
Sebuah tempat hiburan malam identik dengan minuman beralkohol, kupu-kupu malam, lampu kelap-kelip dan iringan musik disko.
Semua orang datang ke tempat itu untuk melepas kepenatan hidup setelah bekerja seharian dengan tugas-tugas menumpuk di atas meja, suara atasan mengoceh saat omset turun dan juga potongan gaji karena kehilangan barang.
Mengambil sebotol minuman beralkohol menenggaknya berulang kali hingga hilang kesadaran. Tapi harusnya mereka sadar, meski sepuluh botol habis, itu tidak akan memecahkan masalah hidup, kecuali di tambah racun tikus maka selesai sudah.
Di tempat inilah Ryan dan Arum bekerja paruh waktu, tentu hanya sebatas pegawai pengantar minuman dan juga tukang bersih-bersih. Mulai dari jam 7 malam hingga jam 10.
Arum sudah 2 tahun bekerja di tempat hiburan milik paman Alex, awalnya dia tinggal bersama saudara dari sang ayah, karena keterbatasan ekonomi yang sama-sama orang miskin.
Satu tahun pertama semua baik-baik saja, tapi di tahun selanjutnya, pandangan mereka mulai berubah, dianggap Arum dan adiknya sebagai benalu yang numpang hidup, maka di usir lah mereka dari sana.
Setelah keluar dari rumah saudaranya itu, dia bekerja menjadi penjaga toko pakaian di pasar, namun karena jam kerja yang sangat sempit dan merasa sulit untuk menjaga Adiknya, maka Arum memutuskan keluar.
Hingga dia mengenal sosok Ayu, tetangga kontrakan yang menawarkan pekerjaan di tempat hiburan malam. Meski pun gaji yang Arum berdua dapat tidaklah banyak, tapi itu cukup untuk menyambung hidup.
"Bayangkan, kita hanya bekerja 4 jam dalam semalam, mendapat bayaran 100 ribu." Ucap Arum tersenyum sendiri saat bercerita.
"Syukurlah jika kau senang untuk itu." Santai Ryan memberi tanggapan.
"Apa kau tahu, sebelum bekerja di sini, aku sempat berpikir untuk menjual diri atau semacamnya, tapi jelas itu salah, aku tidak ingin membuat diriku lebih terhina lagi." Wajah Arum terlihat senang di dalam kisah sedih perjalanan hidup yang dia ceritakan.
Kemungkinan besar tidak ada teman untuk Arum curhat, sehingga mendapati satu orang sebagai pendengar, itu membuat Arum ingin menumpahkan keluh kesahnya.
"Terkadang, ketika hidup berada di posisi sulit, pikiran sempit itu memang datang. Pada akhirnya ada banyak orang yang memilih hidup di dalam kesalahan." Balas Ryan.
"Dari pada 'hidup dalam kesalahan', mereka hanya tidak memiliki pilihan lain. Tidak semua orang beruntung di hidup mereka."
"Tetap saja, memilih sesuatu yang salah akan menghasilkan jawaban yang salah, kecuali kau berusaha memperbaikinya."
Sebuah percakapan sederhana antara Ryan dan Arum tentang hidup yang mereka berdua jalani selama ini.
Dari tempat lain, satu pekerja memanggil.... "Ryan, angkat semua gelas yang ada di ruangan no 7."
"Baik pak." Saut Ryan siap.
Ryan segera menghentikan obrolannya dengan Arum dan berjalan pergi menuju ruang karaoke no 7 dari perintah karyawan seniornya itu.
Tapi sepintas satu sosok gadis muda berjalan keluar dari ruang sebelah dengan tiga lelaki. Wajah cukup akrab dan memang Ryan mengenali siapa gadis itu.
Sea, putri dari paman Alex pemilik rumah hiburan malam ini. Hingga saat dia akan melihat ke arah Ryan, penampan di tangannya di angkat untuk menyembunyikan diri dan segera saja masuk ke ruang nomor 7.
"Kenapa dia ada di sini." Ryan bersembunyi.
Dari luar ...
Sea merasa samar-samar melihat satu wajah lelaki yang dikenalnya, dia pun coba mencari ke tempat dimana sosok itu masuk. Tapi saat hendak membuka pintu, satu teman memanggil.
"Hei, ayo kita ke sana." Ajak mereka.
