
Di rumah tipe S3 (Selonjor Saja Susah)
Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, seperti biasa Ryan bersiap-siap untuk berangkat menuju kota dan bekerja di satu rumah hiburan malam.
Sebelum Ryan berangkat, ibunya barulah pulang setelah menyelesaikan pekerjaan di rumah Brahman.
"Kau mau pergi, An." Tanya ibunya melihat Ryan sudah berpakaian rapi.
"Iya ibu." Jawab Ryan.
Sejenak mengambil kursi untuk duduk, tatapan mata Isti sedikit lemas ke arah putranya itu.
"Harusnya kau tidak perlu bekerja paruh waktu, fokuslah untuk belajar dan sekolah, soal uang ibu akan berusaha membeli apa yang kau butuhkan."
Ryan memang bukan anak yang berbakti, tapi dia tidak ingin menjadi beban..."Tidak apa-apa ibu, urusan sekolah juga semua lancar, nilai ku tidak turun, meski pun sulit untuk naik... Sedangkan pekerjaan tempat paman Alex lebih seperti hiburan di waktu luang saja."
"Apa tidak ada cara lain untuk mengisi waktu luang mu."
"Tentu, aku harap juga ada hal lain. Tapi nyatanya... Membuang-buang waktu untuk hal tidak berguna hanya menjadi kerugian, jadi aku gunakan saja dengan bekerja." Jawab Ryan.
"Terserah apa yang kau inginkan, ibu hanya minta kau menghindari hal-hal berbahaya, apa lagi bekerja di tempat Alex, membuat ibu sedikit khawatir."
"Khawatir jika aku terluka ibu ?."
"Tidak, ibu khawatir kau melukai seseorang." Itu jawaban dari ibunya.
"Selama tidak ada alasan, aku selalu menjaga emosi."
"Kalau begitu, tetap lah bersikap sopan."
"Aku tahu ibu, jadi aku pergi dulu." Ryan berpamitan dengan ibunya.
Istianti tentu tahu bisnis apa yang dimiliki oleh Alex, dia pun cukup percaya, bahwa Ryan bisa menjaga diri dan juga Alex tidak mungkin menempatkan Ryan di pekerjaan yang melanggar hukum.
Setelah lepas dari kepergian Ryan, Isti pun segera mengganti pakaiannya. Namun tidak seperti ibu-ibu pada umumnya yang selalu menggunakan fashion baju daster di dalam rumah.
Isti bersiap dengan pakaian lain yang rapi sedikit formal dan bermake-up, usianya memang sudah 37 tahun, tapi kecantikan janda anak satu itu seakan tidak termakan oleh waktu.
Tubuh langsing sedikit kurus, rambut hitam panjang dan juga keanggunan seorang wanita dewasa masih terpancar indah. Bahkan jika para lelaki melihat Isti, mereka tidak akan mengira bahwa dia sudah berkepala tiga dengan satu anak remaja.
Hingga satu orang lelaki bertubuh besar menunggu di luar, mengetuk pintu dan dibuka oleh Istianti.
"Terimakasih Jae, kau sudah mau menerima permintaan ku." Ucap Isti.
"Ini bukan masalah besar Isti, Abram adalah sahabat ku, dia sudah banyak memberi bantuan di dalam hidupku dan aku tidak pernah bisa membalas hutang budi kepada Abram."
"Soal hutang budi antara kau dan Abram, aku tidak tahu, dia tidak pernah bercerita apa pun soal itu, jadi untuk sekarang, ini adalah permintaan dariku." Balas Isti tanpa senyum sedikit pun.
"Aku paham, tapi apa kau yakin dengan tujuanmu."
"Untuk apa aku ragu, bagaimana pun caranya, aku akan mencari perhitungan atas kematian Abram dan membuat Brahman menerima dosa-dosanya."
"Baiklah, aku coba membantumu."
Jaelani sudah mempersiapkan sebuah mobil yang terparkir di luar rumah, Isti berjalan masuk dan dibawanya pergi ke suatu tempat.
Awalnya Isti coba menerima dengan ikhlas kepergian Abram, tapi satu demi satu ke tidak nyaman di hati Isti datang, dia pun mulai mencari tahu tentang pekerjaan Abram dan juga Brahman.
Hingga tanpa sengaja, dia menemukan sebuah berkas laporan milik Abram untuk pekerjaan yang dia lakukan bersama Brahman selama ini.
Setiap proyek pembangunan di perusahaan Abram memiliki banyak bukti transaksi ilegal, ada banyak data mengenai penggelapan dana dan juga potret orang-orang yang dipaksa oleh Brahman untuk menjual lahan mereka dengan harga di bawah standar.
