
Karena tidak tahu apa yang harus Ryan lakukan sekarang, dia pun memilih pergi ke pusat perbelanjaan di kota terdekat, dengan uang pemberian Reina, Ryan bisa membeli sesuatu untuk kebutuhannya.
Bagimana pun pindah sekolah membutuhkan banyak hal, seperti buku baru dan sepatu, meski sebagian besar pelajaran itu akan sama saja, karena Ryan harus mengulang kelas.
Berjalan sendiri menyusuri trotoar jalan, melihat pemandangan seperti perkotaan pada umumnya. Entah itu macet, para pedagang asongan, atau suara kenek angkot yang berteriak lantang seperti mau ngajak ribut.
Yang jelas Ryan sudah terbiasa dengan semua ini, bahkan di kota Jakarta terlihat jauh lebih parah dari pada kota tempatnya tinggal sekarang.
Ryan jelas memikirkan tentang perubahan sikap Reina, sungguh berbanding terbalik dengan Reina di masa lalu. Tentang sikap, cara bicara, gaya berdandan, dan kecantikannya.
Tapi apa yang bisa Ryan harapkan. Itu pilihan dari cara Reina untuk hidup, mengikuti alur pergaulan dengan kebebasan dan dia terlihat menikmati kebebasan itu.
Ya dia bukan Reina yang dulu, cara ketika melihat Ryan pun berbeda, kehadirannya hanya seorang pengganggu, lebih baik dia menjauh dan tidak mau terlibat dengan kegiatan Reina.
Ryan hanya perlu menuruti keinginan Reina, selama itu tidak menjadi masalah untuk janjinya kepada pak Brahman, dan bisa menebus kesalahannya kepada sang ibu.
Memang benar, jika hidup menjadi lelucon untuk mereka yang melihatnya, dan menjadi tragedi untuk mereka yang merasakannya. Itulah posisi Ryan sekarang .
Dia merasakan tragedi di dalam kehidupannya, dan di tertawakan oleh orang lain tanpa pernah mereka tahu seberapa banyak penderitaan yang harus Ryan tanggung.
Berjalan di sebuah pusat perbelanjaan, meski hanya dengan dua ratus ribu, bagi Reina itu memang seperti uang receh, tapi bagi Ryan ini bisa membuat Keluarganya hidup selama lima hari.
Tentu para SPG tidak akan repot-repot menawarkan diri .. maaf, menawarkan barang dagangan mereka kepada Ryan. Melihat style tukang parkir, berkemeja lusuh, celana jeans sobek-sobek dan sepatu kusam sudah di pastikan bahwa dia tidak akan mampu membeli apa pun.
Sedangkan Ryan pun beranjak ke toko sepatu dengan penawaran harga murah meriah dapat diskon pula, itu tidak bisa dia lewatkan karena melihat kondisi sepatu yang dia pakai sekarang begitu menyedihkan.
"Silakan kakak." Saut satu wanita penjaga toko.
Wanita cantik ber-make up tebal, bibir bergincu merah terang, atau wajah mengkilap glowing-glowing seperti kena siram minyak solar, kini datang untuk melayaninya.
Dia tersenyum karena keterpaksaan sebagai seorang pramuniaga toko, entah akan ada bencana alam atau segala kejadian, dia diharuskan untuk tetap tersenyum kepada para pembeli.
Ryan tahu itu ...
Dan juga Ryan bukan orang udik yang akan bingung membeli sesuatu di sebuah toko, paling tidak... dia sudah terbiasa masuk kedalam mall meski hanya untuk berjalan-jalan.
Menyaksikan interaksi antara penjual dan pembeli yang banyak maunya, menawar barang seenak jidat, dan pada akhirnya tidak membeli apa pun, kemudian berkomentar... 'Nggak ada yang bagus, semuanya murahan.'.
Sudah biasa terjadi, meski sebenarnya itu hanya sekedar kedok, bahwa mereka tidak membawa uang atau barang yang ingin mereka beli terlalu mahal. Mencari alasan agar tidak kalah gengsi.
Tapj Ryan tahu apa yang harus dia beli.... "Aku mencari sepatu yang murah saja, kalau bisa tahan lama, anti robek dan kuat menginjak api."
