
Angin malam berhembus lembut dan sedikit dingin, melewati batang-batang pohon bambu, menuju timur menerpa gulma-gulma pelataran rumah, dan naik kembali ke atas langit untuk menggoyang papan nama toko bertuliskan.
'Toko maju jaya pantang mundur.'
Di bawahnya memiliki keterangan :
Menyediakan juga sembako, peralatan sekolah, pulsa elektronik dan voucher, pupuk urea sampai organik, bahan bangunan, batu bata, keramik, bumbu dapur, ada rendang, ada pula soto, cetak foto berbagai ukuran, cetak buku Yasin berbagai model, cetak piagam asli atau pun palsu.
Note. HANYA TERIMA TUNAI, TAK ADA HUTANG TITIK.
Itu menjadi rumah bapak Jaelani, juragan sembako, pemilik toko serba ada. Meski tidak sebanding dengan para pemilik perusahaan, Jaelani masih bisa di bilang orang kaya yang hartanya tidak akan habis dimakan tujuh turunan.
Selain toko sembako, ada juga aset-aset lain seperti, kontrakan dengan dua puluh pintu, lahan pertanian yang luas, perkebunan, kolam ikan, warung makan dan banyak lagi.
Tapi yang paling membuat Jaelani terkenal adalah dia pensiunan preman pasar, sebelas dua belas seperti Brahman, hanya.... Brahman menggunakan otak, Jaelani menggunakan otot.
Ryan berjalan menuju toko maju jaya pantang mundur, dia sudah melihat lelaki paruh baya dengan perawakan tinggi besar, perut buncit, brewokan, botak tengah, gigi kuning, lengan hitam berbulu, tatoan, dan jari jemari seperti pisang Ambon dengan sebelas batu akik terpasang disana.
Siapa pun orang yang tidak kenal Jaelani tentu akan merasakan tekanan mental, hanya dengan melihat mata lelaki pensiun preman pasar itu.
Tidak perlu satu jam untuk bernafas tenang saat berhadapan Jaelani. Awal bertemu gemetaran seluruh tubuh. lima menit pertama mereka akan keringat dingin.
Berselang sepuluh menit, pusing kepala. Sampai di lima belas menit, sesak nafas. Setelah itu, kesemutan, mual-mual, mutah, diare tidak bisa dihindarkan.
Bahkan.. jika lelaki yang tidak kuat mental, ketika menatap Jaelani, tanpa ba bi bu terlebih dahulu, kejang-kejang mereka saat bersalaman.
Rekor terlama adalah dua puluh menit, tapi tidak lama kemudian, dia langsung pingsan di tempat, segera dibawa ambulan karena mengalami gangguan kecemasan berlebih.
"Pak aku mau beli...." Dengan mudahnya Ryan memanggil pak Jaelani.
"Hmmm, beli apa ?."
"Obat nyamuk, minyak goreng, sabun cuci, sabun mandi, sampo, buku tulis, buku gambar, pensil, penghapus, telor, gula, garam, lada, teh, kopi, paket data Minggu manis sama ...." Sebut Ryan dengan cepat.
"Tunggu, kau itu beli banyak kali, baru pindah atau gimana." Bertanya Jaelani dengan logat khas orang Medan.
"Begitulah pak."
"Orang baru ?." Jaelani merasa aneh.
"Gak juga pak, seperti pulang kampung lah."
Pikir Jaelani serius melihat ke arah Ryan..."Pantas saja, seperti pernah aku lihat muka kau itu."
"Harusnya memang pak Jae kenal."
"Ah.... Ryan kah, anaknya Abram ?." Hanya dengan sebutan nama itu sudah membuat Jaelani paham.
"Ya pak."
Tertawa keras Jaelani ketika tahu kalau lelaki muda yang jadi pembeli itu adalah Ryan. Karena bagaimana pun warung maju jaya pantang mundur sudah jadi langganan keluarga untuk berhutang.
Terlebih lagi antara Jaelani dan ayahnya, Samsul, mereka sudah menjadi teman dekat sejak kecil hingga tua, meski sekarang teman Jaelani itu sudah tidak ada di dunia ini.
Ryan tahu Jaelani adalah orang yang ramah kepada setiap kenalan, tapi nada bicara dan penampilannya memang benar-benar menakutkan.