Nyatanya, Abram menyembunyikan semua berkas kejahatan Brahman ini adalah sebagai senjata demi melindungi keluarganya, jika suatu hari nanti Brahman mengancam dan berniat jahat maka Abram bisa melawan balik.
Namun, sampai kematian Abram, berkas-berkas itu tidak dia gunakan.
Tapi bagi Isti, semua data yang dia miliki belum cukup membayar dosa-dosa Brahman. Terlebih lagi, kekuatan uang yang orang itu milik sangat efektif membeli keadilan.
*******
Di rumah hiburan....
Tepat di jalan menuju tempatnya bekerja, tanpa sengaja berpapasan dengan Arum. Ketika di sekolah dia selalu menggunakan kacamata dan juga menguncir rambut untuk menyembunyikan diri agar tidak terlihat mencolok.
Tapi saat dia berada di tempat kerja, seakan semua penampilannya terlihat berbeda dan menjadi orang lain. Arum menunjukan diri sebagai sosok gadis muda cantik ber-make up, hingga mampu membuat orang-orang terpesona.
Ryan berjalan mendekat ke arah Arum yang tidak melihatnya datang.
"Hai nona cantik, apa kau sendirian." Saut Ryan menyapa dengan rayuan.
"Jangan ganggu aku, pergi lah."
"Oh, oh, oh, nona cantik ini ternyata sombong sekali. Apa kau tidak bisa bersikap lembut untuk teman satu kelasmu."
Arum barulah sadar ketika dia berbalik...."Ryan, apa kau berniat mengejekku."
"Menurutku, apa yang aku katakan adalah pujian, tapi kenapa kau merasa tersinggung." Ryan bingung ketika melihat wajah Arum.
"Aku tidak menyukai pujian, jadi diam lah."
Arum cukup pandai menyembunyikan diri dengan pengalaman bertahun-tahun hidup sebagai orang asing di dalam kelas. Karena itu, meski dia senang mendengar perkataan Ryan, tapi berusaha untuk tidak tersenyum.
"Aku baru pertama kali melihat ada wanita yang tidak suka di puji."
"Ya benar, karena aku adalah wanita spesial." Jawabnya sendiri dengan bangga.
"Daripada spesial aku lebih senang menyebutnya spesies langka."
Arum tersinggung..."Pada akhirnya kau hanya berniat mengejekku."
Memasuki rumah hiburan dari pintu belakang, seorang wanita duduk santai dengan sebatang rokok yang dia hisap perlahan.
"Oh, tidak biasanya kalian berdua datang di waktu yang sama, apa sudah janjian." Berkata Ayu penuh semangat untuk menggoda mereka.
"Kenapa juga harus janjian dengan lelaki model begini." Arum menolak.
"Apa yang kau sebut 'lelaki model begini' ... Sebenarnya adalah anak orang kaya, konglomerat, pengusaha sukses dan aku sedang berpura-pura menjadi orang miskin untuk menerima warisan ratusan milyar." Ucap Ryan menunjukkan ekspresi serius.
Terkejut Ayu bersemangat..."Benarkah itu."
"Kau terlalu banyak mengarang Ryan, untuk apa orang kaya berpura-pura miskin, apa mereka sedang gabut ?." Arum tidak termakan ucapan Ryan.
"Bisakah kau sedikit percaya." Balas Ryan.
"Jika aku percaya maka aku akan berdosa."
"Mungkin saja itu benar-benar terjadi."
"Terjadi di dalam novel atau karya fiksi karangan anak SD, itu mungkin saja." Tawa Arum dengan mengejek.
"Jangan meremehkan ku, mungkin sekarang aku akui, aku bukan orang kaya atau pengusaha sukses, tapi suatu hari nanti aku pasti melakukannya." Penuh semangat Ryan mengumandangkan diri dengan yakin.
"Saat itu terjadi, aku benar-benar rela meski harus menjadi istri ke tiga belas mu." Jawab Arum tersenyum.
Arum hanya berpikir realistis seperti semua wanita di dunia ini, uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi kebahagiaan datang saat mereka memiliki uang. Sedangkan jika tidak memiliki uang, jangankan untuk bahagia, mengeluh pun seperti percuma saja.
"Saat itu terjadi, aku akan menagih janjimu Arum."
"Wah aku tidak sabar... Sekarang, sudah cukup bercanda, kita harus bekerja, karena itu satu-satunya cara agar memiliki uang." Arum menarik tangan Ryan untuk mulai bekerja.
Bagi Arum sekarang, dia tidak ingin terlibat dalam urusan asmara atau hal-hal kurang kerjaan hingga menganggu waktunya. Itu semua demi Zein yang menjadi alasan dia harus berjuang dalam hidup.