
Tiga siswi keluar dari kamar mandi, Satu wanita berjalan dengan wajah acuh dan tidak perduli, sedangkan dua orang wanita lain yang mengikuti dibelakang.
Mereka berdua terus bercerita panjang lebar, tentang tas kulit buaya harga diskon, sepatu mahal beli kiri gratis kanan, atau apa pun yang menurut mereka sedang menjadi trend fashion dikalangan anak muda.
Tapi di sisi lain Wina yang mengetahui beberapa berita terbaru di sekolah, menyampaikan sesuatu untuk membuat kawannya tertarik.
"Sea, Elu tahu, Anak pindahan baru kelas dua IPS itu cukup tampan, dia banyak di bicarakan cewek-cewek." Ucap Wina.
"Hmmm." Wanita yang bernama sea hanya bergumam, dia seakan tidak tertarik mengikuti pembicara Wina.
"Sea, apa Elu denger yang Gua omongin."
"Dengar, dengar... Jadi ?." Balasnya terpaksa dan sangat jelas tidak perduli.
"Jadi dia punya hubungan sama Reina."
"Oh begitu."
"Elu sepertinya tidak tertarik sama sekali."
"Ya untuk apa aku tertarik, para cowok yang deket sama Reina cuma orang-orang bodoh, penjilat dan munafik." Dijawabnya dengan nada kesal.
"Elu pasti sedang cemburu, gara-gara Juna memilih Reina." Wina mulai memanas-manasi.
"Hah !?, Cemburu ?, kagak level gitu." Ditolaknya mentah-mentah.
"Padahal waktu itu, Elu sampai marah-marah pas Juna minta putus."
"Elu itu di pihak siapa sebenarnya." Sea menatap Wina marah.
"Gua gak berpihak dengan siapa pun, gua netral, gua teman Reina, dan juga teman elu." Wina cukup santai dengan posisi tanpa mau disalahkan oleh siapa pun.
"Kalau begitu, jangan bicarakan urusan gua dengan Juna, apa lagi Elu bawa Reina saat kita sedang bicara."
"Hanya mendengar namanya saja, Elu kelihatan sekali membenci Reina ." Wina tersenyum menyukai ekspresi Sea.
"Ya gua benci, gua sangat membenci Reina, dia yang gua anggap sahabat, nyatanya tukang tikung, pelakor, latcur."
Tapi Wina seakan tahu apa yang harus di lakukan..."Kalau begitu, kenapa Elu gak coba dekati Ryan, Gua yakin Reina akan marah karena itu."
"Darimana elu tahu."
"Itu urusan elu Sea, elu mau percaya atau tidak, tapi Reina seperti cukup perhatian dengan Ryan." Wina berjalan pergi meninggalkan Sea.
Tidak perduli apa yang sedang di pikirkan oleh teman-temannya, tapi dia menikmati setiap kejadian drama-drama dan kisah cinta penuh plot twist diantara mereka.
Perasaan manusia membuat Wina merasa tertarik, melihat bermacam orang dengan banyak ekspresi, tentang jatuh cinta, putus asa, cemburu, kecewa, marah, bahagia, tertawa, penyesalan dan kebencian.
Dia benar-benar orang yang netral, tidak memihak kepada siapa pun, sebagai pengamat dalam sebuah cerita, tokoh sampingan untuk membuat plot yang lebih berwarna atau mungkin seperti bumbu penyedap agar rasa kehidupan tidak hambar.
Disaat yang tepat pula, Wina melihat Reina keluar ruang UKS dengan menunjukkan wajah marah, langkah kakinya tergesa-gesa dan suara ocehan berkata... "Dasar tidak tahu di untung, si*alan buang-buang waktu saja."
"Dia gak tahu apa, capek-capek buat dateng eh malah diusir."
"Gua mau ngobatin, di kira mau bunuh."
"Dia itu punya otak gak sih, sebenernya."
"Percuma gua khawatir." Masih saja Reina mengoceh sendiri.
Wina berjalan mengikuti dari belakang, Reina pun bicara cukup keras. Meski dibilang tidak menguping, tapi siapa pun bisa mendengar semua dengan jelas.
"Rein...." Panggil Wina.
Tidak ada jawaban, Reina terus berjalan
"Apa sih....." Berbalik menunjukan wajah kesalnya. "Ternyata kau, Wina."
"Oi, oi, oi, siapa ini yang buat elu emosi gini." Wina cukup terkejut dengan ekspresi serius Reina.
"Bukan urusan elu, jadi diamlah."
