
Ini bukan cerita seorang lelaki yang berlagak sebagai pahlawan pembela kebenaran untuk menyelamatkan gadis dalam masalah. Atau juga penegak keadilan, pembasmi kejahatan, dan mengorbankan nyawa demi kedamaian.
Ryan hanyalah seorang manusia, dia pula memiliki dendam dan kebencian, atau pun rasa ingin melihat ketakutan orang-orang yang dianggapnya pantas menerima penderitaan.
Ryan masih mengingat tentang kejadian yang dia alami di masa lalu, ketika satu kejadian membuat pandangannya terhadap semua orang berubah.
Isna, wanita yang saat itu menjadi kekasihnya, sosok gadis murah senyum, baik hati, tidak sombong dan rajin belajar pula. Tapi suatu ketika dia dipaksa oleh Sano dan kawan-kawan dalam tujuan busuk.
Awalnya hanya sebuah ajakan untuk acara hangout bersama teman-teman wanita lain untuk bersenang-senang, Isna tidak berpikir tentang hal lain karena cukup lama mereka saling kenal.
Ryan mendengar banyak hal tentang Sano, dia adalah anak seorang pengusaha kaya raya yang memiliki sifat buruk, tapi atas nama besar dari keluarganya tentu cukup mudah bagi Sano terhindar dari segala masalah.
Di satu tempat karaoke, minuman yang tersaji itu ternyata diberikan obat oleh mereka, sesuatu yang membuat para perempuan mabuk dan hilang kesadaran.
Tepat sebelum Sano dan kawan-kawan melakukan hal buruk, disaat itulah Ryan datang, dia menghajar mereka semua dengan penuh kemarahan dan menjadi keributan besar di dalam tempat karaoke.
Tapi apa yang Ryan dapatkan setelah kejadian itu adalah penghinaan, pengkhianatan dan penghakiman sepihak tanpa bisa membela diri. Ketika semua mata menatap kearahnya dengan tuduhan palsu, hanya bisa menerima, tanpa bisa Ryan membela diri.
Termasuk juga untuk Isna yang dipaksa oleh semua orang agar membenarkan kesalahan Ryan. Sebuah pengkhianatan dan menjadi mimpi buruk, ketika tangisan memohon sang ibu atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan.
Dan saat ini.....
Ryan berdiri diam, bersembunyi di balik bayang-bayang tiang lampu jalanan ketika memperhatikan Reina bersama tiga lelaki yang tidak membiarkan dia untuk pergi.
Orang-orang tidak akan perduli dengan teriakan yang Reina buat, hanya sekedar lewat tanpa mau ikut campur urusan orang lain, atau mungkin sekedar menyelamatkan diri agar terhindar dari masalah.
Reina tidak lagi bisa melawan, ketika seorang lelaki menunjukkan pisau yang dia sembunyikan dari balik celana. Setinggi apa pun harga diri Reina, tentu tidak akan berani berbuat nekad karena nyawanya terancam.
Ryan berjalan mengikuti dari belakang, ketika melihat Reina di bawa ke sebuah gedung kosong yang terbengkalai karena proyek pembangunan dibatalkan karena dana telah di korupsi.
Sebuah tempat yang benar-benar aman untuk melakukan hal jahat tanpa perlu mendapat gangguan dari tetangga, karena memang bangunan itu sendiri jauh dari pemukiman warga.
"Apa yang kalian inginkan ?, Uang ?, Aku bisa memberikannya." Ucap Reina.
"Oh nona, uang memang menjadi hal bagus untuk kami minta, tapi uang tidak bisa membuat kami puas untuk menikmati gadis cantik seperti mu."
Reina kesal untuk sikap mereka yang tidak tahu diri ..."Jangan bicara seenaknya, atau kalian akan menyesal."
"Meski tidak ada yang bisa kau lakukan, sikapmu sangat kasar, kami bisa saja membunuhmu di sini nona." Satu lelaki menjawab dengan menunjukkan senyum mengancam.
Dengan pisau yang lelaki itu pegang, dia merobek paksa baju Reina dan menjatuhkannya keras ke lantai. Berusaha menutupi tubuh, tapi tetap mata para lelaki benar-benar bernafsu untuk pemandangan indah yang mereka lihat.
Dua orang lain menarik tangan Reina, menanggalkan baju yang sobek hingga tersisa pakaian dalam untuk menutupi bagian khusus agar tetap terlindungi.
