
Golden dawn Restauran....
Satu tempat restoran ternama di kota sebelah yang menjadi tujuan Istianti. Setelah memarkirkan mobilnya, Jaelani ikut bersama Isti masuk kedalam restoran.
Pintu secara otomatis terbuka, ada banyak pengunjung berjas dan dasi sedang duduk menunggu dalam antrian karena ruangan utama masih penuh dengan tamu.
Langkah kaki Istianti berjalan anggun menggunakan sepatu berhak tinggi di atas lantai marmer keemasan, cat hijau yang dipadukan dengan goresan kuning, ornamen-ornamen klasik bergaya Eropa abad pertengahan dan lampu-lampu kristal gantung tampak mewah menghiasi langit-langit lobby.
Meski Istianti sudah lebih dua puluh tahun tidak pernah hadir dalam acara formal, kecuali untuk mengambil raport semester Ryan, dia masih bisa menunjukkan diri dengan pendidikan etiket keluarga terpandang.
Sedangkan di belakang, lelaki bertubuh besar berjalan tegas hingga mengeluarkan suara keras dari setiap pijakan kaki. Tatapannya tajam, mengawasi setiap sudut lobby layaknya bodyguard yang menjaga Isti.
"Jae, kau tidak perlu kaku begitu, kita disini bukan untuk mencari musuh, jadi santailah."
"Aku sudah santai, tapi memang dari sananya aku seperti ini." Balas Jaelani lemas, meski wajah yang lemas itu, masih terlihat menyeramkan.
"Oh, begitu.'
Tampak dari arah meja Resepsionis, satu wanita sudah bersiap menyambut, senyum yang dia tunjukan menyapa Istianti dengan anggukan kepala sopan.
Sedangkan ketika dia melihat sosok Jaelani dengan tatapan mata tajamnya, wanita itu sedikit mundur setengah langkah ke belakang karena merasakan tekanan batin, jika harus menghadapi orang seperti Jaelani.
"Se-selamat malam nyonya, mohon maaf sebelumnya, untuk saat ini meja sudah penuh, jika nyonya berkenan, kami akan memasukan ke waiting list." Ucapnya sopan.
"Apa ?." Saut Jaelani.
Resepsionis itu menganggap Jaelani marah, padahal ucapannya tidak lebih dari tanda tanya biasa, namun karena suara yang cukup berat membuat orang-orang merasa kalau dia sedang marah.
"Kau diam saja, jangan bicara apa pun."
"Ok." Patuh Jaelani dengan ucapan Istianti.
Kembali Isti tersenyum kepada resepsionis dan berkata.
"Maaf nona, tidak perlu takut, dia bukan orang jahat, paling tidak untuk sekarang."
"Jadi ada kemungkinan dia akan melakukannya." Itu yang resepsionis pahami.
Tapi senyum Istianti membuat suasana menjadi santai...."Tergantung situasinya, tapi tenang saja, aku pastikan tidak ada yang terjadi."
"Baik nyonya."
"Ngomong-ngomong, aku sudah memiliki janji dengan salah satu tamu yang memesan menjadi di dalam." Kata Istianti.
"Kalau boleh tahu atas nama siapa ?."
"Aku Istian Azalea Jayanaga."
Resepsionis membuka buku tamu, dan memang ada satu nama tercantum di dalamnya... "Ya kami sudah menerima pesan untuk membawa nyonya Istian masuk ke ruang VVIP."
"Terimakasih banyak."
Mengikuti kemana resepsionis itu nenbawa Istianti ke satu tempat khusus yang memang sudah di pesan oleh tamu penting.
Berbeda dengan ruang makan tamu Reguler dimana setiap meja saling beriringan satu sama lain, hanya ada pembatas untuk memisahkan mereka. Sedangkan ruang VVIP adalah tempat pribadi, jika pun ingin menggunakannya, maka ada biaya tambahan dan itu tidaklah murah.
Membuka pintu satu ruangan bertuliskan 'VVIP 07' di bagian dalam restoran, nyatanya ada tiga orang sudah duduk dengan sajian makanan di atas meja mereka
"Silakan nyonya." Dipersilahkan Istianti untuk masuk.
"Terimakasih."
Sebuah tempat khusus yang dipenuhi bermacam-macam hiasan dinding, meja bundar untuk lima sampai sepuluh orang dan lantunan musik jazz dari speaker atas plafon.
Setelah resepsionis itu pergi, barulah Istianti berjalan mendekati tiga orang yang sudah hadir. Dua orang tua, lelaki dan perempuan, dan satu wanita remaja yang menjadi asisten mereka.
Ragu-ragu Istianti di setiap langkah kakinya, Jaelani jelas sadar, bahwa ada ketakutan dari wajah Isti bahkan sekedar mengucap beberapa kata.
Namun kuat tangan mengepal, menyakinkan diri dan berkata dengan gemetar.
"Ayah, ibu..." Ucapnya perlahan.
"Sudah dua puluh satu tahun kau pergi dari rumah, dan kemarin kau mengirimkan surat ingin bertemu kami, apa kau tahu, aku sudah terlalu tua jika bepergian jauh, reumatik ku bisa kambuh." Lelaki tua menjawab dengan suara layu dan lemah.
Sedangkan satu wanita tua di sebelahnya membalas perkataan itu...."Padahal kau sangat bersemangat, saat tahu Istian ingin bertemu, dan sekarang kau berlagak jual mahal, ingat umur pak tua."
"Meski begitu, dia tetaplah anak kita, kau jangan bersikap keras kepala."
"Terserah kau saja."
