
Abram mengenal sosok Isti sebagai wanita yang berbeda dari lainnya, dia tidak pernah meminta-minta, pekerja keras dan juga memiliki kepala sekeras batu, bahkan mungkin batu saja kalah.
Secara khusus, Abram memperbolehkan Isti untuk tinggal di kontrakannya, tidak perlu membayar biaya sewa atau pun tagihan listrik, selama dia mau mengakui dirinya adalah saudara Abram kepada tetangga-tetangga sebelah.
"Apa kau yakin dengan ini, memperbolehkan ku tinggal tanpa perlu membayar, bukankah itu membuat mu rugi." Ucap Isti yang tidak ingin membebani orang lain.
Tapi Abram dengan senyum tegas di wajahnya menjawab ..."Sudah aku katakan, bukan masalah, aku lebih tidak mau melihat seorang gadis kecil terlunta-lunta di jalanan dan menawarkan diri sebagai wanita penghibur. Itu membuatku merasa bersalah."
"Tapi tetap saja, aku merasa tidak enak."
"Jangan terlalu di pikirkan."
Istian jelas memiliki kepribadian untuk hidup mandiri, jangan bergantung kepada orang lain dan selalu teguh dalam pendirian. Namun hidup seperti kejutan dimana siapa yang menyangka akan bertemu dengan Abram.
Satu orang mulia dengan niat baik memberi tempat tinggal kepada dirinya.
"Padahal aku sudah menawarkan diri untuk menemani mu tidur, tapi kau menolaknya. Aku penasaran, apa kau orang yang 'menyukai pisang'." Ucap Isti tanpa memikirkan perasaan Abram.
Tentu Abram tersinggung, dengan wajah malu dia pun menjawab...."Apa maksud mu ?, kau pikir aku Ho*mo begitu."
"Memangnya bukan ?." Satu pertanyaan aneh itu jelas meragukan kejantanan seorang Abram.
"Tentu saja bukan, aku juga masih normal, aku masih menyukai kakak cantik berdada besar."
"Padahal punyaku tidak kecil-kecil amat. Tapi kenapa, sampai hari ini pun kau tidak berniat untuk menyentuhku." Sindir Istian sembari melirik genit.
"Jangan melihatku dengan tatapan aneh itu." Balas Abram memalingkan wajahnya.
Tapi Isti cukup menikmati waktu ketika menggoda Abram, meski dia jauh lebih tua, sikapnya seperti seorang remaja yang malu-malu di dekat wanita.
"Padahal beberapa kali kau melihat ku telan*jang. Aku cukup percaya diri, kalau aku cantik, mustahil kau tidak tertarik." Semakin bersemangat Isti menggoda.
Abram tidak berani menatap Isti dimana dia sekarang membuka kancing baju bagian atas untuk di tunjukan..."Jangan sembarangan bicara, apa kau tahu seberapa sulit aku menahan diri."
"Eh, Kau menahan diri rupanya..." Mengetahui itu, Istian seperti tidak mau bersikap sopan dan mulai mendekati Abram.
Tapi tetap saja, Abram tidak mau mengikuti nafsunya meskipun sudah sangat menggebu-gebu.
"Tidak, jangan lakukan itu..." Dipaksa Isti agar menjauh.
"Kenapa ?."
"Aku sangat menghormati mu, dan aku berharap kau bisa menjaga dirimu sendiri, jangan anggap semua begitu mudah dengan memberikan tubuhmu secara cuma-cuma, itu salah." Tegas Abram memberi peringatan.
Murung wajah Istian... "Tapi aku tidak bisa hidup di sini sedangkan aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu."
Abram sadar, jika perasaan tidak nyaman yang Istian tunjukan adalah prinsip hidupnya, agar tidak bergantung kepada orang lain.
"Kalau begitu, kau bisa bekerja di sini, memasak, mencuci pakaian atau membantu bersih-bersih, anggap saja seperti hubungan simbiosis mutualisme. Dengan begitu kau tidak akan merasa bersalah." Balas Abram mencoba memahami sikap Istianti.
"Apa boleh seperti itu ?." Ragu-ragu, namun dia berharap ingin melakukannya.
"Ya tentu saja."
Dengan jawaban dari Abram itulah hidup Istian kini berada di bawah atap yang sama, mereka mulai memahami satu sama lain dan saling bercerita tentang perjalanan hidup selama ini.
Abram bekerja di kota Jakarta ini sebagai bawahan dari seorang teman bernama Brahman, mereka memang sudah saling kenal sejak kecil.
Hanya saja, dia tetap bukan siapa-siapa, seorang lelaki miskin yang butuh pekerjaan demi mendapat uang. Mau tidak mau, bekerja di tempat temannya pun bukan masalah.
*******
Hingga dua tahun berlalu, Istian tinggal bersama seorang lelaki lajang yang berusia 30 tahun...
Untuk banyak waktu itu yang sudah mereka lewati, Abram tidak melakukan apa pun kepadanya. Hidup bersama dan berbagi ruangan antara Lelaki dan wanita, tapi perhatian Abram seakan sudah menganggap seperti saudaranya sendiri.
Namun berbeda dengan Istian, dia kini menunjukan pandangan khusus sebagaimana dia menyukai lelaki. Tidak peduli soal usia keduanya terlampau jauh, dimana sekarang Istian berusia 19 tahun, sedangkan Abram 30 tahun.
