
Lepas dari semua itu, Ryan berjalan keluar bersama Brahman, Jaelani, Sela, dan juga ibunya yang kini menunjukkan wajah penuh rasa syukur.
Akan menjadi penyesalan jika Ryan harus menerima penghinaan seperti dulu. Harga diri mereka seakan di injak-injak dan tidak dianggap sebagai sesama manusia.
Kesalahan yang dia buat hingga harus melihat ibunya bersujud demi memohon ampunan. Meski pun itu belum sepenuhnya tuntas, namun bagi Ryan, ini adalah penebusan dosa.
"Baguslah, kali ini berjalan dengan baik." Ucap pak Jaelani menepuk pundak Ryan.
"Terimakasih banyak pak Jae, karena sudah datang untukku." Ryan menunjukkan senyum sopan ketika menjawab perkataan Jaelani.
"Tentu saja, aku tidak mungkin membiarkan anak sahabatku dalam masalah."
"Baik pak."
Kini giliran Brahman yang datang memberi nasihat. Namun berbeda dengan Jaelani, lelaki ini bersikap sombong, seakan Ryan bukan siapa-siapa.
"Aku harap kau jangan buat keributan lagi, jika bukan karena Reina yang meminta aku untuk membantu mu, tidak mungkin semua akan berjalan lancar." Ucap Brahman meremehkan.
Kesombongan Brahman itulah yang membuat Ryan muak, tapi dia tidak bisa menunjukkannya dan berusaha untuk tetap tersenyum, kemudian berkata ...
"Terimakasih juga pak Brahman, aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa." Balas Ryan dengan kesopanan yang palsu.
Semakin tinggi kepala Brahman terangkat dan semakin rendah pula dia memandang Ryan...."Itu benar, kau Harusnya sadar diri, jangan membuat susah orang lain dan ingat jaga Reina, kalau sampai dia terlibat masalah, kau yang bertanggung jawab."
"Aku mengerti pak."
Dari jauh Reina hanya melihat, Ryan pun sadar akan kehadirannya, tapi sedikit senang karena dia meminta bantuan Brahman untuk datang.
Meski begitu di dalam sana Brahman tidak melakukan apa pun, Ryan menyelesaikan semua sendiri dia hanya menjadi pajangan patung Semar dengan perut buncitnya.
Sedangkan Nela dan Narmo datang dengan perasaan lega ketika tahu bahwa tuduhan kepada Ryan tidak terbukti.
"Elu buat gua khawatir aja, gua benar-benar gak tahu kalo Narmo punya rekaman video itu." Ucap Nella.
"Makanya gua sengaja mancing orang-orang itu buat ngelaporin Gua, dan pas mereka berasa di atas langit, gua jatohin sampai nyungsep." Balas Ryan tertawa senang.
"Harusnya elu bilang ama gua, biar pas hajar itu-itu orang gua ikutan."
"Kalo lu ikut, bisa-bisa mereka langsung rawat inap seminggu."
Tidak lama berselang, satu sosok wanita ikut mendekat dengan membawa lelaki paruh baya berkacamata hitam.
"Sudah selesai kah ?, Padahal gua minta bokap buat bantuin elu." Ucap Sea kepada Ryan.
"Itu gak perlu nona Sea, aku juga punya orang yang bisa bantu." Tunjuk Ryan kepada Jaelani dan juga Brahman.
Ryan cukup paham kenapa seorang wanita seperti Sea ingin memberi bantuan secara sukarela, padahal mereka baru kenal kemarin. Tentu tidak demikian. Ini hanya siasat, akal bulus dan rencana licik demi membuatnya berhutang budi.
Dimana sejak awal tujuannya adalah satu mencari cara untuk membuat Reina marah dan mengikuti perkataan Wina, kalau dia harus mendekati Ryan.
Namun lirikan mata ayah dari Sea melihat serius ke arah Ryan, setelah melepas kacamata yang menutupi wajah itu, barulah Ryan sadar, sebuah wajah familiar muncul.
"Ryan.. ?." Panggilnya.
Ryan sedikit terkejut..."Oh paman Alex."
"Jadi kau teman Sea yang katanya butuh bantuan."
"Tidak bisa dibilang teman juga paman." Balas Ryan tersenyum bingung.
"Apa mungkin pacar ?." Asal saja Alex berspekulasi.
"Apalagi itu, jelas bukan, karena kami kenal baru kemarin, jadi belum terlalu dekat."
"Tapi ngomong-ngomong masalah apa yang kau dapat sampai Sea ingin meminta bantuan." Tanya Alex penasaran.
"Jadi begini...."
Ryan pun menceritakan semuanya, dari awal tuduhan mereka, hingga epic comeback yang Ryan buat dengan bukti rekaman video.
"Untung saja ada pak Jaelani dan pak Brahman, sehingga mereka tidak bisa menyudutkan ku secara mental." Ungkap Ryan penuh rasa lega.
"Itu pak Jaelani..." Tunjuk Ryan ke arah lelaki besar yang sedang bicara dengan Istianti.