Wirakarna Jayanaga dan Dianti Sallsa Jayanaga, mereka berdua lah ayah dan ibu Istian Azalia Jayanaga, dimana selama lebih dari dua puluh tahun tidak bertemu atau sekedar memberi kabar.
"Isti, duduklah..."
"Baik ibu." Isti menuruti apa yang ibunya katakan.
"Apa kau sudah makan." Sebuah senyum dari Dianti menawarkan makanan.
"Sudah...." Tapi Isti tidak ingin merepotkan mereka.
"Kau bohong, lihat wajahmu kurus begitu, ayo makan dulu." Ucap sosok ibu dari Isti itu menaruhkan piring dengan segala makanan diatasnya.
"Kau selalu memanjakan dia." Wirakarna tidak senang untuk sikap istrinya.
"Apa salahnya, dua puluh tahun, aku telah kehilangan putri ku, jadi aku sedikit berharap bisa melihatnya kenyang dengan makanan yang kita berikan." Jawab Dianti marah.
Wirakarna tetap kukuh untuk bersikap acuh, meski pun pada kenyataannya dia merasa senang melihat Istianti makan di meja yang sama.
"Dimana cucuku, Ryan, aku tidak melihatnya datang." Ucap Wirakarna untuk satu nama yang mereka harapkan.
"Ryan, ada di rumah, aku tidak bisa mengajaknya kemari." Balas Istian.
"Kenapa ?."
"Dia masih harus sekolah, jadi tidak mungkin untuk pulang malam."
"Haaaaaahhhhh." Lemas wajah Wirakarna.
Isti jelas tidak merasa aneh kenapa Ayah dan ibunya yang berada jauh di pulau sebrang bisa tahu tentang Ryan. Mereka tentu sudah mengirimkan orang-orang yang ditugaskan untuk mencari informasi terkait kehidupan di keluarga Isti.
Ekspresi wajah Dianti yang sudah memiliki keriput tampak serius menatap Istianti..."Kami berdua belajar dari apa yang terjadi kepadamu, Isti. Ayah dan ibu benar-benar menyesal karena tidak memahami perasaan mu saat itu, kami terlalu egois, beranggapan bahwa dengan mengatur perjodohan akan membuat masa depan mu bahagia, dan nyatanya kami salah. Ayah dan ibu berharap agar kau dan Ryan bisa pulang ke rumah."
"Aku tidak bisa, ibu, ini sudah menjadi sumpah ku, aku tidak akan sekali pun melangkahkan kaki ke rumah itu." Namun sifat yang teguh akan pendirian selalu Istianti pegang.
"Pulanglah Isti, kami tahu semuanya, masalah yang kau dan Ryan hadapi setelah Abram pergi. Kami merasa marah dengan semua penghinaan dalam hidup kalian berdua, tolong jangan korbankan masa depan Ryan untuk sumpah yang kau buat sendiri."
"Ada yang harus aku selesaikan di sini, aku tidak bisa membiarkan kematian Abram hanya menjadi tragedi dan dilupakan begitu saja. Karena itu, ini permintaan terakhir dari anakmu ibu, tolong bantu aku." Ucap Istianti kepada mereka berdua.
Rumit wajah Dianti ketika melihat Isti memohon begitu serius bahkan sampai membungkuk dan tidak peduli soal sumpah yang di buatnya, bahwa dia tidak akan terlibat dalam hal apa pun tentang keluarga Jayanaga.
Perlahan Wirakarna memejamkan mata, serius untuknya berpikir, dan kemudian berkata..."Brahman Ardantio, putra dari Rohmad Trihartanto Ardantio. Aku sudah melihat banyak informasi dari bocah itu tentang keburukannya dalam bisnis. Tapi soal kematian Abram, tidak ada satu informasi yang melibatkan dia sebagai pelaku."
"Entah bagaimana pun caranya, aku ingin membuat Brahman itu membayar dosa-dosa yang sudah dia buat. Aku sadar, aku sekarang tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melawan Brahman, jadi aku mohon kepada ayah dan ibu."
Melihat bagaimana Isti kembali membungkuk, Dianti tidak kuasa menahan rasa bersalah hingga anaknya sendiri harus memohon untuk sebuah permintaan.
"Ayah, ini demi Isti...." Ucap Dianti memohon kepada Suaminya.
"Baiklah. Meski pun ayah bilang sulit. bukan berarti mustahil, tapi tetap saja, semua butuh waktu dan aku ingin setelah masalah ini selesai, bawa Ryan untuk pulang, begitu juga dengan mu."
"Aku...."
"Kau mau menolaknya ?, Kalau begitu, kami tidak akan memberi bantuan apa pun."
"Aku akan membiarkan Ryan untuk pulang, tapi aku..."
"Kau keras kepala, sumpah yang kau buat hanya menjadi beban di dalam hidupmu sendiri." Tegas Wirakarna tidak memberi kesempatan untuk Istianti menolak.
"Baiklah ayah, aku akan melakukannya." Istianti pun tidak punya pilihan lain.
Selesai pertemuan Isti dengan kedua orangtuanya, kini dia pun berniat untuk pulang segera.
Namun sebelum pergi, Dianti memberikan sebuah bingkisan berupa makanan dan satu kartu ATM.
"Aku tidak perlu ini." Istianti menolak.
"Terimalah Isti, di dalamnya berisi uang dari perusahaan yang menjadi hak mu selama lima belas tahun terakhir, aset- aset perusahaan dan warisan telah diberikan kepada semua saudara, hanya kau yang belum menerima apa pun." Dianti memaksa Isti.
Meski pun Isti menerimanya, dia tidak berniat sedikit pun menggunakan uang pemberian keluarga Jayanaga. Paling tidak Isti berpikir jika ini akan menjadi milik Ryan di masa depan.