Ice Cream

Ice Cream
Dosa



Di dalam kehidupan ini, kalimat tentang 'apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai' memang benar adanya, meski tidak semua adalah hal baik, tapi semua tergantung bagimana cara manusia mengolahnya.


Mereka yang menaburkan hal-hal jahat, menyiraminya dengan darah dan keringat, serta diberi pupuk dari kandang kambing, kandang ayam atau kadang-kadang dari perbuatan kotor manusia penuh kerakusan. Tidak ada yang bilang itu akan menjadi hal merugikan.


Sebab, sebuah kekayaan datang karena mereka mencari keuntungan dari orang lain, tidak perduli cara seperti apa yang dilakukan, selama itu bisa memperkaya diri, tentu menjadi sebuah pencapaian.


Lupakan siapa yang benar dan siapa yang salah, karena bagi mereka, orang lain hanya sebuah alat untuk mempermudah pekerjaan mereka mencari harta, tidak lebih dari itu.


Brahman Ardantio, bukanlah orang sembarangan, dia adalah sosok manusia yang hidup untuk menguasai, menghancurkan, memperalat dan menggunakan segala cara di dalam bisnisnya.


Terlihat jelas bahwa apa yang dia lakukan adalah sebuah cara kotor untuk mendapat semua harta itu. Tapi perusahaan kontraktor BAK, Brahman Ardantio Kontraktor miliknya, hampir menguasai 10 persen seluruh pembangunan dari proyek pemerintah hanya sebagian kecil dari kekayaan yang dia miliki.


Dibalik itu semua dia adalah pemimpin kelompok mafia yang sangat disegani di Jakarta. Dan menggunakan kekuatan itu untuk melancarkan segala urusan mengenai proyek dari perusahaan.


Semua yang dia miliki menjadi bukti nyata bahwa dirinya mendedikasikan hidup untuk satu tujuan, meski itu menjadi jalan kotor berlumpur dan bau pula. Tidak ada yang bisa menghentikan ambisi dari Brahman.


Lelaki bertubuh buntal ini duduk santai menatap layar ponsel dan menghisap cerutu di tangan, sedikit tertawa, kemudian mematikan layar.


Sekali tertawa tubuhnya bergetar, lipatan-lipatan lemas akan goyang dengan irama selaras suara fales seperti orang kena asma.


"Dasar orang-orang kampung, menjual tanah mereka demi uang receh. Bodoh sekali. Mereka tidak tahu kapan waktu yang tepat dan siasat jitu, mencari keuntungan atas relokasi tanah dari pemerintah."


Bagi Brahman berita itu hanya sebuah drama kecil tentang proyek pembangunan jalan yang dibuat oleh pemerintah. Meminta ganti rugi atas kuasa kepemilikan lahan, dan hanya dengan uang receh, sedikit ancaman hukum, semua menjadi lancar.


Tapi pada akhirnya Brahman yang mendapat keuntungan lebih, karena perusahaan kontraktor miliknya lah sebagai pemenang tender pengelola proyek dengan jumlah dana pembangunan begitu besar.


"Reza, siapkan mobil, aku akan pulang." Panggilnya seseorang yang ada dibalik pintu.


"Baik bos."


Hari ini dia merasa cukup senang dengan banyak hal yang berubah di sekitarnya, melihat sebuah foto lama tersimpan dalam laci meja kerja, memperlihatkan tiga wajah penuh rasa akrab dan kedekatan sebagai teman.


"Kau tahu Abram, pada akhirnya kau tidak bisa mengubah apa pun, dengan prinsip kehidupan yang selama ini kau yakini."


Di letakkan kembali foto itu kedalam laci dan Abram tutup rapat, raut wajah penuh kerutan termakan usia mulai tertawa sendiri, dia ingat kehidupan di masa lalunya.


"30 tahun, kau benar-benar membuat aku kagum, dan sampai ajal mu menjemput, kau masih sangat perduli atas sebuah hubungan sesama manusia, tapi itu tidak sama dengan prinsip ku."


Berjalan keluar dengan semua bayang-bayang ingatan tentang Abram kawan lamanya, tapi sepintas berubah, sosok itu menjadi wajah lain yang baru dia temui beberapa hari ini.


"Ya dia benar-benar mirip dengan ayahnya, tapi .... Apa yang membuatku merasa kalau mereka berbeda." Pikiran Brahman teringat kepada sorot mata Ryan.


