
Diantara banyaknya pasien-pasien rumah sakit, atau para tamu yang datang untuk menjenguk saudara mereka di dalam rumah sakit.
Kehadiran Sela menarik perhatian semua orang ketika dia tanpa sengaja lewat, dimana fashion baju sedikit terbuka di depan dada dan punggungnya, atau pesona paha mulus tanpa cacat diperlihatkan begitu jelas.
Sela melangkah kaki dengan sepatu berhak tinggi yang menggoyangkan pinggul seperti model ketika berjalan di atas catwalk.
Bagi setiap lelaki yang sehat jasmani dan rohani tidak mungkin menolak sebuah pemandangan, hingga para suami lupa jika istri mereka sedang melotot bersiap melemparkan kursi.
Ryan berjalan mengikuti Sela di sampingnya pun menyadari akan semua pandangan mata dari para lelaki dipenuhi nafsu ke arah Sela.
"Nyonya..." Panggil Ryan berniat untuk bicara.
Tapi lirikan mata Sela ingin Ryan diam..."Kakak, sudah aku katakan, panggil aku kakak kalau tidak ada Brahman dan juga Ibumu."
Ryan mengulangi kembali..."Kakak, apa kak Sela tidak canggung di lihat oleh mereka semua."
"Kenapa harus canggung ?, Jika mereka merasa senang ketika melihatku, tentu menjadi hal baik, bukankah membuat orang lain bahagia adalah sebuah kebaikan." Jawabnya dengan santai.
"Ya benar sih, tapi juga salah. Karena setelah melihat kak Sela lewat, para lelaki itu langsung kena marah." Bingung Ryan menggambarkan situasi sekitar.
"Itu salah mereka sendiri, kenapa sudah memiliki istri tapi masih saja melihat wanita lain."
Rumit Ryan tentang satu wanita ini...."Aku merasa kakak benar-benar cocok sekali menjadi provokator."
"Mungkin sudah bakat alami." Tawa Sela serasa menerima pujian dari Ryan.
Seorang wanita secantik Sela, di usianya yang masih muda, masihlah memiliki pesona seperti artis cantik pemain sinetron. Begitu juga ditambah dengan semua perawatan wajah, kulit, kuku, kaki atau tangan, sulam alis, rebonding rambut dan di tambah lagi make-up natural, semakin membuat Sela menghipnotis para lelaki.
Bahkan untuk Ryan harus mengakui, jika dirinya bukan orang munafik yang bisa tertarik kepada Sela meski pun dia sudah memiliki suami.
"Jadi apa ada yang ingin kau katakan ?" Kini Sela bertanya secara langsung.
Namun Ryan berubah pikiran..."Sepertinya itu tidak perlu kak, aku merasa tidak enak hati."
"Kenapa kau merasa tidak enak ?, Apa salah mengatakannya ?, Aku bukan orang yang akan memarahi mu jika salah bicara."
"Bukan salah, tapi aku hanya bingung." Balas Ryan rumit.
"Jangan bingung, katakan saja." Sela pun memaksakan.
Kini Ryan mencoba bicara...."Baiklah, apa bisa aku ingin meminjam uang."
Sela jelas paham kenapa Ryan ingin meminjam uang, meski pun biaya rumah sakit sudah di tanggung oleh Brahman, tapi Bagaimana dengan biaya hidup untuk beberapa hari kedepan selama Istianti di rawat.
Ryan pun harus mondar-mandir, pulang pergi dari rumah, sekolah dan rumah sakit, itu juga memerlukan ongkos, hal-hal lain seperti untuk membeli makanan tentu harus dia pikirkan.
"Kau tidak perlu meminjam, aku bisa memberikannya." Ucap Sela santai.
"Benarkah itu kak." Ryan cukup bersemangat karena jawaban Sela melancarkan masalahnya.
"Tentu saja, tapi.... kita buat agar saling menguntungkan, aku berikan apa yang kau mau dan kau memberikan apa yang aku mau." Lanjut Sela dengan wajah yang menunjukkan niat lain.
Ragu-ragu Ryan bertanya..."Apa yang kak Sela inginkan."
"Kita bicarakan itu nanti."
"Baiklah."
Sela segera mengeluarkan sepuluh lembar uang merah dari dalam tasnya dan memberikan kepada Ryan.
Tentu saja Ryan sudah memikirkan matang-matang soal meminjam uang kepada Sela. Dia tidak mungkin meminta lebih kepada Jaelani karena sudah membantu ibunya, atau pun kepada Alex karena pekerjaan yang saat ini di jalaninya pun harus terganggu.
Satu-satunya pilihan adalah Sela, meski pun ada perasaan tidak nyaman ketika melihat senyum di wajahnya saat memberi syarat.
Setelah mengantar kepergian Sela hingga mendapat taksi, Ryan pun kembali menuju kamar rawat ibunya.
Wajah Reina tidak senang ketika Ryan masuk, dan tanpa perlu bicara terlebih dahulu, dia segera menarik tangannya untuk kembali keluar.
"Kenapa kau begitu lama mengantarkan wanita itu." Ucap Reina menunjukkan kekesalan.
"Hanya sedikit mengobrol tentang hal lain." Jawab Ryan tanpa bisa mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.
