
Di dalam ruang perawatan nomor 73...
Brahman dan juga Sela berjalan masuk dengan karangan bunga dan parcel berisi buah-buahan yang mereka bawa untuk mengunjungi Istianti.
Namun suasana menjadi tidak menyenangkan ketika Brahman melihat satu sosok yang duduk di bangku sebelah ranjang itu.
Pertemuan kembali antara beruang dan gajah, Brahman dan Jaelani yang jelas menunjukan sikap permusuhan satu sama lain.
"Hei otak udang kenapa kau disini ?, Apa kau tidak pulang saja dan menjaga toko mu itu." Ucap Brahman dengan nada meremehkan.
Tapi Jaelani pura-pura tersenyum dan membalas perkataan itu...."Oh ikan buntal, tidak biasanya kau berada di sini, bukankah kau lebih senang untuk mengisi waktu luang dengan membaca koran, minum kopi dan roti selai nanas beserta kulit nanasnya juga."
Keduanya sama-sama tersinggung, sama-sama marah dan sama-sama tidak mau kalah, tapi Brahman jelas lebih sensitif untuk mendengar hinaan dari Jaelani.
"Apa kau mau cari ribut, Jae..."
"Oh, siapa takut..." Barulah Jaelani berdiri dan sudah menarik lengan bajunya.
Hingga satu suster paruh baya datang membawa macam-macam obat untuk melakukan cek kesehatan berkala kepada isti.
Namun sebelum suster itu datang tentu dia pun mendengar perseteruan antara dua lelaki yang saling berhadapan di sana.
"Tuan-tuan harap tenang, ini rumah sakit, bukan lapangan bola atau pun ring tinju, jika kalian membuat onar maka aku akan panggil security." Ucap suster itu dengan lirikan mata tajamnya.
Sela yang paham untuk situasi dimana di dalam ruangan tempat Isti di rawat, ada tiga orang lain memperhatikan mereka.
"Papa, jangan terbawa emosi, setidaknya bersabarlah, karena akan mengganggu pasien lain." Ucap Sela mengambil tangan Brahman lembut.
"Baiklah..." Brahman pun patuh menjawab Sela.
Dan sekali lagi, Jaelani merasa dikalahkan telak oleh perhatian Sela yang merayu Brahman dengan suara lembut nan merdu itu.
"Berterimakasih kepada istriku ini Jae, jika bukan karena permintaannya, sudah aku lempar kau keluar jendela." Brahman dengan senyum menyombongkan diri, merasa menang karena memiliki istri muda yang cantik dan seksi seperti Sela.
"Memang kau bisa ?. Apa yang aku lihat sekarang bukan otot, tapi lemak di perut mu." Tawa Jaelani memanas-manasi Brahman.
Sekali lagi keduanya saling berdiri dan saling pandang...."Oh, kau mau mencobanya."
"Tentu saja."
Seketika mereka akan kembali membuat keributan, suara batuk dari Suster ibarat tanda peringatan keras, dan keduanya pun paham untuk tetap tenang.
"Rohmad..." Cibir Jaelani.
"Su...su..sueb." Brahman pun membalas.
Tetap saja Brahman dan Jaelani tidak bisa diajak kompromi, hingga bingung Sela melihat tingkah laku keduanya seperti anak kecil yang kalah karena bermain gundu, kemudian saling ejek nama orang tua.
Selesai suster melakukan pemeriksaan kepada Istianti, barulah Sela menyerahkan bingkisan di tangannya. Brahman melihat-lihat sekitar, dia merasa tidak nyaman mencium aroma obat-obatan dan suasana di penuhi orang sakit yang sedang istighfar.
Brahman memiliki pengalaman buruk ketika di dalam rumah sakit.
Dimana setelah kejadian yang membuat Abram tertembak dan tewas saat menyelamatkannya dari kebakaran. Selama 5 hari Brahman harus di rawat cukup serius dengan rasa sakit yang tidak tertahan.
"Kenapa kau mendapat tempat di ruang kelas 2 seperti ini, bukankah lebih baik memilih ruang VIP." Ucap Brahman dengan ekspresi wajah tampak seperti melihat sesuatu yang tidak selevel untuk dirinya.
"Mulai lagi, keluar dah sombongnya..." Sindir Jaelani.
Brahman yang mudah tersinggung pun sadar dari sikap Jaelani..."Apa kau ada masalah Jae."
"Ya, aku selalu memiliki masalah denganmu, asal kau tahu Brahman, bagimu ruang VIP adalah harga murah, bahkan kalau kau mau, kau bisa menginap sampai 1 bulan tanpa khawatir biayanya... Tapi untuk Isti tentu tidak mudah."
Mendengar itu, Brahman tertawa kecil...."Sungguh... jiwa miskin mu meronta-ronta Jae, aku bingung, kenapa dulu kau rela melepas wilayah mu dan hidup seperti sekarang, lihat untuk memberi bantuan kepada Istianti saja kau harus berpikir soal biaya. Besok pindahkan Isti ke ruang VIP, biar aku yang membayar semuanya."
"Itu tidak perlu pak Brahman, bantuan dari Jaelani sudah cukup." Hanya saja Isti menolak keinginan Brahman.
