Ice Cream

Ice Cream
Tiga syarat



Pagi telah datang....


Ryan ingat apa yang dia lakukan semalam, dan kini tampak jelas seorang gadis cantik dengan rambut berantakan tertidur lelap di dalam pelukannya.


Mereka seperti remaja yang tidak peduli soal aturan dalam masyarakat, menikmati hidup dengan melampiaskan cinta untuk sebuah kenikmatan bersama.


Melihat wajah Reina, membuat Ryan tersenyum sendiri.


"Kau benar-benar cantik ketika diam." Ucapnya sembari mengusap rambut Reina yang berantakan.


Tapi apa yang Ryan lakukan membuat Reina terbangun.


"Apa kau mengatakan sesuatu Ryan." Tanya Reina selagi mengusap mata.


Ryan sedikit gugup ..."Tidak bukan apa-apa. Hei Reina, aku bertanya-tanya, apa yang terjadi jika ayahmu tahu kita berdua saling berhubungan."


"Aku tidak bisa membayangkannya, ayah selalu memberi peringatan untuk tidak terlalu dekat denganmu."


"Lalu apa yang harus kita lakukan."


"Biarkan saja." Santai Reina menjawab.


Ditepuknya kening karena bingung untuk jawaban Reina...."Biarkan saja ?, Kau sangat santai karena kau adalah anaknya, tapi bagaimana denganku, aku bisa di bunuh oleh ayahmu."


"Kita pikirkan itu nanti, sedangkan untuk sekarang, aku merasa bahagia karena bisa memiliki mu." Ucap Reina mulai bermanja-manja lagi.


"Ya Reina, karena itu, jangan berpikiran aneh jika aku bersama Sela, aku hanya perlu bantuannya, sedangkan kau adalah yang penting dalam hidupku." Balas Ryan.


"Tapi.... Aku tetap tidak senang dengan dia."


"Aku tidak memaksa kau menyukai Sela, setidaknya, pahamilah situasi ku sekarang, tanpa bantuan sela, aku akan mendapat banyak kesulitan."


"Baiklah aku mengerti." Jawab Reina menuruti keinginan Ryan.


Reina masih bermanja-manja dengan memeluk erat tubuh Ryan dan membagi kehangatan dari kulit yang saling bersentuhan.


"Jam berapa sekarang." Tanya Reina.


"Jam setengah delapan." Jawab Ryan melihat jam dinding.


"Oh ..."


Terkejut dan memastikan kembali...."Huh ?, Jam setengah delapan !!!, Aku terlambat."


Ya, ini jelas sudah tidak bisa diselamatkan lagi, dia terlalu lelah untuk kegiatan bersama dua orang dalam semalam, terlebih di bagian Reina, Ryan benar-benar mengeluarkan sisa tenaganya hingga terkuras habis.


"Apa salahnya jika sesekali kau tidak masuk sekolah."


"Aku tidak terbiasa melakukan itu."


"Kau ingin menjadi siswa teladan, meski pun sudah melakukan hal nakal bersamaku." Sindir Reina melirik Ryan.


"Ya .... Itu beda lagi ceritanya." Kaku untuk Ryan tertawa.


Dengan santai Reina mengelus pipi Ryan..."Jangan khawatirkan apa pun, anggap saja seperti liburan."


"Untukmu yang sering tidak berangkat dan juga membolos tentu tidak khawatir, tapi aku jelas tidak mau melewatkan pelajaran."


"Ayolah, kau bisa membuat alasan, jika sedang merawat ibumu, jadi mereka tidak akan banyak bertanya soal absen mu sekarang."


"Aku tidak punya pilihan lain." Rumit wajah Ryan.


Sekali pun Ryan berangkat, dia hanya akan mendapat hukuman oleh Bu Gea, dan di kelas dua tidak bisa berkonsentrasi karena terlalu banyak memikirkan kesehatan ibunya.


Ryan beranjak dari ranjang, mengambil handuk untuk membersihkan diri, dia tidak mungkin bersantai di rumah, sedangkan Ibunya masih di rawat.


"Kau mau kemana Ryan."


"Ini sudah siang, aku harus mandi, tubuhku bau dan berkeringat."


"Apa kau tidak ingin berlama-lama di sini." Sebuah tawaran yang menggiurkan ketika Reina membuka selimutnya.


"Itu bisa kita lakukan nanti." Jawab Ryan tersenyum sendiri.


Sejenak Ryan mandi, Reina masih membenamkan diri di dalam selimut, dia masih bisa merasakan sensasi yang mereka lakukan semalam, bahkan sprei di ranjang terlihat jelas bercak noda merah dari 'pertama kalinya'.


