dan bisa dibilang berdarah biru, hidup Istian ibarat tuan putri dengan mahkota di atas kepala.


Apa pun yang dia inginkan tersedia tanpa perlu bersusah payah, bahkan selalu ada pelayan dan pengawal mengikuti dari belakang untuk membantu segala keperluan Istian.


Kekayaan keluarga Jayanaga meliputi berbagai macam perusahaan yang mereka bangun dan berkembang besar, aset-aset pribadi seperti perkebunan kelapa sawit, kopi, karet, tembakau dan cengkeh begitu subur. Ratusan hektar lahan sawah tersebar di seluruh daratan Sumatra, atau pun peternakan sapi yang menyediakan pasokan daging untuk nasional. Adapun kekayaan lain dari sektor perikanan, perdagangan internasional dan juga properti.


Semua bisnis itu membuat keluarga Jayanaga menguasai puncak jajaran keluarga konglomerat di negara Indonesia.


Tapi didalam kekayaan keluarga yang tidak akan habis tujuh turunan itu, tidak benar-benar membuat Istian bahagia, dia kehilangan banyak hal tentang sebuah keluarga yang sesungguhnya.


Istian memiliki 3 saudara lelaki dan dua saudara perempuan, masih-masing dari mereka sudah hidup terpisah dan membentuk keluarga sendiri.


Jika itu saudara lelaki tidak ada paksaan untuk memilih siapa calon istrinya, namun bagi anak perempuan seperti Istian perjodohan adalah jalan yang harus dia terima tanpa bisa tawar menawar.


Sebuah perlakuan tidak adil bagi Istian, karena itu sama saja dengan menjual dirinya demi kepentingan keluarga, dan satu hari dia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah, tepat sebelum hari perjodohannya tiba.


Perjalanan Istian yang kabur dari rumah membawanya pergi ke kota Jakarta, dia memutuskan menjalani hidup seperti orang biasa. Bekerja, berteman dan menikmati waktu tanpa harus terkekang peraturan di keluarga Jayanaga.


Hanya saja, tidak semudah itu lolos dari pengawasan ayah dan ibunya, menggunakan kekuatan keluarga Jayanaga, membuat Istian harus berpindah-pindah tempat agar bisa bersembunyi.


Hingga suatu ketika di dalam pelariannya, terjadilah krisis finansial, dimana semua uang habis untuk ongkos dan juga biaya makan sehari-hari.


Sebuah keputusan pahit pun dia ambil, yaitu menjual diri untuk sekedar mencari uang. Apa yang Istian pikirkan saat itu hanya, hidup bebas dan menjadi pela*cur masih lebih baik daripada terkekang oleh keluarganya.


Malam hari di pinggiran jalan, Istian duduk sendirian di bawah lampu, awalnya dia pun masih ragu-ragu, dan seorang lelaki datang ke arah tempatnya.


Dia berkata..."Kenapa kau sendirian di tengah malam seperti ini, dimana ayah dan ibumu ?."


"Ada urusan apa kau dengan ayah dan ibuku, mereka tidak ada." Jawab Istian yang kesal jika ada orang membicarakan orang tuanya.


Lelaki itu terkejut karena melihat cara dia menjawab seperti sedang mengejek...."Tidak ada, apa mungkin mereka sudah ..."


"Sayang sekali mereka masih hidup, paling tidak, itu aku tahu." Tapi dia masih menunjukan sikap acuh.


"Lantas kenapa kau sendirian disini, sekarang sudah jam 11 malam, kau bisa terlambat ke sekolah besok, apa mungkin kau tersesat ?." Tanya kembali dia bingung.


Rumit Isti menjelaskan, namun secara singkat dia memberi gambaran...."Apa om tidak tahu, seperti apa pekerjaan pela*cur itu."


"Ya kurang lebih.... tunggu. Maksud mu, kau pe*lacur, jangan bercanda, kau mau menjual diri ?, Memang apa yang bisa kau jual." Lelaki itu tertawa keras.


Dia merasa lucu melihat gadis yang mungkin masih berusia 15 tahun menawarkan diri sebagai wanita penghibur.


Merasa tersinggung, Isti berdiri dan menatap langsung dengan sedikit rayuan...."Aku tidak bercanda, kalau mau, aku bisa melakukannya dengan om."


"Jika aku lihat, kau masih SMP, kalau mau jadi wanita penghibur, setidaknya besarkan dulu da*da mu, Mana ada lelaki yang tertarik dengan wanita kurus." Kembali dia tertawa puas.