Hingga di siang itu, ketika Abram pulang, seperti biasa Isti menyambut kedatangannya dengan senyum menawan. Tapi apa yang dia lihat adalah ekspresi murung, seakan sedang menerima cobaan berat.
"Apa yang terjadi, kenapa wajahmu kusut begitu." Tanya Istian bingung.
"Tidak bukan apa-apa." Balas Abram tersenyum pahit.
"Jangan berbohong, aku tahu kau sedang mendapat masalah, apa ini soal pekerjaan mu ?, Si Brahman itu bicara sejenak jidat atau kau kecopetan."
Seakan Abram tidak bisa menolak, menunjukkan wajah ragu-ragu, dia pun angkat bicara...."Dengar Isti, aku akan kembali ke kampung, Minggu depan, kau bisa tinggal di kontrakan ini sampai kapan pun, tapi aku berharap sebaiknya kau pulang, selesaikan semua masalah dan berbaikan dengan orang tuamu."
"Kau akan pulang ?." Bingung Istian karena waktu bersama Abram akan berakhir.
"Ya... Jika kau ragu. Aku akan membantumu berbicara dengan mereka."
"Kalau begitu biar aku ikut bersama mu." Jawab Istian.
Hanya saja, jawaban dari Istian membuat Abram terkejut...."Aku tidak bisa, apa yang harus aku katakan jika aku membawamu."
"Bilang saja, aku adalah istrimu."
"Hubungan kita tidak seperti itu." Abram tetap menolak.
Tanpa perlu basa-basi, Isti segera saja memberi satu ciuman yang menunjukkan isi perasaannya kepada Abram. Wajah bingung untuk membedakan antara nyata dan ilusi. Tapi ketika dia melihat ekspresi Istian malu-malu, semua cukup jelas bahwa kelembutan bibir yang dia rasakan adalah nyata.
"Apa itu cukup untuk memperjelas hubungan kita." Sebuah kiasan bahwa Istian tidak ingin pergi dari samping Abram.
"Tapi..."
"Tapi, tapi, tapi... Jangan banyak tapi, kau tahu seberapa lama aku bingung untuk mengungkapkan perasaan ku, dan kau berlagak bodoh."
"Jelas aku tidak bisa percaya, kau tahu aku hanya om-om hampir 30 tahun, sedangkan kau masih muda, aku pikir kau kesurupan apa gimana."
"Tidak perlu menunggu kesurupan untuk mengetahui aku menyukaimu, aku hanya ingin bersama denganmu untuk hari ini, besok dan selamanya."
"Selamanya kah ...." Tawa Abram membuat Istian bingung dan juga malu.
Istian merasa kesal untuk balasan dari Abram...."Kenapa kau tertawa."
"Tidak, bukan apa-apa, hanya saja, ini untuk pertama kalinya dalam hidup, aku menerima kata-kata romantis, terlebih dari gadis cantik seperti mu."
Tapi apa yang Abram dapat adalah sebuah tendangan dari Isti, dimana dia berkata..."Jangan mengatakan hal yang memalukan."
"Padahal kau sendiri yang memulainya."
"Sudahlah, cepat jawab, apa kau mau aku menjadi istrimu atau tidak." Istian tidak mau menunggu untuk Abram berpikir.
"Ya aku mau. Selama kau juga mau."
"Tentu saja aku mau." Penuh semangat Istian menjawabnya.
Namun beberapa detik setelah keduanya saling menyatakan perasaan, entah itu Abram atau pun Isti menunjukkan wajah merah merona karena malu.
"Kau lelaki, jangan malu saat melamar ku."
"Ini... Karena aku tidak pernah melakukannya."
Lepas dari suasana hati mereka yang sekarang penuh rasa bahagia, kini Istianti berdiri dan menarik tangan Abram.
"Baiklah, Ayo kita pulang dan bertemu orang tuamu, kemudian menikah, aku ingin memiliki dua anak." Begitu bersemangat Istian memaksa Abram.
"Gimana kalau tiga."
"Terserah kau." Tidak ada penolakan dari Isti.
Kembali dari lamunannya, tidak ada senyum di wajah Istianti seperti dulu lagi, kini gambaran tentang hidupnya menjadi abu-abu, hanya satu keinginan, yaitu meminta pertanggungjawaban dari Brahman atas kematian Abram.
Sepintas Istianti berkata kepada dirinya sendiri...."Aku sangat bahagia bisa menjalani hidup bersama Abram sebagai istrinya, 14 tahun, aku merasakan bagaimana memiliki sebuah keluarga, meski terkadang ada pertengkaran, tapi Abram selalu punya cara untuk membuatku kembali tertawa."
Jaelani memperhatikan Isti mendengar segala hal yang dia ucapkan, tanpa perlu menjawabnya.
Lanjut kembali Istianti berkata ... "Tapi orang itu, Brahman Ardantio.... Dia mengambil semua, menjadikan Abram sebagai korban atas dosa-dosanya dan hidup bebas tanpa merasakan penderitaan dari rasa bersalah."
"Isti, aku tidak mau mengakuinya, tapi orang yang kau lawan adalah Brahman, untukku sendiri, sangat mustahil jika harus menang di dalam hukum."
"Jika aku tidak bisa menang, maka kita perlu cari seseorang yang mungkin mengalahkannya." Tersirat sebuah rencana besar dari balik perkataan Istianti.
Itulah kenapa, tujuan Istian pergi ke suatu tempat, yaitu bertemu dengan orang yang memiliki kekuatan setara demi melawan Brahman Ardantio.