"Kau sudah besar Ryan, sempat aku bingung, bocah mana yang berani datang tanpa takut denganku."
"Itu karena pak Jaelani sebenarnya orang baik, cuma ...."
"Cuma apa ?."
Sekali lagi Jaelani tertawa terbahak-bahak sembari menepuk pundak Ryan dengan keras, keras tangan itu bisa mematahkan linggis seperti kerupuk.
Dari sekian banyak orang kaya mungkin memang hanya Jaelani lah yang bisa dikatakan cukup memahami keadaan orang miskin seperti Ryan.
Memang di papan keterangan toko sana tertulis, dilarang hutang titik, titik itu sampai dia tulis. Tapi kenyataannya, ketika dia tahu bahwa mereka yang ingin berhutang adalah orang tidak mampu, tanpa perlu ragu dia memberikannya secara cuma-cuma.
"Nela.... Nela...." Suara Jaelani dengan lantang memanggil seseorang.
"Jangan teriak-teriak ayah..." Dibalas pula dengan keras.
Seorang gadis cantik berbaju hitam dan celana pendek berjalan dengan malasnya keluar dari balik pintu belakang toko.
Gadis itu adalah Nela putri semata wayang dan anak satu-satunya dari Jaelani, tatapan mata tajam, nada suara tinggi, rambut pendek sedikit pirang, dan beberapa tindik telinga yang dia gunakan. Menunjukan sikapnya sebagai gadis tomboi.
Seakan genetik anak dan ayah sudah diwariskan secara turun temurun, sikap dan gaya nela sama seperti Jaelani, dan kecantikan yang dia miliki berasal dari ibunya.
"Ada apa ?."
"Lihat ini siapa ?, Apa kau tidak kenal." Tunjuk Jaelani ke arah Ryan.
Dilihatnya hati-hati, perlahan dan bingung, tapi mata Nela terbuka ketika dia menyadari sesuatu... "Ryan ?."
"Tepat sekali." Jawab Ryan dengan tersenyum.
Nela tersenyum lebar, dia merasa senang melihat seorang kawan lama kini ada di depannya, tanpa ragu sedikit pun, dia memeluk Ryan karena merasa rindu.
"Kapan Lo balik ?." Dengan penuh keakraban Nela bertanya.
"Gua pindah kemarin."
"Napa Lo pindah ?, Gua kira Lo betah di Jakarta sampai lupa sama Gua."
"Banyak yang terjadi, tapi Gua gak bakal lupa sama Lo." Dengan yakin Ryan mengatakan itu.
"Hmmm gitu ?."
Cukup lama Ryan bercakap-cakap ria dengan Nela, bahkan dia sampai lupa untuk lanjut berbelanja, karena banyak hal yang ingin mereka berdua ceritakan.
Nela adalah temannya sejak kecil. Dari sikap Nela yang tomboi ini, membuat Ryan merasa akrab tanpa menganggap bahwa sebenarnya dia wanita.
Sama seperti teman yang lain, bermain sepak bola, mencuri mangga, mandi di sungai, bahkan kadang pula Ryan dan Nela berkelahi, saling tonjok, saling tendang, ejek mengejek sudah biasa, memanggil nama orang tua pun seperti menjadi keseharian.
Tapi di sisi lain, Nela akan marah ketika Ryan menganggap dia tidak mampu melakukan sesuatu seperti yang dia lakukan.
"Jadi Lo di D.O sama sekolah gara-gara itu."
"Apa boleh buat, Gua marah, harga diri Gua diinjak-injak, karena keluarga Gua hanya orang miskin." Tegas jawaban Ryan.
Di sebelah mereka Jaelani pun mendengar cerita Ryan, seakan ada petir di malam hari di langit cerah namun penuh polusi. Jaelani membanting kursi dengan keras.
"Ryan, orang mana yang ngelakuin itu, bilang sama aku, mereka tidak tahu siapa Jaelani."
"Gak usah pak, biar nanti aku sendiri yang membayar semua penghinaan dari mereka."
"Oh itu baru yang namanya lelaki." Jaelani memberi jempol kepada Ryan.
Nela tidak berubah seperti Reina, dia tetap seperti dulu, menunjukan diri tanpa perlu berpura-pura bahagia.