Ice Cream

Ice Cream
belajar kelompok



Keesokan harinya....


Ryan yang terbilang murid rajin dan selalu berangkat ke sekolah cukup pagi, kurang lebih 06.30. Itu pun menyita banyak waktu, dimana dia harus menunggu tuan putri pemalas mempersiapkan diri.


Namun masih lebih baik, karena Ryan tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk pulang pergi menggunakan angkutan kota. Dimana artinya dia memiliki uang lebih dari hasil tumpangan mobil milik Reina.


Dan ketika Ryan masuk kedalam kelas, satu sosok bisa dia lihat sedang membersihkan lantai. Dia adalah wanita berkacamata dan kuncir rambut yang mengubah penampilannya.


Arum tampak tidak peduli saat Ryan datang, dia pun masih menyibukkan diri untuk tetap fokus membersihkan lantai.


Sebuah sapaan dari Ryan terucap jelas kepada Arum dengan santai... "Pagi."


"Ya, selamat pagi juga." Balasnya singkat.


"Kenapa kau sendirian, dimana yang lain."


"Masih belum berangkat."


Ryan berinisiatif untuk mengambil satu sapu dan ikut membersihkan kelas...."Biar aku bantu."


"Kau tidak perlu melakukannya, hari ini bukan jadwal piket mu."


"Apa membantu sesama teman itu salah ?." Balas Ryan.


Hanya saja ekspresi Arum tidak terlihat senang...."Tidak salah, tapi ketika mendengar ada orang yang mengatakan tentang 'membantu' dan 'teman' itu membuatku merinding."


"Entah kenapa aku merasa paham dengan ucapanmu."


Teman itu sendiri bagi Arum tidak lebih sebatas kata ganti subjek manusia yang sombong, egois dan mencari keuntungan dari orang lain.


Sedikit lebih baik karena Ryan memiliki dua teman, Narmo dan Nela, hanya dua itu. Sedangkan sisanya jangan di tanya kenapa, karena sebagian besar dari mereka akan datang ketika melihat adanya peluang mendapat keuntungan di dalam lingkaran pertemanan.


Selesai dengan pekerjaan piket, Ryan mengambil buku milik Arum yang di titipkan oleh Ayu karena tertinggal dalam loker.


"Ini milikmu kan ?." Ryan mengarahkan buku kepada Arum.


Melihat apa yang Ryan pegang, mata Arum terbuka lebar, dia langsung menyambarnya dengan cepat.


"Kenapa bisa ?."


"Kak ayu memintaku untuk memberikannya kepadamu." Jawab Ryan.


"Kau benar-benar menyelamatkan ku." Senyum Arum ditunjukkan dengan penuh ketulusan.


"Baguslah kalau begitu."


Membuka kebagian halaman belakang di bukunya, cepat lirikan mata Arum mengarah kepada Ryan.


Ragu-ragu Arum selagi bertanya...."Apa kau melihatnya."


"Melihat apa ?, Jika tentang puisi yang kau tulis, aku rasa itu cukup menarik untuk dibaca."


"Bagaimana mungkin kau sampai membacanya, itu rahasia pribadi."


"Ya mau dibilang tidak boleh sekali pun, aku sudah hafal setiap bait nya." Jawab Ryan tertawa sendiri.


Wajah Arum menyala merah karena malu...."Lupakan, lupakan semua yang kau baca."


"Jelas mustahil aku lakukan."


Tiba-tiba saja pintu terbuka, dan beberapa orang di kelas mereka mulai berdatangan, sikap Arum yang cukup banyak bicara kini terdiam di tempat, kemudian duduk di bangkunya sendiri.


Ryan sangat paham kenapa Arum menyembunyikan diri ketika berada di sekitar orang lain dan itu membuat mereka memiliki alasan yang sama. Tidak ada yang mengharapkan kehadiran mereka di tempat ini. Antara si kaya dan si miskin selalu terpisahkan oleh garis besar bernama Kasta sosial.


Arum cukup beruntung karena mendapat beasiswa dari yayasan Nawasena untuk bersekolah gratis hingga lulus, akan tetapi, pandangan sombong dari orang lain kepadanya, membuat Arum harus menerima kenyataan bahwa mereka menolak untuk dikatakan sebagai teman.


Jam pelajaran pertama pun di mulai....


Semua berjalan seperti biasa, hari-hari yang dipenuhi materi pelajaran dengan algoritma, sains, sejarah, dan bahasa Indonesia.


Hingga dimana jam terakhir mereka harus membuat kelompok untuk kegiatan belajar.


Siapa pun bisa melihat, jika Arum tidak beranjak dari kursinya ketika masing-masing siswa sudah memiliki Circle di dalam kelompok belajar mereka sendiri.


Ryan tidak menyukai atmosfer suasana dimana dia, Narmo dan Arum terasingkan.


Tanpa perlu ragu atau pun banyak bicara, Ryan datang ke meja Arum....


"Sangat di sayangkan, gadis cantik seperti mu tidak ada satu orang pun yang mau." Ucap Ryan terdengar santai.