"Jangan sembarangan, aku sudah 19 tahun sekarang, bahkan aku sudah kuliah, tapi maaf saja kalau punyaku tidak besar." Marah Istian karena sadar jika Lelaki itu sedang mengejeknya.


Apa yang Istian ucap hanya sebuah kenyataan, dia terhitung mahasiswa universitas, meski pun saat ini dia mengambil cuti karena kabur dari rumah, tapi karena tubuhnya terbilang kecil, sehingga orang-orang bisa salah sangka dengan perbandingan usia yang jelas berbeda.


"Sudahlah, jangan bermain-main, sebaiknya kau pulang, biar aku antar, akan berbahaya jika gadis kecil seperti mu berkeliaran tengah malam." Ucapnya selagi mengambil tangan Isti dengan lembut.


"Aku tidak bisa."


"Tidak bisa ?, Kenapa tidak bisa ?."


"Intinya aku tidak bisa, kalau begitu biar aku ikut om saja, tentu om bisa melakukan apa pun kepadaku." Isti memberi tawaran.


"Padahal aku mengatakan apa adanya, tidak ada kesalahpahaman disini." Jawab Istian menggerutu.


Lelaki itu, berpikir rumit, tentu ada alasan kenapa seorang gadis kecil tidak mau pulang kerumahnya dan berpikir untuk menjual diri di pinggiran jalan.


Merasa tidak nyaman, jika harus meninggalkan seorang gadis kecil seorang diri di tengah malam.


"Kau bilang kau tidak bisa pulang."


"Yup, benar sekali."


"Jadi apa yang akan kau lakukan, jika aku pergi." Tanya lelaki itu.


"Tentu saja mencari orang yang mau memberi ku uang."


"Kau itu...." Semakin bingung lelaki itu karena khawatir melihatnya nekad.


Sejenak dia terdiam, berpikir banyak hal tentang lingkungan kota yang berbahaya ketika malam.


"Baiklah, ikut aku." Lelaki itu pun membuat keputusan.


"Gitu kan jelas. Jadi kemana kita akan pergi."


"Ke rumahku."


"Wah, itu nekad sekali, apa kau tidak takut jika ketahuan istrimu."


"Tidak ada yang perlu di takutkan, dan juga aku belum memiliki istri."


Istian berjalan mengikuti kemana Lelaki itu membawanya.


Dia pun tiba-tiba bertanya kepada Isti..."Katakan siapa namamu bocah."


"Hmmm kenapa om ingin tahu." Ragu-ragu untuk menjawab.


"Katakan saja."


"Aku Istianti, kalau begitu om namanya siapa ?." Balas Isti bertanya.


"Panggil saja Abram."


Di kota Jakarta ini, tidak perlu khawatir dengan ocehan para tetangga yang terganggu ketika melihat pasangan mereka kedalam rumah karena itu sudah menjadi hal yang lumrah.


Berada di dalam kontrakan yang Abram tempati seorang diri, membawa Istianti masuk, awalnya dia hendak membuka bajunya, tapi segera saja di tutup kembali oleh Abram.


Mengajaknya duduk, memberi segelas teh hangat, mie instan rasa ayam bawang, tambah telor setengah matang dan dilahapnya dengan wajah penuh kenikmatan.


Setelah satu mangkok mie instan habis oleh Istian, Abram meminta dia menjelaskan alasan kenapa dia berbuat nekad sampai menjual diri.


Tentu tidak semua dia katakan, terlebih di bagian intro perkenalan sebagai putri dari keluarga Jayanaga yang memiliki banyak aset kekayaan fantastis. Karena Istian takut, Brahman tergiur dengan uang dan menculik dirinya untuk meminta tebusan.


Selain itu, tentang perjodohan, kabur dari rumah, bekerja serabutan, makan seadanya, dan krisis finansial yang membuat dia kelaparan. Isti mengatakan semua kepada Abram.


"..... Begitu." Selesai Istian bercerita.


"Ah, aku mengerti sekarang, kalau begitu, mulai sekarang kau tinggal saja disini. Tidak perlu menjual diri atau apa pun, biar aku yang mengurus mu, sampai kau pulang nanti." Keputusan Abram sudah bulat.


"Kalau aku tidak berniat pulang ?." Dibalas Isti.


Abram kembali menunjukkan ekspresi rumit...."Ya.... Aku juga bingung, karena aku pun pastinya akan menikah dan memiliki keluarga. Biar saja aku pikirkan itu nanti."


Mulai dari saat itulah, Istian tinggal bersama lelaki yang dia kenal di pinggiran jalan dan orang-orang tetangga sekitar menganggap bahwa Istian adalah adiknya dari kampung dimana datang ke kota untuk bekerja.