"Kenapa tidak boleh jadi urusan Gua ?, jika gua sendiri mendengar elu mengoceh tidak jelas dari ujung sana. Tentu ini akan menarik untuk tahu siapa yang membuat elu sampai marah begini." Wina tersenyum penuh makna.
Untuk seorang teman yang dua tahun ini saling kenal, Wina cukup paham atas kepribadian Reina, dia tidak pernah memikirkan sesuatu hingga berlarut-larut, bahkan dalam urusan lelaki, Juna tidak sampai membuat Reina galau.
Hidup yang serba ada, bahkan berlebihan atau wajah cantik hingga para lelaki rela membuang harga diri demi mendapat perhatian. Reina adalah pemeran utama dalam drama kehidupannya sendiri.
Juna mungkin tidak sadar, tapi Wina tahu, jika Reina yang selama ini dia lihat berusaha untuk mendekat kepada Juna, hanya sekedar menunjukan diri, bahwa dia bisa mendapatkan apa pun yang wanita lain tidak bisa miliki.
Menceritakan semua yang terjadi kepada Wina, tentang tindakan Juna memukuli Ryan, atau kejadian di dalam ruang UKS, menganggap tindakannya untuk membantu malah di tolak mentah-mentah.
Wina tidak bisa menahan tawanya..."Apa elu benar melakukan itu."
"Ya tentu saja, apa yang salah, gua ingin mengobatinya, tapi dia bilang kalo gua ingin membunuhnya."
"Gua benar-benar berharap bisa melihat kejadian itu." Tertawa Wina terbahak-bahak.
"Tertawa lah sampai elu puas."
"Gua bertanya-tanya, kenapa Elu begitu perduli dengan Ryan."
"Gua gak perduli, gua cuma merasa bersalah karena Juna bikin dia bonyok." Reina menjawab sembari memutar wajah yang kesal.
"Ini lucu, sejak kapan elu merasa bersalah dengan orang lain, apa elu dan Ryan memiliki hubungan khusus, atau semacamnya ?." Wina terus mendorong reina dengan pertanyaan lain.
"Gua hanya kasihan, dia orang miskin, dan ayahnya sudah meninggal, jadi bokap meminta Ryan itu untuk menjadi pelayanku di sekolah."
"Terus ?."
"Terus apa ?."
"Gua tahu elu, Rein, sekali pun itu adalah pembantu elu, dan pembantu elu lagi kena bisul, tidak bisa berangkat kerja, elu bakalan marah tidak mau perduli apa pun keadaannya." Wina benar-benar paham untuk sikap Reina.
"Elu bikin gue semakin marah aja, Win."
Tatapan mata Wina serius...."Jangan salahkan Gue, Gue cuma tanya dan terserah elu mau jawab atau tidak. Tapi Rein, elu terlalu banyak memperhatikan Ryan, kalau Juna tahu kalo Elu punya rasa sama Ryan, dia pasti kena masalah."
Reina diam, dia tahu bahwa itu memang akan terjadi, Juna lelaki kasar yang akan menyingkirkan siapa pun orang saat mengusik kesenangannya.
Wajah Reina menunjukkan rasa khawatir atas ucapan Wina, karena semua yang dia ucapkan adalah benar, walau tidak mungkin untuk mengeluarkan Ryan dari sekolah, dimana ayah Reina berjanji menjaganya sampai lulus. Tapi tidak dengan perundungan dari Juna.
"Jadi Rein, kalo elu tidak mau melihat Ryan itu celaka, satu-satunya cara adalah elu mendekat kepada Juna dan berusaha merayu, agar tidak membuat Ryan itu di bully." Wina pun memberi solusi seperti yang diinginkan oleh dirinya sendiri.
"Mungkin elu benar, biar Gua bicara dengan Juna nanti." Reina mudah menerimanya.
"Elu cepat tanggap Reina, tapi Elu tahu, Ryan itu cukup terkenal di kalangan wanita. Termasuk Sea, Gua dengar dia tertarik juga kepada Ryan." Hal lain pun Wina bicarakan.
Rumit wajah Reina menggambarkan ketidaksukaannya tentang kabar yang Wina bicarakan. Terlebih lagi dengan satu nama yang jelas-jelas membuat Reina kesal.
"Gua gak akan membiarkan wanita itu seenaknya sendiri."
Senyum Wina menunjukkan hal lain, saat emosi Reina bisa dia baca...."Tunggu, tunggu Reina, elu tahu, jika elu marah karena Sea karena deket ama Ryan, itu malah berbalik membuat Juna semakin bersemangat membully Ryan."
"Si*al."
Wina benar-benar mudah mempermainkan Reina, dia secara sengaja ingin melihat bagiamana drama cinta di dalam sekolah ini berlangsung sesuai keinginannya.