Ice Cream

Ice Cream
Pagi hari



Pagi ini adalah hari pertama Ryan masuk ke sekolah barunya, tapi untuk mempermudah segala urusan tentang kepindahan Ryan yang terlalu banyak masalah. Brahman kini menjadi wali Ryan, dia yang akan bertanggung jawab untuk segala perilaku selama di sekolah nanti.


Merasa malas untuk bertemu dengan lelaki tua itu, tapi apa yang bisa Ryan lakukan, dia tidak memiliki pilihan lain, dimana ibunya berharap agar Ryan tidak lagi membuat masalah.


Melihat dari luar gerbang, suasana rumah tampak sepi, hanya dua orang manusia, satu orang satpam dan seorang lagi penjaga kebun yang sudah beraktivitas di pagi hari.


"Selamat pagi pak."


"Oh, kau anak Isti yah."


"Ya pak."


Mereka sama seperti Ryan, para orang miskin yang menyerahkan diri untuk di perbudak oleh pekerjaan, kebutuhan dan tuntutan keluarga.


Mereka tidak bisa melawan, tapi lebih baik menerima kenyataan, daripada namanya di coret dalam kartu keluarga, atau pun di usir mertua karena tidak bekerja.


Keduanya kenal dengan Istianti karena menang keduanya berasal dari tempat tinggal yang sama, satu kampung dan bertetangga untuk waktu lama.


"Oh, jadi kau Ryan."


"Itu benar pak."


"Dulu terakhir aku melihatmu masih kecil, sekarang kau sudah besar, Ryan."


"Ya ini sudah 5 tahun setelah aku pindah ke Jakarta, jika aku masih kecil seperti dulu, itu bisa jadi masalah." Jawab Ryan.


"Kau benar, aku hanya pangling saja, bocah nakal dulu, sudah menjadi bocah remaja yang sopan dan tampan."


"Pak Jaruki berlebihan." Balas Ryan sopan.


Tidak lama kemudian, seorang lelaki tua dengan perut buncitnya itu keluar, dia menggunakan setelan jas dan dasi yang memperlihatkan diri sebagai orang kaya.


Meskipun banyak sellesman yang berpenampilan sama, sedang pekerjaan mereka hanya menawarkan piring anti pecah ke orang-orang sekitar.


Kedatangan pak Brahman membuat Jaruki dan Suwarto diam, keduanya tentu merasa tidak nyaman dengan kehadiran sang majikan yang melihat tentang pekerjaan mereka.


"Ryan kau datang pagi sekali." Tanya Brahman.


"Pak Brahman mengatakan untuk aku tidak terlambat, jadi aku tidak tahu jam berapa aku harus datang."


"Tidak apa, Reina saja belum bangun."


Itu tidaklah aneh, dia sudah banyak berubah, bahkan dengan segala kenyamanan yang Reina miliki, bisa membuatnya tidur lelap diatas ranjang empuk tanpa memikirkan hal lain.


"Ah benar, Ryan kau bangunkan Reina di kamarnya."


"Tapi ... Aku merasa tidak sopan untuk masuk ke rumah."


"Apa yang kau katakan, aku yang menyuruhmu, jadi jangan membantahnya."


"Baik pak."


Karena itu, Ryan berjalan masuk ke dalam rumah, memang banyak yang berubah dari setiap hal di kediaman Reina, tapi dia ingat dimana kamar Reina.


Melangkah naik ke lantai dua, Ryan melihat Sela yang berjalan keluar dari ruangan lain dengan pakaian terbuka.


Dia baru menyelesaikan kegiatan olah raga di dalam Gym, keringat bercucuran sudah membasahi pakaian hingga ke dalam tubuhnya.


Sela tersenyum ketika dia mendapati Ryan naik, seakan dengan sengaja menunjukkan tubuhnya di depan Ryan, perut langsing, atau paha putih mulus tanpa ada bekas peluru membuat siapa pun akan terpesona.


"Ryan, apa yang kau lakukan disini."


"Pak Brahman ingin aku membangunkan Reina." Jawab Ryan.


"Jika dia tidak pindah maka disana kamar Reina."


"Sebaiknya kau bisa bersabar, Reina susah sekali untuk bangun." Ucap Sela tersenyum pahit.


"Aku mengerti kakak."


