Ice Cream

Ice Cream
Penyamaran



Dipinggiran kota, sebuah rumah hiburan....


Seorang wanita cantik usia awal dua puluh tahun berpakaian minimalis, menggunakan parfum murahan dan ber-make up tebal untuk menutupi wajah agar terlihat lebih dewasa.


Berjalan santai dengan melihat jam ditangan sudah menujukan waktu pukul 22.47. Dua jam tiga belas menit menjelang tengah malam dari jadwalnya bekerja.


Melihat keramaian kota tidak lekang oleh waktu. Entah itu siang atau malam, musim kemarau hingga musim hujan, bahkan musim pemilu bersama dengan banjir sekali pun, kota itu masih tetap dipenuhi manusia.


Di antara gang-gang sempit, belakang gedung-gedung bertingkat, dunia malam sudah dimulai. Para lelaki yang menginginkan hiburan dikala tekanan hidup naik ke ubun-ubun, berlalu lalang memasuki rumah remang-remang, atau diskotik disana.


Para pelacur berharga murah menawarkan diri di depan warung remang-remang yang berkamuflase sebagai kios kopi pinggir jalan. Setiap penikmat kopi suasana malam selalu datang dari segala penjuru kota demi mendapatkan diskon untuk tiga kali pembelian.


Gadis muda itu terus berjalan melewati semua rayuan maut dari para hidung belang beraroma spirtus, hingga sampai ke sebuah klab malam yang sedikit lebih mewah dengan tulisan 'Senja tiada akhir' di terangi segala lampu kelap kelip.


Bekerja sebagai teman penghibur di tempat karaoke, jelas mementingkan tentang penampilan dan cara merayu-rayu pelanggan.


Tapi dia bisa melihat satu teman wanitanya duduk di kursi ruang istirahat dengan kepala merebah ke belakang, menghela nafas panjang dan berkata...."Ahhhh aku benar-benar banting tulang, otot di wajahku seperti kaku. Untuk gadis muda seperti ku, ini akan menghambat masa pertumbuhan."


"Arum, jika kau mengeluh dengan pekerjaan mu ini, kenapa kau tidak mencari lain yang lebih cocok." Ucapnya.


Melihat sosok itu, wanita muda bernama Arum segera menjawab ... "Kak Ayu, di tempat lain tidak mau menerima anak SMA, meski pun ada untuk sekedar paruh waktu, gajinya sangat kecil, itu tidak akan cukup."


"Berat untukku Rum, harus mengurus adikmu, sedangkan ibumu pergi dan ayahmu sudah meninggal."


Lemas hembusan nafas dengan senyum pahit di wajah Arum..."Mau bagaimana lagi, aku marah-marah sekali pun tidak ada yang berubah."


"Tapi bagaimana dengan sekolahmu, apa kau tidak takut mereka tahu jika ada murid yang bekerja di tempat hiburan ?."


"Meski pun di sini aku hanya bersih-bersih dan mengantar minuman, Tentu saja itu menjadi masalah jika ketahuan. Tapi aku melakukan penyamaran." Jawab Arum mengeluarkan sesuatu dari balik kantong bajunya.


"Penyamaran ?."


Kacamata itu dia gunakan..."Ya kak, di sekolah aku menggunakan kacamata dan mengikat rambut, bahkan disini pun aku menggunakan kosmetik agar tidak ada yang kenal."


"Hmmm, semoga saja."


Dari jauh, suara memanggil ... "Arum, cepat kau antarkan minuman ini ke meja 27."


"Baiklah." Jawabnya lantang.


"Berjuanglah, sebentar lagi jam kerjamu selesai."


"Ya aku tahu, aku akan bawakan ayam goreng untuk Zian, hari ini."


Arum tersenyum kembali penuh semangat, dia sadar bahwa tidak pernah sekali pun menginginkan pekerjaan ini, tapi keadaan dan biaya hidup memaksanya tanpa bisa menolak.


Menghadapi para lelaki mabuk dengan prilaku tidak senonoh dan seenaknya sendiri, jelas sudah biasa terjadi ketika bekerja di tempat hiburan.


Untungnya, para pekerja lain pun memahami keadaan Arum, mereka melindungi dan menjaga, karena sadar akan sebuah hubungan sebagai orang yang menggantung nasib dari kalangan miskin.