Namun Reina memaksa...."Hmmm, apa yang kalian obrolankan."
"Itu bukan hal penting..."
"Kalau bukan hal penting, kenapa aku tidak boleh tahu." Semakin kesal Reina karena tahu Ryan sengaja menutup-nutupi itu.
Tapi sikap Reina yang tidak terlalu banyak memaksa, membuatnya kesal..."Kau itu Reina, kenapa tidak senang dengan Sela. Dia hanya menawarkan bantuan, jadi apa salah untuk aku menerimanya."
Meski pun Ryan tahu Reina tidak akan senang ketika menyangkut soal Sela, tapi apa yang bisa diharapkan dari Reina, Ryan lebih membutuhkan bantuan Sela untuk sekarang.
"Kau tidak berhak marah kepada Sela, karena harus aku akui, saat ini aku memerlukan seseorang yang bisa menolong ku." Ryan sedikit memberi pembelaan untuk Sela.
Reina tidak senang dengan jawaban itu ..."Tapi bukankah masih ada aku disini, kenapa kau tidak bertanya kepadaku terlebih dahulu."
Sebenarnya malas Ryan menanggapi pertanyaan Reina, tapi semakin dia diam maka semakin besar kemarahan dia.
"Baiklah, aku tanya sekarang ?, Apa yang bisa kau lakukan untukku ?."
Reina bingung, dia tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Ryan..."Aku akan sesering mungkin datang berkunjung menemui Ibu Isti."
"Jika hanya itu, aku sendiri pun sudah cukup. Kau disini hanya akan membuat masalah saja." Tegas balasan dari Ryan.
Tapi karena cukup keras suaranya, bahkan ada bumbu-bumbu emosi dari raut wajah Ryan. Itu membuat Reina tertegun.
"Aku akan.... Aku...."
"Reina, mengurusi dirimu sendiri saja tidak becus dan kau coba menawarkan bantuan ?. Jangan bercanda."
"Tapi..."
"Sudahlah, jangan membahas apa pun, aku tidak marah, tapi untuk kali ini, aku tidak ingin kau memaksaku menolak bantuan dari Sela, karena dia yang bisa menolong ku."
"Terserah kau saja.."
Reina berjalan cepat dan pergi begitu saja.
Sekembalinya Ryan ke tempat sang ibu, Isti tentu merasa bingung, karena dia hanya kembali sendirian dan tidak terlihat Reina yang keluar bersamanya.
"Kemana Reina..." Tanya Isti.
"Sepertinya dia pulang ibu."
"Kenapa pulang ?."
"Mungkin dia lelah dan ingin segera pulang untuk beristirahat. Apa ada yang salah ibu ?." Balas Ryan dengan alasan seadanya.
"Tidak salah juga, tapi Reina meninggalkan tas nya disini."
Hembusan nafas Ryan terasa malas untuk keluar..."Pada akhirnya dia tetap membuatku susah."
"Apa yang kau katakan Ryan ?." Balas Isti bertanya karena sedikit mendengar keluhan darinya.
"Bukan apa-apa ibu, biar nanti malam aku akan mengantarkan tas Reina ke rumah."
Malam hari....
Jaelani menawarkan diri untuk bergantian menjaga Istianti sehingga tidak ada yang perlu di khawatirkan ketika Ryan harus pulang.
Isti pun tidak bisa membiarkan Ryan menemaninya sepanjang waktu, sedangkan dia harus tetap bersekolah, terlebih ada banyak pakaian yang belum di cuci.
Tapi sebelum pulang, Ryan menyempatkan diri untuk ke tempat Brahman, di kawasan perumahan elite tempat Reina tinggal, memang semua tampak sepi sekali pun ini barulah jam 7 malam.
Para penghuni rumah sekarang, sedang menikmati waktu untuk beristirahat, ditemani istri cantik, anak-anak yang imut dan juga sarapan malam bersama keluarga.
Begitu juga dengan tempat tinggal pak Brahman, dimana seorang satpam duduk diam melaksanakan tugas sebagai juru keamanan rumah melihat Ryan datang.
"Ryan, apa yang kau lakukan disini, bukankah ibu mu masih di rawat." Tanya paman Jaruki.
"Ya begitulah paman, aku pulang karena di sana ada pak Jaelani untuk bergantian mengawasi ibu."
Terlihat wajah rumit dari pak Jaruki."Oh begitu."
Tidak lama mereka saling bicara, dari balik pintu, seorang wanita muncul dengan baju piyama tipis dan berjalan keluar.
"Siapa itu pak ?" Tanya Sela kepada Jaruki dari jauh.
"Ini Ryan, nyonya, dia mau mengantar tas nona Reina yang tertinggal di rumah sakit." Saut Jaruki menjawab panggilan Sela.
"Suruh dia masuk."
"Baik nyonya."
Terasa aneh untuk Ryan, dia yang hanya ingin mengantar tas dan cukup di titipkan kepada Jaruki, tapi kenapa Sela ingin dia masuk. Tapi Ryan pun tidak bisa menolak perintah itu, berjalan mengikuti hingga ke ruang tamu dimana Sela duduk sendirian.