Wajah penjaga toko sudah bingung untuk menanggapi permintaan Ryan, cukup salut karena dia masih mencoba tersenyum.
"Kami tidak menjual sepatu kuda kakak, lagian juga kalau murah itu terlalu banyak syaratnya." Jawabnya dengan senyum terpaksa.
"Tidak adakah ? Hmmm... Kalau begitu sepatu apa saja yang penting bisa aku pakai." Standar Ryan di turunkan untuk niat sebenarnya.
'kalau sejak awal nyari yang murah, gak perlu kali minta yang tahan api.' pikir penjaga toko.
"Silakan kemari."
Ryan tidak berharap lebih untuk mencari kualitas dengan harga murah, dia pun sadar hanya uang dua ratus ribu mendapat sepatu yang bisa dipakai untuk satu tahun, itu sudah ajaib.
Wanita cantik yang mungkin masih usia dua puluh tahunan, rambut hitam pirang sebagian, memiliki style pakaian ibu muda terhormat, dan sepatu hak tinggi dengan langkah kaki anggun.
"Si*al kenapa wanita ini masuk ke toko sepatu murahan."
Tentu ini tidak masuk akal, dia yang menjadi istri orang kaya tanpa perlu khawatir untuk kehabisan harta sampai tujuh turunan dan sepuluh tikungan, masih tertarik melihat sepatu dari kulit karet.
Ryan memposisikan diri agar tidak terlihat oleh Sela, karena apa yang sela tahu, bahwa dia sedang menemani Reina pergi bersama teman-temannya.
Akan menjadi masalah bagi Ryan, bisa saja Wanita ini memberitahu kepada Brahman tentang kebohongan karena tidak mematuhi keinginan suaminya itu.
"Tuan bagimana dengan ini." Wanita penjaga toko datang di saat yang tidak tepat.
Sela tentu menaruh perhatian kepada Ryan, karena dialah satu-satunya pembeli di toko ini dan mencoba bermacam-macam sepatu hingga bertumpuk di depannya.
Ryan sadar, jika saat ini, Sela melihatnya begitu cermat, dia mungkin sedang tertawa karena tahu bahwa lelaki yang harusnya mengawasi Reina malah sibuk mencari sepatu murah di toko ini.
Tapi lepas nafas Ryan menjadi lega, ketika sela berjalan pergi keluar dari toko, tanpa mengatakan apa pun dan semoga saja dia tidak tahu.
"Jadi tuan ?, Apa ada yang cocok."
"Terserah saja, aku merasa pusing memikirkan antara sepatu dan masa depanku."
"Kalau begitu bagimana dengan ini."
"Ya ini terlihat baik, meski.... Ya biarlah." Ryan tidak lagi perduli.
Bukan karena Ryan menyesal dengan model sepatu yang dia beli, tapi menyesal kenapa harus melihat sela saat dirinya memilih sepatu.
Ditambah lagi, harganya mahal pula, seratus lima puluh ribu, meski itu dikatakan sudah diskon sekali pun, bagi Ryan sudah menyesakkan isi dompet.
Berjalan keluar, tangan Ryan ditarik oleh seseorang dan berkata... "Kenapa kau ada disini, bukankah kau bersama Reina."
Itu sela, meski Ryan tidak begitu tahu seperti apa suaranya, tapi orang yang mungkin mengatakan tentang Reina hanyalah dia.
"Nyonya, aku...."
"Aku tahu, kau pasti dipaksa pergi oleh Renia kan ?."
"Begitulah."
"Anak itu memang susah sekali diatur."
Sela tidak menunjukkan niat untuk memarahinya.
"Nyonya tolong jangan katakan apa pun tentang ini kepada tuan Brahman." Ucap Ryan meminta.
"Untuk apa aku mengatakannya kepada suamiku, ini salah Reina dan kau tidak bisa membantahnya."
"Ya begitulah."
Tidak ada niat dari Sela untuk memarahi Ryan, bahkan bisa di pahami jika Reina sudah banyak membuatnya sakit kepala, jadi dia merasa tahu kejadian apa yang dialami oleh Ryan sekarang.