Ikatan darah memang tidak bisa di hapus, sebanyak apa pun mereka membasuh muka, setiap orang tua pasti mengenali tanda kepada anaknya.


Tapi ajaibnya, Abram tahu akan hal itu, dan dia baik-baik saja untuk tetap bersama, memang sahabat yang dia manfaatkan, selalu membuatnya merasa puas, hasil kerja, kompeten, tekun, tahan banting, dan keras kepala. Mungkin pada akhirnya, hanya Abram saja yang bisa mengimbangi ambisi Brahman.


Mobil Brahman masuk kedalam rumah, para satpam dan penjaga kebun memberi salam saat melihat bos mereka, tapi satu wanita cantik berusia 36 tahun mendapat perhatiannya secara khusus.


Istianti, istri dari Abram, sahabatnya, meski usia tidak lagi muda, siapa pun bisa mengakui bahwa Istianti adalah wanita yang tampak cantik dan anggun, bahkan bisa dikatakan seperti artis blasteran luar negeri.


"Kenapa kau menyapu halaman ?."


"Ah... Pak Brahman, bukankah ini yang anda minta untuk bantu-bantu di rumah." Jawab Isti.


"Ya aku berkata seperti itu, tapi bukankah ada hal lain yang lebih baik untuk kau kerjakan, aku bahkan Abram pernah cerita jika kau itu lulusan universitas ternama di Jakarta, seakan tidak layak untukmu mengerjakan pekerjaan kasar."


"Aku sudah terbiasa, jadi bukan masalah."


"Kenapa ?, Jika kau ingin, kau bisa jadi asisten pribadi ku di rumah ini." Jawab Brahman dengan keinginannya.


"Aku tidak mau menggunakan ijazah itu, aku lebih baik bekerja menjadi pembantu, dari pada.... Maaf lupakan saja pak." Isti berhenti bicara.


"Baiklah jika itu mau mu.... Ratih, kau bantu Isti membersihkan halaman ini." Panggil Brahman ke pembantu yang lain.


"Baik tuan."


Melihat bagaimana Brahman berjalan pergi, ingatan Isti jatuh ke masa lalu yang begitu dalam, sangat dalam, dimana itu adalah pagi hari bersama Abram.


Setiap perkataan dari Abram masih terdengar jelas, seakan baru kemarin mereka masih berdiri bersama melihat Ryan berangkat sekolah. Bercerita tentang masa depan, membangun rumah sederhana, dimana hidup penuh kebahagiaan sampai tua, melihat Askar menikah, cucu-cucu yang lucu dan menunggu hidup berakhir.


Sebuah tujuan kecil untuk Abram, dia ingin memiliki sebuah kebebasan untuk melangkah jauh ke depan, merangkul keluarganya sendiri, tanpa terikat oleh orang lain.


Hari itu Abram berkata... "Aku akan keluar dari kelompok Brahman, dan Kita berdua bisa menjalankan usaha, meski kecil tapi aku yakin akan berhasil. Karena itu tunggulah sebentar lagi, maka aku akan pantas membawamu pulang ke orang tuamu dan memperkenalkan Ryan kepada kakeknya."


"Aku tahu, aku percaya jika kau sebenarnya bisa melakukan semua itu."


Isti ingat seberapa bersemangat Abram, dimana akhirnya dia meyakinkan diri untuk lepas dari Brahman. Karena dia melihat semua yang terjadi, Abram mengikuti sebuah prinsip hidupnya sendiri.


Memang semua itu tidak bisa terjadi begitu saja, tapi Isti percaya perlahan namun pasti, Abram bukan orang yang akan menyerah, dan menunjukkan diri bahwa dia adalah lelaki bertanggung jawab.


Dan malam itu.... Istianti mendengar suara teriakan salah satu orang memanggil namanya, dia adalah teman kerja Abram, memberi sebuah kabar tentang kecelakaan kerja yang membuat suaminya tewas.


Kesedihan itu masih terasa berat, kehilangan sosok penting dalam hidup Isti dan Ryan, penghinaan yang dia terima selama ini sangatlah banyak, tapi Ryan tetap berdiri dan memperbaiki semua. Hanya melihat tekad Ryan, Isti sadar bahwa hidup tidak akan berakhir meski dia ingin menyerah.


"Brahman, aku akan membuktikan semua dosa-dosa mu, dan bertanggung jawab atas kematian Abram." Suara hati itu dia tahan selama bertahun-tahun kini diucapkan sekali lagi.