"Ini bukan masalah tentang cantik atau tidak, mereka saja yang tahu aturan main dunia."


"Tentu saja, selama tidak ada syarat dan ketentuan yang berlaku." Balas Arum.


Senyum di wajah Arum jelas menunjukan perasaan lega, bagi sesama orang yang tidak pernah di harapkan, menjadi pendukung satu sama lain tentu sangatlah wajar.


"Sebenarnya ada, asalkan kau bisa sabar." Kata Ryan tidak membuatnya bersemangat.


"Kenapa ?."


"Karena kita bersama dengan Narmo."


"Ah begitu." Seakan paham apa yang Ryan ucapkan.


Bukan bermaksud untuk merendahkan Narmo, tapi memang sulit ketika harus mengharapkan lebih kepada sosoknya.


"Baiklah, jadi hari Selasa nanti, setiap kelompok harus membuat sebuah rangkuman tentang kondisi sosial di dalam masyarakat perihal moral, tangung jawab dan keadilan kepada sesama manusia. Dan masing-masing akan melakukan persentasi hasil rangkuman di depan kelas." Ucap guru itu bersamaan dengan suara tanda jam pelajaran berakhir.


"Baik Bu." Saut semua.


Lepas guru itu pergi dari kelas, ekspresi Arum tampak lemas.


"Tugas ini merepotkan." Ungkap Arum mengeluh.


"Sebenarnya tidak juga."


"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu."


"Untuk kita berdua, masyarakat adalah sebuah lingkungan ekosistem manusia dimana mereka dipaksa hidup mengikuti kekuatan mayoritas yang ada di dalamnya. Kita melihat semua secara langsung dan itu sudah menjadi bahan materi rangkuman nanti." Jawab Ryan sebagai penjelasan.


"Baiklah, kita bicarakan itu nanti, untuk sekarang sebaiknya pulang, ada banyak pekerjaan harus aku lakukan." Balas Arum berniat kembali ke mejanya.


"Ya kau benar."


Tapi belum sempat Ryan membenahi buku-bukunya kedalam tas, seorang wanita berjalan masuk dengan langkah mengetuk lantai dan wajah yang sombong.


Itu bukan Reina atau pun Nela, karena Ryan tahu betul bagaimana cara mereka berdua ketika datang dan segera menghampiri tanpa perlu basa basi.


Begitu jelas wanita satu ini berbeda dari kedua sosok yang terpikirkan oleh Ryan, karena sekarang dia hanya berdiri diam selagi menatap serius ke arahnya.


"Sepertinya dia mencarimu." Kata Arum berbisik ke telinga Ryan.


Sedikit tertawa..."Itu tidak mungkin, jadi jangan pedulikan."


Narmo dan Arum kembali melirik wanita itu, wajahnya tidak berubah, tatapan mata tetap fokus kepada Ryan.


"Tidak diragukan lagi, dia ingin bicara denganmu."


"Aku ?, Memang untuk apa ?, Aku bahkan tidak ingat jika kami saling mengenal." Tapi Ryan bingung, karena tidak ada orang secara sadar tanpa paksaan ingin berbicara dengannya.


"Tapi, ya jelas sekali, aku tidak mungkin salah mengartikan ekspresi di wajahnya." Balas Arum kembali.


Ryan yang sejak awal tidak peduli karena dia merasa kurang nyaman untuk berinteraksi dengan orang-orang tipikal wanita kaya, sombong dan keras kepala. Mengurus Reina saja sudah cukup.


"Kau yang bernama Ryan." Ucapnya sengit.


"Ya itu aku."


"Berbahagialah karena aku. Aku.... Sea Asmi Herdiansyah, salah satu keluarga terpandang di kota ini, ingin mengajakmu pergi makan malam." Kata Sea dengan nada tinggi dan sengaja dilakukan agar orang lain bisa mendengar.


"Ah, tidak terimakasih. Aku tidak memiliki waktu." Singkat jawaban Ryan.


Mencoba mencerna jawaban Ryan, Sea menjadi bingung dan hanya diam di tempat.


"Apa yang kau katakan ?."


"Aku tidak mau.... Maaf kau menghalangi jalan, aku ingin pulanh." Balas Ryan yang berjalan melewati Sea.


Sea berjalan dan menghentikan Ryan dari depan...."Tunggu !!!."


"Ada perlu apa lagi ?, Bukankah aku sudah menolaknya."


"Bagaimana mungkin kau menolakku."


"Memang ada yang salah ?, Kau memintaku pergi, tapi sayangnya aku tidak bisa. Itu sudah menjadi jawaban." Balas Ryan.


"Aku tidak terima." Tegasnya.


"Terserah kau mau terima atau tidak, maaf jangan berdiri di depan pintu, aku tidak bisa keluar."


Sea terdiam di tempat, wajahnya kaku akibat syok karena untuk pertama kali dalam hidup Sea, ada seorang lelaki yang menolak ajakannya.