Tidak bisa dipungkiri jika keindahan tubuh Reina memang sangat luar biasa, tidak ada lemak berlebih, putih mulus tanpa ada luka borok atau goresan apa pun yang membuatnya terlihat sempurna.
Tentu bagi ketiga lelaki itu, tubuh Reina semakin membuat bernafsu, karena tidak akan mereka temukan seorang pela*cur cantik seperti yang mereka lihat sekarang.
Berusaha melawan, memberontak dengan kaki meronta-ronta menginjak kesana kemari, hingga satu orang terpental ketika menerima tendangan kuat tepat di perut.
"Gadis ini benar-benar tidak sayang dengan nyawanya." Penuh rasa kesal satu tamparan melayang di wajah Reina.
"Jika kau masih melawan, jangan harap kau akan tetap hidup."
Tapi tepat sebelum tangan lelaki itu membuka segel terakhir sebagai pembatas bagian istimewa yang Reina miliki, sebuah batu melayang tepat menghantam kepala.
Sudah di pastikan satu lelaki itu pingsan seketika dengan kepala yang mengeluarkan darah, terkejut akan kejadian dari kawannya, dua lelaki lain mengarahkan pandangan ke tempat dimana suara langkah datang.
"Siapa kau...."
Reina yang tahu siapa sosok lelaki itu... "Ryan."
Tanpa perlu menunggu aba-aba, atau bersiap dalam kuda-kuda untuk mengeluarkan jurus beladiri. Ryan sudah berlari dan melompat maju dengan satu kaki melayang tepat menghantamkan lututnya ke kepala satu lelaki tersebut.
Ryan bukanlah sosok sembarangan, dia pemegang sabuk hitam dan juara satu karate tingkat provinsi, jika saja kehidupannya berada di garis normal, tidak menutup kemungkinan kejuaraan nasional pun dialah pemenangnya.
Hanya dengan satu serangan telak membuatnya pingsan di tempat, kuat kaki yang terlatih cukup keras untuk membengkokkan linggis, cukup itu saja, mampu membuat leher manusia bengkok ke belakang.
"Kau, jangan mendekat, atau... Atau..."
"Atau apa ?, Kau ingin seperti mereka, tinggal datang kemari, jangan takut." Balas Askar.
Saat ini, dihadapan Ryan hanya tersisa satu lelaki yang ragu-ragu untuk maju atau pun mundur, melihat nasib dari dua kawannya, tidak ada kesempatan jika harus melawan.
Tapi sebelum lelaki itu pergi, tepat dari belakang Reina mengayunkan sebuah kayu yang menghantam keras di kepala.
"Ini balasannya karena kau sudah membuatku marah." Ucap Reina yang berniat memukul kembali mereka bertiga.
Cepat Ryan menghentikan kayu yang Reina pegang, menariknya paksa dan melempar jauh.
"Kenapa kau menghentikan ku." Reina tampak marah.
"Hei, mereka sudah pingsan, jika kau memukul dengan kayu, kau akan membunuhnya." Jawab Ryan.
"Tapi perbuatan mereka tidak bisa aku maafkan." Tentu Reina ingin menyelesaikan emosi karena kejadian ini.
"Sudahlah, sebaiknya, kau menutupi tubuhmu terlebih dahulu."
Kondisi Reina tanpa pakaian untuk menutupi tubuh, tentu tidak membuat Ryan merasa nyaman, tapi baju Reina sudah sobek, hanya celana saja yang masih bisa terselamatkan.
Ryan segera melepaskan jaket dan memberikannya kepada Reina, paling tidak dia tidak perlu berjalan keluar dengan memamerkan lekuk tubuh tanpa tertutupi pakaian.
"Kenapa kau begitu lama, aku hampir di per*kosa jika kau tidak datang."
"Jangan berharap lebih, harusnya kau bersyukur aku bisa datang kemari tepat waktu, jika tidak apa yang akan terjadi." Tegas jawaban Ryan membuat Reina diam.
Sedikit rasa kesal karena Reina masih menyalahkannya, Ryan berjalan keluar tanpa harus berlama-lama menunggu. Reina segera mengikuti, gemetar di tangan ketika dia tahu, jika ucapan Ryan memang benar.
"Paling tidak bisakah kau menggandeng tangan ku, aku masih takut."
"Baiklah, baiklah." Ryan pun menarik tangan Reina, dan membawanya berjalan untuk pulang.