"Tunggu, aku ingin...." Belum selesai Sea bicara, teman-temannya menarik paksa tangan Sea.
"Sudahlah cepat...."
Mengetahui jika Sea sudah lenyap, Ryan segera mengerjakan tugas untuk mengangkut gelas dan membersihkan ruang yang telah di pakai oleh tamu.
ketika Ryan kembali ke tempat Arum, dia pun memberi tahukan semua.
"Sea ada di sini."
"Lalu kenapa ?." Jawab Arum seakan tidak peduli.
Ryan merasa aneh..."Apa kau tidak khawatir."
"Sea memang biasa datang ke tempat ini... tidak aneh juga, dia kan anaknya bos Alex, jadi wajar saja."
"Sampai sekarang, dia tidak mengenaliku, jadi aku bisa tenang."
"Kau memang bisa tenang, tapi tidak untukku."
"Santai saja. Ini bisnis ayahnya, akan menjadi hal buruk, kalau Sea melaporkan ayahnya memperkerjakan anak di bawah umur." Perjelas Arum tersenyum mengejek.
"Ya kau benar." Ryan paman untuk penjelasan Arum.
Memang benar, hidup yang dia miliki sekarang adalah karena kesuksesan di bisnis sang ayah, jika Sea ingin melaporkan Arum atau pun Ryan, maka secara otomatis itu juga akan menjadi coretan buruk kepada ayahnya.
Tapi tetap saja, antara dia ketahuan atau tidak oleh Sea, Ryan lebih memilih tidak, karena bisa dirasakan Sea akan membawa banyak masalah.
Beberapa saat setelah muncul perasaan lega karena tidak perlu khawatir soal Sea, salah satu pengawal pribadi paman Alex datang ke arah dapur.
Jika biasanya pengawal pribadi bernama Rojak itu datang ke dapur untuk merokok, tapi sekarang berbeda, dia memiliki tujuan lain, yaitu kepada Ryan.
"Ada apa pak ?."
"Kau dipanggil bos." Balas Pak Rojak kepadanya.
"Kenapa ?."
"Entahlah."
"Apa kau membuat masalah lagi ?." Ucap Arum.
"Hei. Aku bukan orang yang setiap hari mencari masalah." Balas Ryan.
"Siapa tahu."
Ryan tidak berpikiran hal aneh, karena dia tidak melakukan kesalahan apa pun selama bekerja di tempat ini.
Namun apa yang dia lihat setelah membuka pintu kantor, Sea duduk di kursi tempat Alex biasa duduk. Senyum diwajahnya itu sepintas membuat Ryan tidak nyaman dan tanpa pikir panjang dia pun segera menutup kembali pintunya.
"Hei, jangan seenaknya sendiri, cepatlah masuk." Keras suara Sea memanggil Ryan dari dalam ruangan.
Tapi Ryan pura-pura tidak mendengar dan berniat pergi secepat mungkin. Dari arah toilet, Alex barulah datang menuju ruangannya dan melihat aneh kepada Ryan.
"Kenapa kau disini Ryan, apa kau perlu dengan ku ?." Tanya Alex bingung.
Pertanyaan paman Alex itu membuat Ryan sadar, bahwa Sea adalah orang yang meminta pak Rojak untuk memanggilnya datang atas nama Paman Alex.
'Si*al ternyata dia tahu kalau aku bekerja di sini.'
"Tidak paman, aku hanya lewat untuk mengambil sampah saja." Ryan beralasan seadanya.
"Oh, begitu, mumpung kau ada disini masuklah, ada yang ingin paman bicarakan."
"Tapi..." Ryan ingin menolak.
Alex tidak membiarkan dia pergi...."Sudahlah ayo masuk."
Belum saja paman Alex membuka pintu, Sea muncul secara tiba-tiba. Dan Alex pun sama terkejutnya seperti Ryan ketika tahu bahwa Sea sudah menunggu di dalam.
"Sea kenapa kau disini." Alex pun sama terkejutnya dengan Ryan.
"Aku hanya datang untuk bermain, apa itu salah ayah ?."
"Ya... Tidak juga, terserah kau saja."
Ryan tidak bisa pergi atau beralasan untuk menghindari Sea, karena Alex pun memaksa masuk ke dalam ruangan, sedangkan Sea tampak begitu senang karena sekarang dia tahu, jika Ryan bekerja di tempat ayahnya.