Termasuk untuk sekarang, dimana seorang lelaki datang dan menahan Arum untuk pergi dari ruang karaoke, dia meminta panggilan pribadi agar bersenang-senang.


Arum mencoba untuk tidak marah dan tetap menolak sembari tersenyum menahan kepalan tangan yang siap maju jika lelaki itu berbuat kasar.


"Maaf, tuan Aku tidak melayani panggilan pribadi."


"Jangan begitu nona manis, aku berani bayar mahal, selama kau mau ikut denganku." Lelaki itu terus memaksa.


"Tetap saja tidak bisa tuan." Arum menolak dengan tegas.


"Kenapa kau jual mahal, aku tahu kau membutuhkan uang dan bekerja di tempat ini, jadi jangan malu-malu, 5 juta untuk satu malam."


"Maaf sekali lagi, aku tidak bisa melakukannya."


"Tetap saja, meski itu uang yang banyak, aku tidak mau melakukannya."


"Jangan menyesal untuk keputusan mu."


"Aku tidak pernah menyesal, bahkan untuk hidupku sekarang." Jawabnya keras.


Arum membuka pintu ruang karaoke dan keluar, tapi lelaki yang dia temui tadi seakan tidak terima dengan ucapan Arum, menariknya paksa dan kasar.


"Kau mau kemana, cara kau bicara seperti orang kaya saja, sadar diri, kau butuh uang kan ?."


"Tidak, biarkan aku pergi."


Satu tangan sudah terangkat, Arum sudah terbayang rasa sakit tamparan keras yang akan memberi bekas cap lima jari di pipi.


Tapi belum sempat tangan mengayun, satu orang lain berdiri di belakang, menahan tamparan yang akan Arum terima..."Kakak, kau membuat wanita ketakutan, jadi lepaskan dia."


"Siapa kau !?."


"Kita tidak dalam sesi tanya jawab, kakak."


"Si......" Tanpa perlu menunggu jawaban, bahkan baru saja mau bicara, satu kaki melayang menghantam wajah dan melempar jauh lelaki kasar itu hingga pingsan.


Arum membuka mata, teringat wajah penuh lebam yang dia bawa ke ruang UKS, tentu siapa sangka akan menjadi pertemuan lain.


"Kau....."


"Eh... Kau yang kemarin di UKS, siapa namamu ?."


"Tidak bukan aku...." Arum segera berlari pergi secepat mungkin.


Jika ada orang yang tahu, tentang pekerjaan di tempat hiburan malam seperti ini, lepas semua beasiswa dan berakhir drop out dari sekolahan.


Tapi tidak lama beberapa orang berbadan besar yang ditugaskan sebagai staf pengaman tempat hiburan, dimana datang jika terjadi masalah di dalam.


"Bocah kau yang melakukannya ?."


"Ya begitulah." Sangat jelas dia mengakuinya.


"Ikut aku." Ryan ditarik paksa untuk ikut dengan para staf scurity.


Ryan dibawa masuk ke ruang manajemen, ya dia tahu bahwa ini akan menjadi masalah, tapi cukup tenang sikap Ryan menanggapi situasi.


Tentu Ryan memiliki tujuan untuk datang ke tempat ini, meski secara tidak sengaja melihat kejadian yang tidak menyenangkan.


"Ryan ?." Ucap lelaki itu mengenali Ryan.


"Paman Alex apa kabar ?."


"Ah... Lama sekali tak jumpa kau. Ada perlu apa kau di mari ?." Jawabnya dengan santai.


"Aku ingin minta pekerjaan ?."


"Pekerjaan ?, Diusia kau sekarang sebaiknya bersekolah yang benar."


"Aku tahu itu, tapi setelah ayah tidak ada, ibu terlalu banyak bekerja keras." Ryan memberi alasan.


"Ayahmu, Abram.... Hmmm, dia sudah banyak membantuku. Baiklah, tapi aku hanya bisa memberi pekerjaan kasar, angkat-angkat barang atau bersih-bersih saja."


"Itu sudah cukup paman." Balas Ryan.


Ketukan pintu terdengar, dan membawa masuk wanita yang baru saja Ryan selamatkan. Tersirat jelas raut wajah khawatir, bahkan mungkin takut jika kena marah Alex.