Tanpa perlu menunggu, Alex segera saja pergi untuk menyapa Jaelani, karena bagaimanapun mereka berdua adalah teman dekat di dalam bisnis.
Terlihat keakraban dan sikap sopan dari Alex ketika berbicara kepada mantan bosnya itu.
Sedangkan Sea masih berdiri diam dengan ekspresi bingung di tunjukan.
"Aku tidak tahu jika sebenarnya kau anak dari paman Alex." Tanya Ryan kepada Sea.
Tapi ekspresi Sea jelas semakin rumit...."Bagaimana mungkin Elu kenal bokap gua."
"Karena dulu, ayahku dan paman Alex adalah teman, jadi secara otomatis aku juga mengenal ayah mu."
Abram ayah dari Ryan memang selalu menjaga ikatan persahabatan dengan semua orang, entah itu Brahman, Jaelani atau pun Alex.
Walau antara Jaelani dan Brahman benar-benar menjadi rival untuk saling menentang satu sama lain dari jaman dulu, tapi tidak dengan Abram, walau termasuk bawahan Brahman, dia akan tetap membantu tanpa mencampur urusan bisnis.
Sehingga, semua orang yang mengenal betul siapa sosok Abram, mereka secara suka rela memberi bantuan kepada Ryan dan juga Istianti.
'Sungguh si*al, gak seperti yang gua harapkan.'
Di dalam pikiran Sea, dia sudah memutar simulasi kejadian, ketika Ryan tersudutkan oleh orang-orang yang mendorongnya ke dalam masalah, saat itu lah dia datang membawa satu sosok penyelamat.
Dan Ryan akan berkata... 'Nona Sea, terimakasih banyak, aku tidak akan bisa membalas bantuanmu seumur hidupku, aku pasti akan melakukan semua yang kau minta, meski pun nyawa ku sendiri sebagai taruhannya.' kurang lebih begitu.
Kemudian Dia pun akan menjawab... 'Gua ini adalah orang baik, gua gak butuh balasan apa pun dari elu, jadi bersyukurlah.'
Kemudian Ryan akan jatuh cinta kepadanya, sehingga bisa dipastikan Ryan memilih untuk meninggalkan Reina dan mengikutinya. Tentu sebagai tujuan membuat Reina marah.
Tapi ini semua sudah menyimpang terlalu jauh dari harapan Sea, itu juga yang membuat dia menyesal karena sudah berusaha payah membujuk ayahnya.
Alex memang memiliki nama yang hampir setara dengan Brahman di kota ini, sehingga orang-orang akan berpikir dua kali, jika berniat untuk melawan.
Paman Alex datang kembali ke tempat Ryan.
"Sudah aku katakan kepadamu Ryan, jika kau dalam masalah atau ingin meminta bantuan, telpon saja nomor ku, paman mu ini, siap berdiri di barisan depan untuk menolong mu."
"Terimakasih paman."
"Dan juga, kalian sudah saling kenal dan berteman, jadi tolong jaga anakku ini Ryan. Kadang-kadang dia memang menyusahkan tapi berusahalah untuk bersabar." Ucap Alex seperti sebuah permintaan.
Ryan mencoba tetap tersenyum..."Tentu saja akan aku lakukan."
Pada akhirnya, permintaan Alex memberatkan Ryan, dia yang sudah di buat repot oleh kelakuan Renia, kini diberi amanah untuk menjaga Sea. Keduanya sama-sama menjadi masalah dalam hidup Ryan.
Karena Alex memiliki banyak urusan, dia pun segera berpamitan pergi meninggalkan mereka, dan seketika itu juga, senyum di wajah Ryan turun.
"Menyusahkan sekali." Gumamnya.
"Elu ngomong apa ?." Tanya Sea.
Telinga Sea cukup tajam untuk mendengar keluhan itu.
"Aku sudah membayangkan, jika kau hanya akan membuatku susah." Ryan tidak ragu memperjelas apa yang dia ucapkan sebelumnya.
"Sombong sekali. Memang siapa yang mau di titipkan sama cowo model kaya Elu."
Sudah terlihat jelas bagaimana sikap Sea yang sebenarnya.
"Syukurlah kalau kau sadar, jadi aku tidak perlu berurusan denganmu."
"Asal Elu tahu aja, gua cuma pengin buat Reina marah, jadi itu sebabnya gua mau nolongin elu." Ungkap Sea terang-terangan.
"Kalau itu yang kau mau, Reina tidak akan marah hanya karena kau mendekatiku, jadi maaf saja, kau salah orang." Tawa Ryan dan dia tidak peduli.
Ryan pergi meninggalkan Sea tanpa ada yang harus di bicarakan lagi, akan tetapi, anggapan Ryan bahwa urusannya dengan Sea selesai adalah salah.
Gadis itu adalah orang yang menolak dianggap remeh oleh siapa pun, harga dirinya yang tinggi serta tidak mau kalah dengan orang lain, membuat Sea merasa terhina.