Tentu alasannya sederhana, dia tidak ingin terlihat berhutang budi, dan juga akan membuat jiwa sombong Brahman semakin tinggi di atas kepala. Lelaki macam Brahman jika diberi panggung, sudah seperti manusia mulia hingga berani melawan tuhan.
"Jangan menolaknya Isti, aku tidak mau di pandang remeh oleh manusia satu ini."
"Aku tidak memandang remeh, hanya ingin menghina mu saja." Itu yang di katakan Jaelani secara terang-terangan.
"Kau terlalu jujur untuk seseorang yang selalu mencari masalah denganku."
Terlepas dari permusuhan itu, Jaelani pun memutuskan pulang, dia sudah semalaman penuh berada di rumah sakit, tentu ada banyak hal yang harus lakukan di rumah.
"Baiklah Isti, aku pulang terlebih dahulu, malam nanti aku akan datang lagi. Jika manusia ini berbuat macam-macam denganmu, katakan saja, biar aku patahkan lehernya itu. " Jaelani pun berpamitan.
"Terimakasih Jae, aku yakin pak Brahman tidak akan melakukan hal buruk."
Berjalan keluar dan membuka pintu..."Istirahat lah, cepat sembuh."
Namun tidak lama setelah Jaelani pergi, Brahman pun mendapat panggilan telepon perihal pekerjaan, dia tentu tidak mau merepotkan diri untuk mengurus orang sakit yang pada akhirnya membuatnya rugi waktu.
"Siapa itu papa." Tanya Sela.
"Orang kantor, mereka menelfon jika ada rencana proyek baru yang harus di rapatkan, jadi karena itu, aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku akan pergi ke kantor." Jawab Brahman sembari menaruh kembali ponsel ke dalam kantong celana.
"Baiklah papa, biar aku di sini menjaga Isti."
Isti tidak nyaman dengan kehadiran mereka...."Tidak masalah nyonya, sebentar lagi Ryan akan pulang, aku yakin dia akan kemari. Jadi nyonya tidak perlu menjaga ku."
"Jangan membuatku seperti orang jahat kak Isti, tidak mungkin aku membiarkan orang sakit mengurus dirinya sendiri." Namun Sela memaksa.
Isti pun tidak punya pilihan lain ..."Terimakasih nyonya."
"Aku akan pergi dulu, jika kau ingin pulang, panggil saja supir untuk menjemput mu, atau juga naik taksi... Ya terserah kau saja."
"Baik papa."
Lepas Brahman pergi keluar, kini tinggalkanlah Istianti dan Sela berdua di ruang perawatan.
Di sebuah tempat yang dipenuhi orang-orang sakit, tentu tidak membuat mereka bicara dengan santai, suara manusia menyebut nama tuhan mereka seperti nyawa di ujung tenggorokan, aroma obat pun tidak nyaman untuk di hirup.
Isi pikiran Sela begitu rumit dan mulai bicara apa yang membuatnya tidak senang.... "Kak Isti, aku benar-benar tahu seberapa sulit hidup sebagai orang miskin, bekerja keras dari pagi hingga malam namun tidak bisa mencukupi kebutuhan, merasa terhina saat dipandang rendah oleh orang lain dan kita tidak hanya bisa patuh tanpa berani melawan. Jadi kenapa kak Isti mau hidup seperti ini ?."
"Mau bagaimana lagi, mungkin ini sudah menjadi takdir." Singkat jawaban yang di ucapkan Isti.
Sedikit senyum dari Sela seperti sedang mengejek ..."Takdir kah ?, Sungguh alasan klasik, padahal aku sudah tahu dari Brahman, kau bisa mengubah hidupmu, karena kau sebenarnya putri dari keluarga kaya raya."
"Memangnya kenapa ?, Hidup dalam keluarga kaya raya, tapi aku merasa tidak bahagia."
"Tapi sekarang lihatlah, apa yang bisa kau lakukan dengan kondisi mu sekarang, berdoa kepada tuhan agar semua akan baik-baik saja ?."
"Mungkin seperti itu."
Sela tidak menyukai jawaban Isti, dia selalu menyangkal bahwa kesengsaraan yang dialaminya bukan hal buruk. Sedangkan bagi Sela sebuah kemiskinan ibarat aib yang ingin dia singkirkan.
"Jangan bercanda kak Isti, dulu aku pun beranggapan bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi saat aku tidak punya uang, jangankan untuk bahagia, rasanya seperti ingin mati saja." Ucap Sela dengan wajah serius.
"Aku sadar apa yang aku lakukan, dan aku tidak menyesal dengan hidupku sekarang."
Sela tidak paham kenapa isi pikiran seorang Istianti begitu sulit untuk di ubah. Berbeda dengan Sela, dia rela mengorbankan banyak hal bahkan kebahagiaannya sendiri, demi hidup yang lebih baik, meski harus merayu lelaki tua seperti Brahman.
Posisi Istianti sekarang, seperti Sela melihat sebuah cermin, dimana bayangan yang terpantul di depan mata, adalah dirinya dari masa lalu.