"Akhirnya, Ryan menjadi milikku, aku tidak akan melepaskannya, tidak akan aku biarkan wanita-wanita itu mendekati Ryan. Dia hanya untukku."


Di dalam diri Reina, dia adalah sosok wanita rakus, tidak mau berbagi dengan orang lain untuk setiap hal yang menjadi miliknya.


Sedangkan Ryan di dalam kamar mandi begitu kebingungan, semua terjadi begitu saja.


"Bagaimana mungkin ini terjadi, apa yang harus aku lakukan kepada Reina...."


Semua berawal dari siasat untuk menyembunyikan diri perihal skandal dengan Sela, namun selanjutnya, itu menjadi pernyataan cinta.


Semakin menjadi-jadi ketika Reina menawarkan diri. Insting liar sebagai lelaki normal ketika melihat daging segar di depan mata tidak bisa di tolak.


"Tenang lah, ini bukan hal serius, 70% remaja, pasti sudah melakukannya dan juga Tidak mungkin Sela akan menceritakan tentang semalam, karena bagaimana pun juga, dia masih istri Brahman. Jika ada orang lain yang tahu, maka itu berakibat pada hidup Sela sendiri. Ya itu benar."


Memberi sugesti kepada dirinya sendiri, Ryan segera menyelesaikan mandinya dan keluar.


Setelah itu giliran Reina mandi, namun seragam sekolah yang dia pakai sudah kotor dan juga bau pandan, tentu tidak mungkin dia menggunakannya kembali.


"Apa kau tidak memiliki pakaian ganti untukku, Ryan." Tanya Reina yang masih menggunakan handuk.


"Jelas aku tidak punya."


"Bagaimana dengan ibumu."


Dia sedang sibuk membenahi diri dan menunjuk ke arah kamar samping, yaitu kamar ibunya...."Kau bisa mencarinya sendiri."


"Baiklah."


Ryan tidak perlu takut kehilangan apa pun oleh Reina, karena apa yang bisa dia ambil, tidak ada apa pun di dalam lemari selain pakaian saja.


Bahkan untuk apa Reina mengambil barang-barang di rumah ini, dia memiliki segalanya, tidak kurang satu pun dan itu bermerek dan mahal.


Reina tidak ragu-ragu membuka lemari di kamar Isti, melihat satu persatu baju yang Istianti miliki membuat Reina sedikit terkejut.


Dia tahu tentang merek-merek pakaian terkenal dan ternyata sebagian besar baju yang ada di dalam lemari Istianti tidaklah murahan. Terlebih lagi, semuanya barang baru, masih tercantum banderol harga dan harganya pun relatif mahal.


"Wahhh... Ini Zara, ini juga H&M, ibu Isti benar-benar tahu fashion, terlebih ukurannya pas denganku."


"Apa ini..." Reina penasaran dan membukanya.


Tapi apa yang dia lihat menjadi kejutan besar. Dimana semua itu berkaitan atas nama satu perusahaan, perusahaan kontraktor BAK, Brahman Ardantio Kontraktor. Ayahnya sendiri.


Membaca setiap lembar membuat Reina sadar bahwa semua yang ada di dalam buku adalah rekap data nyata dari masing-masing proyek, dimana selalu ada catatan kecil di bagian bawah.


"Penggelapan dana, kasus prostitusi, suap hakim, pembebasan lahan secara paksa, dan ada banyak yang lain..." Reina sedikit gemetar dan terjatuh.


Ryan mendengar suara Reina, dia pun coba melihatnya ke dalam kamar.


"Apa yang terjadi..."


"Ada tikus. Kau keluarlah dulu, aku belum berpakaian sekarang."


Bukan hal aneh jika Reina melihat tikus di dalam rumahnya.


"Ok, berhati-hatilah, tidak hanya tikus, kadang-kadang juga ular sesekali mampir."


Reina tidak peduli hal itu, karena dia sedang berpikir soal buku yang dia temukan. Tersirat niat untuk mengambilnya dan dia akan gunakan demi tujuan pribadi.


Selesai Reina berpakaian, dia pun menyembunyikan buku itu di balik bajunya.


"Lihat apa ini cocok Ryan."


"Ya kau cocok dengan semua pakaian, tapi aku lebih senang jika kau tidak menggunakannya."


"Kau itu...." Reina mencubit Ryan dengan senyum malu.


"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang Reina ?."


"Aku akan pulang saja. Kalau kau Ryan ?."


"Ke rumah sakit, aku tidak tahu harus melakukan apa, jadi lebih baik ke tempat ibu."


Mereka berdua keluar secara sembunyi-sembunyi ketika tidak ada seorang pun lewat, ya semua berjalan lancar dan berpisah.