Seakan merasa aneh untuk sikap Ryan ketika melihat penampilan seksi tanpa dia tutupi secara biasa saja. Sela tidak tahu, apa Ryan tidak normal tanpa keinginan kepada wanita.


Tapi sela merasa percaya diri jika semua yang dia miliki bisa membuat para pria tertarik, bahkan banyak orang dengan suka relanya mencoba memberi banyak hal hanya untuk keindahan di tubuhnya.


Sela merasa aneh...."Ryan apa kau tidak senang melihatku ?."


"Kenapa kakak berpikir seperti itu." Balik Ryan bertanya.


"Ya aku ingin tahu, apa kau tidak tertarik dengan wanita yang lebih tua sepertiku."


"Aku tidak menganggap kakak tidak menarik, kakak cantik, seksi, dan ramah, tapi kakak sudah memiliki suami dan aku tahu posisiku yang bukan siapa-siapa."


Apa yang Ryan katakan memanglah masuk akal, Sela pun sadar jika Ryan lebih memilih berada di tempat aman agar tidak mendapat masalah.


Sela hanya memperhatikan Ryan saat dia mulai mengetuk pintu kamar Reina, dia pun berjalan mendekat dan menyentuh pinggang Ryan dengan berani.


"Kakak tolong jangan main-main denganku, aku tidak ingin mendapat masalah apa pun lagi." Ucap Ryan dengan berani.


Melihat tatapan dingin dari Ryan, membuat Sela terkejut. Dia memang baru mengenal Ryan, dan perkenalan singkat itu menganggap bahwa Ryan lelaki yang sopan tanpa bisa melawan.


Ketika Sela coba untuk bermain-main, sedikit menggoda karena dia ingin melihat bagaimana ekspresi Ryan ketika malu, sorot mata dingin yang mengancam, terlihat jelas bahwa Ryan memberi peringatan kepada Sela.


Tapi itu hanya singkat, sela kembali menatap Ryan, sorot mata dingin yang dia sebelumnya sudah berganti dengan senyum menawan wajah lelaki tampan.


"Maafkan aku kakak, tapi jika pak Brahman melihat ini, aku akan kena masalah, jadi tolong jangan lakukan." Nada bicara Ryan berubah lembut.


Seakan suara ancaman yang Sela lihat itu hanya sekedar ilusi, hanya saja rasa merinding masih terasa di tubuhnya.


Sela tidak melanjutkan niat untuk menggoda Ryan, langkah kaki membawanya pergi menuju kamar, segera saja masuk dengan wajah tersenyum cerah.


Sedangkan untuk Ryan....


Dia benar-benar hilang kendali untuk tidak menunjukan emosi yang berlebihan, tapi tindakan Sela menjadi masalah jika Brahman melihat.


Bagimana tidak, saat lelaki tua itu tahu bahwa Sela bermain-main dengannya, yang akan di salahkan tentu bukan sela, melainkan dirinya.


Tapi sela pun bisa melakukan hal yang sama, karena melihat ancaman Ryan, wanita itu mungkin mengadu kepada Brahman untuk macam alasan.


"Kenapa ada semua orang selalu menggangguku."


Meski sela memberikan kesan baik kepadanya, bukan berarti dia adalah seseorang yang bisa Ryan percaya begitu saja.


Kembali ke tujuan awal, sudah cukup lama Ryan berdiri di depan pintu kamar Reina, ketukan demi ketukan pun tidak lepas dilakukan untuk membangunkan tuan putri dari tidurnya.


"Reina bangunlah, kau akan terlambat jika tidak segera bangun." Ucap Ryan dengan suara keras.


Hingga pintu terbuka, sosok Reina menampakan diri di depan Ryan, rambut yang kusut, mulut yang menguap, mata sayu yang menolak untuk terbuka atau pun pakaian tidur longgar yang memperlihatkan bentuk tubuh langsing tanpa menggunakan celana.


"Ini masih terlalu pagi." Ucap Reina.


Meski begitu Ryan tetap bersikap datar untuk menjawabnya.... "Kita harus pergi ke sekolah atau kau ingin terlambat."


Sejenak diam, Reina baru sadar jika didepannya adalah Ryan setelah nyawanya kembali terkumpul, tapi cepat tangan Reina menarik Ryan masuk ke dalam kamar.