*******


Kembali ke rumah, Reina langsung saja bertemu dengan Sela, dia menikmati waktu di atas sofa dengan ponsel di tangan.


"Kau baru pulang, Reina."


"Ya."


"Kemana saja kau semalam."


"Aku tidur di rumah teman, memang apa peduli mu dengan itu."


"Bukan apa-apa, aku hanya merasa senang, karena semalam kau tidak ada, sehingga aku tidak perlu mendengar kau berisik." Tawa Sela seperti sedang mengejek.


Reina memalingkan wajahnya..."Nikmati saja waktu kesenangan mu, aku pun tidak peduli untuk apa yang kau lakukan."


Melangkah ke ruang kerja ayahnya, sosok Brahman duduk santai di depan laptop, melihat kedatangan Reina itu, dia segera mengalihkan perhatiannya dari pekerjaan.


"Kemana saja kau semalaman, dan kau juga tidak bersekolah sekarang, kenapa kau begitu senang membuat ayah marah."


"Tidak usah pedulikan aku, meski aku tidak berangkat sekolah semua mudah untuk ayah usahakan."


Semakin marah Brahman hingga berdiri..."Ringan sekali kau bicara Reina, aku benar-benar salah karena terlalu memanjakan mu."


Tapi dibalas oleh Reina dengan senyuman... "Daripada ayah pusing memikirkan ku, lebih baik ayah khawatir dengan ini."


Reina menunjukkan buku yang dia keluarkan dari balik bajunya. Brahman melihat satu halaman dimana itu adalah sebuah laporan rekap data lama dengan tanda tangan dan stempel perusahaannya.


Brahman sadar, buku yang Reina bawa berisi data-data penting sebagai bukti soal penggelapan dana dari perusahaan BAK.


"Dari mana kau mendapat itu. Berikan kepada ayah."


"Tidak bisa, sama seperti perkataan ayah, semua adalah tentang keuntungan dan manfaat, jadi aku ingin sesuatu untuk buku ini."


"Kau bernai mengancam ayah. Apa kau sadar, jika buku itu di ketahui oleh orang lain, keluarga kita akan hancur. Dan kau tidak akan lagi menikmati kemewahan seperti yang kau dapatkan selama ini."


"Aku tidak peduli, bahkan jika harus jatuh miskin pun aku tetap tidak peduli."


Brahman coba untuk tetap tenang, dia hanya perlu mendapatkan buku itu maka bukti-bukti kejahatan yang dia lakukan akan terkubur selamanya.


"Baiklah, katakan apa yang kau inginkan Reina, mobil sport, rumah mewah, aset perusahaan atau..."


Malas Reina mendengar tawaran Brahman...."Aku tidak butuh semua itu, karena pada akhirnya, ayah akan memberikannya kepada ku."


"Jadi apa yang kau mau."


"Aku ingin tiga hal...."


"Apa itu...."


Reina sudah memikirkan matang-matang untuk memanfaatkan kelemahan dari ayahnya sekarang.


"Pertama ... Aku mencintai Ryan, aku ingin dia menjadi milikku dan ayah jangan mengganggu hubungan kami.


Kedua... Aku ingin semua biaya hidup Ryan dan ibunya di tanggung oleh ayah, tapi tidak seperti santunan kepada orang miskin, berikan mereka kekayaan, kehormatan dan masa depan cerah.


Dan ketiga... Jangan libatkan keluarga Ryan dalam urusan Ayah, setelah buku ini aku berikan, anggap mereka tidak tahu apa pun."


Brahman geram, dia marah tapi Reina memaksa untuk menuruti keinginannya.


"Baik, akan ayah lakukan, jadi berikan buku itu." Brahman setuju.


Tapi Reina belum selesai...."Tidak sekarang, buku ini akan aku simpan, sampai ayah melakukan semua yang aku minta."


Selesai Reina mengatakan semua, dia pun segera pergi dari ruangan Brahman.


Brahman masih di dalam, mengepalkan tangan sebagai bentuk emosi yang tertahan, kemudian dilampiaskan ke atas meja dengan keras.


"Satu-satunya orang yang tahu tentang data itu adalah Abram, dan Istianti pasti yang menyimpannya. Aku yakin dia ingin menghancurkan hidup ku." Emosi Brahman membuang cerutu di tangan.


Di dunia ini tidak ada yang bisa menjatuhkan seorang Brahman kedalam penghinaan, meski dia berhutang nyawa kepada Abram, itu tetap tidak mengubah kenyataan, bawa Brahman akan melakukan apa pun demi hidup yang dia miliki.


(bulan depan akan up date 1 chapter sehari, karena akan mulai persiapan untuk novel lanjutan 'Pembalasan dendam dari masa depan jilid 3'.)